
"jadi sekarang kita akan melanjutkan jalan kemana? " ujar denis saat mereka tersadar terdapat dua cabang dihutan lebat ini.
*Ella pov*
Aku menatap 2 cabang itu secara bergantian, bingung, cemas, khawatir menjadi 1. Karena aku sudah berpisah dengan kedua rekannku, aku tidak ingin ada yg terpisah lagi.
*Author pov*
"Bagaimana ini aku tidak punya strategi yg tepat, bahkan aku tidak tau clue selanjutnya" ujar ella dalam batin
"gimana den apa kamu punya gambaran ?? " tanya ella menoleh kepada deden yang hanya terdiam menatap 2 cabang didepannya.
"Instingku berjalan kearah kanan adalah yg paling tepat" ucap deden menunjuk cabang kanan
"Apa kamu yakin den? " tanya denis sedikit tidak percaya kepada deden
"Ayolah cepat, suara monyet itu sudah mulai terdengar" ujar aull yg sejak tadi melihat kearah belakang, was was akan kedatangan kawanan monyet itu.
Mereka semua serentak menoleh kearah belakang.
"Kita kearah kanan " ujar deden mendahului teman temannya berjalan.
"Ayo!!! " teriak mereka ber 5 serempak.
Perjalanan mereka selanjutnya akan sulit karena tidak ada yg tau clue selanjutnya, bahkan tidak ada petunjuk sedikit pun dari perjalanan mereka. Hingga malam pun tiba.
"Aihh aku sudah lelah " ujar aul yg keringatnya sudah membasahi seluruh badannya
“Gituu ajaa capekk dasar lemahh " ujar saburu mengejek aull yg terlihat sangat lelah.
"Sudah sudahh ini juga sudah cukup larut kita bermalam disini dulu, jadi siapa yg akan berjaga malam ini ? " ella menengahi saburu dan aull yg akan mulai beradu mulut
"Biar aku dan saburu yg berjaga malam ini " ujar sabara.
malam ini tidak ada gangguan sedikitpun entah suara atau kawanan monyet
" huahhh.."
Ella sudah terbangun lalu membangunkan teman temannya
“Bagaimana ini selanjutnya kita akan kemana? aku sudah sangat bingung sekarang. Seandainya sekarang ada putra mungkin dia bisa memikirkan strategi ini. Ahh apa yang aku pikirkan hingga terus bergantung padanya. Aku harus tegar dan dapat mengatasi masalah ini.
"Akhhh ngomong-ngomong bagaimana keaadan putra sekarang? Mudah-mudahan saja dia masi selamat. Aku harus percaya pada pengorbanan yang ia berikan. "
*Author pov*
Mereka semua sudah siap melanjutkan perjalanannya
"Jadi bagaimana ini Ella? ". tanya sabara memulai obrolan serius
"Aku juga bingung". Ella sungguh sangat kebingungan sekarang
“Ohh ya tuhan tolong lah kami " ucap Ella dalam batinnya
"Meoow "
*Suara kucing itu lagi semua mencari keberadaannya*
"Meoow.. aku di bawah sini " Ella pun menunduk dan mengangkat kucing itu
"Bagaimana sekarang kucing " tanya aull kepada kucing hitam itu
"Untuk apa ? ". tanya denis yg sejak tadi diam menyimak pembicaraan mereka
"Meoow... sudahlah cari saja, tapi ingat diperjalanan kalian akan ada lebih banyak lagi kawanan monyet dan tantangan lainnya " ujar monyet itu lalu menghilang
"Aihh kucing lucu yang aneh, menghilang saja tiba-tiba " ujar aull melihat kucing yg tiba menghilang
"Sudah dibilang inikan memang hutan anehh aulll" ujar saburu menatap kearah aull.
“Walaupun aku tau itu, tetap saja masih berapa banyak lagi hal aneh yang akan menanti kita ?”.
"Sudah sudah ayo berangkat, kita harus saling mengawasi satu sama lain, jangan sampai ada diantara kita yg terpisah lagii. Okey ? " ujar ella menengahi aull dan saburu
"Siap!,ayo kita lanjutkan perjalanan inii!!" Ujar denis bersemangat
Mereka lalu melanjutkan perjalanannya kearah kanan mataharipun sudah mulai berada diatas kepala.
*Waaq.. waaq..*
"Sebaiknya kita lari deh " ujar sabara mendengar suara monyet monyet disekelilingnya
"Ayo!" Ucap mereka semua lalu berlari sekencang yg mereka bisa
Tanpa mereka sadari salah satu diantara mereka tertinggal. Bukan karena lelah tapi ada ranting yg tiba tiba saja melilit kaki kanannya.
"Tunggguuuuuuuu....." teriak ella saat melihat teman temannya menjauh darinya
*Ella pov*
“Aku yang mengingatkan mereka jangan sampai ada yg terpisah tapi malah aku sendiri yg terpisah *huft* ”.
"Bagaimana ini aku tidak membawa alat tajam " gumam ku melihat sekeliling.
"Untunglah ada batang kayu yang ujungnya cukup runcing " lalu dengan cepat aku menggesek ranting itu dengan batang kayu
*Waaq ... Waaq…*
“Terdengar suara monyet yg sudah berada di belakangku, astaga aku harus lari sekarang. Karena ku rasa tidak akan sampai jika mengejar teman temanku aku putuskan untuk berlari ke hutan yg lebih lebat untuk bersembunyi”.
*Author pov*
Mereka ber 5 sudah merasa jauh dengan kawanan monyet ganas itu lalu mereka tersadar tidak ada ella disekitar mereka
“Akhirnya sudah tidak terdengar suara mereka” Ucap Denis.
“Apakita harus terus berlarian seperti ini? Bisa-bisa kita jadi atlit marathon kalo kaya gini” Keluh Aulia
"Ehhh..*ceingak-celinguk* sebentar..astaga kemana ella? " tanya saburu kepada rekannya
"Kita tunggu saja dulu, sambil kita istirahat " ucap deden menengahi.
*Mereka menunggu dalam kurun waktu yang cukup lama*
"Ayolah ini sudah cukup lama dimana ella?, ini bukan seperti anime yg di dalam hutan banyak hewan hewan menggemaskan " ujar aull kebingungan.
"Lalu sekarang bagaimana ini??" Kata denis yg sejak tadi diam yg tampak memikirkan sesuatu yg buruk.
"Sudahh ayo kita duduk di depan pohon itu dulu, mungkin kita dapat menemukan suatu petunjuk " ucap sabara menunjuk pohon yg sangat besar bahkan paling besar diantara yg lainnya.