
"Sayang, bangun kamu tidak mau sekolah hm?." Seru Arzan menepuk pelan pipi Velyn jam sudah menunjukkan pukul 6.45 sementara sekolah dimulai jam setengah delapan, semalam Velyn tidur sambil memeluk dirinya. Arzan sangat bahagia dengan sikap Velyn, melihat Velyn yang manja dengannya walaupun masih suka malu-malu.
"Lima menit lagi mas, aku masih mengantuk." Jawab Velyn didalam gulungan selimut, Arzan terkekeh pelan. Dia mengotak-atik ponselnya sebentar dan kembali mengelus kepala Velyn, membuat Velyn semakin nyenyak.
Jam 9.20 Velyn terbangun, ia mengucek pelan matanya dan melihat ke sekeliling kamarnya. Arzan masih berada disampingnya dengan fokus ke laptop dihadapannya. Melihat
"Jangan dikucek matanya, nanti perih." Seru Arzan mengusap pelan pelipis Velyn, Velyn mematung dia menjadi salah tingkah menghadapi sikap lembut Arzan.
Velyn tersadar sesuatu, dia segera melirik jam yang ada disamping meja tidurnya. "Mas, kenapa mas gak bangunin aku!" Teriak Velyn.
"Sayang, jangan teriak nanti tenggorokan kamu sakit." Lagi-lagi Velyn bersemu dengan sikap Arzan, dia hanya mengangguk berusaha menyembunyikan perasaan malunya.
"Tapi mas, sekarang udah hampir setengah sepuluh. Aku udah telat sekolah, mana ada ujian praktek hari ini pasti nilai aku kosong. Kenapa mas gak bangunin sih!".
"Coba liat ponsel kamu."
Dengan lemas, Velyn menjangkau ponselnya. Mata ia berbinar melihat notifikasi grup sekolahnya jika hari ini semua murid diliburkan karena ada rapat penting di sekolah. Velyn yang mengetahui itu bernafas lega, akhirnya ia tidak perlu mengemis meminta ketertinggalan nilai kepada guru.
"Gimana?." Tanya Arzan, yang sedari tadi tidak mengalihkan pandangannya menatap semua kegiatan Velyn .
Velyn tersenyum dan memberikan ponselnya kepada Arzan. Arzan tersenyum melihatnya. Tadi pagi saat Velyn merengek tidak mau bangun, diam-diam Arzan menghubungi Vino menyuruhnya untuk meliburkan semua murid di sekolah SMA Bina Bangsa miliknya. Dia hanya tidak tega melihat raut wajah Velyn yang kelelahan karena merawat dirinya, disisi lain juga hari ini SMA Bina Bangsa memang ada pemeriksaan rutin kepada setiap guru yang mengajar di sana.
"Em, mas aku mau masak dulu ya buat sarapan kita." Ujar Velyn sambil mencepol rambutnya secara asal.
"Tidak perlu, kamu cepat siap-siap nanti ikut mas ke kantor. Mas mau memperkenalkan kamu dengan semua orang yang ada di kantor."
"Baiklah, tapi nanti kita mampir ke toko roti dulu ya beli donat."
"Iya sayang." Jawab Arzan terkekeh melihat tingkah polos Velyn.
Setelah Velyn selesai bersiap, dia membantu Arzan untuk bersiap juga. Hampir satu jam mereka akhirnya keluar dari kamar dengan Velyn yang mendorong kursi roda Arzan. Di ruang tamu, ternyata sudah ada Vino yang menunggunya. Memang Velyn memberikan akses bebas keluar masuk rumah kepada Vino, karena dia adalah asisten Arzan.
"Selamat pagi tuan, nona Velyn." Sapa Vino.
"Selamat pagi Vino." Jawab Velyn, sementara Arzan merespon dengan hanya menganggukkan kepalanya.
Velyn menolak saat Vino meminta untuk berganti mendorong kursi roda Arzan, dia lebih memilih mendorongnya sendiri. Membuat Arzan dan Vino diam-diam tersenyum dengan tingkah laku Velyn.
Mereka tiba di toko roti yang menjadi langganan Velyn.
"Mas mau ikut?." Tanya Velyn sebelum turun dari mobil.
"Tidak, kamu saja. Nanti yang ada mas ngerepotin kamu." Velyn hanya mengangguk dan langsung turun dari mobil.
Tanpa sengaja Velyn bertemu dengan Karen dan Fira, yang juga tengah membeli roti.
"Wah-wah liat nih ma, ada si anak tidak tau diri." Ledek Fira.
"Iya sayang, sepertinya dia tidak diakui oleh keluarga Narendra sampai-sampai harus keluar sendiri."
Velyn masih diam, dia terlalu malas untuk meladeni kedua wanita ular didepannya ini.
Karen mencengkram dagu Velyn cukup kuat, dia bisa bebas melakukan aksi itu karena di toko tersebut masih tidak ada pembeli.
"Lepas!." Velyn menghentakkan tangan Karen dari dagunya, dia menatap Karen dengan tatapan tajam.
"Mau saya sombong ataupun tidak, itu bukan urusan anda. Lebih baik anda tidak perlu mencampuri urusan saya." Ujar Velyn dan berbalik ingin memesan roti.
"Sok-sok an lo Vel, lo kira gue sama mama gak tau. Lo bukannya dijadiin istri malah dijadiin pembantu yang harus mengurus suami lo yang cacat itu!" Suara Fira memenuh telinga Velyn, Velyn berbalik dan-
PLAKKK!
Velyn menampar Fira cukup keras.
"Gue bilang, jangan pernah mencampuri urusan rumah tangga gue. Lo sama mama lo itu sama, bisanya cuma menilai orang dari fisiknya aja. Tau apa lo tentang perlakuan suami gue hah? Mau gue jadi pembantu, babu atau apa itu terserah gue!." Emosi Velyn sudah memuncak, dia benar-benar benci dengan Fira dan Karen.
"Dan satu hal, suami gue gak cacat dia hanya belum bisa berjalan seperti orang diluar sana. Di mata gue, dia orang yang sempurna bahkan lebih baik dari kalian berdua yang bisa berjalan ini." Suara Velyn berubah bergetar, dia tidak terima jika ada orang yang menjelekkan Arzan.
"Sayang, apa pesananmu masih lama." Velyn tau itu suara siapa, dia menoleh dan mendapati Arzan dengan tatapan tajamnya sedang memandang Karen dan Fira. Sedetik kemudian pandangannya berubah lembut terhadap Velyn.
Karen dan Fira kaget mereka tiba-tiba menjadi kaku melihat kedatangan Arzan.
"Velyn sayang, ingat kapan-kapan main ke rumah ya mama sama Fira kangen sama kamu." Seru Karen pura-pura, dia hanya tidak mau terlihat buruk didepan orang penting seperti Arzan.
"Iya kak, aku juga rindu jalan-jalan denganmu kak." Fira ikut menimpali. Velyn berdecih di dalam hati, melihat kelakuan busuk mama tiri dan saudara tirinya itu. Sementara Arzan sudah mengepalkan tangannya, dia tidak sebodoh itu mempercayai Karen dan Fira. Karena tanpa sepengetahuan mereka Arzan dan Vino sudah mendengar semuanya.
Sebelum Vino dan Arzan keluar dari mobil.
"Tuan sepertinya itu mobil nyonya Karen." Ujar Vino.
Arzan memperhatikan mobil itu dengan teliti "Ayo antarkan aku ke dalam, aku tidak mau Velyn disakiti oleh dua wanita gila itu." Seru Arzan. Walaupun Arzan baru mengenal Karen dan Fira, dia yakin kalau mereka berdua tidak sebaik saat didepan orang lain. Apalagi melihat pesan dari Fira kepada Velyn tadi malam.
Vino mendorong Arzan masuk ke dalam, dan benar saja apa dugaannya. Arzan melihat bagaimana Karen mencengkram dagu Velyn dan Fira yang menghina Velyn. Awalnya Vino ingin menghampiri Velyn, tetapi saat melihat Velyn menampar Fira membuat dia menghentikan langkahnya. Baik Arzan maupun Vino tersenyum mendengar jawaban dari Velyn.
"Kakek memang tidak salah memilihkan aku istri Vino." Ucap Arzan sambil terus memandang ke arah Velyn.
"Ya tuan, saya rasa juga begitu." Jawab Vino senang.
Setelah kepergian Karen dan Fira, Velyn langsung berlutut didepan Arzan dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kenapa sayang?." Tanya Arzan heran.
Velyn diam, dia mengambil tangan Arzan dan menyalaminya.
"Aku minta maaf mas, jika perkataan keluargaku menyakiti hatimu." Terdengar isak kecil dari Velyn. Arzan membeku, dia juga tidak menyangka Velyn akan sebegitunya menjaga perasaannya.
"Hey, kenapa kamu menangis. Mas tidak apa-apa, biarkan saja mereka mau bilang apapun." Arzan menarik Velyn ke pelukannya.
"Yasudah ayo, kita pesan donatnya." Ajak Arzan, tetapi Velyn menggeleng dia sudah tidak mood lagi.
Arzan tidak memaksa, dia hanya membiarkan Velyn mendorongnya keluar dari sana. Sebelum pergi, Arza sempat mengkode Vino untuk memesan donat kesukaan Velyn.
IG:yndwrdn