
Sore harinya, Velyn benar-benar dijemput Vino asisten Arzan.
Selama di dalam mobil, keduanya tidak ada yang berbicara awalnya ia bingung kenapa hanya asistennya kenapa Arzan tidak ada.
"Maaf nona, tuan muda nanti akan menyusul kita." Vino membuka suara saat ia tidak sengaja melihat Velyn yang kebingungan.
"Hm." Jawab Velyn datar. Velyn kembali mengingat tadi saat ia dijemput, ia melihat Kavin yang tengah menatapnya dengan sendu. Tapi Velyn tidak boleh seperti ini, sebentar lagi ia harus menikah ia harus menjaga perasaan suaminya.
Tiga puluh menit kemudian, mereka sampai di salah satu butik yang cukup terkenal di kota itu. Velyn hanya mengikuti Vino dari belakang.
"Selamat sore nyonya, ini nona Velyn yang akan fitting baju hari ini." Seru Vino sambil mempersilahkan Velyn untuk masuk ke dalam.
"Wahh kenapa kamu cantik sekali." Ujar wanita paruh baya itu, kemudian dia memanggil asistennya untuk mengantar Velyn ganti baju.
Velyn masuk ke dalam ruang ganti, ternyata bajunya sudah disiapkan di butik itu.
...
...
Kira-kira seperti ini gaun yang akan dipakai untuk pernikahan Arzan dan Velyn, simple namun elegan. Velyn tidak mau gaun yang mewah karena pernikahannya pun tertutup.
Saat keluar dari ruang ganti, Velyn dikagetkan dengan keberadaan Arzan yang tengah bermain handphone. Sejak kapan orang itu berada disana?.
Baik Arzan maupun Vino sempat terpesona dengan Velyn saat ini, menyadari hal itu Velyn berdehem dan kedua lelaki itupun sepertinya salah tingkah.
"Pilihan yang sangat bagus nona Velyn, gaun ini sangat pas dan menawan ditubuh anda." Puji pemilik butik itu, Velyn hanya tersenyum tipis.
"Baiklah gaun yang ini saja segera kirim ke rumah." Arzan buka suara.
Setelah fitting baju Arzan mengajak Velyn untuk membeli cincin pernikahan. Sekarang mereka bertiga sudah berada di dalam mobil, Vino didepan sementara Velyn dibelakang bersama Arzan.
Suasana mobil sangat hening, Velyn yang merasa lapar dan Arzan yang merasa canggung. Seorang Arzan Narendra bisa canggung dihadapan seorang gadis? ini adalah sejarah baru bagi Vino, diam-diam Vino tersenyum tipis melihat mereka berdua dari kaca spion.
"Apa kamu sudah memutuskan hubungan dengan Kavin?." Tanya Arzan berusaha merubah suasana.
"Ya." Jawab Velyn simple.
Arzan terdiam, baru kali ini ada seorang perempuan yang berani berbicara dingin dengannya. Arzan kembali diam, ia merasa harga dirinya jatuh didepan Velyn.
Tiga puluh menit kemudian, mereka sampai di salah satu toko perhiasan milik keluarga Narendra.
"Silahkan kamu pilih mana yang kamu suka." Seru Arzan, Velyn mengangguk dan meninggalkan mereka berdua yang sedang berbicara dengan menejer di toko itu.
...
...
Pandangan Velyn jatuh ke dua cincin yang menurutnya simple namun terkesan mewah, tiba-tiba tatapannya berubah sendu ia kembali mengingat kenangannya bersama Kavin.
"Nanti aku mau kamu yang memilih cincin pernikahan kita." Ujar Kavin.
"Kenapa harus aku?."
"Iya karena apapun pilihan kamu pasti aku akan suka."
"Kamu pilih yang mana?." Suara Arzan memecah lamunan Velyn.
Velyn menunjukkan dua cincin yang ada ditangannya, Arzan meneliti cincin itu dengan cermat.
"Apa ini tidak terlalu sederhana?." Tanya Arzan.
"Tidak! Saya suka itu tuan." Jawab Velyn memanggil Arzan dengan sebutan 'tuan'. Arzan memicingkan matanya, kenapa Velyn memanggilnya tuan? begitu juga Vino yang bingung padahal sebentar lagi mereka mau menikah. Bahkan Arzan tidak pernah menyuruh Velyn untuk memanggilnya tuan.
Setelah mengucapkan hal itu Velyn pamit keluar, ia ingin menunggu Arzan dan Vino diluar saja suasana hatinya saat ini sangat buruk.
Ia juga tidak tau kenapa memanggil Arzan dengan sebutan tuan, bagi Velyn itu hanya salah satu cara untuk menghormatinya saja. Bukan Velyn angkuh atau apa, dia tau sepak terjang keluarga Narendra di dunia bisnis dan negara sekalipun, ia hanya berusaha menghargai Arzan bukan berarti karena dia calon istrinya Velyn bisa seenaknya dengan Arzan.
Sepuluh menit menunggu, akhirnya Arzan dan Vino keluar juga. Velyn menatap datar ke arah dua pria tersebut.
"Saya antar kamu pulang." Ujar Arzan datar.
"Saya bisa naik taxi tuan." Tolak Velyn sopan, jujur dia masih merasa segan kepada Arzan saat ini. Mungkin orang-orang yang tidak tau sifat asli Velyn, mereka akan berpikir Velyn itu angkuh dan sombong. Tetapi dibalik itu semua, Velyn hanya menutupi sifat yang sebenarnya.
Arzan tidak bisa memaksa Velyn, dia sadar dia masih belum siapa-siapa bagi Velyn. "Baiklah, kamu naik taxi saya akan mengikuti dari belakang." Reflek Velyn langsung menoleh ke Arzan, apa bedanya jika seperti itu?
"Tidak apa-apa tuan, anda kembali saja ke kantor saya pulang sendiri."
"Saya calon suami kamu, jadi saya harus mengantar kamu sampai ke rumah." Arzan bersikukuh.
"Baiklah antarkan saya." Pasrah Velyn, menolak pun dia tidak enak karena memang benar Arzan calon suaminya.
Di dalam perjalanan keheningan kembali terjadi, Vino fokus menyetir, Arzan yang fokus dengan laptopnya tapi diam-diam masih memperhatikan gerak gerik Velyn, dan Velyn sendiri terdiam sambil melihat keluar jendela.
"Tuan Vino, apa anda bisa mampir ke toko roti sebentar?." Velyn bertanya dengan ragu.
"Baik nona." Jawab Vino datar.
Sesampainya di depan toko roti, Velyn langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam.
"Vino, apa aku terlalu memaksakan keinginan kakek? Sampai-sampai Velyn gadis remaja itu sepertinya merasa terbebani." Tanya Arzan kepada Daffa.
"Apa anda merasa kasihan dengan nona Velyn tuan?."
"Ya, aku rasa ini semua bukan keinginannya. Lihat saja pandangan tidak suka itu darinya."
"Tapi yang saya lihat nona Velyn hanya segan kepada anda bukannya tidak suka."
"Kau jangan mencoba menghibur aku Vino!." Hardik Arzan.
"Tuan muda saja sudah tertarik dengan nona Velyn." Dengan senyum tipisnya Vino mengucapkan hal itu.
"Kau jangan sok tau! Aku hanya merasa kasihan setelah mendengar cerita tentang keluarga dia dari kakek."
Saya tau anda orang baik tuan. Batin Vino
Arzan terdiam, dia kembali memikirkan masalah keluarga Velyn, kenapa papa Velyn sangat membenci Velyn. Arzan menyimpulkan semua itu saat berkunjung ke rumah Velyn, dia melihat Reza yang awalnya ceria tetapi saat Velyn datang tatapannya berubah datar.
Dan dia juga mengingat cerita kakeknya tentang perlakuan kasar Reza kepada Velyn. Mungkin setelah menjadi istrinya yang sah Arzan akan mencaritau semua tentang keluarga Velyn.
Menunggu hampir sepuluh menit, akhirnya Velyn kembali masuk ke dalam mobil dengan satu kantong kresek yang berisi satu box lumayan besar.
Arzan bertanya-tanya apa yang sedang dibeli Velyn.
"Maaf tuan agak lama, tadi kasirnya mengantri." Ujar Velyn merasa tidak enak.
"Apa yang kamu beli?." Tanya Arzan penasaran.
"Donat tuan, apa tuan mau?." Tanya Velyn meskipun ia merasa lancang tapi tidak enak juga jika tidak menawarinya.
"Kamu menyukai donat?." Bukan menjawab Arzan malah kembali bertanya.
Velyn mengangguk, dia memang tidak bisa jika sehari saja tidak makan donat. Arzan tersenyum tipis menanggapinya, pantas saja pipi Velyn mengembang ternyata gadis itu penyuka donat.
Semuanya kembali hening sampai mereka tiba di rumah Velyn, setelah itu Arzan pamit pulang.
"Apa kau bisa mencari tau semua kesukaan Velyn ?" Tanya Arzan. Vino hanya mengangguk, diam-diam ia tersenyum tipis.
Saya sudah menduga jika anda benar-benar sudah jatuh dalam pesona nona Velyn tuan, hanya saja anda masih menyembunyikan itu semua dengan berkedok kasihan. Batin Vino.
(Biasanya hampir semua tuan muda bersikap angkuh, sombong, dan arrogant. Tapi di sini sosok Arzan tidak, dia memiliki hati yang lembut seperti gulali)
...🍩...
IG: yndwrdn05