Foreign Place

Foreign Place
Ravine



Dalam keadaan tersesat ini, Ella pun menyuruh teman-temannya untuk tetap tenang dan menghentikan kembali perjalanan di sekitaran hutan terlarang ini. 


"duduk dulu deh! " ajak Ella sambil menenangkan semua temannya 


"tetep rileks kalian, perjalanan kita tidak bisa diperkirakan oleh waktu. Kita harus bisa survive juga disini. Jadikan ini sebagai pengalaman dan pembelajaran untuk kita semua. Kita harus saling peduli, karena kita bukan hanya sekedar tentang aku dan kamu, tapi aku, kamu, dan kalian semua" sambung Ella sambil memperhatikan gerak-gerik Deden yang dari tadi terlihat sedikit aneh. 


"Den, kamu kenapa? Kamu lagi ngapain?" tanya Denis, ternyata dia juga sadar bahwa ada yang aneh dalam diri Deden. 


"jangan ganggu dulu, aku lagi merasakan sesuatu tentang hutan dan kabut ini" 


"apa yang kamu rasakan? Sebuah getaran? Kalo iya pun apakah getaran hati? Apakah ini yang dinamakan cinta? Atau kamu sedang….."


 ucapan Aulia pun terpotong karena mulutnya langsung dibekap oleh tangan Denis sekaligus tatapan tajam dari semuanya terutama Deden yang sambil menempelkan telunjuk ke bibirnya. Aulia sibuk melepaskan tangan Denis gara-gara kesulitan untuk bernafas. 


"gak lama lagi… Gak lama lagi…" 


"gak lama lagi… Gak lama lagi…" 


"gak lama lagi… Gak lama lagi…" 


Hanya kalimat itu yang bisa diucapkan oleh seorang Deden. 


"gak lama lagi kenap…." lagi-lagi Aulia berulah dan ditahan lagi oleh Denis. Sisanya masih fokus memperhatikan Deden. 


Kurang lebih sepuluh menit berlalu. Deden tiba-tiba mengganti posisi duduknya dan raut wajahnya mendadak terlihat santai. 


"ka.. Tau sesuatu tentang jurang tanpa dasar gak?" tanya Deden pada Frederica


"jurang kaya gimana? Semacam Palung Mariana?" tanya Frederica balik


"nah iya itu, kamu tau tentang apa aja seputar tempat itu?" 


"pokoknya kedalamannya lebih dalam dari pada ketinggian puncak Everest. Anggap aja Everest terbalik, segitu kedalamannya kira-kira. Sama satu lagi, disana ada beberapa hewan aneh, seadevil salah satunya, nah terus……" 


"cukup ka. Kita habis ini pergi ke arah barat, buat Putra sama Ella, susun lagi strategi kalian, aku yakin kalian bisa. Terutama kamu wahai ahli catur!" perintah Deden sambil menunjuk Putra. 


"Den!" panggil Sabara pada Denis


"haaa?" sahut Deden dan Denis, bersamaan 


"eh iya, ada Deden sama ada Denis" kata Sabara sambil menepuk dahinya


"yaudah deh aku ulang nih, nis!" sambung Sabara


"yah masa aku dipanggil nis sih? Kaya cewek dong" 


"mau siapa lagi? Toh disini nggak ada yang namanya Nisa kan? Atau Niswah, atau Nisya, atau Nis - nis yang lainnya" 


"yaudah deh iya, terserah" jawab Denis pasrah. 


"nis, sini diskusi sama kita!" ajak Saburu 


Ella dan Putra pun menyusun rencana, sambil ngobrol dengan yang lainnya. Berbeda lagi dengan Sabara, Saburu, Dan Denis. Mereka bertiga malah menyusun rencana untuk bertarung. 


"apa bakal ada perkiraan lagi kalo misalnya kita bakal ketemu lagi sama makhluk itu?" tanya Sabara penasaran 


"kemungkinan nya lima puluh persen lah ya, kira-kira selain kabur, kita bakal ngapain?" tanya Saburu pada mereka berdua


"masa mau kita kasih terasi kaya di cerita Timun Mas?" celetuk Denis asal.


"Ngga, ya gatau, namanya juga asal jawab ru" balas Denis sambil tersenyum lebar 


"yaudah gini aja, lari nya kita kan sama sama-sama cepet nih, bayangin aja dulu kalo misalnya kita emang ketemu dia, nis.. Kamu gendong Aulia, kakak gendong Deden, nah aku gendong Frederica. Dan yang pasti Ella bakal digendong sama Putra. Iya gak?" usul Sabara sambil memainkan daun di sekitar. 


"lah, terus barang bawaan kita gimana?" tanya Denis


"ya taro di depan lah! Ayo kita lelah demi kita semua, aye!" seru Sabara sambil mengepalkan tangannya keatas


"sssttt!" desis Saburu dan Denis bersamaan


"ayo gais, kita ke lapak yang ini!" ajak Ella kepada mereka bertiga. Refleks mereka pun menghampiri Ella dan teman-temannya yang lain 


"ekhm.. Sesuai diskusi tadi, kita fokusin aja ke arah barat terus lurus aja, pokoknya kita harus barengan! Nah kalo masalah jur……" 


BUM! BUM! BUM! 


Tanpa tanda-tanda yang pasti. Bayangan Big Foot tepat berada di hadapan mereka. Tanpa aba-aba pun mereka langsung menarik semua perbekalan mereka dan


"LARIIII!!!!" teriak Ella, semua mengikuti arah lari Ella


BUM! BUM! BUM! 


Suara hentakan kaki semakin jelas, bahkan getaran dari hentakannya pun mulai terasa. Ella dan teman-teman semakin panik dan semakin mempercepat langkahnya. Saburu pun mulai mengambil alih barang bawaan Deden dan menyuruh Deden naik ke punggung Saburu. Begitupun Sabara, Denis, menyisakan Putra dan Ella masih berlari masing-masing. Putra pun menarik lengan Ella dan


"siniin barang kamu. Aku gendong kamu" ucap Putra. Ella pun menyerahkan semua barangnya dan naik ke punggung Putra.


"udah siap?" tanya Putra lagi


"udah kok" 


"pegangan yang erat, aku bakal nyusul mereka!" 


Putra langsung memulai langkahnya. Big Foot sudah terlihat jelas di mata mereka berdua. Ternyata Putra mempunyai bakat lari yang handal, sampai Ella refleks memeluk Putra erat sambil menutup matanya karena takut


Aaaargghhh!...


Big Foot mulai berulah namun sudah terlambat untuk mengejar kita, karena langkahnya mulai melambat untuk saat-saat ini. 


Putra pun sudah menyusul Sabara, Saburu, Dan Denis. Lalu mereka pun memperlambat kecepatannya. 


"aku mau ngasih tau, kalo misalnya kita nemu jurang, masuk aja kesana! Itu satu-satunya jalan hidup kita!" teriak Putra pada mereka bertiga. 


“Serius den ?” tanya denis


"emang ada apa disana?" tanya Sabara penasaran 


“Udah kalian gausa banyak tanya, percaya aja ma gue”


*okeh bos!" jawab mereka serentak*


“Hmm..sudah waktunya ya..” gumam frederica.


Ella merasa sedikit ada hal yang aneh terjadi pada frederica saat ini.


"misi kita yang sebenarnya ada di dalam sana" jawab Putra singkat. Lalu kembali mempercepat langkahnya. Tanpa sadar, hari semakin gelap. Dan ternyata jurang tanpa dasar pun terlihat tepat di depan mata. 


"TUTUP MATA KALIAN SEMUA DAN TETAP LURUS!" seru Putra. Serentak semua menutup matanya sampai tak sadar mereka sudah tidak menapaki daratan lagi