
“*huahhh* Hari ini sepertinya menyenangkan untuk berkeliling sebentar. Walaupun kita sedang berada ditempat yang asing setidaknya masih bisa melakukan hal yang seperti di dunia asal. Bagaimana Sabara?”
“Boleh, kita bertaruh ya siapa pertama sampai tempat awal, yang kalah harus melakukan apa yang pemenang suruh, bagaimana?”.
Saburu menampar dirinya sendiri untuk membuat dirinya bersemangat.
“*plak* *plak* Ayolah, sekarang bukan waktunya untuk terlalu tegang. Waktunya untuk berlari beberapa putaran!!!”.
“Ayooo!!!”.
Dalam waktu yang lama Saburu dan Sabara pergi, teman-teman baru lah terbangun. Ella dan yang lainnya seperti terlambat menyadari bahwa Sabara dan Saburu pergi.
“*Slurrp* Mmm Oiya apa kalian belum liat Si kembar ?” Tanya Deden.
“Apa mereka diculik makhluk Aneh di hutan ini?” Ucap Aulia resah.
“Tenang-tenang mereka berdua cukup bisa diandalkan. Paling mereka sedang berlari bersama..”
“Aku yang menang Hahaha. Ternyata kau masih payah Sabara, Jangan lupa yang kita janjikan” Saburu bersorak”.
“*huft* *Huft* Baikk baikk terserah kau saja”.
sebentar lagi juga datang, Tuh baru aja diobrolin dan nongol”. Ucap Denis.
“Wihhh ada apa nih? Kalian makan tapi tidak mengajak kita ucap Saburu”.
“Kalian kan baru datang. Istirahtalah dulu biar aku buatkan”. Ucap Ella.
“Bagaimana persediaan air kita?” Tanya Putra.
“Sepertinya Hanya beberapa liter lagi. Dan sepertinya hanya untuk hari ini saja”. Jawab Ella.
“Oiya tadi saat kita berlari ada sumber mata air dan ada sesuatu yang cukup aneh di dalamnya seperti…. sesuatu yang bersinar-sinar, bagaimana kalo kita kesana setelah ini?”. Ucap Sabara.
“Muu..Mungkin itu yang kita cari”. Ucap Deden dengan senang.
“Baiklah, yang sudah selesai makan langsung siapkan barang kalian”. Ucap Putra.
Setelah beberapa saat mereka makan Ella dan yang lainnya melanjutkan perjalanan mereka menuju mati air itu. Setelah sampai, mereka melakukan pencocokan airnya apakah layak minum atau tidak.
“Bagaimana Put apa bisa kita minum?”
“Mmm...Bisa ini bisa kita minum secara mentah”.
“Ayo kita isi ulang botol-botol kita!!”. Ucap Aulia dengan mata bersinar-sinar.
“Selagi kalian mengisi aku akan kedalam sana, Aku akan memberi kode ketika menurutku cukup aman didalam”. Ucap Putra.
*Baikkk*
Beberapa menit kemudian Putra memberi siasat kepada mereka untuk masuk kedalam goa yang bersinar-sinar itu. Belum sampai 10 menit berjalan mereka menemukan sesuatu seperti pintu yang cukup besar.
“In..ini pintu apaan besar banget” Ucap Aul.
“Ya, tapi apa yang harus kita lakukan. Pintu ini tidak bisa didorong, hanya bisa dilakukan dengan kekuatan gelap”. Ucap Deden.
“Jadi apa kau bisa membukanya Den? “ Tanya Denis.
“Tidak, aku tidak mempunyai kekuatan seperti itu”.
Di keadaan yang membingungkan ada suara yang tak asing di telinga mereka.
*Meowww* *meowww*
“Kucinngg..dimana kamu” Ucap Ella.
*Aku dibawah*
*Ella menggendong kucing hitam itu*
“Jadi apa kau punya informasi bagi kita?” Tanya Saburu.
*Tentu saja *Meoww..*Kalian harus mencari kunci yang terkubur disini *Meoww*
Itu saja aku akan pergi lagi *Meoww…*
“Seperti yang telah dikatakan, apakah kita akan menggali atau bagaimana?” Ucap Putra.
“Kalau saja kita punya detektor”. Ucap Denis.
*Aulll mengecheck kantongnya*
“Tada aku punya sesuatu seperti ini”. Ucap Aulia.
“Mmmm..ini bagus tapi apakah daya tarik nya cukup kuat?” Ucap Denis.
“Sepertinya cukup dari bentuk saja sudah keliatan” Ucap Putra..
“Baik kita coba saja dulu”.
Beberapa saat mereka menodongkan magnet ke tanah masih belum mendapatkan hasil. Setelah cukup lama Sabara melihat sesuatu, seperti ada tengkorak yang bersandar di tembok dan memakai pakaian seperti penyihir.
“Kaliann..kaliann coba kesini”
Semua orang menoleh kearah Sabara.
“Ada apa?”
“Coba lihat disana”
“Ya itu memang, mungkin saja orang itu dibunuh dan kuncinya tertinggal disana”. Ucap Deden.
“Coba kita dekati” Ucap Putra.
“Ini sepertinya tongkat. Apa tongkat ini kuncinya?”
“Berarti tempat ini memang banyak ilmu hitam nya, hiiii” Ucap Aul.
“Tunggu ini seperti surat”
Ella mengambil surat itu
“Mmm apa ini…”
“Coba kulihat...mmm Itu sepertinya bahasa kuno kau bawa saja siapa tau itu sebuah petunjuk lainnya. Mungkin saja Fredericha tau apa maksudnya itu”. Ucap Deden
“Tt..tapi kan dia sudah pergi meninggalkan kita. Bagaimana mungkin dia kembali kepada kita?” Tanya Ella.
“Ya, memang”
Deden memberikan kata-kata yang cukup dingin kepada teman-temannya.
“Pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh Deden”. Gumam Ella.
“Untuk saat ini kita coba dekatkan tongkat ini dengan pintunya”
Mereka membawa tongkat itu dan mendekatkannya ke pintu. Pintu itu tidak bergerak.
“Apa benar ini?” Ucap Sabara.
“Bila kita belum menyelesaikan ini dalam waktu singkat, aku agak khawatir dengan ora…”
*Ucapann Denis terpotong oleh getaran-getaran yang disebabkan pintu terbuka, Saat pintu terbuka, terlihat cahaya yang cukup terlang didalamnya*
“Iniii terang bangett” Ucap Sabara.
Beberapa saat ketika pintu sudah dibuka, ada sesuatu didalamnya yang menyerupai pisang berwarna emas.
“Lahhh itu kan...bukanya itu yang yang kita cari?” Ucap Denis.
“Yaaa itu benar, mari kita ambil” Ucap Aul.
Mereka masuk kedalam dan mengambil Pisang itu.
“Setelah ini kita harus ap…”
Tanah sekitar mereka tiba-tiba bergetar cukup kuat. Putra melihat ada satu celah cukup besar untuk kabur.
“Kaliann tetap tenang, Ikuti aku kemari cepat sebelum semua nya runtuh”. Ucap Putra tegas kepada teman yang lainnya.
Mereka berlari dengan cepat menuju arah putra, tetapi saat setengah jalan ada pilar yang terjatuh yang hampir menimpa Aulia.
“Aul Awass..” Teriak Putra.
Saburu langsung berlari dengan cepat dan melompat menyelamatkan Aulia.Gempa itu membuat beberapa bangunan roboh sehingga membarikade jalan untuk menuju Saburu dan Aulia. Setelah hal itu Gempa berhenti seketika. Mereka berteriak.
“Aulll….Saburuuu...Jika kalian selamat berteriaklah!!!” Ucap Denis.
“Kumohon kalian jawablah” Ucap Ella.
“Akuu..aku tidak ingin kehilangan adik tersayang ku *hiks* *hiks*” Ucap Sabara terjatuh dengan lemas.
“Kalian tenang lah, mereka pasti akan selamat. Untuk sekarang kita keluar terlebih dahulu”
“Tii..tiidak!!!...tidakk!!! bagaimana nasib saburu…” Ucap Sabara dengan tatapan kosong.
Ella Memeluk Sabara dan menenangkannya
“Mereka akan baik-baik saja. Kau tidak usah..”
Ada suara yang memotong kata-kata Ella kepada Sabara.
*Ka*
*Ka*
Sabara langsung bergegas berlari mendekat ke pilar yang menghalangi jalan mereka. Dari yang awal pupil matanya terlihat kosong, pupil nya menjadi besar.
“Saburu..Apa itu kau? Jawablah aku!” Ucap Sabara mendekatkan telinganya ke tembok.
“Iya ka kami masih baik-baik saja. Kau tidak usah khawatir”
“Bagaimana Aulia?”
“Dia sepertinya pingsan”
Putra datang dan memberi tahu untuk rencana selanjutnya.
“Saburu, kita terlebih dahulu keluar dengan jalan masing-masing setelah kau keluar mari bertemu di titik dimana ada sesuatu yang menarik diluar tempat ini. Bagaimana ? apa kau paham?”
“Ya aku Paham tenang saja”
“Kau jagalah Aulia untuk kita, mari kita bertemu diluar dan kembali bersama-sama”
“Kalian harus berjanji padaku untuk selamat ya!!” Ucap Sabara.
Mereka berangkat menuju tujuan mereka untuk keluar dari goa aneh ini. Apakah mereka akan keluar secara hidup-hidup atau takdir mengatakan hal yang lain?