Evelyn Story'S

Evelyn Story'S
Evlyn-3



Setelah dari kantin mereka berdua berjalan di koridor kelas sambil bercanda ya hanya Clara saja, sementara Velyn sesekali menanggapi, tidak sengaja Clara melihat pacar Velyn bersama dengan Fira.


"Sejak kapan pacar lo deket sama sodara tiri lo?."


Velyn mengedikkan bahunya acuh, tidak munafik dia juga cukup kaget dengan sikap pacarnya hari ini. Setelah beberapa hari yang lalu sekolah mereka dihebohkan dengan datangnya murid baru, sekarang kembali ricuh dengan kedekatan seorang ketos dan murid baru yang tidak lain ketosnya adalah pacar Velyn.


Kavindra Aydin Rafeyfa Zhafran atau yang akrab dipanggil Kavin. Kavin adalah ketos di sekolah itu dan juga kapten basket yang banyak dikagumi siswi seantero sekolah. Kavin menjalin hubungan dengan Velyn hampir dua tahun dan keluarga mereka juga cukup dekat. Tetapi semenjak kedatangan Fira, Velyn merasa Kavin lumayan dekat dengan adik tirinya itu.


"Apa perlu gue samperin Kavin Vel?." Clara membuyarkan lamunan Velyn.


"Udah gak perlu capek-capek." Velyn melangkahkan kakinya pergi menuju kelas.


...🍩...


Disisi lain.


"Nikmati saja ini masih baru permulaan." Ujarnya dengan senyuman sinis.


...🍩...


Jam istirahat adalah jam yang ditunggu-tunggu semua murid. Seperti halnya Velyn dan Clara yang sudah duduk manis dengan semangkuk mie ayam didepannya.


"Demi apa tu bu gendut, ngasih materi kayak ngasih ceramah. Untung kepala gue gak pecah, lain kali harus antisipasi nih sama bu gendut." Omel Clara. Sementara Velyn menikmati mie ayamnya dengan tenang.


"Tumben Kavin gak nyamperin lo?." Tanya Clara kepo.


"Dia lagi sibuk sama urusan osis mungkin."


"Iya juga ya."


Velyn mengabaikan Clara dan melanjutkan makan kembali.


"Maaf akhir-akhir ini aku sibuk." Entah datang darimana tiba-tiba Kavin menarik kursi yang ada di samping Velyn.


"Hm." Jawab Velyn seadanya.


Kavin mengacak-ngacak rambut Velyn, entah kenapa dia sangat mencintai gadis yang didepannya itu. Meskipun bisa dibilang sikap Velyn yang dingin dan cuek, tetapi Kavin tau sebenarnya Velyn adalah orang yang hangat. Kavin juga mengerti perubahan Velyn akibat kejadian enam bulan yang lalu.


"Setelah ini aku harus rapat lagi di ruang osis, weekend kita jalan mau?." Tanya Kavin dengan nada lembut.


"Jemput ke rumah jam sembilan." Velyn menjawab dengan sedikit senyuman tipis di wajahnya, dan itu membuat Kavin sangat gemas kepada Velyn. Velyn mampu membuat Kavin menjadi baper dengan perilakunya.


Tanpa mereka perdulikan di depan mereka Clara sedang menatap mereka berdua dengan intens, bukan Clara iri tapi Clara sedikit waspada dengan Kavin yang akhir-akhir ini dekat dengan Fira.


"Yaudah aku masuk kelas dulu, kamu yang semangat belajarnya." Kavin berdiri tidak lupa dia mengelus pelan kepala Velyn, diperlakukan seperti itu membuat tubuh Velyn meremang dia sangat sayang kepada Kavin dan mendapat perlakuan lembut Kavin seperti tadi, perlahan bis menghilangkan rasa curiganya beberapa hari ini.


"Hm." Velyn mengangguk.


Clara yang hendak berbicara tiba-tiba dia mengurungkan niatnya karena melihat rona bahagia diwajah Velyn. Dia tidak mau merusak suasana hati Velyn dengan perkataannya biarlah untuk saat ini Clara menjadi tameng untuk Velyn.


"Gue udah kenyang!." Seru Velyn, membuyarkan lamunan Clara.


"Ckkk, makanan lo udah habis beg*!." Clara mengumpat sahabat datarnya itu.


"Gue mau balik kelas, lo masih belum selesai?."


"Rabun mata lo Vel? nih mangkok udah kosong sejak kehadiran pacar lo itu." Sungut Clara kesal.


"Oh, yaudah bayar!."


"Uangnya?."


Velyn mengeluarkan satu lembar uang lima puluh ribu untuk makanan mereka berdua, kebiasaan Clara memang selalu memintra traktir kepada Velyn kata Clara 'kapan lagi lo mau traktir gue kalau bukan sekarang?' Velyn hanya menggelengkan kepalanya jika mengingat itu.


Clara adalah definisi orang kaya tapi miskin, tapi dia hanya meminta traktir kepada Velyn saja karena menurut Clara, hanya Velyn yang pantas dijadikan bossy seperti itu.


"Gue heran sama lo, padahal keluarga lo lebih kaya dari keluarga gue." Ujar Velyn.


"Mau gimana lagi Vel, gue harus belajar hemat buat masa depan gue."


"Sok-sok an!." Velyn mencibir Clara.


"Gak percayaan amat sama gue, eh nanti pulang sekolah liat abang El yuk udah lama gak kesana gue."


"Jahat banget lo jadi sahabat."


"Irit bensin." Velyn sengaja menggoda Clara.


"Sok-sok an mau hemat juga lo."


"Gue mau belajar jadi wanita masa depan yang baik dan hemat." Setelah itu Velyn meninggalkan Clara yang cengo ditempatnya.


"Woy Velyn, lo gak akan miskin cuma karena beli bensin buat anterin gue beg*!" Teriak Clara di koridor kelas, membuat beberapa murid di sana memandangnya aneh. Bukannya malu Clara malah berlari menyusul Velyn yang lumayan jauh di depannya.


"Malu-maluin gue lo!." Kesal Velyn.


"Biar lo gak seenaknya sama gue, masa seorang Clara harus jalan kaki ke rumah."


"Gue yakin bunda pasti ngasih lo uang saku yang banyak. Jadi nanti lo pulang naik taxi aja."


"Lo udah tau kalau gue lagi hemat."


Velyn menyerah berdebat dengan Clara pasti tidak akan ada ujungnya.


...🍩...


Di sudut kantin diam-diam ada seorang yang mengepalkan tangannya.


"Lo gak boleh bahagia dan dilindungi siapapun termasuk sahabat lo itu!."


...🍩...


Sesuai perjanjian mereka berdua, mereka akan mengunjungi Elvan di rumah sakit. Sesampainya di parkiran sekolah, Velyn dan Clara berpapasan dengan Kavin dan Fira.


Velyn berusaha berpikir positif, tapi tidak dengan Clara yang sudah kesal di hatinya.


"Vin, lo mau kemana sama Fira bisa barengan gitu?." Bukan Velyn yang bertanya, melainkan Clara yang memang mempunyai rasa kepo akut.


"Dia kan anggota osis baru dan pengganti sekretaris gue, jadi gue mau beli bahan keperluan osis sama dia." Jelas Kavin, tapi pandangannya mengarah ke Velyn yang menatapnya dengan tatapan datar dan tersirat akan rasa kecewa di dalamnya.


"Yaudah kalian hati-hati." Velyn bersuara tanpa menatap Kavin dan Fira.


"Kamu mau kemana sama Clara?." Tanya Kavin.


"Jenguk abang El." Jawab Velyn singkat.


Kavin menghampiri Velyn dan memegang pundak Velyn.


"Aku izin ya sayang, nanti malam aku hubungi kamu dan besok kita liat abang El sama-sama." Ujar Kavin dengan nada lembutnya, dia mengelus pipi Velyn yang lembut seperti bayi. Velyn yang diperlakukan seperti itu merasa ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan diperutnya.


Velyn mengangguk mengiyakan dan menarik Clara masuk ke dalam mobilnya.


"Kenapa lo diem aja sih liat mereka berduaan." Kesal Clara.


"Gue gak mau larang-larang Kavin Clar, seharusnya dia tau apa yang gue suka dan gak suka."


"Lo gak takut nanti Fira ngambil Kavin?."


"Gue gak pernah takut kehilangan orang yang gak setia sama gue Clar." Jawab Velyn santai. Untuk sekarang dia masih sangat percaya kepada Kavin, tapi tidak tau untuk selanjutnya semoga saja Kavin tidak bermain api dibelakangnya.


Masih di parkiran.


"Kak, aku takut kak Velyn marah sama aku karena kita pergi berdua."


Kavin mengangkat sebelah alisnya bingung, seakan mengerti tatapan Kavin, Fira melanjutkan ucapannya lagi. "Iya kalian kan pacaran nanti kak Velyn salah paham."


"Gue percaya sama Velyn, dia orangnya gak seperti itu lagian kita cuma mau beli bahan buat mading setelah itu lo pulang naik taxi."


Setelah mengucapkan itu, Kavin berjalan menuju motornya yang diparkir. Kavin sangat mencintai Velyn dan sebaliknya juga seperti itu, jadi Kavin tidak mau menghancurkan hubungannya sendiri dengan Velyn. Kavin berencana setelah lulus sekolah ia akan melamar Velyn menjadi calon istrinya.


Diam-diam tanpa sepengetahuan Kavin ada orang yang mengepalkan tangannya menahan amarah di dalam dirinya.


...🍩...


IG: yndwrdn05