
Malam pertama? Velyn tidak tau mengenai hal itu, yang ia tau malam ini biasa saja setelah bersih-bersih ia mengeringkan rambutnya didepan meja rias.
Suara pintu terbuka, Velyn menoleh dan ia mendapati Arzan yang menuju ke arahnya. Kali ini yang Velyn liat Arzan menggerakkan kursi rodanya sendiri.
"Apa anda perlu sesuatu tuan?." Tanya Velyn dengan rasa canggung, jujur ia tidak tau bagaimana sikap menjadi istri yang baik hanya saja dulu Elga mamanya sedikit mengajarkan dia cara menghargai seorang suami.
"Tidak, saya hanya ingin menyampaikan. Malam ini kita akan menginap di sini dan besok kita akan pulang ke mansion saya sendiri." Jelas Arzan. Velyn hanya diam, ia ingin memberitahu Arzan tentang permintaannya tetapi Velyn ragu takut dianggap tidak tau diri.
Mengerti akan hal itu, Arzan kembali bertanya kepada Velyn.
"Kenapa? Apa kamu keberatan?."
"Ehmmm, bisakah kita tinggal di rumah mama maksud saya rumah mama saya." Ujar Velyn dengan menunduk. Arzan tersenyum tipis ia pikir Velyn tidak mau tinggal satu rumah dengannya.
"Baiklah, besok kita akan pulang ke rumah mama Elga." Velyn senang mendengar Arzan menyebut mama Elga. Velyn tersenyum ke Arzan dan itu mampu membuat Arza merasa terhipnotis.
Velyn tiba-tiba teringat sesuatu.
"Tapi maaf tuan, rumah mama saya tidak sebesar mansion ini hanya saja tempatnya membuat saya nyaman dan itu satu-satunya harta yang saya miliki sendiri."
"Tidak apa-apa lagipula kita hanya akan tinggal berdua."
"Tuan Vino?." Beo Velyn.
"Dia memiliki apartemen sendiri, jadi tidak usah memikirkan dia." Ada rasa tidak rela di hati Arzan saat Velyn menanyakan Vino.
"Ayo beristirahat tuan." Ajak Velyn berusaha beradaptasi dengan Arzan.
Arzan mengangguk kemudian dia berusaha naik ke atas tempat tidur dengan kesusahan, biasanya ada Vino yang akan membantunya.
Melihat hal itu Velyn menjadi tidak tega, tetapi ia tidak memperlihatkan wajah kasihannya itu. Karena Velyn tau, Arzan pasti tidak suka dikasihani sama seperti dirinya.
Tubuh Arzan tiba-tiba membeku saat tangan Velyn melingkat sempurna diperutnya.
"Mari saya bantu naik ke atas tuan." Seru Velyn berusaha mengangkat tubuh Arzan yang sangat berat itu, dengan susah payah akhirnya Velyn berhasil membantu Arzan naik ke atas tempat tidur.
"Kamu mau kemana?." Melihat Velyn mengambil bantal dan selimut menuju sofa, Arzan menegurnya.
"Saya tidur di sini tuan." Jawab Velyn polos.
"Tidur di samping saya, kamu lupa keadaan saya bagaimana? Kamu tenang saja saya tidak akan berbuat hal yang semestinya pengantin baru lakukan." Secara frontal Arzan mengucapkan kalimat itu, membuat pipi Velyn merona.
Karena tidak mau membuat Arzan kecewa, akhirnya Velyn tidur di samping Arzan dengan membatasi guling ditengah-tengah mereka.
Tidak sampai lima menit Velyn sudah berada di alam mimpinya, sementara Arzan masih membuka mata. Ia masih tidak percaya akan mempunyai seorang istri yang umurnya tepaut tujuh tahun darinya. Velyn masih umur tujuh belas sedangkan Arzan sudah berumur 24 tahun walau tergolong masih muda, tetapi Arzan sudah menjadi pebisnis yang hebat bahkan salah satu bisnisman dibeberapa negara.
Arzan menatap Velyn yang tengah tertidur pulas tanpa make up sedikitpun, Arzan melihat wajah Velyn seperti bayi yang tengah tertidur. Perlahan Arzan menyibakkan rambut yang menutupi mata Velyn.
Entah kenapa meski baru beberapa hari kenal, Arzan sudah merasa nyaman dengan kehadiran Velyn.
...🍩...
Keesokan harinya Velyn sudah terbangun lebih dulu, ia melihat Arzan yang masih terlelap dalam tidurnya.
Velyn memikirkan hal yang membuat pipinya merah bagaimana tidak, ia memikirkan apakah Arzan bisa mandi sendiri nantinya atau bagaimana.
Velyn memutuskan untuk menunggu Arzan bangun, dia beranjak menuju balkon kamar menikmati suasana paginya setelah statusnya resmi menjadi seorang istri pria kaya.
Saat kembali ke dalam kamar, ia sudah melihat Arzan yang duduk sambil bersandar di atas kasur. Velyn menjadi canggung ia tidak tau harus melakukan apa.
Arzan mengangguk, Velyn menghampiri Arzan dan membantu Arzan duduk dikursi roda. Velyn mendorong kursi roda itu masuk ke dalam kamar mandi, tadinya Velyn ingin membantu Arzan mandi karena kondisi Arzan yang seperti itu.
Tetapi Arzan malah memicingkan matanya menatap intens kearah Velyn. "Saya bisa mandi sendiri, tangan saya masih berfungsi." Velyn malu setengah mati, seharusnya ia bertanya dulu bukannya langsung seperti itu.
"Akhh iya maaf tuan, saya permisi dulu." Dengan cepat Velyn berlari keluar merutuki kebodohannya. Sumpah rasanya ia ingin pergi sejauh mungkin saat ini karena malu.
Dua puluh menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka dan Arzan sudah berpakaian lengkap dengan jas kantornya. Arzan memang sudah bisa mandi dan memakai baju sendiri meskipun butuh waktu yang lama, ia tidak mau merepotkan siapapun sekalipun itu Velyn.
Velyn masih terdiam, ia memandangi wajah tampan suaminya dengan rambutnya yang masih basah.
"Velyn." Panggil Arzan.
"Ehh iya tuan." Reflek Velyn berdiri dan menghampiri Arzan.
Arzan sedikit tidak nyaman dengan panggilan 'tuan' dari Velyn, dia tidak pernah menyuruh Velyn memanggilnya seperti itu.
"Saya harus ke kantor dulu, nanti siang saya jemput kamu pindah ke rumah mama." Velyn mengangguk mengiyakan tapi sebelumnya.
"Maaf permisi tuan."
Velyn menghadapkan Arzan di depan meja rias ia dengan telaten mengeringkan rambut Arzan. Arzan hanya diam menatap pantulan Velyn di kaca.
Setelah selesai, Velyn mendorong kursi roda Arzan ke ruang makan. Sesampainya di ruang makan, di sana sudah ada Tama. Velyn mencari-cari keberadaan Clara dan bundanya.
"Kenapa Velyn?." Tanya Tama.
"Clara sama bunda kemana ya kek?."
"Mereka pulang tadi pagi sekali, karena ayah Clara harus pergi luar kota hari ini." Velyn mengangguk, dia juga bingung setelah ini akan melakukan hal apa mau sekolah juga ia sudah meminta libur selama tiga hari.
"Kek, Arzan titip Velyn ya nanti siang Arzan jemput buat pindah."
"Kenapa terburu-buru? Apa kalian tidak mau berada di sini lebih lama." Ujar kakek Tama sedih.
"Arzan juga harus beradaptasi sama Velyn kek, dan iya kita tidak akan pulang ke mansion Arzan tapi kita akan pulang ke rumah mama Elga kek." Jelas Arzan.
"Yasudah jika itu keputusan kalian berdua." Velyn hanya diam menyimak keduanya, setelah itu mereka sarapan bersama.
"Selamat pagi tuan besar, tuan muda, dan nyonya." Ujar Vino, Velyn merasa aneh dipanggil nyonya oleh Vino karena ia merasa terlalu tua.
"Tuan kita harus berangkat sekarang, ada rapat penting dari investor luar negeri." Vino datang setelah mereka selesai sarapan.
"Tuan Vino, bisakah anda tidak memanggil saya nyonya. Saya masih belum setua itu." Seperti anak kecil yang merajuk, membuat Arzan dan Tama tersenyum tipis melihat tingkah Velyn.
Vino menatap Arzan, Arzan menganggukkan kepalanya menandakan 'ikuti permintaannya'.
"Baik nona Velyn, dan anda tidak harus memanggil saya tuan karena saya asisten pribadi suami anda."
Velyn mengangguk mengiyakan, setelah itu Arzan pamit pergi ke kantor. Velyn mengantar Arzan sampai pintu depan, tidak lupa ia mengambil tangan Arzan dan menyalaminya membuat Arzan membeku karena tingkah Velyn.
"Hati-hati tuan." Setelah mengucapkan itu Velyn masuk ke dalam rumah meninggalkan Arzan yang cengo di tempatnya.
...🍩...
IG: yndwrdn05