Foreign Place

Foreign Place
Gathering



Setelah Ella berlari dari tempat itu, ia mendapati sebuah gerbang yang bersinar.


“Apa mungkin itu jalannya? Sudahlah jangan banyak berpikir aku harus ke tempat putra terlebih dahulu”. 


Ella berlari cukup kencang dan keluar dari tempat tersebut. Ia tiba-tiba berada di hutan yang cukup rindang.


“*huff* *huff* ini dimana? Sepertinya ini tempat yang berbeda dari tempatku tertarik tanaman sebelumnya”.


Ella melihat sekitar dan didapati ada seseorang yang berbaring dibawah pohon dengan keadaan terluka di bagian perutnya. Ia mendekati orang tersebut dan ternyata itu adalah putra.


“Astaga..putt..putra” 


Putra yang terbaring lemas melihat Ella dengan penglihatan yang samar-samar.


“Ell..apa itu kamu Ell, apakah aku sudah mati dan berada di surga?”.


“Iyaa put ini aku. Ti..tidak put kamu belum,,kamu tidak boleh mati disini put”


Ella langsung menyobek sedikit rok nya untuk pertolongan pertama pada sayatan luka di perut Putra.


“Ahh..maaf ya Ell..aku merepotkanmu”


“Tidak..kamu tidak boleh minta maaf, ini semua karena salahku. Jika saja saat itu aku tidak menghambat kalian maka tidak akan terjadi sesuatu seperti ini”. Ella dengan nada cukup bersedih.


Putra meletakan tangannya di atas kepala Ella dan mengelusnya.


“Sudahlah kau tidak perlu cemas, lihat saja aku masih tetap hidup sekarang ini. Dan jangan menyalahkan dirimu sendiri akan hal itu. Dan hal tersebut bukan salahmu, aku sendiri yang secara sukarela untuk membantumu dan teman-teman. Aku sudah pernah mengatakan, jika kau memiliki masalah bergantunglah padaku.


Ella menyadari bahwa dirinya memang tidak bisa diandalkan walaupun begitu ia masih tetap ingin menjadi orang yang dapat di andalkan orang lain. Oleh sebab itu ia ingin berusaha untuk yang terbaik selanjutnya. 


Pertolongan pertama pun sudah selesai, mereka berbaring untuk beristirahat sejenak.


“Elllaaa…Putraaa.” Teriak Denis.


“Jika kalian mendengar ini teriak lah”. Teriak Sabara


“Apa benar ini adalah cara yang tepat untuk mencari mereka *Huff*” Keluh Aulia.


“Untuk sekarang kita harus berharap bahwa mereka masih hidup”. Ujar Deden.


“Tentu tapi, kalian tahu kan kita belum menemukan mereka dan lagi persediaan makanan kita juga sudah setengahnya”. 


“Lebih baik hari ini kita istirahat saja dulu hari ini, Karena sudah setengah jalan dari yang kita lalui bagaimana?” Ucap Deden.


“Benar, mungkin bila kita beristirahat disana akan muncul sosok monyet itu. Cukup menyebalkan bila bertemu mereka saat malam hari”. Jawab Aulia.


“Yasudahlah...ayo semua kita set dan beristirahat di sini”. Ucap Saburu.


Sesuatu seperti ini memanglah belum terjadi. Tetapi entah kenapa mimpi ini masih begitu sangat nyata! Apakah ini suatu pertanda yang akan terjadi?


“Teman-temann…..” Teriak Ella tiba-tiba terbangun.


Teriakannya Ella cukup keras sehingga membangunkan Putra.


“Ell ada apa? ”. 


“Tidak..itu hanya mimpi buruk, bagaimana itu soal lukamu? ” 


“Sepertinya aku sudah bisa berjalan untuk sekarang”.


*grukk* *gruukk* suara perut putra.


“Ah..” 


“Ohh iya..Aku punya beberapa roti, makanlah” Sambil membuka tas.


“Hehe..Terima Kasih”


“El..bagaimana kalo kita mencari mereka?”


“Ohh..iya aku hampir lupa ayo kita bergegas put”.


 Ella dan putra berjalan hingga 1 jam lamanya tapi mereka belum juga menemukan keberadaan teman temannya


"Kamu capek el? Gmna kalo kita istirahat dulu aja? ".Tanya putra melihat Ella yg tampak kelelahan


"Iyaa, tapi kita harus secepatnya mencari teman teman put! ". Jawab Ella yg mengingat kata kata si misterius 


*Flashback*


“Terimakasih" ucap Ella sambil tersenyum 


"Cepat lah selamatkan rekan - rekan mu, kali ini mereka benar - benar mendapatkan bahaya" ucap si misterius sambil tegas


Sehingga membuat Ella bingung dan kaget, padahal Ella baru keluar dari zona tetapi dia langsung mendapatkan masalah 


Ella pun langsung berlari sekencang - kencangnya untuk menghampiri rekan-rekannya yang akan menyusul ke tempat Ella terjerat sebelumnya.


"Aku mengerti apa yang mengganggu pikiranmu El, tenanglah mereka akan baik baik saja, mereka mungkin akan bertemu si misterius yang juga kau temui". ujar putra menenangkan Ella yg sangat tampak gelisah.


"Iyaa put". Jawab Ella yang bersandar ke Pohon.


Putra lalu menyusul Ella duduk, sambil memikirkan strategi bagaimana cara mereka akan keluar dri sini


Aku terduduk menatap pohon pohon yg lebat disini, aku bingung menelusuri ruang imajinasiku untuk menyusun strategi.


------------------------------------------------------


"Wahh masa di dalam lumpur hisap banyak sekali akar-akar". Ucap Aul melihat akar akar itu.


Mereka hanya memandangi akar akar itu


"Kemarilah" suara itu bukan dari mereka semua


*Mereka saling memandang*


"Suara siapa? Dan dimana kamu? ". Ucap denis sedikit berteriak.


"Kemarilah" mereka lalu berjalan menghampiri asal suaranya.


*Mereka hanya memandang satu sama lain*


"Tidak ada seseorang disini " ucap Aul langsung memeluk tangan Saburu.


"Masa kamu lupa dihutan ini semua yg mustahil bisa terjadi Aull". Ujar saburu mengingatkan aull.


"Dimana kamu? " Tanya denis karena tidak menemukan apapun disana hanya akar dan dinding yg terbuka menampilkan cahaya biru yg sangat terang


Mereka menutup matanya menggunakan tangannya 


"Pasti kalian sedang mencari 2 teman kalian" ujar si misterius 


"Bagaimana kamu tau dan dimana mereka" ujar Aull sangat lega berarti Ella dan Putra juga sudah bertemu dan berada disini .


"Lihat dia..." menampilkan cermin yg menampakkan Ella dan Putra sedang beristirahat dan bersandar di pohon.


"Benarkah ini Ella dan Putra sudah bertemu?". Tanya Eenis melihat cermin itu sedikit bergembira.


"Ya, carilah mereka di sekitar sini" Jawabnya.


Mereka lalu menuju kearah kanan mencari Ella dan Putra 


------------------------------------------------------


Putra mengingat sesuatu, sebelum dia sampai kesini dia melihat sebuah cahaya terang lain selain biru gerbang itu menutup dan dan terbuka bersamaan.


Putra POV


"Sepertinya itu adalah sebuah jalan keluar" kataku dalam hati.


Aku melihat ke arah Ella yang tertidur nampak kelelahan dan gelisah.


"Sungguh aku tidak tega " ujarnya pada dirinya sendiri


"Aku harus cepat menemukan teman teman keluar dari sini melewati jalur cahaya itu" 


"Tapi bagaimana caraku untuk membuka cahaya itu "


Author POV 


"Ellaaaaaa......, Putraaaa ". Teriak Aull menemukan rekannya dibawah pohon yang mereka sandari.


Ella dan putra langsung menoleh tanpa basa basi mereka berlari menghampiri rekannya.


Mereka lalu berpelukan seperti akan berpisah kembali.


"Sudah sudah, sekarang kita harus memikirkan bagaimana kita keluar dari sini" Ucap Putra setelah memeluk rekannya.


"Istirahat dulu lah put capek ini". Jawab saburu mendengus mendengar akan melanjutkan perjalanan lagi dia sangat lelah sekarang.


"Haha iyaa kita buat tenda disini dulu". Ujar Ella tertawa melihat wajah kusam saburu.


Mereka lantas berkumpul didekat api unggun.


Ella menceritakan semua yg terjadi dan mempertemukannya dengan putra.


"Sudah sudah beristirahatlah semua besok kita harus melanjutkan perjalanan "ujar putra menengahi


"Biar aku saja dan saburu yg berjaga". Ucap Sabara kepada rekan rekannya.


"Baiklah,mari tidur!" Ujar aull bersemangat.


Putra terbangun jamnya menunjukkan pukul 06:00 jadi dia harus membangunkan rekan rekannya.


“Jadi apa strategi selanjutnya put?" Ucap deden 


“Kita harus mencari Golden Banana itu, apa kalian sudah menemukannya sebelumnya?”


“Mmmm..belum”


“Golden banana ya? Bukannya emang semua pisang itu warnanya emas?”


“Apasih kam…”


“Ohhh..iya bener juga ga kepikiran aku”. Jawab denis.


*Aul dan Denis melanjutkan ide yang ada di kepala mereka. walaupun hanya dianggap gurauan*.


“Mereka ini sama bodohnya *huft*”. Gumam Deden.


“ Untuk sekarang kalian makan dan istirahatlah”


Meskipun begitu, pasti ada sesuatu yang spesial dari pisang itu.