Evelyn Story'S

Evelyn Story'S
Evlyn-25



Sudah hampir satu minggu penuh, Velyn selalu mengikuti Arzan ke kantor. Bagi Arzan, dia tidak merasa terbebani selama Velyn merasa nyaman. Arzan hanya takut Velyn akan kelelahan jika harus seharian berada di kantor.


Tetapi Arzan cukup kagum dengan Velyn, walaupun Velyn mengekori Arzan ke kantor, tetapi dia tidak pernah mengganggu waktu Arzan bekerja. Velyn hanya diam sambil menonton film dari laptop yang dia bawa dari rumahnya, tidak lupa dengan camilan kesukaan Velyn.


Arzan bahagia melihat tubuh Velyn yang kini semakin berisi, apalagi perutnya yang semakin lama semakin terlihat.


"Mas, aku izin ke kantin bentar ya." Pamit Velyn.


"Apa yang kamu butuhkan sayang?." Tanya Arzan sambil menghampiri Velyn.


"Ini sudah mau masuk jam makan siang, aku mau makan sama temen-temen mas. Nanti aku bawain buat mas, gak papa ya sekarang makan sama mereka?."


Arzan mengangguk seraya mengelus kepala Velyn, Velyn memang sudah cukup akrab dengan beberapa bawahan Arzan di kantor. Velyn banyak disukai oleh bawahan Arzan, karena Velyn mempunyai sikap yang ramah, dan mudah berbaur apalagi Velyn tidak sombong seperti istri para ceo di perusahaan lain.


"Jangan kelelahan sayang dan jangan makan yang sembarangan." Perintah Arzan, tetapi Arzan tau tidak dilarang pun Velyn pasti mengetahui apa yang terbaik buat anak mereka. Bagi Arzan, Velyn adalah tipe wanita yang sangat teliti.


"Siap papa." Jawab Velyn, setelah itu Velyn beranjak dan berlalu pergi. Tidak lupa dia mencium pipi Arzan sekilas membuat Arzan tersenyum, dia sangat bahagia dengan keluarganya sekarang. Arzan selalu berharap keluarganya akan terus harmonis.


Dia kembali teringat ucapan Velyn beberapa hari yang lalu.


Kalau aku gak bisa mendapatkan kebahagiaan dari keluargaku sendiri, aku harap kita bisa menciptakan keluarga bahagia untuk anak kita nanti mas.


Mengingat hal itu, membuat darah Arzan berdesir. Dia tau seberapa kecewanya Velyn dengan keluarganya, bahkan untuk menanyakan kabar Velyn pun tidak pernah.


...----------------...


Saat ini, Velyn tengah bermanja di dalam kamar bersama Arzan. Arzan terus mengusap perut Velyn yang membuncit itu, sekarang Velyn hanya tinggal menunggu pengumuman kelulusan saja, jadi dia bisa bersantai di rumah.


"Mas, mas Arzan maunya nanti perempuan atau laki-laki?." Tanya Velyn, dengan posisi setengah tidur sementara Arzan duduk bersandar ditempat tidur.


"Apapun yang tuhan kasih mas akan sangat bersyukur sayang, yang penting dia sehat." Jawab Arzan tersenyum.


"Kalau perempuan bagaimana?." Tanya Velyn lagi.


"Mas akan sangat bahagia dan berharap dia akan cantik seperti kamu, dan menuruni sifatmu sayang."


"Kalau laki-laki?".


"Mas juga akan sangat bahagia, dan dia harus seperti mas yang tampan ini dan yang penting, dia bisa melindungi bidadari didepan mas ini."


"Akhh, mas siapa juga yang bilang mas Arzan tampan." Goda Velyn.


Arzan pura-pura kaget. "Jadi mas terlalu percaya diri ya." Seru Arzan pura-pura sedih.


"Mas bukan hanya tampan, tapi sangat tampan dan bijaksana. Semoga nanti kalau baby kita laki-laki, dia menuruni sifat mas yang penyayang, pintar dan tidak sombong."


"Oh iya mas, dari dulu aku ingin bertanya. Tapi aku takut menyinggung perasaan mas Arzan." Ujar Velyn pelan.


Arzan tersenyum, dia tidak habis pikir dengan istrinya itu. Sampai-sampai Velyn sangat menjaga perasaan Arzan, bukan hanya perasaan Arzan saja, tetapi hampir dengan semua orang Velyn kenal.


"Mas akan menjawab apapun yang istriku ini tanyakan."


"Aku cuma pengen tau kenapa mas mau dijodohkan denganku?." Tanya Velyn penasaran. Arzan menghela nafas, kemudian dia menatap dalam mata Velyn sambil bercerita.


"Mas pernah mempunyai tunangan, mas pikir dia adalah wanita yang tidak sama dengan masalalu yang mas punya. Tetapi mas salah, dia bahkan dengan tega meninggalkan mas saat keadaan mas waktu itu tidak baik-baik saja. Setelah itu mas tidak percaya lagi dengan apa yang namanya wanita dan cinta, tetapi setelah kakek berusaha membuka mata hati mas, mas akhirnya mau kembali memberikan kesempatan kepada diri mas."


"Apa yang mas maksud itu Nayra?." Tanya Velyn. Arzan mengangguk.


"Iya sayang, Nayra perempuan pertama yang berhasil memiliki hati mas walaupun mas tau Nayra hanya memandang harta yang mas miliki. Tapi mas menutup mata dengan semua itu, karena rasa sayang mas yang besar. Satu tahun kepergian Nayra, kakek tiba-tiba ingin mengenalkan mas dengan salah satu anak dari teman bisnisnya. Sore itu mas diajak kakek ke rumah kamu, sampai di sana mas melihat Fira awalnya mas mengira kakek akan menjodohkan mas dengan dia. Tetapi saat kakek diam-diam melirik mas, mas menggeleng tidak mau, entah kenapa hati mas menolaknya."


"Sampai pada akhirnya Fira sendiri yang menolak perjodohan itu dan meminta kamu sebagai gantinya, saat mas pertama kali melihatmu mas sudah tertarik dengan sikapmu kepada kakek waktu itu. Dan kakek juga sepertinya menyukaimu sayang, jadi mas semakin yakin jika mas akan memilihmu. Awalnya mas hanya merasa kagum dan kasihan karena perlakuan keluargamu terhadap kamu sendiri, tapi semakin lama perasaan itu tidak bisa dibantah lagi mas benar-benar mencintai seorang yang bernama Evelyn." Ujar Arzan panjang lebar, Velyn berkaca-kaca mendengan pernyataan Arzan.


Velyn kemudian langsung memeluk Arzan dengan erat, dia tidak menyangka bisa dicintai dengan hebat oleh seorang Arzan.


"Terima kasih mas, terima kasih banyak. Dari awal saat aku bertemu denganmu pun aku merasa kamu adalah laki-laki yang bertanggung jawab."


Arzan tersenyum, dia mengelus pelan kepala Velyn yang berada dipelukannya sambil memberikan kecupan hangat dikening Velyn.


"Sayang dengerin mas, apapun yang terjadi nanti mas harap kamu tetap berada di samping mas ya sayang. Jangan pernah tinggalkan mas sendirian, mas tidak akan tau apa yang terjadi jika sayang meninggalkan mas." Seru Arzan lirih, air matanya sudah menganak sungai.


Velyn semakin mengeratkan pelukannya. "Mas tidak perlu bicara seperti itu, aku janji tidak akan pernah meninggalkan mas Arzan. Aku akan tetap berada disamping mas sampai kita menua bersama." Ujar Velyn dengan isakan tangisnya.


"Sudah-sudah jangan menangis lagi bidadarinya mas, kasian baby nanti ikut sedih ngelihat mama cantiknya ini menangis." Goda Arzan sambil menghapus air mata Velyn.


Velyn mengangguk, dia juga menghapus jejak air mata dipipi Arzan.


"Mas juga jangan menangis, nanti baby sedih. Tetap jadi Arzan yang aku kenal ya mas, aku sudah mempertaruhkan hatiku denganmu mas jadi jangan kecewakan kami papa." Seru Velyn dengan senyuman manisnya, Arzan mengacak pelan rambut Velyn yang sangat lembut ditangannya itu.


Tiba-tiba Arzan menjadi diam, dia sedang menahan sakit dikepalanya. Velyn yang melihat gerak-gerik Arzan menjadi sedikit khawatir, karena Arzan memejamkan matanya dengan peluh yang keluar didahinya.


"Mas, mas Arzan kenapa?." Tanya Velyn panik, tidak ada jawaban dari Arzan. Mata Arzan tiba-tiba terbuka, tetapi tatapannya sangat tajam dan mengintimidasi. Velyn yang melihatnya bergetar ketakutan.


"Pergi kau jal*ng!!!!."


...----------------...


IG: yndwrdn.