From Zero To Hero

From Zero To Hero
Chapter 4 : Latihan



Keesokan harinya.


Merasa dirinya sudah lumayan sehat, Ryu ingin segera pergi dari rumah sakit untuk berkerja. Dia sudah tahu bahwa biaya rumah sakitnya dan biaya rumah sakit kakaknya sudah dibayar oleh Regina saat dia bertanya di loket pembayaran sebelum dia pergi meninggalkan rumah sakit, Ryu tidak menyangka bahwa Regina akan membayar Biaya tagihan rumah sakit kakaknya selama 5 tahun yang berjumlah 500 juta rupiah.


Hal itu membuat Ryu sangat senang dan Ryu ingin berterima kasih kepada Regina dengan mendatangi ruangan adiknya Regina tetapi disana tidak ada keberadaan Regina melainkan hanya ada seorang suster yang sedang menjaga dan merawat adiknya Regina. Sebelum pergi, Ryu pergi menjenguk kakaknya yang sedang tertidur panjang, penyakit kakaknya Ryu ini tidak mengancam nyawa, denyut jantung kakaknya Ryu masih berdenyut hanya kakaknya Ryu saja yang belum bangun atau sadarkan diri hingga saat ini.


Ryu pun seperti biasanya pergi ke tempat dia berkerja sebagai tukang parkir disebuah minimarket di perkotaan. Sesampainya di mini market tempatnya berkerja, Ryu sempat berhenti sebentar. Ryu membaca sebuah papan yang bertuliskan "Dilarang menjadi tukang parkir disini!" di depan mini market tersebut.


Ryu biasanya berkerja sebagai tukang parkir bersama seorang pemuda lainnya yang sudah lumayan akrab sama Ryu. Tapi kali ini Ryu tidak melihat keberadaan teman kerjanya di minimarket tersebut, mungkin karena ada papan yang memberi pengumungan larangan menjadi tukang parkir membuat teman kerjanya sebagai tukang parkir Ryu tidak lagi berkerja disana sebagai tukang parkir.


Ryu pun pergi meninggalkan minimarket itu dengan rasa kecewa.


Tak lama setelah itu...


"Grrroooaarrr!!"


Monster muncul dan mengaum disekitar minimarket tempat Ryu berkerja.


Orang orang yang ada disekitar sana berlari kepanikan. Karena ini masih pagi hari, pegawai kantor, nenek nenek dan ibu ibu yang membawa kantong belanjaannya berlari kepanikan karena munculnya monster itu.


Kebetulan sekali Ryu masih belum jauh dari tempat kejadian itu. Ryu terpikirkan dengan kekuatan yang didapatkannya dan Ryu pun berbalik dan berlari menuju tempat monster itu muncul yaitu minimarket tempatnya berkerja sebagai tukang parkir.


Saat hampir sampai ke tempat kejadian, Ryu melihat wanita yang membayar tagihan rumah sakitnya dan biaya tagihan rumah sakit kakaknya sedang bertarung melawan monster yang badannya lebih besar dua kali lipat dari tubuh wanita itu, dan wanita yang dimaksud adalah Pahlawan rank S Negara Indonesia, Regina si Penari Pembunuh.


Pada awalnya Ryu kaget melihat Regina ada di dekat monster itu, dan Ryu berniat menyelamatkan Regina dari monster itu untuk membalas budi dan berterima kasih atas jasanya, tetapi Ryu mengurungkan niatnya tersebut. Dia melihat Regina seperti tidak membutuhkan pertolongannya, Regina terlihat seperti sedang menari dengan ayunan kedua pisau ditangannya.


Ini bukanlah pertama kalinya Ryu melihat seorang Pahlawan bertarung melawan monster. Tetapi Ryu tidak pernah melihat Pahlawan sekuat Regina ini bertarung melawan monster di depan matanya, Ryu hanya pernah melihat seorang Pahlawan rank S bertarung dengan monster lewat saluran yang ada di televisi.


Saking lincahnya gerakan Regina, Regina terlihat seperti sedang menari. Tariannya dibekali dengan dua bilah pisau dikedua tangannya dan pisau itu berhasil menggores kulit monster yang memiliki tanduk dan badan yang berwarna ungu gelap di depan matanya saat ini.


Monster itu hanya satu ekor dan bagi seorang Pahlawan rank S, bukanlah hal yang sulit melawan monster yang setingkat itu apalagi jumlahnya tidak banyak.


"Aku lagi lewat daerah sini, malah ketemu monster." Regina berkata didalam hatinya sambil melakukan gerakan pembunuhnya kepada monster itu dengan cepat.


Monster itu berteriak keras karena kesakitan akibat serangan pisau dari Regina. Pada akhirnya, tanpa perlawanan, monster itu mati ditangan Regina dengan badan yang tergores gores oleh serangan dari pisau milik Regina. Sorak soraya penduduk kota yang melihat kejadian itu terdengar keras ditelinga Regina yang terlihat sedang berdiri dibawah jasad dari monster itu dengan keadaan tubuh yang bersih tanpa ada darah akibat pertarungannya tadi sedikitpun.


Disisi lain, Ryu masih terkejut melihat pertarungan itu. Disaat Ryu ingin mendatangi Regina, Ryu harus melewati kerumunan yang tadinya tidak terlalu ramai kini menjadi ramai. Sulit bagi Ryu untuk melewati kerumunan yang mengelilingi Regina saat ini, dan tanpa ada suara sedikitpun, Regina pergi meninggalkan kerumunan itu disaat Ryu telah berhasil melewati kerumunan yang ramai itu.


Regina tidak tahu bahwa ditempat sana ada Ryu yang sedang melihatnya, Regina tidak bisa melihat Ryu di keramaian itu tetapi Regina merasa ada energi yang dikenalnya berada di tempat itu tetapi Regina tidak mengingat energi milik siapa itu, padahal energi yang dirasakannya adalah energi milik Ryu.


Setelah semua tragedi itu selesai, Ryu memilih untuk pulang kerumahnya dan berlatih dengan kekuatannya yang telah diberi oleh Dreqiri.


Melihat Regina bertarung dengan hebat tadi, Ryu merasa terkagum kagum dan dia berpikir bahwa menjadi Pahlawan itu sangat menguntungkan apalagi menjadi Pahlawan kuat yang mendapat rank S. Seperti yang sudah diketahui, Pahlawan Rank S itu kaya dan hidup mewah, karena uang yang didapat mereka dari Organisasi Pahlawan Indonesia sangat banyak. Ryu berniat menjadi Pahlawan rank S supaya hidupnya tidak susah lagi dan dia tidak perlu lagi berkerja sebagai tukang parkir.


Sesampainya dirumah Ryu pun ingin segera memulai latihannya setelah ia selesai mandi.


"Entah kenapa cara melatih sihir yang diberi oleh orang itu saat di alam bawah sadarku terus terbayang bayang di pikiranku. Tapi karena itu, aku jadi tahu cara melatih sihir ini." ucap Ryu didalam hati sambil mengeringkan badannya setelah mandi menggunakan handuk.


Ryu pun masuk ke kamarnya dan memakai pakainnya dan berniat untuk langsung memulai latihannya sesuai tata cara yang ada didalam pikirannya.


"Nama kekuatan sihir ini Shape, artinya bentuk. Di sini dijelaskan bahwa kekuatan ini dapat merubah atribut yang ku keluarkan menjadi berbagai benda, dan atributku adalah Kegelapan." Ryu berpikir sambil duduk bersila di samping ranjangnya.


"Kekuatan sihir dan atribut itu berbeda. Atribut atau juga disebut sebagai elemen mendukung kekuatan sihir dan kekuatan sihir akan menjadi kuat jika didukung oleh elemen itu sendiri." Ryu berpikir dengan konsentrasi.


"Disini mengatakan bahwa elemen itu tidak bisa diberikan, tetapi mengapa orang yang ada didalam alam bawah sadarku kemarin bilang bahwa dia telah mengirimkan elemen atau atribut padaku? Elemen atau atribut itu adalah murni dari diri sendiri, karena tidak semua orang memiliki atribut maka mereka tidak akan memiliki energi untuk memiliki kekuatan sihir" Ryu berpikir dengan penuh konsentrasi.


"Dan satu hal yang paling penting...KENAPA AKU BISA SEPINTAR INI? apa yang terjadi padaku, kurasa waktu sekolah dulu aku tidak terlalu pintar." ujar Ryu didalam batinnya.


"Baiklah aku akan memulai latihan. Langkah pertama adalah magical ekstrak seperti yang ada dipikiranku." Ryu pun menutup matanya sambil duduk bersila.


Ryu berkonsentrasi dan berlatih agar dia bisa menjadi kuat supaya dia bisa berkerja di Organisasi Pahlawan Indonesia dan menjadi Pahlawan rank S agar hidupnya tidak susah lagi.


"Aku merasa energi sihirku mengalir diseluruh tubuhku dan sensasi ini sungguh enak." Ryu berkata didalam pikirannya dan masih duduk bersila.


Akhirnya, proses pengaliran energi sihir atau juga disebut sebagai magical ekstrak.


"Wah sensasi seperti ini belum pernah kurasakan!" Ryu spontan berdiri dari duduk bersila dan berteriak kesenangan.


"Langkah kedua adalah skill atau jurus, aku harus membuat jurus pertamaku sesuai dari energi yang bisa tubuhku tampung." Ryu berkata didalam hatinya.


"Ternyata begitu...saat ini aku hanya bisa menciptakan satu jurus karena energi sihir yang ditampung tubuhku tidak banyak. Kalau aku ingin memperbesar tampungan energi sihir aku harus bermeditasi...hm jadi begitu ya.." ucap Ryu didalam hatinya.


"Sepertinya, aku harus menciptakan jurus diluar rumah saja, aku khawatir akan menimbulkan kerusakan, mungkin saja akan ada yang rusak meskipun aku belum terlalu kuat." ucap Ryu didalam hatinya sambil berjalan keluar dari rumahnya.


Karena ini masih pagi hari, anak anak kecil masih bersekolah, dan para orang tua ada pekerjaan mereka masing masing jadi, Ryu memilih untuk membuat skill atau jurus pertamanya di lapangan tempat dimana biasanya anak anak kecil bermain pada sore hari, Ryu pun berjalan menuju ke lapangan tersebut.