Evelyn Story'S

Evelyn Story'S
Evlyn-10



Keesokan harinya Velyn terlihat tidak semangat untuk berangkat sekolah, dia masih tidak siap bertemu dengan Kavin hari ini. Melihat kekecewaan dimata Kavin, Velyn juga ikut hancur.


"Nanti sore ikut mama ya Velyn, kamu harus fitting baju di butik langganan mama." Seru Karen di ruang makan mencoba mencari perhatian Reza.


"Tidak perlu, calon suami saya yang akan menemani saya untuk fitting baju." Jawab Velyn datar.


"Pah, hari ini Velyn mau dianterin papa boleh?." Dengan ragu Velyn bertanya hal itu kepada Reza.


Reza tidak menjawab, menoleh juga tidak dan Velyn sudah tau jawabannya. Didepannya Karen dan Fira tersenyum miring melihat Velyn yang diabaikan oleh Reza, Velyn menjadi heran ada dendam apa mereka berdua terhadap keluarga Velyn.


"Pa, Jadi kan nganter Fira nya hari ini?." Tanya Fira melembutkan nada suaranya, membuat Velyn ingin muntah.


"Ya." Jawab Reza singkat.


Merasa tidak ada kepentingan lagi di sana, Velyn berlalu dari hadapan mereka. Sesampainya di luar rumah, Velyn kaget karena ada Kavin yang tengah menunggu di depan rumahnya.


"Vin.." Panggil Velyn lirih.


"Ayo berangkat sama gue." Ajak Kavin dengan senyuman yang selalu membuat Velyn menjadi tenang.


Tanpa mereka berdua sadari, dibelakang mereka ada sebuah mobil yang sengaja memantau mereka berdua. Tatapan orang yang ada didalam mobil itu menajam, serta dua tangannya terkepal marah.


Velyn mengiyakan dan langsung naik ke motor Kavin. Sepanjang perjalanan tidak ada yang berbicara, mereka berdua sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Sesampainya di sekolah, Kavin seperti biasa membantu Velyn melepaskan helmnya. Velyn sakit mengingat semua kebiasaan mereka, tetapi sebisa mungkin Velyn menutupinya.


"Setidaknya gue masih bisa bersahabat dengan lo kan Vel?." Akhirnya Kavin membuka suara setelah mereka saling terdiam di parkiran.


Velyn mematung, bibirnya kelu dia tidak tau harus menjawab bagaimana. Velyn hanya mengangguk mengiyakan.


"Gue tau ini berat buat kita terutama buat gue, tapi gue gak mau kita menjadi asing biarin gue jadi sahabat lo. Tenang aja gue gak akan melibatkan perasaan di dalam persahabatan ini, gue hargai keputusan lo tapi maaf gue masih gak bisa jauh dari lo Vel." Jelas Kavin sambil menatap Velyn dengan sendu.


Velyn terdiam, terlalu sakit melihat Kavin yang hancur seperti ini tapi ia tidak boleh egois. "Iya Vin, kita sahabat." Jawab Velyn dengan tersenyum.


Kavin mengacak rambut Velyn dengan gemas, dia juga tidak tau bisa mengikhlaskan Velyn atau tidak tapi dia harus menghargai keputusan Velyn. Mungkin ini semua pembelajaran yang dewasa bagi mereka berdua.


Kavin kembali mengingat nasehat bundanya tadi pagi.


Flashback...


"Anak bunda gak sekolah?." Dengan lesu Kavin menggeleng.


Bundanya mendekat dan duduk disamping Kavin, ia mengelus pelan rambut putra kesayangannya itu.


"Kenapa hm? Ada masalah?, sini cerita sama bunda. Bunda liat semalam keadaan kamu gak baik-baik aja setelah bertemu dengan Velyn."


Kavin menatap bundanya dan langsung memeluk bundanya sambil menangis, Bunda Kavin diam menunggu Kavin tenang.


"Kalau Kavin cerita, bunda jangan benci sama Velyn ya bun." Kavin berbicara dengan nada seraknya.


Bundanya mengangguk menunggu kelanjutan cerita Kavin.


"Semalam Velyn memutuskan hubungan kami, karena dia dijodohkan sama om Reza. Kavin hancur bun, Kavin gak bisa kalau gak ada Velyn." Awalnya Kavin tidak ingin jujur, tetapi ia hampir gila memikirkan semua ini.


"Kamu tidak tanya ke Velyn kenapa tiba-tiba dia ingin dijodohkan?." Tanya Bunda, ada rasa kecewa didalam hatinya karena masalah ini, tapi ia juga tidak bisa memaksakan hubungan keduanya.


"Bunda tau ini berat buat kamu, bunda tau perasaan kamu seperti apa terhadap Velyn. Tapi mungkin ini sudah takdir kalian berdua, kamu gak boleh putus asa kamu harus buktiin sama Velyn kalau kamu nerima semua ini. Bunda gak marah bunda cuma kecewa, tapi bunda bisa apa itu sudah menjadi keputusan keluarga Velyn. Mungkin Velyn mempunyai alasan yang tidak bisa ia katakan sama kamu, sekarang lebih baik kamu tata lagi hidup kamu dan kamu gak perlu benci sama Velyn dia anak yang baik bunda tau itu."


"Jadi bunda gak marah sama Velyn?."


"Enggak, justru bunda bangga sama kalian. Kalian bisa menyikapi masalah ini secara dewasa. Sudah sana mandi terus sekolah kamu jemput putri bunda, setelah ini kamu jaga jarak dia akan menjadi istri orang."


"Iya bun, Kavin mau jemput Velyn sebagai sahabat Kavin."


"Bunda tau kalian sama-sama kuat, sampaikan salam bunda buat Velyn."


Flash off...


"Vin lo kenapa?." Tanya Velyn ragu, karena ia melihat Kavin yang melamun.


Kavin kaget karena tepukan tangan Velyn dipundaknya. "Gak, gue gak papa. Oh iya ada salam buat bunda katanya kapan-kapan main kesana bunda kangen putrinya." Ujar Kavin.


"Lo cerita sama bunda ya?." Ada rasa bersalah di dalam hati Velyn.


"Tenang aja bunda ngerti, ayo masuk kelas." Ajak Kavin menggandeng tangan Velyn, biarlah satu hari ini Kavin egois ingin selalu bersama Velyn. Kedepannya ia tidak akan bisa seperti ini lagi.


Diam-diam Clara menyimak semua momen itu, Clara masih sedih mengingat perjalanan hubungan mereka.


"Kok gue tiba-tiba jadi kesel ya sama orang yang mau dijodohin dengan Velyn." Seru Clara.


...🍩...


Jam istirahat mereka berempat Velyn, Clara, Nesha, Kavin sudah duduk manis di kursi kantin.


"Gila semua pada ngeliatin kita!." Seru Clara. Velyn dan Nesha mengedarkan pandangannya, memang benar semua mata tertuju ke meja mereka.


"Iya karena Kavin ada di sini sedangkan dia kan cowok sendiri." Ujar Nesha, sedangkan Kavin tidak menghiraukan dia sibuk memakan bakso didepannya.


Velyn menggelengkan kepala, kenapa ia merasa gemas kepada Kavin sekarang.


Velyn melanjutkan makanannya, ia ingin menambah sambal di mangkuk mie ayamnya tetapi sambal itu keburu diambil Kavin.


"Inget lambung lo Vel." Kavin mengucapkan itu dengan nada yang tidak suka. Ia masih mengingat kebiasaan Velyn.


Velyn hanya diam, dia semakin kalut menerima semua keadaan ini. Sementara Clara dan Nesha saling pandang, mereka menatap keduanya dengan sendu.


"Vin ayo kita ada rapat, anak-anak sudah diruang osis katanya." Ajak Nesha, dia kasihan melihat Kavin dan Velyn yang hanya diam.


Kavin mengangguk dan berdiri dari kursinya. "Gue rapat dulu Vel, nanti pulang sekolah tungguin di depan ruang osis." Ujar Kavin ke Velyn.


"Hm, Vin nanti gue dijemput gue mau fitting baju." Meski tidak enak dia harus bilang sama Kavin. Mendengar itu Kavin tersenyum dan mengacak rambut Velyn. "Hati-hati nanti gue pulangnya bareng Nesha." Setelah mengucapkan itu, Kavin berlalu pergi.


Velyn menatap kepergian Kavin dengan sendu.


Sesakit itu kita sekarang Vin. Batin Velyn.


...🍩...


IG: yndwrdn05