Foreign Place

Foreign Place
A Traitor



Mereka semua sudah berkumpul di sekitar pohon yang berisikan bidang puzzle. Yang jelas semua kondisi mereka masih setengah sadar kecuali Ella dan Putra yang sudah sadar sepenuhnya. 


"Meong.. Aku akan memberitahumu tentang puzzle yang harus kalian susun ini" suara ini membuat semua tersentak kaget. Sesosok kucing hitam yang selama ini mereka cari


"eh, kamu bukannya kucing yang kemaren kan?" tanya Ella pada kucing itu 


"meong.. Maaf kemarin aku sempat membuat kalian penasaran oleh diriku. Aku suka datang secara tiba-tiba, jadi kalian tak perlu kaget.." 


"ih kamu lucu-lucu gini tugasnya malah bikin orang kaget, haha…." celetuk Aulia, ikut-ikutan 


"yasudah coba kamu jelasin coba tentang apa yang harus kita lakukan sekarang dan selama kita disini" pinta Denis, gak mau ambil pusing 


"meong.. setiap kepingan puzzle memiliki makna tersendiri, setiap puzzle mempunyai beberapa pilihan dan di setiap pilihan terdapat petunjuk nya masing-masing. Kalian harus pintar dalam menentukan pilihan tersebut, karena setiap pilihan terdapat keuntungan dan  resiko besar yang akan kalian hadapi. Entah seperti apa, kalian harus pintar dalam menentukan pilihan yang ada 


"Meong.. Selamat datang kalian di tempat ini, aku hampir lupa untuk mengatakannya. Hati-hati akan beberapa orang diantara kalian, soalnya….." 


Plop! 


Kucing itu menghilang secara tiba-tiba. Semuanya kebingungan akan menghilangnya sang kucing 


"oh iya, disini kan banyak hal aneh yang akan terjadi" Sabara berkata itu dengan polosnya 


"jangan sompral, dek!" tegur Saburu, sedikit mendorong bahu adiknya 


Seketika suasana menjadi hening


"hahaha… keren kalian!, masih bisa bawa kita semua kesini.. Hahaha… Aku lah yang meminta padanya agar kalian berdua saja yang menyelesaikan masalah ini, hahaha…" kata-kata itu membuat semua mata menyorot ke arah si pembicara. Ternyata dia adalah Frederica, tanpa disangka ia bisa berbicara kasar seperti itu


"sebentar.. Ini bener Frederica kan?" tanya Deden memastikan 


"masih gak nyangka ini aku ha? Hahaha…" 


"sudah sepatutnya hal buruk ini terjadi" ucap Deden dengan nada khasnya


"bisa gak sih bersikap biasa aja, den?" kesal Saburu sambil memicingkan matanya ke arah Deden


"aku imut aku diam" balas Deden langsung terdiam untuk ke sekian kalinya 


"Coba jelasin apa maksud kamu disini?" tanya Putra pada Frederica 


"inget kan waktu dimana aku sempat menghilang sebentar dari kalian? Aku mendengar ada suara di sekitar tempat kita mencari kucing yang tidak pasti, aku penasaran dan akhirnya aku tiba di tempat ini. Ternyata aku mendengar suara dari bambu ini, bukankah kalian juga begitu, el, put? Aku sempat mengobrol dengan bambu ini, ternyata dia clue dari semua permainan disini. Dan bambu ini menawarkanku sesuatu yang gak bisa aku jelasin ke kalian. Disini aku diperintah untuk membuat request siapa yang akanl menyelesaikan semua permainan yang ada di Foreign Place ini. 


"Aku hanya menjawab kalian berdua, Ella dan Putra, dimana selama ini hanya kalian yang bisa berkorban demi kita semua. Aku pilih kalian berdua karena jika kita bersama-sama menyelesaikan semua ini sepertinya akan berujung sebuah penyesalan. Aku hanya memilih kalian berdua ini sudah menjadi keputusan yang sangat matang dari pikiranku dan aku memutuskan untuk kembali supaya kalian tidak sempat mencariku sampai sini. Ternyata aku tak menyangka, kalian berdua bisa membawa kita semua kesini dalam waktu yang singkat "


"oh, jadi kamu melakukan ini demi imbalan yang tujuannya untuk kepuasan diri kamu sekarang? Disini aku agak keliru sama kamu ka, Kalau misalnya kamu tadi di suruh membuat permintaan, kenapa kamu gak menyebutkan semua anggota kita? Kenapa dengan enaknya kamu mengorbankan aku dan putra atas semua ini? Bukankah kita selama ini pergi melangkahkan kaki bersama dengan satu tujuan yang sama?" Ella melontarkan semua pertanyaannya


"oke aku jawab pertanyaan kamu, Eudocia Ella. Yang pertama, iya ini demi aku bisa melangsungkan kehidupan aku disini. Entah kenapa aku yakin kita akan menetap disini selamanya. Yang kedua, karena aku tidak mau menjadikan yang lain sebagai perusak rencana sekaligus hubungan kalian yang makin kesini semakin romantis. Yang ketiga, aku yakin jika kalian yang melakukannya, kalian akan menyelamatkan nyawa kita yang lain. Entah kenapa aku rasa kita akan menetap disini"


"jawaban dengan alasan kurang logis.." batin Ella


"oke, kalo itu yang kamu mau. Lebih baik aku yang pergi dari kehidupan kalian, lebih baik aku yang mengorbankan diri demi keselamatan kalian semua. Terutama kamu, Putra. Maaf kalo selama ini aku sering membuatmu kerepotan atas semua tingkahku. Buat kalian yang masih bertahan, silahkan ikutin aturan dari Putra. Erica, kita tuker posisi aja, gimana? Aku tau kamu bilang kaya gini biar kamu ngelepasin emosi kamu kan soalnya kamu suka sama Putra kan?"


"akhirnya kamu sadar el.." balas Frederica tersenyum sinis.


 Ella pun pergi menjauh dari teman-temannya menangis sejadi-jadinya 


*Ella POV*


Biarkan emosi dan egois ku keluar sekarang. Mungkin aku tau seharusnya aku gak usah bilang hal barusan. Mana sempat, emosi udah naik sampai ubun-ubun. Biarkan aku sendiri untuk beberapa waktu kedepan, biarkan aku melepas semua amarahku tanpa dilihat orang lain, biarkan kepalaku terus menunduk dan tidak menatap ke arah lain, apalagi langit. Ini masih dini hari, aku mengawali hariku dengan tangisan. Tapi tak apa, setidaknya kesedihanku masih ditemani sunyi nya malam. Aku tidak mendengar apapun, aku fokus pada diriku sendiri. 


Dan yang jelas aku sendiri tidak tahu menau apa yang sedang terjadi padaku. Ngomong-ngomong dari tadi aku bicara apa sih? 


*Author POV*


"jadi, ini mau gimana?" tanya Putra, memecah keheningan


"aku mau Ella tetep ada bersama kita semua”. pinta Deden, mungkin ia baru mendapat pencerahan.


"yang lain, mau gimana?" Putra melempar pertanyaan yang sama pada yang lain


"kita tunggu Ella tenang, aku yakin dia sedang terbawa emosi. Putra, kita tetap akan menuruti perintah kamu, juga Ella. Karena bagaimana pun kalian pemimpin kita yang baik, aku sendiri baru bisa menemukan orang sebaik kalian berdua. Ayo kita lanjutkan perjalanan ini!" ucap Denis, menyemangati


"ka, jadi bagaimana denganmu?!" ajak Deden dengan nada sedikit marah.


"aku? aku uda cukup nyaman disini, tenang disini aku tidak sendiri kok. Silahkan kalian lanjutkan perjalanan kalian, maaf juga atas pilihan hidup aku yang tidak sesuai dengan keinginan kalian, yaitu aku gak bakal selamanya ada bersama kalian" 


"Yah, ibu kos.. Itu nanti homebase siapa pegang nih?" Aulia dengan nada sedikit kecewa.


"udah aku berikan kepercayaan ke satu orang diantara kalian, dan orang itu tetap akan menutup mulut tentang hal ini" 


Di sisi lain, Putra berusaha menghampiri Ella yang masih tenggelam dalam kesedihannya. Perlahan ia mendekatinya sebisa mungkin tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, mengendap-ngendap layaknya agen FBI demi mendekati temannya yang satu ini. 


"Ella..ella dimana dia?, gimana caranya, supaya aku mendapatkan hatinya dia? Kan dasarnya kalo perempuan marah tuh, susah dideketin" batin Putra, menjahili dirinya sendiri.


Tiga sampai lima langkah baru berjalan putra menemukan  Ella, saat ini. Putra pun menghampiri Ella yang sedang bersedih, masih terdengar suara isakan Ella. Putra bingung dimana dia bisa mengambil momen yang pas. 


Satu… 


Dua… 


Ti… Ga! 


Dengan cepat Putra mencoba merangkul Ella dari belakang tanpa mengeluarkan kata sepatah pun dari mulutnya. Tak lama, Putra pun mencoba untuk memeluk tubuh Ella, seperti yang ia duga, tubuh Ella yang mungil terasa dingin, terdengar suara gigi yang saling beradu karena kedinginan. Tak segan-segan Ella membalas pelukannya itu dengan erat dan kembali menangis. 


"Maaf, selama ini aku sering repotin kamu" akhirnya Ella membuka mulutnya tetapi masih membiarkan matanya menutup


"ingat.. satu hal yang pernah ku katakan jangan minta maaf ataupun berterima kasih terlebih dahulu sebelum semuanya selesai!" 


"tapi aku ngerasa gak enak aja gitu sama kamu put, aku selalu saja bergantung  padamu. dan lagi bagaimana soal dia?" 


"karena disini, posisi aku sekarang adalah melindungi semuanya terutama kamu. Disini kita terlihat sebagai pemimpin. Aku ini laki-laki el, pemimpin diantara yang lain meskipun ini merupakan tanggung jawab kamu. Karena kamu, merupakan tanggung jawabku juga, paham? 


"ini kita baru mau mulai ke perjalanan awal. Awal gimana kita akan hadapi bersama, tak hanya aku dan kamu, tapi semuanya. Kecuali si pengkhianat itu yang dengan seenaknya mengorbankan kita berdua dengan alasan yang gak logis sama sekali. Bukankah kamu berpikir demikian? Deden yang memberitahuku. Diamnya Deden ternyata dia bisa membaca pikiran seseorang tanpa ia sadari. "Urusan si pengkhianat itu, dia sudah menggugurkan dirinya sendiri di permainan ini. Ia akan selamanya terjebak dalam tempat asing ini bersama orang-orang yang selama ini kita pertanyakan keberadaannya setelah memasuki hutan terlarang. Ternyata selama ini alasan orang-orang yang tidak pernah kembali lagi ke dunia aslinya adalah, mereka tergiur dengan sebuah penawaran yang pasti kita tak tahu apa itu. Penawaran itu lah yang membuat mereka tak ingin keluar ke dunia asal dengan kehidupan normal seperti kita. 


"sekarang kita cuma ada tujuh orang. Mau gak mau kita harus bisa kembali bersama tanpa seorang Frederica! Sekarang aku mau kamu…" 


"iya.. Aku akan mencoba menenang kan diriku, aku akan kembali bersama kalian dan tidak akan banyak bertanya masalah tadi. Jangan dulu bergerak! Aku masih membutuhkan kehangatan. Kalo kamu tahu, aku belum membuka mataku sama sekali. Mungkin ini berat karena kelopak mataku mulai membengkak"


Putra hanya bisa pasrah dan menuruti apa kata Ella saat ini. 


“Oh, iya put tadi kamu bilang orang tergiur akan penawaran yang dia berikan, kalo begitu mungkin saja di tempat ini ada orang yang terlebih dahulu memasuki tempat ini ?”