
“GOOD LUCK DAN JANGAN LUPAKAN APA YANG KU KATAKAN!!!”
Putra masuk kedalam lubang yang Deden instruksikan, lubang tersebut sangat curam dan licin seperti perosotan air.
“Waaa…..”
“Ini Terowongan ataukah lebih tepatnya kusebut perosotan?””
Di Dalam terowongan tersebut terdengar suara Gonggongan Anjing yang berteriak-teriak dengan ganas dan ada suara wanita yang meminta pertolongan di tempat aneh itu.
*WOOF..WOOOF.WOOOOF.”
*TOLONG..TOLONG AKU TIDAK MAU MATI LEPASKAN AKU!!!*
“Ituu..apakah itu suara Ella?”
“Aku tahu betul itu pasti suara dia! Aku pasti tidak akan salah”
“Apakah terowongan ini masih jauh untuk membawaku kesana?”
Setelah Putra mengeluh dia melihat ada pancaran cahaya obor, dan ia mulai bersiap memulai dengan posisi jongkok untuk menghindari adanya jebakan yang lain.
“Aku rela mati demi kamu Ella”
Sebelum melompat ia melihat dari kejauhan seperti tali tambang yang ditarik oleh katrol, Ia siap melompat menuju tali tersebut.
“Semoga Sampai”
“Waaaa…”
Putra melompat tanpa ragu-ragu, lalu ia melihat sekitar dan melihat Ella ada dibawah pandangannya. Putra pun berteriak kepada Ella untuk menenangkan diri.
*Elllaaaa…*
“A...ada suara!”
*Elllaaaa…*
“Apakah aku salah dengar?
Elllaaaa…
“Ini yang ketiga kalinya, suara itu terdengar seperti suara putra”
“PUTRAA APAKAH KAU ADA DISINI?”
Ella berteriak mencari-cari Putra.
*Iya Ella aku ada ditempat ini aku berada diatas mu, tenangkan dirimu aku akan menyelamatkanmu cepat atau lambat*
“Baiklah Putra aku percaya padamu”
Putra yang tergesa-gesa membuat talinya tidak mampu menahannya lebih lama, mereka terjatuh secara bersamaan.
Walaupun mereka selamat, sayang sekali mereka tidak kuat untuk berdiri mereka sangat terpojok.
“Ell..ella maafkan aku, membuatmu seperti ini”
“Tidak...P..putra harus nya aku yang meminta maaf”
--------------------------------------------------------------------------
*Aul kau tahu tidak?*
“Tahu apa?”
*AKUU AKAN MEMBUNUHMU!!!*
“TIDAK!!!”
“Waaa..Kau mengagetkan ku”
“Kasihanilah aku kau berteriak dekat telingaku (T_T)”
“Ah..Hehehe Maaf-maaf aku baru saja bermimpi buruk”
“Tidak seperti biasanya, adakah hal yang mengganggumu?”
Aul sedikit melamun.
“...”
“Mmm..Aul”
“Ah..Tidak-tidak mungkin itu hanya perasaanmu”
“Jadii sudah sampai dimana kita?”
“Aku juga tidak tahu, rute sebelumnya menjadi berubah”
“Hah..! yang benar saja”
“Aul kau ini (sambil memencet hidung Aul)”
“A..Mwaaf..aafkan aku”
Aulia tiba-tiba menangkap secercah cahaya di matanya.
“Saburu kau melihatnya?”
“Melihat apa? apa kau sedang melihat hantu?”
“Bukan..bukan itu yang kumaksud, lihat itu”
“Dimana? apa kau masih lelah?”
“Tidak..itu disana ada yang bersinar-sinar seperti kunang-kunang”
“Dimana? aku tak melihatnya”
“(Apa mungkin hanya aku saja yang bisa melihat nya? mungkin saja itu bisa menunjukan jalan keluar untuk kita)” gumam Aulia memikirkan hal yang bersinar-sinar itu.
“Kau ikuti saja aku”
Saburu mengikuti arahan Aulia untuk keluar dari tempat ini, hingga ia bertanya.
“Aul, apa setelah kau terbentur sebelumnya membuatmu mempunyai kekuatan special?”
“...”
“Mmm..aku tidak tahu apa yang kau maksud?” Ucap Aul sambil mengerutkan keningnya.
“Seperti kau mempunyai intuisi seperti Deden atau kau punya kemampuan untuk berlari dengan cepat?”
“Saburu..”
“Iya..?”
“Sepertinya kau harus pergi kedokter”
“Memangnya kenapa?”
“Kau terlalu banyak menghayal”
“Ahh..sudahlah, aku tidak akan bertanya lagi”
Aulia dan Saburu pun berhasil keluar dari dalam tempat aneh itu, mereka terlihat cukup senang.
“HUuuuahhh” Saburu bernapas secara lepas.
“Akhirnya aku bisa merasakan lagi udara segar”
“Yaa..benar sekali”
“Untung saja kita keluar dengan selamat”
“Kau harus berterima kasih kepadaku huahaha” Ucap Aulia sambil membanggakan diri.
“Iyaa..iyaa terima kasih tuan putri”
“t..tuan putri?” ucap Aulia dengan muka memerah.
“ada apa?”
“T..tidak tidak mari kita lanjutkan, kau bisa menurunkan ku bila lelah”
“Tidak..aku masih kuat mari kita ke tujuan kita!” Ucap Saburu dengan semangat.
--------------------------------------------------------------------------
“Bagaimana, apa kalian sudah membereskan semuanya?”
“Tenang saja Den sepertinya sudah” Ucap Denis.
“Sabara bagaimana? sepertinya kau sedang tidak enak badan?” tanya Denis.
“S..sudah (hump) mari kita berangkat” ucap Sabara dengan muka sedikit marah.
Denis merasa kebingungan, apa yang telah terjadi setelah aku merawatnya apa aku mengatakan sesuatu yang salah atau apa? aku harus meminta maaf padanya.
“Sabara..”
Sabara berjalan cepat menjauhi Denis. Deden yang menyaksikan menepuk bahu Denis dan berkata.
“Biarkan saja dulu mungkin dia masih sebal terhadapmu”
“mmm..baiklah kalau begitu”
“Perasaan wanita itu cukup rumit” gumam Denis.
*Waaaa..*
“Suara itu..Sabara!”
Denis panik langsung mengejar ke arah suara dan melihat Sabara jatuh, tangannya memegang erat dan badannya bergelantung ujung dari batu yang berada di jurang. Denis langsung mengeluarkan tali tambang di dalam tas nya.
“SABARA..Aku akan melempar tali ini pastikan kau memegangnnya ya”
Sabara hanya mengangguk ke arah Denis.
“...”
“Tali..talinya tidak cukup”
“Den apakau membawa tali tambang?”
“Sepertinya aku membawanya”
Deden mengambil tali tambang dan memberikannya kepada Denis, Denis menyambungkan tali tambang dengan simpul erat.
“Apakah aku menggapainya?” tanya pada dirinya sendiri.
Tali tambang itu seperti tertarik ke bawah.
“Sabara aku akan menariknya!”
Denis menarik tali itu dengan sekuat tenaga, hingga akhirnya Sabara selamat. Denis langsung memeluk Sabara dengan erat.
“Kenapa aku harus menyaksikan hal seperti ini terus-menerus” Gumam Deden.
“Aku akan mencari jalan, Take your time both of you”
“D..denis apa yang kau lakukan?” tanya Sabara dengan muka yang memerah.
“Diamlah..sebentar”
“B..bbaik”
Beberapa detik setelahnya Denis mengatakan beberapa kalimat.
“Dengarkan aku”
“Aku tidak ingin mengulanginya”
“Aku mencintaimu jadi jangan tinggalkan aku”