Foreign Place

Foreign Place
Foreign Place



"ini semua tipuan" 


Kata-kata Deden membuat Ella berpikir keras demi mencerna maksud dari perkataannya tadi tanpa harus bertanya pada Deden. 


"Ya..yang bener aja kamu den!" ucap Ella kesal melihat tingkah Deden. 


"apa salahnya bilang?" tanya Deden dengan raut wajah tanpa dosa menatap Ella.


"udah berapa kali kamu buat orang hampir panik?" 


"ya elah baru setengah kan? Ga panik sepenuhnya" 


"gak lucu sumpah!" kesal Ella semakin menjadi-jadi 


Puk! 


Tangan putra mendarat tepat di bahu Ella demi menenangkan amarahnya , wajah Ella semakin memerah seketika karena rasa marah dan malu bersatu dalam dirinya. 


"baru sekarang aku liat Putra sama Ella bisa so sweet kaya gini. Biasanya gak ada tuh deket sampe kaya gini. Iya gak sih?" celetuk Frederica pada yang lain sambil menahan tawanya. 


"setuju ka. Wah, jangan-jangan salah satu dari…." ucapan Sabara terpotong sudah oleh tangan Saburu yang menutupi mulutnya. 


"biarkan mereka seperti itu, toh ujungnya buat kebaikan kita juga kan? Kalo kita nongkrong di homebase kan yang tanggung jawab si Frederica, iya ga ka?" Saburu melempar pertanyaan pada Frederica 


"iya, aku lagi pensiun sementara jadi emak kalian. Cukup di homebase aja aku berisiknya" jawab Frederica, senyumnya semakin melebar 


"senyum senyum mulu heran, mentang-mentang lagi gak jadi ibu kost galak" sambar Denis ternyata dia memperhatikan perbincangan barusan. 


"AYO KAWAN KAWAN SEKALIAN!" teriak Ella sambil menepuk-nepuk tangannya. Sontak mereka langsung beralih fokus 


"jadi gimana, lanjut atau putar balik?" tanya Frederica tiba-tiba 


"kira-kira gimana?" tanya Ella balik


"kayaknya lanjut deh" jawab Frederica sambil menggaruk kepalanya 


"ayo yang lain gimana? Gunakan lah feeling kalian!" ucap Ella lagi


"lanjut?" 


"em… Lanjut aja deh" 


"ikutin yang lain"


"pengen putar balik tapi ragu" 


"sisanya?" 


"LANJUT!" seru semuanya serentak. 


"oke semangat buat kita semua!" 


Perjalanan kembali dimulai, menyusuri dataran beralaskan batu warna-warni yang masih menyala-nyala. 


Sekitar lima belas menit perjalanan. Tiba-tiba tampak seperti portal putih dari kejauhan. 


"apa aku gak salah liat?" tanya Aulia sambil menggosok mata nya pelan


"gak, kamu gak salah liat" jawab Denis datar tanpa menghentikan langkahnya 


Semakin lama, rekan-rekan pun masuk ke dalam portal. Portal putih ini  ternyata sangat tebal, masih butuh waktu untuk keluar dari ruangan putih ini. Lama-kelamaan portal putih pun semakin memudar dan mereka pun kembali lagi di 'hutan' 


"lah kok balik lagi sih?" gerutu Sabara sambil menyibak rambutnya 


"masa sih balik lagi?" sahut Saburu kepada adiknya 


"persis doang kan? Kita gatau isinya apaan" lagi-lagi percakapan si kembar di semprot oleh Denis


"yaudah sih" Sabara mendengus kesal


GGGRRRRR…. GGGRRRRR… 


Suara geraman itu membuat seisi hutan bergetar. Termasuk rekan-rekan pada hilang keseimbangan mereka dan terbanting lah mereka semua di atas tanah.


GGGRRRRR…. GGGRRRRR… 


Mereka hanya bisa pasrah dan menunggu kapan suara geraman ini berhenti. 


GGGRRRRR…. WELCOME TO FOREIGN PLACE!! GGGRRRRR… 


"sebentar, apa? Ulang lagi coba!" sempat-sempatnya Aulia membalas suara maut itu


WELCOME TO FOREIGN PLACE!! 


"oh, kirain Mobile Legend" sahut Aulia


"sempet sempet gitu ya bercanda?" tanya Deden, memicingkan matanya ke arah Aulia 


"hidup dibawa serius amat sih, adain hiburan dikit lah makanya!" 


Getaran pun semakin melambat dan perlahan menghilang, napas rekan-rekan masih tersenggal sebagian. Jika dalam istilah sehari-hari, bisa dibilang mereka sedang 'mengumpulkan nyawa'. Hampir saja Putra hendak melepas tasnya, tiba-tiba datang lagi


GGGRRRRR…. GGGRRRRR… 


Sosok itu perlahan mendekat, ukuran tubuhnya sedikit mirip dengan Big Foot namun sedikit lebih kecil, wajahnya terlihat lebih menyeramkan, perawakannya sedikit mirip dengan Yeti yang sekujur tubuhnya diselimuti bulu berwarna putih kusam dan dia kembali mengeram tanpa menyebabkan getaran lagi, namun


GGGRRRRR… 


"Aaaaaaa!!" semuanya menjerit dan langsung berlari sekuat tenaga. 


"Ikuti langkahku, cepat!" seketika Frederica menjadi pemandu arah mengambil alih posisi Ella maupun Putra. 


"jangan dulu banyak bertanya, pokoknya ikuti aku hanya untuk saat ini!" sambung Frederica. Semuanya pun menuruti perintah Frederica 


Monster itu masih saja mengejar dan tak lupa mengeluarkan suara geraman khasnya. 


GGGRRRRR…. GGGRRRRR… 


Sampai akhirnya mereka menemukan sebuah gubuk kecil di tengah hutan. 


"ayo kita coba masuk kesana!" perintah Frederica sambil menunjuk ke arah gubuk tersebut 


"permisi!" ucap Frederica sambil membuka pintu gubuk lalu masuk ke dalamnya , gelap juga pastinya terlihat kumuh. Tenaga mereka sudah hampir habis.  


Masih dalam keadaan tak berdaya, rekan-rekan masih tetap berada di posisinya dan tidak melakukan apa-apa setelah masuk ke dalam gubuk ini. 


“Untuk saat ini mungkin aman, kita istirahat dulu saja!” Ucap putra.


*Baiklah*


Semuanya pun terlelap tidur tanpa kejaran monster lagi. 


Masih dalam kondisi terlelap, Putra bangun lebih awal dari temannya yang lain. Warna langit masih terlihat gelap lalu Putra mencari senter untuk dijadikan sumber penerangan. 


Pada akhirnya, ia menemukan satu lampu petromaks yang siap dinyalakan. Putra pun menyalakan lampu petromaks itu dan


Ternyata isinya tak sebanding dengan yang ia pikirkan.