Great Woman

Great Woman
Episode 14



Suara benturan mobil menabrak pohon pun terdengar nyaring. Kepala para penumpang mobil terbentur kursi dan sang pengemudi terbentur setir mobil. Hanya temannya yang di samping menutupi wajahnya dengan pergelangan tangan untungnya dia pakai seatbelt. Mereka semua selamat, tapi beberapa di antaranya terluka.


Segera mereka keluar semua dengan memegang kepala sambil meringis. Ada juga yang memegang pergelangan tangannya, lihat lah wajah mereka. Karma bagi para penjahat pikir Vio yang melihat itu.


Vio pun mengendarai mobilnya ke arah mereka. Tepat Vio berhenti di depan mereka para penjahat tersebut mengamuk sumpah serapah pun tak terelakan dari A sampai Z. bahkan mobil Vio pun di gedor-gedor mereka kira pintu.


“Brengsek”


“Turun lo”


“A*****”


Perlahan Vio turun mereka semua tercengang. Mereka mengira seorang lelaki mengendarai mobil seperti pembalap tapi malah perkiraan mereka semua salah, malah yang keluar dari mobil seorang wanita yang begitu cantik.


Sumber:google



Segera mereka tersadar dari lamunannya, saat Vio sudah berdiri didepan mobilnya dengan ekspresi datar. Salah satu dari mereka pun maju.


“Hai cantik.” ucap salah satu dari mereka berusaha menggapai dagu Vio menggunakan tangan kiri. Vio yang melihat itu pun tidak memberikan kesempatan menyentuhnya dengan memegang pergelangan tangan itu Vio pelintir ke belakang dan..


BUGH!!


Tubuh penjahat itu Vio tengkurapkan didepan mobilnya dengan masih memegang pergelangan tangan itu dibelakang. Semakin kencang tarikan Vio semakin merintih kesakitan.


“Aaaaa… sakitttttttt.”


BRUK!!


BRUK!!


Suara mobil Vio yang di pukul menggunakan tangan sebelah nya yang bebas. Menandakan dia kesakitan, menyerah. Ih cemen.


Melihat kawan mereka yang diperlakukan seperti itu salah satu dari mereka pun maju mengepalkan tinju menyerang Vio. Vio yang melihat itu pun langsung menendang perut lawannya.


Seteduk darah segar keluar dari mulutnya sambil meringis kesakitan memegang perut. Sungguh tenaga yang begitu kuat, pikir penjahat itu.


Segera kawan mereka yang lain mau menyerang Vio. Tapi mereka semua terhenti melihat begitu banyak lelaki berbadan kekar menggunakan seragam hitam menuju ke arah mereka.


DRAP!!


DRAP!!


Suara langkah kaki yang begitu banyak menyusul ke arah Vio. Vio yang mendengar pun melepaskan penjahat itu.


“Bereskan.” perintah Vio


“Siap Queen."


Salah satu pengawal berambut pirang pun maju meyerang penjahat tersebut. Hanya beberapa menit mereka semua sudah terkapar di tanah dengan wajah babak belur bahkan ada yang patah tulang. Salah satu pengawal yang lain maju mengintrogerasi mereka.


3 wanita yang notabennya korban yang melihat itu pun bernapas lega. Merasa bersyukur karena mereka selamat dan di tolong malaikat cantik, pikir mereka. Mereka menyusul ke arah Vio.


Vio hanya menatap mereka sambil menyenderkan tubuhnya ke kap depan mobilnya.


“Anu,, Nona terima kasih banyak." ucap wanita samping kanan berambut panjang warna pirang sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


“Terimakasih Nona, kalau Nona tidak menyelamatkan kami. Kami tidak tau bagaimana nasib kami ke depannya.” ucap wanita yang ditengah menitikkan air mata, mempunyai rambut hitam panjang dan bibir sexy.


“Terimakasih Nona.” ucap wanita yang disamping kiri sambil tersenyum, mempunyai rambut hitam lurus dengan sorot mata yang tegas.


Respon Vio hanya menganggukkan kepalanya tapi tetap memasang wajah datarnya. Gila dingin banget ini cewek batin mereka sambil melirik satu sama lain.


“Queen lapor, mereka suruhan dari teman kerjanya bernama Ida, dikarenakan dia iri akan prestasi dan kualitas kerja mereka yang selalu di apresiasi oleh manajer dan karyawan lain.” lapor Andi


“WHAT?” mereka bertiga kaget tak disangka teman yang mereka yakini selalu baik didepan mereka bahkan berpikir mencelakai mereka. Terlihat mereka begitu marah bahkan mengepalkan tangan erat.


Vio yang mendengar itu pun menyeringai “Iri hati." batin Vio.


Para penjahat itu pun di bawa ke kantor polisi dengan tuduhan pelecehan terhadap wanita. Setelah kejadian yang menegangkan itu Vio membawa mereka ke Mansion nya disambut dengan senyum merekah pengantin baru yang lagi kasmaran.


Mereka melihat Vio membawa 3 orang wanita saling pandang bingung dari kemarin membawa orang asing ke dalam rumah mereka.


Padahal mereka tidak tau Vio merencanakan sesuatu agar mereka menjadi orang yang kuat dan tidak mudah ditindas. Cukup Vio yang merasakan bagaimana rasanya di khianati oleh keluarga dan mantan kekasihnya.


Terlihat di ruang tamu begitu ramai dengan suara canda dan tawa, wajah mereka begitu bahagia sesekali si wanita menjahili prianya bahkan mereka tidak malu mempertontonkan kemesraannya pada orang tua mereka.


Seketika raut wajah Linda berubah. Gio yang menyadari perubahan raut wajah sang istri pun memegang kedua pipi istrinya.


“Kenapa mukanya ko jadi sedih gitu sayang?” Tanya Gio dengan wajah khawatir.


Mereka yang mendengar pertanyaan Gio pun memperhatikan interaksi pasangan pengantin bau tersebut.


“Kak Gio, gimana kabarnya kak Vio sekarang. ya?” tanya Linda dengan wajah sedihnya.


“Linda ibu sudah bilang jangan sebut wanita ****** itu lagi disini.” sahut ibu tegas.


“Tapi ibu, Linda mengkhawatirkan kakak. Setidaknya dia menghubungi kita apakah kakak baik-baik saja diluar sana? Linda sayang sama dia. Linda yang salah karena jadi istri kak Gio pasti kak Vio benci dengan Linda." jawab Linda dengan berderai air mata buaya.


Linda menyalahkan dirinya sendiri seolah-olah dia yang bersalah padahal kenyataan yang sebenarnya malah sebaliknya. Mereka terharu melihat Linda begitu menyayangi Vio tapi mereka mengingat bagaimana Vio memperlakukan Linda didepan mereka hanya bisa menahan emosi yang bergejolak dalam hati.


Mama Gio pun berdiri menyusul ke samping Linda sambil menggenggam tangan Linda.


“Hei sayang, dengerin mama bukan salah kamu. Vio sendiri yang berselingkuh dan memutuskan pernikahan dia. Lihatlah anak mama dia begitu bahagia menikah dengan kamu. Apa jadinya nanti kalau mereka berdua yang menikah akan kah Gio terlihat bahagia seperti sekarang.”ucap mama Gio dengan mengusap air mata Linda yang berjatuhan.


“Benar sayang, aku kan sudah bilang jangan salahkan diri kamu sendiri. Kamu itu sangat baik sayang. I LOVE YOU.” ucap Gio sambil mendekap tubuh Linda mengecup keningnya berulang-ulang.


“LOVE YOU TOO.” sahut Linda dalam dekapan Gio sambil menyeringai.


Linda menumbuhkan kebencian di hati mereka tanpa mereka sadari. Dengan Linda yang terlihat lemah lembut, tapi penuh duri.


Tapi drama yang dimainkan Linda tidak lepas dari penglihatan orang yang mereka bicarakan. Dia melihat semuanya karena dia meng-hack sistem keamanan mansion yang dulu pernah menjadi memory kenangan yang indah di sana.


Bukan perkara sulit bagi Vio untuk menghancurkan mereka semua tapi belum saatnya dia menunjukkan taringnya.


Terlihat setitik air mata yang jatuh di pipinya. Terlintas lagi kenangan dia saat kecil tertawa riang berlarian ke sana kemari, menjahili orang tua serta kakek neneknya tapi seketika malah terlintas di otak cantiknya kenangan pengkhianatan yang mereka lakukan membuat dendamnya semakin dalam.


Mereka harus merasakan bagaimana rasanya sepertinya pikir Vio.


Sakit?


Begitu menyakitkan. Hati yang terluka tidak bisa disembuhkan. Itu lebih buruk lagi jika luka yang datang berasal dari orang yang kau cintai. Luka hati yang tidak terobati, goresan masih sangat terlihat, nyeri nya masih sangat terasa.


Sakit sungguh begitu sakit.


Mengapa hati ini bisa merasakan sakit bagai tertusuk ribuan jarum yang menyesakkan dada? Apakah luka ini akan terobati? Apakah akan tersembuhkan seiring berjalannya waktu?


Entahlah


___________________________________________


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


**Tbc***