Evelyn Story'S

Evelyn Story'S
Evlyn-6



Sesuai janjinya pulang sekolah Kavin mengajak Velyn menjenguk Elvan di rumah sakit, Kavin sebenarnya juga dekat dengan Elvan karena Elvan dulunya adalah mantan ketua basket dan ketos di sekolahnya sekarang.


"Hai bang El, Elyn bawa Kavin ke sini katanya dia mau jenguk abang." Seru Velyn, Velyn menjadi sedih karena masih tidak ada tanda-tanda Elvan akan bangun dari komanya.


Kavin menarik Velyn ke dalam pelukannya. "Lo boleh nangis disaat lo udah capek pura-pura kuat."


Terdengar isak tangis dari Velyn, Kavin semakin mempererat pelukan mereka. Kavin juga diam dia hanya menunggu keadaan Velyn tenang.


"Maafin aku, beberapa bulan ini aku mengabaikan kamu." Ujar Velyn sambil menatap wajah orang yang dia cintai setelah mama, papa, dan abangnya.


"Iya aku ngerti perasaan kamu, udah jangan nangis lagi kamu harus kuat nanti bang Elvan marah liat kamu nangis gini yang ada aku di pukul lagi." Kekehan keluar dari mulut Kavin, sejenak dia mengingat dulu pernah dibuat babak belur oleh Elvan karena membuat Velyn nangis.


"Eh kalian berdua." Zahra mengagetkan Velyn dan Kavin.


"Hai dokter Zahra." Sapa Kavin, sebetulnya Kavin tipikal orang yang humble tergantung dengan sikap lawan bicaranya.


"Sudah berapa kali aku bilang, panggil saja kakak jangan dokter." Zahra pura-pura kesal.


"Baiklah kak Zahra."


"Sudah Vin, jangan banyak bicara sama kak Zahra nanti abang El marah. Setau aku orang koma itu bisa denger kan walaupun ga bisa jawab." Ujar Velyn.


"Iya El, kamu benar."


Setelah berbincang beberapa saat, mereka berdua pamit pulang karena hari sudah lumayan sore.


Di dalam mobil.


"Makasih ya Vin udah mau liat abang El."


"Iya sama-sama dia kan mau jadi kakak ipar aku." Goda Kavin.


"Oh iya kamu ditanyain sama bunda kapan mau ke rumah."


"Salam aja sama bunda, nanti kalau ada waktu aku pasti main ke sana."


Kavin mengangguk mengiyakan, dia mengambil tangan Velyn dan menggenggamnya sudah lama mereka berdua tidak menghabiskan waktu bersama seperti sekarang.


"Tadi Fira samperin aku ke ruang osis." Kavin memecah keheningan di dalam mobilnya. Velyn masih menunggu kelanjutan cerita Kavin.


"Tapi untung ada Nesha yang ngusir dia, aku heran kenapa Fira bisa mensalah artikan kebaikan aku sama dia."


"Mungkin dia beranggap kamu simpati, dia kan murid baru. Tapi udah beberapa hari ini aku gak ketemu sama Nesha."


"Iya kegiatan osis lagi padat-padatnya apalagi pertengahan semester ini akan diadakan tour ke luar kota."


Velyn hanya mengangguk anggukkan kepalanya, dia sedikit senang dengan adanya agenda tersebut semoga bisa membuat hatinya sedikit tenang.


"Kenapa kita berhenti di sini?." Tanya Velyn, pasalnya Kavin berhenti di samping warung sate pinggir jalan langganan mereka.


"Aku gak mau pacar kesayangan aku ini kelaperan, jadi ayo tuan putri kita makan dulu." Kavin membukakan pintu mobil untuk Velyn, Velyn yang diperlakukan seperti itu membuat pipinya merona.


Velyn hanya mengikuti langkah Kavin dari belakang dengan tangan yang masih digenggam erat.


"Pak satenya dua porsi ya, satunya jangan pedes dan jangan kasih bawang goreng." Ujar Kavin, Velyn termangu karena Kavin masih mengingat selera makanannya dengan baik.


"Setelah ini mau langsung pulang apa muter-muter dulu?" Tanya Kavin sambil membelai rambut Velyn.


"Pulang aja udah sore juga nanti kamu dicari bunda."


Kavin mengangguk mengiyakan, dia memang tidak bisa menolak apa yang dikatakan pacarnya ini.


Hampir lima belas menit mereka menghabiskan makanannya setelah selesai Kavin melajukan mobilnya ke rumah Velyn, tetapi sebelum itu dia mampir ke toko roti untuk membelikan donat buat Velyn.


I love you too sayang


Jantung Kavin berdetak tak beraturan mendengar ucapan itu dari gadisnya, sebisa mungkin Kavin menormalkan ekspresi tubuhnya dia tidak mau menjadi grogi didepan Velyn.


Dua puluh menit kemudian mereka sampai di rumah Velyn, Velyn mengernyit heran di halaman rumahnya terdapat beberapa mobil yang tidak ia kenali.


"Om Reza lagi ada tamu?." Tanya Kavin.


"Gak tau, papah gak bilang apa-apa sama aku paling tamu tante Karen."


Kavin mengangguk dan menggandeng tangan Velyn masuk ke dalam. Sesampainya di dalam hanya ada suasana ketegangan yang mereka dapatkan .


Velyn melihat seorang kakek, dan dua pria tampan di sampingnya tetapi yang satu duduk dikursi roda dan yang satunya berdiri. Sementara mama tirinya duduk di samping Fira, posisi Fira berada ditengah-tengah Reza dan Karen.


Velyn menatap iri kepada mereka, sedetik kemudian Velyn tersadar dari lamunannya karena genggaman tangan Kavin.


"Velyn duduk dulu." Perintah Reza dengan datar.


Velyn menatap Kavin dengan tidak enak bukan dia mau mengusir tapi sepertinya ini masalah keluarga yang cukup penting.


"Ah maaf, saya permisi dulu." Pamit Kavin, dia menatap Velyn sejenak dan mengusap kepala Velyn dengan lembut.


"Aku pulang dulu."


"Hati-hati, salam sama bunda."


Kavin mengangguk mengiyakan, tidak lupa dia menyerahkan satu box donat tadi yang ia beli untuk Velyn. Velyn menerimanya dengan senyuman tipis. Velyn memandang kepergian Kavin, dan sekarang perasaannya menjadi tidak enak.


"Velyn kenalkan ini kakek Tama Narendra." Ujar Reza.


Velyn sepertinya tidak asing dengan nama Narendra, beberapa saat dia sadar ternyata Narendra adalah salah satu marga konglomerat yang ada di negaranya.


Velyn menghampiri Tama dan langsung mengambil sebelah tangan Tama untuk menyalaminya. "Saya Evelyn kek." Seru Velyn sopan.


Dua pria tampan disampingnya itu sedikit tertegun dengan perilaku Velyn, tetapi secepatnya mereka berdua membuang muka.


"Kamu cantik sekali sama dengan Elga." Tama mengucapkan itu sambil mengelus kepala Velyn dengan lembut.


"Terima kasih kek." Jawab Velyn seadanya, setelah Velyn kembali ke tempat duduknya Reza melanjutkan pembicaraannya.


Saat Reza ingin membuka suara, Tama menghentikannya dengan isyarat tangan akhirnya Reza bungkam.


"Ini cucu kakek Arzan Ravindra Malik Narendra kamu bisa panggil dia Arzan, dan disampingnya ini Vino Altezza Raditya Balindra dia asisten pribadi Arzan kamu panggil saja Vino." Velyn hanya mengangguk, dia bagaikan orang bod*h sekarang di dalam situasi ini.


Velyn masih menunggu kelanjutan pembicaraan Tama.


Suasana hening beberapa detik, Velyn menatap satu-satu orang yang berada di sana. Tampak Karen yang memandangnya sinis, Fira yang memandangnya dengan senyuman penuh misteri dan Reza tidak menatapnya sama sekali.


Pandangan Velyn beralih ke Tama yang sepertinya sedang menyusun kalimat yang bagus, Arzan yang menatapnya datar dan Vino yang juga menatapnya dengan dingin.


Velyn tetap dengan aura tegas dan tenangnya.


"Jadi kedatangan kami kesini ingin meminta kamu untuk menikah dengan Arzan cucu saya." Jelas Tama.


Bak disambar petir, Velyn mematung di tempatnya.


Kenapa harus saya?.


...🍩...


IG: yndwrdn05