Foreign Place

Foreign Place
Cerberus



Matahari telah berada tepat di atas kepala mereka. Keringat yang membasahi mereka meluncur ke seluruh tubuh mereka, air yang mereka teguk sedikit meringankan rasa dehidrasi tubuh. Perjalanan mereka cukup jauh dari yang mereka perkirakan.


Belum lagi mereka harus sampai sebelum matahari terbenam. Melewati jalanan yang jarang orang lewati sebelumnya, mereka membuat beberapa goresan-goresan di pohon untuk membuat tanda, agar saat mereka kembali pulang mereka tidak akan tersesat.


“Apa kau sudah lelah El?”


“Tenang saja, aku masih kuat” Jawab Ella sambil mengangkat tangan kanannya.


“Jika kau lelah katakan saja!”


“Tentu saja!”


Mereka berdua berjalan terus menyusuri bukit yang naik turun  agar sampai ke lembah itu. Belum setengah jalan, mereka harus menetap dikarenakan matahari yang  akan segera terbenam.


Ella dan Putra mempunyai masalah untuk mereka beristirahat. Mungkin kali ini mereka harus membuat gubuk kecil untuk membuat mereka tetap hangat.


“Aku akan mencari beberapa ranting untuk perapian, kau tunggu aku disini”


“Bi..biarkan aku ikut”


“Kau lupa yang aku katakan sebelumnya”


“Soal apa?”


Muka Putra berubah menjadi cemberut dan seketika ia mencubit pipi Ella.


“Tentu saja soal, kau harus percaya padaku”


“Ohh, soal itu. Jika kau bersikeras aku akan menunggumu, berhati-hatilah Put”


Putra mengacungkan jempol nya kepada Ella saat hendak pergi. Sepuluh menit berlalu Putra sepertinya sudah cukup banyak mengumpulkan ranting pohon.


“Sepertinya Sudah cukup” Ucap Putra.


Saat ia hendak kembali ia mendengar suara langkah kaki dan gonggongan anjing. Karena penasaran Putra mendekati asal suara itu. 


“Tidak sepertinya sebelumnya dalam hutan ini sangat berisik” Guman Putra.


Beberapa langkah menuju asal gonggongan itu terlihat sosok anjing di belakang semak-semak. Putra mengintip di balik semak-semak itu, tiba-tiba ia terkejut. Sosok anjing itu mempunyai tiga kepala walaupun tubuhnya seperti anjing Normal hal itu tak dapat dipungkiri untuk merasa terkejut aneh.


Beberapa ranting pohon yang ia bawa terjatuh, dan menghasilkan suara. Suara itu terdengar oleh anjing berkepala tiga itu. Ia langsung mengambil ancang-ancang untuk mencari sumber suara.


Putra langsung pergi sebelum anjing berkepala tiga itu menyadarinya. Ia cukup panik akan resiko yang ia dapat. Putra hanya terampil dalam bidang mencari rencana. Ella melihat Putra yang sedang berlari dengan muka panik sedang dikejar oleh sesuatu. Tanpa pikir panjang Putra langsung menyuruh Ella pergi dari tempat ini.


Ia menarik Ella untuk lari tanpa tujuan kemana kita akan pergi. Ella bingung dan bertanya kepada Putra apa yang terjadi saat mereka berlari.


“Ada..Apa...Put?”


“Nanti aku jelaskan untuk sekarang kita harus pergi”


Mereka berlari sekuat tenaga. Hingga mereka melihat sesuatu seperti goa , tanpa pikir panjang mereka masuk ke goa itu. 


*Huuh..huuh...fiuh*


Mereka berdua terengah-engah, hal ini kedua kalinya mereka berdua mengalami hal ini. 


“*fuah* Mungkin untuk beberapa orang yang jarang berolahraga akan mati disini Put” Ucap Ella.


“Ahaha…*fuah* ya itu mungkin saja benar” Ujar Putra.


Walaupun mereka telah memasuki goa itu, mereka masih belum aman sepenuhnya. Anjing berkepala tiga itu masih mengejar Putra. Ia menggonggong dengan keras yang membuat goa itu menghasilkan gaung. Putra dan Ella bersembunyi di belakang batu yang cukup menutupi mereka di dalam goa itu. Lalu Ella melihat sosok anjing itu dan berkata.


“I..itu bukan nya ceberus?”


“Ha..Cerberus?”


“I..iya Ceberus. Frederica selalu bercerita soal sejarah Yunani dan Romawi kuno jadi aku ingat. Cerberus mempunyai kelemahan terhadap suara indah yang membuatnya lelap tertidur” Ujar Ella.


Cerberus itu masih celingak-celinguk mencari incaran yang dikejarnya. Seketika ia hendak memasuki gunung, angin kencang tiba-tiba berhembus. Hembusan angin itu tiba-tiba menghasilkan suara-suara yang merdu.


“S..suara ini darimana asalnya?” Tanya Ella. 


Suara itu membuat Cerberus kehilangan kesadaran yang membuatnya tertidur lelap. 


“Untung saja ada suara itu” Ucap Putra.


“Walaupun begitu ini hanya untuk sementara”


“Bagaimana kalo kita istirahat di goa ini El?”


“Bisa saja, tapi kita harus masuk lebih dalam”