
Mereka saling bercerita dengan dua kubu yang berbeda. Para wanita asik menggosip barang branded, perkakas dapur sampai bertukar resep masakan.
Sedangkan para lelaki asik berbicara bisnis saling bertukar pendapat. Tiba-tiba terdengar suara tawa dari arah luar, mereka yang didalam pun mengarahkan pandangan ke arah luar, mereka tau bahkan gak usah ditebak.
“Hayo siapa?" tanya Mama Mela
“ Ya anak lu pada Markonah!!" sahut thor sambil memutar bola mata malas
“ Ko lu malah l*ngo banget sih thor?” tanya Mama Mela
“Enak aja thor dibilang l*ngo, itu anak lu pada kan? Apa perlu thor ganti? Jadi anak kucing.” thor mendengus kesal
“Eh, gak bisa masa anak gue mau diganti jadi anak kucing, lu kira kami produksi anak kucing thor?, anak gue yang gantengnya kebangetan plus plus gitu.”
“..…”
Benar, siapa lagi kalau bukan Edward and the gang. Mereka bagaikan prangko gak bisa lepas kalau sudah bertemu.
Bahkan orang tua nya pun menggelengkan kepala. Heran sendiri punya anak hoby nya sama bahkan kalau menyukai suatu barang kurang dari pada 5 pasti rebutan. Padahal yang tukang bikin gak gini amat kelakuannya.
“Dari mana kalian..?” tanya papa Tony karena dia yang paling galak diantar para papa yang lain.
“Biasa pah, balapan.” ucap Edward tanpa permisi nyomot makanan di atas meja.
Mama Vian yang mendengar pun segera berdiri menyusul anaknya. Memang bandel pikirnya.
“Astaga punya anak bandel banget sih.” ucap Vian sambil menjewer telinga anaknya.
Para mama yang lain pun juga ikutan menjewer telinga anaknya masing-masing.
“Ampun mah.” teriak mereka serempak.
“Aduduh,, sakit mah.” sahut Dannis.
“Rasain kalian itu nakal banget, gak bisa diatur kalau sudah kumpul.” omel Mama Megan.
“Mah kita nakal cuman buat senang-senang doang, kapan lagi coba kumpul kaya gini. Malah nanti kita sibuk lagi ngurusin bisnis kalian para orang tua.” jawab Arthur memelaskan mukanya seperti anak kucing.
“Dari pada kita mainin cewe, ya kan guys.” sahut Edward. Para ibu yang mendengar itu pun menatap tajam. Bahkan jeweran di telinga mereka pun semakin kencang.
“Mah sakit, nanti lepas kuping aku.” ucap Edric meringis
“Mama mau kuping kita ini lepas.” sahut Harry sambil kepalanya ngikutin tarikan mama nya.
“Biarin, Mama ganti dengan kuping gajah biar tau rasa.” ketus mama Mela.
“Lu kira anak kita gajah.” ucap para mama serempak. Mama Mela hanya cengengesan.
Mereka pun melepaskan anak mereka. Segera mereka kembali ketempat duduk masing-masing.
Para papa yang melihat hanya tertawa geli, memang sudah biasa melihat adegan melankonis antara anak dan ibu.
“Kalian mau kemana?” Tanya Papa William menatap tajam mereka berlima.
“Atas.” jawab mereka serempak.
“Duduk.” sahut Papa James.
“Ngapain pah? kita capek, gerah, rambut juga udah lepek kek permen karet.” jawab Arthur.
Memang Arthur yang paling ribet dan yang selalu menjaga kebersihan diantara yang lain. Dia bakal gelisah tak menentu kalau belum mandi, bahkan dia uring-uringan gak jelas.
“Lebay.” jawab mereka yang lain serempak.
Arthur yang melihat itu hanya menatap datar.
“Ogah, lu aja kali. Rambut gue masih segar nih.” sahut Dennis menyisir rambutnya ke belakang.
“Sok keren banget.” sahut Harry
“Memang keren.” jawab mereka serempak.
“Hahahahaha” mereka pun tertawa karena kekompakan .yang mereka miliki.
Para orang tua yang melihat hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala, ada juga yang memutar bola mata malas, dan ada yang cekikikan.
“STOP” ucap papa James tegas.
Seketika hanya keheningan yang berada dalam ruangan tersebut. Mereka tau papa James orangnya yang paling tegas dan gak bisa dibantah. Dan seketika terdengar lah suara bom molotop.
DUD!!
“MEGAN” ucap mereka serempak
“MAMA” ucap anaknya gak mau ketinggalan.
“Uppss.. Sorry kelepasan. Hahaha, gak tahan gue sumpah.” sahut mama Megan sambil terpingkal.
Mereka yang mendengar tawa mama Megan pun mendengus kesal, bahkan lihat lah muka mereka bak kepiting rebus yang dikukus saking kesalnya. Mama Megan orang yang paling suka kentut, suara kentutnya keras apa lagi semerbak baunya bikin nyamuk pada pingsan. Wkwkwk
“Lanjut pembahasan tadi, biar mereka pada dengar.” ucap Mama Lena sambil mengibaskan tangan agar baunya hilang.
“Dengar papa minta kalian cari calon istri buat kami, kalian itu sudah kelamaan menyendiri takutnya kalian di sangka g*y lagi, karena gak ada gandengan. Sibuk ngurusin perusahaan sama kalian asik ngumpul kek bocah. Dan 1 lagi waktu kalian hanya 5 bulan, kalau kalian gak bisa mendapatkan calon istri silahkan angkat kaki dari rumah papa.” ucap Papa Valent dengan tegas.
“WHAT!!” ucap mereka serempak bahkan mulut mereka sampai menganga dibuatnya.
“Gak bisa gitu dong pah, Edward, Dennis, sama Edric mereka lebih tua dari aku.” protes Harry.
Mereka yang mendengar namanya disebut itu pun melototkan mata. Kan ya tua pasti kena juga, hedeh. Memang yang tua selalu kena getah nya kalo sudah menyangkut tambatan hati, padahal mereka masih ingin sendiri dulu melebarkan sayap biar lebih terbang tinggi.
“No.” teriak mereka bertiga.
“Benar itu, mereka bertiga aja pah.” sahut Arthur membenarkan perkataan Harry sambil tersenyum menyeringai. Karena memang Arthur yang paling muda diantara mereka berlima.
“Tidak ada yang bisa menolak.” tegas Papa William.
Seketika mereka berlima lesu memasang wajah memelas kepada mama mereka. Tapi para mama mereka malah membuang pandangan kearah lain, ada yang bersiul, pura-pura membolak balikan majalah dan ada juga yang asik main HP.
New York, Amerika
Waktu menunjukkan pukul 9 malam, Vio bersandar di kursi kerjanya sambil mendengarkan Dina yang memberikan info tentang identitas 2 wanita yang saat ini dalam ruang perawatan. Vio yang mendengar itu pun tersenyum menyeringai, Dina yang melihat itu pun bergidik ngeri.
“Gue mau mereka jadi bagian keluarga kita, dan lu harus pastiin itu agar mereka bersedia.” ucap Vio tegas.
“Baik Queen.” jawab Dina tak kalah tegas. Vio pun berdiri dari duduknya sambil memainkan ujung rambutnya.
“Lu tau kan apa yang lu harus lakukan agar mereka kuat?” Tanya Vio menaikkan sebelah alisnya. Dina yang mendengar hanya menganggukan kepala.
“Dan gue mau mereka dalam 2 bulan ke depan fisik sama mental mereka harus kuat. Gue mau lihat keahlian mereka.” ucap Vio datar menepuk bahu Dina sambil meninggalkan ruang kerjanya.
Dina ditinggal sendirian bahkan dia duduk di sofa yang memang tersedia di ruangan itu.
Dina yang mendengar perintah Vio pun hanya menghela nafas, bingung sendiri karena dia besok pergi ke Australia mengurus pembangunan perusahaan bahkan Dina memutar otak agar cepat selesai pembangunan tersebut bahkan harus langsung beroperasi.
Dina juga sempat diberitahu Vio bahwa dia ingin membuat perusahaan yang lain juga, karena memang Vio orangnya berambisi bahkan sifatnya yang seperti ini yang membuat Dina kewalahan karena keinginannya yang kuat, serta dendamnya dimasa lalu yang membuatnya semakin berambisi menginginkan lebih, dan lebih lagi.
Dina pun menyarankan agar fokus pada pembangunan perusahaan yang berada di Austalia terlebih dahulu baru yang lain.
Awalnya Vio keberatan tapi dipikir ulang lagi Vio pun akhirnya menerima saran Dina dengan syarat mengakuisisi pusat perbelanjaan di Negara Amerika, Belanda, Australia, Brazil, Indonesia, Inggris, dan Jepang. Dalam waktu 2 minggu.
Gimana dia gak pusing tujuh keliling coba kalo masalah bajet harga yang dikeluarkan yang pasti sangat fantastis Vio bahkan gak segan memberikan harga yang terbilang sangat banyak agar mendapatkan apa yang diinginkan.
Bahkan kekayaan yang Vio miliki melebihi kekayaan tiga keluarga besar yang di Negara ini. Yap, benar. Harga keluarganya dan mantan kekasihnya. Mantan? Vio bahkan gak punya mantan yang brengsek nya kebangetan gitu. Pikirnya.
Dina menyelam dalam pikirnya memecahkan strategi yang tepat dan akurat agar cepat selesai. Kepala yang mulai dari tadi menunduk seketika terangkat.
TING!!
Diatas kepala Dina muncul bola lampu yang bersinar dia menemukannya dengan senyum merekah meraih HP di saku belakang celananya.
Tut.. Tut.. Tutt!!
“Halo..” suara orang yang disana yang pasti suara lelaki.
“Jo, gue perlu bantuan lo.” ucap Dina dengan serius.
“Bantuan?” tanya Jo bingung. Bahkan Dia sambil bersandar di atas ranjang tanpa menggunakan baju hanya menggunakan celana pendek menampilkan roti sobeknya.
Thor netes. Haha
____________________________
.
.
.
.
.
.
.
.
**Tbc***