Foreign Place

Foreign Place
Reason



Seketika ia tiba-tiba membuka tudungnya, dan yang pertama kali terlihat parasnya yang cantik berambut hitam pekat dan wajahnya yang cantik. Mereka semua mengenali siapa dia.


Mereka tidak menyangka dia adalah salah satu pengkhianat dari kelompok Ella yaitu Frederica.


“F..frederica apa yang kau lakukan disini?”


Muka Sabara yang sebelumnya gembira menjadi terkejut kesal.


“Ho..kalian berdua bagaimana? Apa kau cukup berbulan madu di goa itu?


“...”


Mereka semua terdiam tiba-tiba setelah Frederica mengatakan hal itu. Seketika Denis menyadari apa maksud Frederica mengatakan hal itu.


“Oh, jadi begitu. aku tahu sekarang”


“Kau? Kau tahu apa?”


“Kau yang membuat Ella dan Putra menghilang”


“Ohh, soal mereka? Mereka mungkin sudah mati di gigit anjing”


“K..kau, setelah mengatakan hal itu dengan biasa-biasa saja apa kau psychopath?”


“Mungkin saja, Hahahaha”


“Kau ini pintar tapi...Kau sangat bodoh Denis”


“Dasar kau..!”


Denis sudah dikuasai oleh emosi, dia menuju Frederica sambil mengepalkan tangannya untuk memukul Frederica.


“Akan kubunuh kau saat ini juga..!”


Saat hendak memukul belum setengah dari jarak pukulan, ada seseorang yang menangkis pukulan Denis. Orang itu adalah Deden.


“Den?”


“..”


“Jadi kau lebih memilih pengkhianat ini?”


“...”


Deden hanya terdiam dan tak ingin menjawab pertanyaan dari Denis.


“Benar seperti itu Deden. Kau milikku sekarang..Hahaha”


“Putra? Oh pria lembek itu. Aku begitu hanya untuk membuat hati Ella bimbang dan yang aku cintai adalah..Deden”


“Sebelumnya kami lebih dulu mengobservasi tempat ini dari pada kalian karena saat beredar rumor itu kebetulan kita penasaran dan sampailah kita di tempat ini. Yah seperti itu, aku malas bertemu kalian jadi sampai jumpa, Ayo Den”


Setelah semua keributan itu terjadi keheningan mulai tersebar, hanya ada suara pepohonan kicauan burung dan suara lainnya. Hal itu seperti membuat tekanan kepada teman-temannya apalagi soal Putra dan Ella yang masih kita tahu bagaimana keadaannya. Mereka cukup kebingungan, apakah mereka harus menyerah atau melanjutkan perjalanan hingga mereka kembali ke dunia asal.


Hal itu membuat bimbang dalam hati mereka seakan hal itu membuat mereka sudah putus asa. Tapi mereka membulatkan tekad kembali untuk membuat mimpi jadi kenyataan. Bagaimanapun suatu hal mempunyai jalan keluarnya. Kesenangan tidak akan bertahan lama begitupun sebaliknya, Hal ini yang membuat manusia menjadi serakah atas tindakan apa yang mereka lakukan.


“Wa...Aku tidak tahu lagi” Teriak Denis.


“Apa kau akan menyerah begitu saja?” Tanya Sabara mencoba menenangkan Denis.


“Mungkin”


Hanya kata mungkin yang keluar dari mulut Denis yang sedang lari dari keresahan.


“Apa kau sudah lupa soal janji kita?”


“...”


“Kau berhutang 1000 jarum di perutmu Denis”


Denis yang tadinya termenung menjadi kaget atas apa yang dibicarakan Sabara. Dan mulai berucap.


“Tentu saja ingat, J..jadi aku tidak akan memakan jarum itu kan, Hehe”


“Bila kau ingat jangan seperti itu lagi”


“Baikl..”


Saburu dan Aulia tiba-tiba menyela pembicaraan mereka.


“Ayolah, bagaimana Denis menjadi sepengecut ini? Malu dong sama otot” Sindir Saburu.


“Jadi apa yang kalian bicarakan?” Tanya Aul Polos sambil mengunyah ikan.


“Yah baru saja aku menjadi seorang pengecut, hanya untuk saat ini”


“Sudah ayo mari kita makan”


“Hei..hei tidak ada yang menjawab pertanyaanku?”


Aulia ditinggalkan teman-temannya.


“Hei..hei jangan tidak pedulikan aku”