Foreign Place

Foreign Place
Hope



“Bisa saja, tapi kita harus masuk lebih dalam”


“Baiklah”


Di Dalam goa itu sangat gelap sehingga mereka membutuhkan penerangan. Sambil membawa beberapa kayu yang sebelumnya Putra bawa, Putra menjadikan salah satu kayu itu menjadi obor sementara. Mereka menghela nafas terlebih dahulu sebelum masuk.


“Hu..ahh”


“Mudah-mudahan di dalam tidak ada hal lain” gumam Ella.


Mereka pun memasuki goa itu tanpa ada risau. Saat mereka masuk, mereka cukup terkejut akan sesuatu di dalamnya. Dimana setelah mereka masuk goa itu cukup luas dan sepertinya sudah pernah dihuni oleh seseorang..


“Mmm..sepertinya ini baru ditinggali seseorang” Ucap Ella.


“Ya..kurang lebih 1 bulan baru ditinggalkan” Ujar Putra.


Seketika keheningan membaluti suasana di dalam goa itu membuat mereka bertanya-tanya.


“Apa ada suku yang lain seperti sebelumnya?”


“Apa jangan-jangan ada manusia dari asal kita yang terjebak disini?” 


Gumam Ella beberapa pertanyaan pada dirinya sendiri yang dilontarkan.


*HuuH* *Huuh*


Dalam keheningan mereka berdua terkejut akan ada suara yang cukup besar membuat gaung di dalam goa.


 


“S.suara ini? ” 


“Suara yang kita dengar sebelumnya!”


“Tidak salah lagi, ayo Put kita cari asal suara itu”


“Ayo!”


Berjalan dengan obor yang mulai berkurang sedikit demi sedikit, mereka memasuki goa semakin dalam untuk menemukan asal suara itu. Pantulan cahaya dari lubang atap menghiasi goa tersebut. Mereka sedikit demi sedikit melihat sesuatu susunan-susunan pipa yang cukup besar, ditata dengan rapi yang menghasilkan suara yang telah menyelamatkan mereka berdua.


“I..ini bukannya pipe organs?” Tanya Ella terkejut.


“Tapi ada sesuatu yang berbeda, pipe organs ini bersuara dari tiupan angin” 


“Yah sepertinya memang ada yang memodifikasinya”


“Apa mereka tinggal disini? Atau apakah mereka sudah menyerah?” Tanya putra pada dirinya sendiri.


“Aku akan berkeliling sebentar, semoga ada sesuatu yang menunjukan tanda-tanda kehidupan”


“Baiklah hati-hati”


Putra dan Ella pun berpencar mencari tanda-tanda kehidupan, beberapa menit pun berlalu mereka pun berkumpul kembali dan menjelaskan apa yang mereka temukan.


Ucap Putra.


“Aku menemukan sesuatu seperti persediaan persenjataan dan ada dapur berisi makanan juga” 


“Baguslah kita bisa makan malam ini” 


“Besok kita harus berangkat sekitar jam 8, karena perjalanan kita cukup jauh, apapun yang terjadi kita harus cepat bertemu dengan teman-teman kita”


“Ya, kau benar. Mereka pasti khawatir akan kita apapun itu terjadi”


Suara perut Putra berbunyi.


*Kruyuk* *Kruyuk* 


“Ah..Maaf”


“Ahahaha...tidak apa-apa wajar kau sudah menahannya siang tadi, aku akan membuatkannya kau tunggu di sini saja”


“Aku akan membantu saja”


Ella mengeluarkan jari telunjuknya dan menggoyangkannya.


“No..no kau istirahat saja atau kau check peralatan disana, ditempat yang aku katakan.Nanti akan kupanggil bila sudah selesai””


“Yasudah”


Putra dan Ella bermalam di goa tak berpenghuni tersebut hingga esok hari.


-----------------------------------------------------------------


“Frederica!”


“Apa? Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal, katakanlah”


“Kau serius akan meninggalkan mereka terlebih dahulu?”


“Hmm..ya, apa kau sudah bersimpati bersama mereka?”


“...”


“Mungkin sesuatu yang buruk akan terjadi pada mereka”


“...”


Deden hanya terdiam mendengar perkataan Frederica  


“Ah sudahlah..kau kebiasaan (cuddle) terserah kau saja, aku akan mengatakannya pada mereka jadi kau tak usah melakukan apapun”


Deden hanya mengangguk.