Foreign Place

Foreign Place
Trapped with you



“Kau bisa percayakan dia padaku, Ka tidak usah risau”


“Baiklah kami akan mencari jalan keluar terlebih dahulu, good luck untuk kalian!” Ucap Putra.


Hampir 1 jam sudah putra dan yang lainya meninggal Saburu dan Aulia, sampai saat ini Aulia belum sadar dari pingsannya.


“Kaget sih kaget tapi jangan buat gue nunggu juga”.


“Hmm..(tengok)..(tengok) Aulia cantik juga, beberapa tahun terakhir ini gue ga terlalu memperhatikan kecantikan dia”.


“Mm..ma..mana mungkin sih (memalingkan wajah)”


Saburu penasaran dengan wajah Aul tanpa memakai kacamata.


“ *TheFuck* ini bisa buat gue mimisan”


“Jangan sampe orang lain tahu, bila seseorang tahu hal seperti ini aku akan menjadi orang terbelakang”


Gumamman Saburu membuat Aul mengigau


“Mmmm..maa 5 menit lagi masih ngantuk”.


“Untung saja dia hanya mengigau”


“Sepertinya kita bermalam saja disini, (celingak,celinguk) nah ada obor, aku turun kan kamu sebentar ya aul, tahan sebentar”.


Saburu membawa obor dan menyalakannya.


“Untuk sementara kita disini sebentar ya, aku akan melindungimu”.


Saburu memeluk Aulia di pangkuannya. Disisi lain.


“Ada sesuatu ini bersinar-sinar, kali aja sesuatu yang bagus”


“Wahh ini sebuah bunga. Coba kuingat bunga apa ini ya?”


“Ohh iya ini Bunga Hawthorne, lah kan ini tanaman eropa kok bisa nyasar disini. Bodo amat deh ini bagus buat penelitian selanjutnya”.


Tiba-tiba ada sesuatu yang terbang menuju Ella.


“Waaaaa, kelelawar-kelelawar…” Teriak Ella.


“Ella!!”


Putra Berlari menuju Ella.


“Kalian Menunduklah untuk sementara! ”. Perintah Putra.


Seketika kelelawar-kelelawar itu menghilang.


“Ma..ma”


“Ssst.. apa yang kubilang sebelumnya”


“(Mengangguk)”


“Mungkin sudah aman sekarang. Ella kau ambil seperlunya bunga yang mau kau ambil”


“Baik Putra”


“Wahh bunga itu membuat ku kangen” Ucap Denis.


“Kau tau bunga apa itu Denis?” Ucap Sabara.


“Ahh iya, itu bunga pemberian dari nenek ku yang berada di Amerika Utara saat aku masih SMP, Tetapi bunga itu seharusnya tidak ada di Asia Tenggara dan hanya tumbuh saat bulan Mei”.


“Bunga ini bagus untuk orang yang terlalu cemas” Kata-kata Deden yang menegur seseorang.


Sabara berjalan menuju arah Deden, dan menarik bajunya.


“Kau mengejekku ya? Apa kamu tidak tau rasanya punya adik yang akan menghilang dari dunia ini? ”.


Semuanya tiba-tiba terdiam dan Deden hanya terdiam, Sabara pun melepas Deden.


“Sudah-sudah kita istirahat disini saja dulu” *Ucap Denis.


“Kau Saja yang istirahat, aku akan melihat sekitar ruangan ini” Ucap Sabara Kesal.


“Aku ikut ya Sabara” Ucap Ella.


“Terserah”


“Yaa jadi sekarang kita sebagai laki-laki harus menyiapkan tenda untuk 2 orang tuan putri kita, Ayo! ” Ucap Putra.


“Sabara tunggu”


“Aku tahu kau cukup cemas soal keadaan saburu, tapi sepertinya kata-katamu sedikit menyakitinya, kau tahu apa yang terjadi pada adiknya Deden?”


“Dia koma karena kecelakaan beberapa hari sebelum kita berangkat”.


“....”


*Terdiam*


“Yaa aku tahu. Aku cukup emosional karena hal itu. Apapun yang terjadi aku tidak mau kehilangan adik….*ahk* *Ahk*”


“Saburu kau kenapa?”


“Sepertinya ini menstruasiku”


“Kita kembali dan istirahat dulu, aku akan membuatkanmu teh tradisional”


“Iyaa terima kasih Ella”


Ella membantu Sabara berjalan kembali ke camp peristirahatan di gua yang akan ia tinggalkan.


Putra dan yang lainnya sudah siap menyiapkan camp untuk semua.


“Fiyuhh..beres juga, untuk penerangan kita pakai beberapa damar saja”


Ella berteriak dari kejauhan memapah Sabara.


“DENISS,PUTRAA,DEDENN”. Teriak Ella.


“Sepertinya aku mendengar sesuatu” gumam Denis.


“DENISS,PUTRAA,DEDENN”.


“Deniss apakah itu kau? Deniss kemarilah” sambil melambaikan senternya.


“Sepertinya itu Ella”


“Ella apa itu kau?|


“Yaa ini aku..cepatlah kesini dan bawa Sabara”


“Baikk tunggu aku”


Denis berlari ke arah Ella dan langsung menggendong Sabara.


“Cepatlah istirahatkan, bawa dia ke camp. Buatkan juga dia teh”


“Baikk Ella”


Denis berlari meninggalkan Ella menuju camp.


“Sabara kau cantik juga ya”


“A..aa..”


“Udah kamu ga usah ngomong kamu kan lagi sakit”


Sabara memukul dengan pukulan lemah kepada denis. Dan Denis hanya tertawa kecil.


“Putra Deden siapkan aku sleeping bag dan teh hangat tanpa gula untuk Sabara”


“Kamu bersandar aja padaku dulu untuk sementara”


“Ba..baik”


“Ahhh..aku jadi pingin punya pacar”


“Aa..pa sih kamu..ora.ng..la..gi sakit ..kau..membicarakan..sesuatu yang ti..tidak penting”


“Kan aku cuma bilang begitu, kenapa kamu risih”


“*muka sabara sedikit memerah*”


“Apa kau demam Sabara mukamu mulai memera, Putra deden cepat lah”


“Bukan begitu bodoh” gumam Sabara.


“Apa kau mengatakan sesuat..?”


Ucapan Denis terpotong oleh Putra dan Deden yang datang


“Teh dan sleeping bag nya datang..Ehhh maaf sepertinya kita mengganggu” Ucap Putra.


“Tidak..tidak kalian datang diwaktu yang tepat”


“Coba mana teh hangat nya..kamu minum lah dulu aku akan menyiapkan kantung tidurnya”


“Te..terima..kkasih”


“Sama-sama cantik” Denis dengan tangan mengusap kepala Sabara.


Muka Sabara tiba-tiba memerah lagi.


“Hooo..Denis Attack so Offensive today!” Ucap Deden, yang mulai tertarik percintaan.


“Si misterius aja ampe bilang gitu wahaha”


“Apa..apnn.. Sih kalian!!” Ucap Sabara.


“kita tinggalkan mereka saja Den sambil istirahat hari ini”


Putra yang akan menutup pintu tenda Denis teringat Ella, dan bertanya kembali pada Denis.


“Denis, btw Ella dimana kok belum kembali ya?”


“Tadi dia menyuruh kami pergi duluan..harusnya sih sebentar lagi dia datang”


“Oh, oke baiklah”


Setelah menutup pintu tenda Denis. Putra di selimuti rasa cemas akan belum kembalinya Ella ke camp.


“Mungkin dia kembali sebentar lagi...” Berucap hingga jatuh ketiduran.


“Tumben putra tumbang disaat seperti ini”. Sambil menarik putra ke tendanya.


“Mungkin aku bisa menyelidiki hal ini”. Gumam Deden.


“Sabara kau bisa tidur sendiri..atau mau aku temenin?”


“Mmm..kembali” dengan nada kecil.


“Kalo gitu aku akan kembali”


Sabara tiba-tiba menarik baju Denis.


“Ka..kau disini saja”


“Uhhh lucunya, jarang banget aku liat kamu gini”


“Apasih dari tadi kamu tuh” sambil memukul dengan tenaga lemas.


“Untung kamu masih sakit kalo ngga aku bakal patah tulang, Hahaha”


“Kau bisa gunakan aku sebagai bantal, sini kepalanya simpan di pahaku, aku akan sedikit memijatmu”


“Baiklah”


“... aku sudah mencintaimu sejak lama”


Sabara terkejut dan mukanya memerah, Sabara pun menjawabnya dengan nada pelan.


“Aku juga Mencintaimu”