
Keadaan sekitar sangatlah sunyi, hanya terdengar suara langkah kaki berhiaskan hembusan angin malam yang bertiup pelan.
Drap.. Drap.. Drap.. Drap
Begitulah suara langkah kaki mereka karena menginjak dedaunan yang ada di atas permukaan tanah.
“Ini kita serius mau mengikuti kucing ini?” berbisik kepada deden.
“Kenapa?”
“Ntahlah..aku sedikit merasa aneh soal kucing ini!”.
“Sudahlah ikuti saja yang mereka lakukan”.
Mereka masih mengikuti arah kucing itu tanpa membuka mulut sama sekali, tak seperti biasanya yang selalu ada kendala teknis di setiap perjalanannya. Begitu juga dengan si kucing, ia mengeluarkan suara apapun selama di perjalanan kecuali suara dengkuran halus karena bernafas.
Namun mereka semua sempat hilang konsentrasi dan karena langit begitu gelap, seketika kucing itu menghilang seolah-olah mereka tidak sedang mengejar sosok kucing tersebut.
"eh, tuh kucing mana dah?" tanya Ella memecah keheningan
"Yah kamu sih malah nyuruh kita ngikutin kucing" gerutu Deden lalu ia mendecak kesal
"yaudah kita mending langsung ke tempat tadi aja" ucap Putra langsung mengambil keputusan
"tapi ini udah lumayan jauh loh" balas Aulia yang memang selalu lebay selain Sabara.
"lebay melulu sih kamu, padahal jaraknya aja baru beberapa langkah dari gubuk" omel Denis sambil mendorong sedikit bahu Aulia
"cari saja dulu!" Ella terkekeh dengan dimana posisi di kucing
"kemana?" tanya Putra
"kita kembali ke belakang gubuk ini"
"oke deh, ayo semuanya!" ajak Putra pada yang lainnya.
“Ah yang benar saja kita harus mengikuti kucing bodoh ini”. Gumam frederica
Semuanya pun berbalik badan dan pergi ke arah belakang gubuk. Dan tanpa disadari, masih tersisa Frederica yang belum balik badan sama sekali. Dan masih menetap di tempat dimana hilangnya kucing itu.
"meong meong" Ella pun berusaha memanggil si kucing
Tak ada jawaban satupun
Drap.. Drap.. Drap..
Hanya mendapatkan suara langkah kaki yang terdengar tak lupa dengan dedaunan yang memang bertebaran di atas tanah. Ella menatap sekitar dan memperhatikan temannya satu persatu, mereka pun bingung dengan sikap Ella yang demikian.
"kok kaya ada yang kurang ya?" gumam Ella kembali menatap teman-temannya.
"eh kalian.. coba kalian perhatiin sekitar kalian deh, aku liat kok ada yang……."
"Frederica gaada" kalimat Ella langsung disergap Deden.
"nah itu, kemana dia?"
"eh iya Frederica mana?" tanya yang lainnya bersahutan. Sama sama baru sadar
"yaudah aku temenin!" sahut Sabara hendak menghampiri Ella
Namun, tampak dari kejauhan, dengan santainya Frederica baru datang ke belakang gubuk ini ditengah gentingnya suasana
"baru aja mau nyariin" keluh Sabara
"ya maap, habis cari angin" balasnya santai
"yaudah deh, misi nyari kucing nya kita tunda dulu aja. Kita istirahat aja dulu sekarang, masih ada nih sisa-sisa cape gara-gara dikejar monster gak jelas" ajak Ella lagi
"Yah kamu lagian malah nyariin kucing yang gak jelas gitu sih" celetuk Frederica kesal
"namanya juga penasaran, susah diobati nih, kecuali kalo emang udah tau jawabannya"
Mereka pun kembali ke dalam gubuk tadi dan bergegas untuk istirahat.
-------------------------------------------------------------------
Di dalam gubuk, penerangan hanya ada satu lampu petromaks. Sabara dan Saburu sedang iseng membongkar semua barang yang ada didalam gubuk ini. Entah lemari, rak, kotak, apapun yang terlihat berbentuk bangun ruang semua mereka bongkar. Sampai pada akhirnya mereka menemukan satu balok karton berukuran lumayan besar dan berbobot berat. Mereka pun mencoba membuka balok tersebut, ternyata isinya adalah kumpulan batang kayu yang biasa dipakai untuk obor.
"kak, kita pasang ini yok!" ajak Sabara pada kakaknya sambil memain-mainkan batang obor
"sebentar, kita cari dulu spot buat masangnya dulu"
"yaudah kakak diem disini, biar aku aja yang cari. Tapi pinjem dulu petromaks nya"
"oke nih jangan lama-lama, kasian yang lain" ucap Saburu sambil menyerahkan petromaks
Sabara pun menerimanya dan segera mencari sasaran tempat untuk dipasang obor. Dan ternyata di setiap sisi yang dijadikan sasaran, sudah ada tempat-tempat penyangga obor
"hm.. Ternyata ada penyangganya disini . Oke deh, aku gak perlu pasang lagi penyangga lain" gumam Sabara, lalu buru-buru ia menghampiri kakaknya. Sedangkan yang lain sedang merapikan seisi gubuk demi membuat lahan untuk tidur malam ini
Sabara dan Saburu sibuk dengan pemasangan obor demi penerangan ruangan ini dan sisanya sudah menuntaskan tugasnya.
Obor terakhir pun berhasil terpasang juga ruangan yang terlihat lebih baik dan layak sebagai tempat tinggal sementara.
"oke semuanya, buat laki-laki nanti tidurnya di deket pintu ya, nah buat perempuan disini. Aku sengaja tempatin laki-laki disana biar bisa mantau keadaan di luar juga. Karena laki-laki adalah pelindung kaum perempuan ea" semua seksama memperhatikan arahan Ella
"dan buat sekarang, mari kita istirahat disini buat sementara waktu" sambung Ella
Dan akhirnya mereka semua pun mengambil tempat masing-masing dan terlelap.
--------------------------------------------------------------
Waktu menunjukkan pukul satu dini hari. Refleks Ella terbangun dari tidurnya dan susah untuk memejamkan matanya untuk tidur lagi.
"kalian jangan terlalu lama dalam daerah ini, dah berhati hatilah dengan teman kalian"
Ella kaget dan mencoba untuk membuktikan dimana asalnya suara barusan
"kalian jangan terlalu lama dalam daerah ini, dah berhati hatilah dengan teman kalian"
Ternyata suara itu memang benar adanya.
"apakah ini sebuah petunjuk pertama?" tanya Ella pada dirinya sendiri