Foreign Place

Foreign Place
Surrender



"Ternyata ini adalah tempat tinggal bigfoot..! "


Kalimat itu langsung membuat Ella mematung, tatapannya menjadi kosong seolah tak ada tujuan, tubuhnya mendadak menjadi dingin hingga bibirnya sedikit membiru. 


Bisa diperkirakan dia sedang dalam keadaan sangat panik untuk kali ini.


"El.. Ella.. Sadar dong.. Kamu jangan kebawa panik juga!" Lirih Putra sambil menepuk bahu Ella berkali-kali. Namun, Ella masih menetap dengan posisinya.


Putra mulai mengatur napasnya sebisa mungkin. Dan Putra pun tiba-tiba teringat sesuatu.


"Oh iya botol.. dimana..botol.." bisik Putra pada dirinya sendiri 


Dengan segera, Putra pun mencari dimana letak botol yang berisi air larutan jamur yang pernah Ella temui ketika awal perjalanan. Setelah menemukannya, 


Putra iseng meneteskan air larutan jamur itu ke daun keras yang ada di dekatnya. Alhasil, daun tersebut seketika menjadi layu dan suhunya lebih hangat.


"Mudah-mudahan saja ini berhasil, aku mau nyoba tes cairan ini ke tubuh kamu, Ella" ucapnya pelan


Splash!


Suasana tegang menjadi lentur seketika.


Suhu tubuh Ella pun kembali stabil, rasa kaku pun hilang dengan sendirinya. Ella pun mendapatkan raut muka Putra yang terlihat sedikit bahagia.


"Put, kenapa?" tanya Ella kebingungan.


"El.. sa.. sadar gak tadi aku terakhir bilang apa?" malah Putra berbalik tanya, refleks menyembunyikan botol isi larutan jamur tadi.


"ini tempat tinggal Big Foot" jawabnya seolah baik-baik saja


"udah gitu, kamu.... ga jadi deh" Putra pun mengurungkan pertanyaannya,


"kamu kenapa put? Gak ada apa apa kan? Aku takut nih kalo salah satu dari kita ada yang bermasalah"


"justru aku yang lebih khawatir sama kamu, tadi pake acara beku segala" batin Putra, sambil memperhatikan gerak-gerik Ella.


"El, kamu lapar?" tanya Putra, masih mengkhawatirkan kondisi rekannya yang satu ini


"gak terlalu sih.. Masih bisa buat beberapa waktu kedepan" jawab Ella santai. Putra pun refleks merogoh saku celananya, 


ternyata ia pun mendapatkan satu bungkus camilan remuk dan tak segan-segan memberikannya pada Ella


"makan aja ini, seenggaknya ada tambahan simpenan"


Ella pun menerima nya, yang jelas tak luput dari ucapan


"makasih" Ella pun langsung memakannya


Selepas Ella menghabiskan camilannya, Putra pun langsung mengajak Ella untuk masuk ke dalam tenda untuk memeriksa keadaan teman-temannya, 


terutama Aulia yang kondisinya masih labil.


Putra melangkah lebih dulu dari Ella, lalu ia membuka resleting tenda dan....


Boo!


Semua tertidur pulas


"oke, ayo kita balik lagi" ajak Ella


"sip!" balas Putra sambil mengacungkan jempolnya


Malam kembali hening, hanya saja di hiasi suara angin dan percikan api. Sesekali kayu meletup-letup kepanasan dan rapuh.


Menyisakan dua orang yang masih berkutat di alam nyata demi menjaga ketenangan tempat ini sambil menyaksikan gerak-gerik kobaran api yang menjadi hiburan 


mereka saat ini.


"iya, kenapa el?" sahutnya dengan mata yang sama-sama fokus dengan nyala api


"Ketika ini berakhir kita harus apa?"


"yang jelas kita harus keluar dari tempat ini"


"nah iya itu.. kira-kira gima..".


GRRRR... GRR...


Refleks mereka berdua mundur dan sekarang malah Putra yang panik. Walau tidak separah Ella, tetap saja Ella khawatir dengan keadaan temannya saat ini.


"Put.. atur napas kamu.. pokoknya atur.... sebisa mungkin!"


Segera Putra pun mengatur napasnya. Setidaknya Putra masih sadar dengan kondisinya barusan.


"sebentar.. tadi tuh suaranya dia bukan sih?" tanya Putra masih mengatur napas


"iya.. berarti kalo kaya gitu, dia sedang jauh dari kita. Tau kan kalo misalnya suara terdengar dekat berarti dia jauh, begitu juga sebaliknya?"


"iya tau.. Huft.. Kita pergi besok ketika matahari sudah meninggi, sekitar jam sepuluh lah ya biar bisa nelusurin lebih jauh lagi" jelas Putra dengan 


kondisinya yang sudah pulih


"Oh iya.. El, aku mau bilang sesuatu" kata Putra sambil meraih botol isi larutan jamur


"iya.. Apa? Eh kok itu bisa di pegang kamu sih?" tanya Ella penasaran


"tadi sadar gak, kalo kamu tadi sempet kosong?"


"hah? Kosong gimana?"


"iya tadi pas aku bilang tentang tempat ini, kamu langsung kaku kaya yang beku gitu"


"Oh iya? aku gak nyadar sih"


"nah pas gitu, aku sengaja ambil ini dari tas kamu. Terus coba tetesin ke daun dan hasilnya daun yang asalnya keras, tiba-tiba lemas layu gitu. Nah habis itu, aku coba juga ke kamu dan ternyata kamu yang asalnya beku gitu kaya es setengah orang mati, coba ditetesin langsung sadar gitu,sama suhu tubuh naik nya cepet, tapi kok ini bisa yin-yang gini ya warnanya? "


" justru itu aku gak tau, dikocok-kocok juga warnanya tetep. Tunggu, itu bisa kayak gitu kalo misalnya pake cairan warna apa? "


" hitam"


"oke berarti tinggal cari tau cairan putih nya buat apa"


"emangnya itu air apaan?"


"pas awal perjalanan tuh, aku nemu satu jamur warnanya kaya sigung, hitam putih gitu, yaudah udah aku ambil aja. Terus pas nemu sebotol air kemasan di depan hutan kemarin, yaudah aku coba aja masukin nih jamur. Eh malah berubah warna dan wujud jamurnya mungkin sudah hilang"


"bisa gitu ya?" tanya Putra sambil menggaruk kepalanya


"bingung? Sama.


RrrRRrrr..RRrr...Rrrrr


*Lagi-lagi suara itu datang*


"ngagetin aja sih bisanya!" umpat Putra, kesal


"sssstt! Inget pelankan suaramu put!"


"oke aku..sorry..sorry. Eh itu api nya besarin lagi!"


"siap komandan!"


Ella pun bergegas mengambil persediaan spiritus dan menumpahkannya.