
Boleh Elyn peluk Rafa?
Kavin mematung saat panggilan sayang itu diucapkan kembali oleh Velyn, Rafa memang panggilan sayang dari Velyn.
Kavin langsung menarik Velyn dan membawa Velyn ke pelukannya, entah kenapa perasaan Kavin semakin tidak tenang.
Ada isakan kecil yang Kavin dengar, ternyata Velyn sedang menangis. Kavin semakin mempererat pelukannya, dia menjadi bingung sebenarnya ada apa dengan Velyn.
"Vin, maafin aku kita sampai di sini saja ya." Ujar Velyn lirih, jujur ia tidak berani menatap mata Kavin yang sendu itu.
Degggg.
Kavin terdiam, reflek dia melepas pelukannya dari Velyn.
"Aku pasti salah dengar kan sayang?." Berharap yang Kavin dengar tadi adalah suatu kebohongan.
Velyn menggeleng dengan air mata yang terus jatuh dipipinya.
"Maafin aku, aku gak bisa sama kamu lagi."
"Alasannya apa Vel?." Kini tatapan Kavin berubah datar, dan panggilannya kepada Velyn juga berubah. Kini Velyn merasa dejavu, dia mengingat saat pertama kali dekat dengan Kavin.
"Maaf-."
"Gue gak butuh maaf, gue butuh penjelasan lo."
"Aku dijodohin sama papah, minggu depan aku mau nikah Vin."
Sorot mata yang kecewa terpampang jelas dimata Kavin, Kavin berusaha menahan air matanya didepan Velyn.
"Maafin aku Vin."
"Jadi tamu yang di rumah lo tadi itu mau membahas perjodohan kalian? Kenapa bisa lo dijodohin sama keluarga Narendra, dan kenapa lo mau." Kavin tau tentang keluarga Narendra, marga keluarga yang sangat berpengaruh didunia bisnis.
"Gue gak bisa kasih tau alasannya Vin." Velyn menunduk dia tidak sanggup menatap raut wajah kecewa dari Kavin.
"Sebenarnya lo tau lo mau dijodohin kan? Kenapa gak dari dulu aja Vel ninggalin guenya, kenapa baru sekarang?." Pertanyaan beruntun itu sudah mewakilkan betapa kecewanya seorang Kavin sekarang.
Velyn diam, dia tidak menjawab biarlah Kavin memikirkan yang tidak-tidak tentang dirinya.
"Boleh gue meluk lo untuk terakhir kali?." Tanpa menunggu jawaban Velyn, Kavin menarik Velyn ke dalam pelukannya. Kavin memeluk Velyn dengan erat, seolah dia tidak akan pernah bisa lagi bertemu dengan Velyn.
"Kalau memang ini menjadi pilihan terakhir kamu aku ikhlas Vel"
Kavin melepas pelukannya, dia menggenggam tangan Velyn.
"Setelah ini jalani hari lo dengan baik, maaf gak bisa ngasih donat sesuka hati lagi, kedepannya akan ada suami lo yang selalu ada buat lo. Kapan-kapan main ke rumah bunda kangen sama lo, tenang aja gue akan bilang ke bunda kalau gue yang mutusin lo gue gak mau ngecewain bunda karena dia udah nganggep lo sebagai anaknya. Gue ikhlas kalau kita gak bisa bersama tapi izinin gue buat nganggep lo sebagai adik atau sahabat, gue tau semua ini berat buat kita terutama buat lo yang gue gak tau apa itu alasannya."
Diluar dugaan Velyn, Velyn pikir Kavin akan marah dan membencinya ternyata tidak Kavin malah menerima semuanya dengan sikap yang dewasa.
Kavin berdiri Velyn juga ikut berdiri. Kavin mengelus pelan rambut Velyn "Jaga diri lo baik-baik I love you Elyn nya Rafa" Kavin mengecup lembut kening Velyn sebagai tanda perpisahan. Setelah itu Kavin berbalik dan mengambil motornya, Velyn menatap nanar kepergian Kavin.
Sungguh ini sangat menyakitkan apalagi keduanya masih sama-sama sayang, tetapi keadaan yang tidak bisa dipaksakan.
Terpaksa ikhlas karena keadaan
I love you more Rafa nya Elyn
Velyn tidak bisa lagi menahan tangisannya, ia memeluk erat jaket yang masih menyelimuti tubuhnya.
Didalam mobil Clara juga menangis melihat bagaimana perpisahan dua orang yang saling mencintai itu.
"Kalian berdua orang baik, semoga kalian bersama dengan orang yang cintanya lebih dari ini."
...🍩...
Kavin mengendarai motornya dengan pikiran yang kalut, jujur ia sangat kecewa dengan Velyn kenapa Velyn tidak jujur mengenai masalah keluarganya. Kalau Velyn jujur mungkin sedikit bisa membantu masalah Velyn, tapi dia juga tidak mungkin bisa melawan kehendak keluarga Velyn.
Selamat menempuh hidup baru pelangiku. Batin Kavin tersenyum dengan air mata yang menetes.
Kavin mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Sha lo bisa kesini sekarang?."
Setelah mendapat jawaban dari orang diseberang sana, Kavin berhenti disebuah taman yang cukup sepi di tempat itu sambil menunggu seseorang.
Dua puluh menit kemudian, orang itu sampai dan duduk disamping Kavin.
"Lo ngapain malem-malem di sini? Janjian sama Velyn?." Tanya Nesha, ya yang dihubungi Kavin tadi adalah Vanesha sahabat Velyn dan Clara.
Kavin masih diam, sedetik kemudian dia memeluk Nesha. Kavin tidak menghiraukan penampilannya yang kacau sekarang, dia masih merasakan sakit dihatinya.
"Lo ada masalah sama Velyn?." Masih tidak ada jawaban dari Kavin.
Akhirnya Nesha memutuskan menghubungi Velyn, namun nomor Velyn tidak bisa dihubungi. Nesha beralih menghubungu Clara.
"Ra, lo dimana?."
^^^"Gue lagi di jalan."^^^
"Lo lagi sama Velyn?."
^^^"Kenapa?."^^^
"Ini Kavin tiba-tiba nyuruh gue samperin dia, eh anaknya malah nangis gak mau ngomong."
^^^"Lo tenangin Kavin dulu."^^^
Belum sempat menjawab Clara malah memutuskan sambungan telfonnya.
"Ckk ni anak!." Umpat Nesha.
"Vin lo kenapa?." Kali ini Nesha mencoba bertanya secara halus. Nesha sedikit ngeri melihat Kavin yang melamun dengan tatapan kosongnya itu.
"Velyn mutusin gue."
"Hahh??!!!"
Nesha kaget di tempatnya, kenapa bisa Velyn memutuskan Kavin begitu saja? padahal yang ia lihat tadi di sekolah keduanya baik-baik saja.
"Dia dijodohin sama bokapnya."
"Kok mendadak?."
"Gue gak tau Sha, semuanya terlalu tiba-tiba dan Velyn juga tidak memberikan alasan."
"Lo yang sabar ya Vin, gue tau Velyn pasti juga berat ngambil keputusan ini." Ujar Nesha sambil menenangkan Kavin.
"Gue hancur Sha, gue hancur tanpa dia."
"Iya gue paham gimana perasaan kalian berdua, lo yang tenang gue tau ini gak mudah buat kalian."
"Terima kasih lo udah mau ke sini, ayo gue anterin balik."
"Gak usah Vin, gue kebetulan lagi ada urusan lo pulang aja."
"Gue anterin lo mau kemana."
"Lo pulang aja, keadaan lo lagi kacau gue udah pesenin taxi buat lo."
"Terus motor gue?."
"Gue pinjem besok gue balikin, gak mungkin gue biarin lo pulang dalam keadaan begini." Bukannya masih ada perasaan atau gimana, tapi Nesha benar-benar sudah menganggap Kavin seperi saudaranya sendiri.
Setelah memastikan Kavin naik taxi, Nesha menaiki motor Kavin dan berlalu dari taman itu, dan sekarang tujuannya rumah sakit untuk menemui Clara dan Velyn.
Memang Clara sudah mengabari Nesha tadi lokasi mereka ada dimana, Nesha juda penasaran kenapa hubungan Velyn dan Kavin bubar seperti ini.
Tiga puluh menit kemudian Nesha sampai di rumah sakit dan langsung menuju ke ruangan Elvan. Saat masuk ke dalam, hal yang tak jauh berbeda yang Nesha lihat adalah penampilan Velyn yang sama kacaunya seperti Kavin. Velyn ditenangkan oleh Zahra dan Clara.
Melihat kedatangan Nesha, Velyn langsung memeluk Nesha.
"Sha, gue jahat banget gue udah ninggalin dia, gue udah nyakitin dia padahal dulu lo udah ngasi kepercayaan buat gue jaga Kavin." Velyn tidak bisa menahan tangisannya.
"Udah gue tau lo pasti punya alasan dibalik ini semua." Ujar Nesha mengelus punggung Velyn.
Nesha mengajak Velyn duduk dan meminta ia untuk menceritakan semuanya.
"Gue tau ini berat buat lo, Kavin juga sama hancurnya seperti lo tapi jangan berlarut kalian pasti bisa melewati semua ini."
"Makasih Sha, gue titip Kavin sama lo ya Sha tolong jagain dia ingetin dia kalau dia salah."
"Gue pasti jagain Kavin dan lo Vel, karena kalia berdua sahabat gue termasuk Clara juga."
"Gue yakin lo pasti paham maksud jagain Kavin dari gue." Ucap Velyn lirih tepat ditelinga Nesha, walaupun ada keraguan disetiap ucapan yang keluar dari mulutnya Velyn, Velyn tidak bisa egois dengan perasaannya sendiri. Nesha terdiam, Velyn paling bisa membaca pikiran lawan bicaranya.
Gue gak yakin Vel, tapi gue coba. Gue gak bisa ngeliat Kavin hancur kayak gitu. Batin Nesha.
...🍩...
IG: yndwrdn05