
Meneliti hutan yang bisa disebut 'hutan terlarang', membuat rasa penasaran seorang Eudocia Ella memberontak. Di samping ini adalah sebuah perintah, dia juga berpikir mungkin ini adalah sebuah perjalanan sekaligus pengalaman baru baginya dan tujuh temannya yaitu Denis, Frederica, Deden, Putra, Aulia, dan tak lupa si kembar Saburu dan Sabara.
"aku rasa ini akan sedikit berbeda" gumamnya dalam hati.
Tanpa ba-bi-bu Ella langsung mengemas barang-barangnya. Tak lupa dengan peralatan P3K yang super lengkap karena dia suka sekali mengoleksi segala macam obat-obatan, bahkan tanaman obat pun ia tanam di halaman rumahnya.
Ella pun pergi meninggalkan rumahnya. Dan lanjut pergi ke homebase tempat dimana Ella dan teman-temannya biasa berkumpul. Sambil melanjutkan perjalanan,
Ella sempat menemukan jamur aneh, berwarna belang, hitam-putih layaknya sigung. Ia pun sengaja mengambilnya dan memasukannya ke dalam kantong kecil.
"padahal belum apa - apa, malah udah nemu yang aneh aja" ucap Ella pada dirinya sendiri.
Pada akhirnya, Ella pun sampai di homebase dan ia hanya mendapatkan Frederica, si penanggung jawab bangunan ini yang sedang sibuk membaca buku di halaman homebase.
"ka, yang lainnya pada kemana?" tanyaku pada Frederica.
"si kembar lagi pada pemanasan di belakang, gak tau tuh banyak gaya mereka" jawabnya, datar tanpa mengalihkan pandangan.
"terus, yang lain?"
"Putra paling, lagi bikin plan perjalanan" lagi-lagi Frederica menjawab dengan datar.
Ella pun langsung menyimpan tasnya, lalu menghampiri Putra yang sedang berkutat dengan buku kecilnya sambil mengetuk-ngetuk meja dengan pulpen.
"put, ngapain?" sapa Ella, basa-basi mengawali percakapan
"masih nanya?"
"ya maksudnya, apanya yang lagi kamu susun?" tanya Ella semakin penasaran
"rute"
"bukannya hutan tuh gak jauh dari banyak pohon ya?"
"makanya itu, kita nyoba ke arah yang pohonnya sedikit dulu buat survey, karena tujuan kita kan sekalian neliti itu hutan juga. Nah itu buat hari pertama, buat hari selanjutnya kita lihat perkembangan dari hari sekarang." jelas Putra, singkat. Lalu Ella pun meninggalkan Putra yang masih sibuk dengan bukunya.
Sambil menunggu teman yang lainnya, Ella sibuk jalan-jalan mengelilingi seluruh ruangan homebase. Dari mulai halaman, ruang kumpul, dapur kecil, ruang kosong, sampai akhirnya ia pun terpaku kepada sebuah lemari kaca yang ada di ruang kosong , dimana tersimpannya beberapa foto penghuni homebase ini. Siapa lagi kalau bukan mereka?
Sambil membuka salah satu album foto, Ella pun hendak melangkah menuju kursi dan
"Dor!" Ella pun tersentak
"Waaa!!! ...Sabara kamu ini ngagetin aja".
"Hehe.. Udah ayo ke depan, udah pada dateng!" ucap Sabara.
Ella pun bergegas mengembalikan album ke lemari tadi dan mengikuti langkah Sabara.
"yakin udah ada semua?"
"tinggal Aulia" balas Sabara
"yah kalo dia sih jangan ditanya"
Akhirnya, semua pun berkumpul di ruang kumpul homebase kecuali Aulia.
"maaf guys aku telat!!!" Aulia dengan cepat berlari kearah mereka.
Briefing pun dimulai dan dipimpin oleh Putra sebelum kedatangan aulia.
"oke gais seperti yang kita.."
"eh tunggu dulu!" teriak Aulia dengan napas yang tidak beraturan, tiba-tiba masuk ke ruang kumpul.
"nih anak nyasar kemana dulu nih?" tanya Saburu jahil.
"biasa, tadi marathon anime, tanggung!" jawab Aulia dengan napas yang masih tersenggal.
"cepet duduk!" Ella langsung menarik tangan Aulia kebawah
"lanjut!" teriak Frederica tegas
Dan briefing pun dimulai
--------------
Waktu masih menunjukkan pukul 3 sore. Ella dan teman-temannya baru sampai di depan hutan. Mereka pun memutuskan untuk istirahat sejenak sambil menatap sekitar.
"put, ternyata disini kaya yang sedikit pohonnya. Berarti kita bakal mulai dari mana nih?" tanya Ella pada Putra
"sebentar, den.. Kalo menurutmu mending lewat mana?" Putra pun melemparkan pertanyaannya kepada Deden yang sedari tadi diam dan tatapannya kosong .
"coba kita cari daerah yang lebih sedikit pohonnya, aku pikir itu arah yang terbaik dari yang lain" kata Deden masih dengan tatapan kosong.
"udah gitu?" tanya Ella lagi
"ikutin dulu rencana kalian, aku pasti nurut" tiba-tiba Deden menyunggingkan senyumnya. Di antara semuanya, memang Deden adalah sosok paling misterius tanpa ada yang tahu siapa diri dia yang sebenarnya
15 menit pun berlalu. Ella dan Putra segera memerintah teman-temannya untuk bergegas.
"perjalanan kita cukup panjang" tegas Ella meyakinkan.
"ingat, pakai adab kalian semua!" lagi-lagi Ella menegaskan.
Selama perjalanan, Ella pun menemukan botol plastik berisi air mineral, terlihat masih utuh, dan masih di segel. Ia pun langsung meraih botol itu dan langsung membuka segelnya, tak lupa suara krek yang membuat semua langkah kaki terhenti dan seluruh mata memandang tingkah Ella.
"he.." ucap Ella sambil senyum ke arah mereka
"kamu mau minum?" tanya Putra
"ng.. nggak kok" jawab Ella gugup
"sebentar, itu kamu dapet air dari mana?" tanya Putra sambil mengerutkan alisnya. Ella pun menunjuk tempat ia menemukan botol barusan dengan matanya.
"diambil buat?"lanjut Putra lagi
"eksperimen barang temuan hehe" jawab Ella singkat. Lalu Ella pun memasukkan jamur belang hitam-putih itu kedalam botol yang berisikan air. Alhasil jamur itu mengerut dan airnya berubah warna menjadi hitam-putih terpisah.
"lucu juga. Aku baru liat yang begini" gumam Ella sambil menganggukkan kepalanya tanpa memperhatikan teman-temannya yang ikut heran.
"lanjut!" ajak Putra, sambil menepuk tangan pelan, perjalanan pun dilanjut.
Langit pun semakin gelap karena sudah waktunya matahari menenggelamkan dirinya. Mereka belum dapat memastikan alasan terlarangnya hutan ini dan akhirnya mereka pun mendirikan tenda dan menyalakan api unggun sebagai penghangat.
Seperti hutan pada umumnya, ramai oleh suara jangkrik yang bersahutan sana-sini seperti paduan suara, kadang-kadang burung hantu ikut ber-uhu di sela-sela suara jangkrik. Asap putih dari api unggun mengepul di udara menemani suasana Ella dan kawan-kawan. Dengan perbekalan seadanya, setidaknya mereka bisa bersama-sama selain diam di homebase seperti biasanya.
Ella kembali sibuk dengan botol air jamur tadi. Ia bingung kenapa alasan jamur itu bisa mengerut di dalam air. Dan warnanya tidak menyatu. Deden tetap terdiam sambil menatap sekitar, Frederica kembali membaca buku, Sabara dan Saburu malah asyik bertengkar berdua tak lupa ditonton Denis, dan terakhir Aulia sedang mendengarkan musik sambil menemani Putra bermain catur.
"ternyata kalian sama saja" ucap Deden tiba tiba merusak suasana
"soalnya belum nemu apa-apa" jawab Ella santai
"oh iya, Putra!" panggil Deden, mengganggu konsentrasi Denis tanpa dosa
"hm?"
"bikin jadwal jaga buat malem ini" ucapnya singkat
"oke, beresin ini dulu" jawab Putra yang masih Terfokus dengan permainan catur nya.
Setelah permainan catur usai, dan selalu dimenangkan oleh Putra, ia pun langsung mengajak Ella untuk berunding menyusun jadwal jaga.
Setelah penyusunan, Putra pun langsung mengomando yang lain untuk menghentikan aktivitasnya dan berkumpul untuk pembagian jadwal jaga.
"oke, sekarang kita istirahat ya. Sebelumnya, aku sama Ella mau kalian jaga selama malam ini bergilir. Selanjutnya bisa di arahkan oleh Ella" ucap Putra, membuka forum.
"jadi gini teman-teman, buat jaga sekarang kita mulai dari Saburu sama Aulia ya...
"... Eh ko... "
"jangan potong dulu, ini belum selesai. Oke kita lanjut, kalian jaga selama dua jam, terserah kalian mau ngapain juga, habis itu kalian berdua langsung bangunin aku sama Deden, di lanjut lagi Frederica sama Denis dan terakhir Putra sama Sabara. Ada yang mau ditanyakan? "
"itu kenapa aku harus sama Saburu?" tanya Aulia, sedikit tak masuk akal
"gapapa, pertama ini kan? Kalian bisa bebas tidur tanpa ada yang ganggu kecuali Putra. Itu pun nanti pagi, gimana?" jelas Ella, seadanya.
"yaudah deh iya"
"oke, yang lainnya langsung masuk tenda kalian masing-masing! Semangat!" seru Ella, sekaligus memerintah.