
Velyn dan Clara sudah sampai di rumah sakit, sepanjang perjalanan menuju kamar Elvan mereka berdua tidak henti-hentinya beradu mulut. Velyn akan berubah menjadi seperti anak kecil jika berada diluar lingkungan sekolahnya apalagi sekarang ia bersama dengan Clara sahabat absurdnya itu.
"Pasti kak Zahra kangen sama gue." Seru Clara.
"PD amat lo, yang ada nih adek iparnya yang dikangenin."
"Cih adek ipar yang membosankan!".
"Sirik aja lo sama gue!"
"Gue juga gak tau setiap sama lo bawaannya sirik aja!." Balas Clara tidak mau kalah.
"Ckkk dasara anak pisang.!."
"Lo, anak donat!".
Clara memang menyukai semua makanan yang berbau pisang, sementara Velyn sangat tergila gila dengan donat kata Velyn begini 'donat ini sama kayak gue, sama-sama lembut, manis, dan disukai banyak orang' dan sampai sekarang Velyn masih tetap pecinta donat garis keras.
Sesampainya di kamar Elvan tidak lupa mereka berdua mengetuk pintu dan langsung masuk ke dalam, ternyata disana sudah ada Zahra yang tengah mengompres badan Elvan.
Velyn tersenyum menatap sendu ke arah abangnya yang terlihat damai ditidurnya itu, Clara juga menatap sendu ke arah Velyn. Clara tau Velyn hanya pura-pura kuat menghadapi semuanya.
"Kak Zahra, ada susu pisang? atau youghurt rasa pisang, pisang goreng entah apapun yang berbau pisang ada gak kak?" Tanya Clara secara beruntun, dia berniat memecah keheningan di ruangan itu.
Velyn menoleh sinis ke arah Clara.
"Dasar bocah!."
"Yeee biarin, lo juga nanti pasti tanya donat sama kak Zahra lo kan anak donat pantes pipi lo ngembang itu kebanyakan baking powder pasti."
"Lo sadar diri, tubuh lo tinggi tapi kurus udah kayak pisang berjalan!." Sungut Velyn tidak mau kalah.
Sementara Zahra hanya menonton tingkah mereka, Zahra senang jika Velyn dan Clara ada disini kamar Elvan seakan terasa berwarna bagi Zahra.
"Sudah-sudah kalian ini selalu saja seperti anak kecil. Elyn jaga El dulu ya, kak Zahra mau beli camilan dulu buat kalian sama Clara." Velyn mengangguk mengiyakan.
Zahra dan Clara keluar dari ruangan Elvan, Zahra menarik Clara masuk ke dalam ruangannya.
"Kenapa kak?." Tanya Clara bingung.
"Apa benar yang dikatakan bi Ani, om Reza menikah lagi dan mereka punya anak hampir seumuran dengan Elyn." Tanya Zahra.
Clara hanya mengangguk mengiyakan, tidak sepantasnya Clara membuka aib keluarga Velyn meskipun itu kepada pacar Elvan. Menurut Clara yang lebih berhak menceritakannya adalah Velyn bukan dirinya.
"Kakak tau kamu tidak akan menceritakan apapun tentang masalah keluarga Elyn, kakak hanya memastikan saja wajahmu tidak usah merasa terintimidasi seperti itu." Kekehan keluar dari mulut Zahra karena melihat wajah Clara yang tegang.
Clara menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Maaf kak, tapi lebih baik kak Zahra jangan menanyakan hal ini sebelum Velyn mengutarakannya sendiri. Clara gak mau Velyn terbebani dengan masalahnya sendiri, yang Clara tau dia mencoba menutupi semuanya tapi Clara paham jelas gimana perasaan Velyn hanya saja Clara tidak mau terlalu ikut campur kak kecuali Velyn cerita sendiri sama Clara."
Zahra mengelus kepala Clara layaknya seorang adik, dia kagum dengan kelembutan hati Clara yang benar-benar menjaga perasaan Velyn. Clara tipe orang yang tidak mau terlalu ikut campur urusan orang lain kecuali ada orang yang berusaha menyakiti orang-orang tersayangnya.
"Jadilah sahabat sekaligus saudara yang baik untuk Elyn." Zahra tersenyum begitu juga Clara.
Tanpa mereka sadari, Velyn diam-diam mendengarkan semua pembicaraan mereka. Velyn terharu bagaimana cara Clara menjaga perasaannya, bagaimana Clara berusaha menutupi aib keluarganya. Tidak ingin ketahuan, Velyn segera pergi dari sana.
...🍩...
Velyn sampai di rumah jam tujuh malam setelah mengantarkan Clara pulang, tadi dia dipaksa menginap di rumah Clara tapi Velyn tidak mau karena ia tidak ingin merepotkan keluarga Clara.
"Masih ingat rumah kamu!" Suara tegas itu menggema di ruang tamu.
"Jawab Evelyn!" Bentak Reza kali ini cukup keras.
"Maaf pah." Dengan menunduk Velyn melewati keduanya berlalu dari ruang tamu.
"Lihat mas anakmu, begitu didikan Elga istrimu?" Sindir Karen dan berhasil menghentikan langkah Velyn.
Velyn mengepalkan tangan dan berbalik menatap ibu tirinya dengan tajam.
"Anda tidak berhak menyebut nama mama saya dengan mulut kotor anda itu, mama saya jauh lebih baik daripada anda yang hanya ingin merebut kebahagiaan keluarga saya dasar jal*ng."
Plakkkk!!!!
Satu buah tamparan mengenai pipi Velyn, Velyn tidak menangis apalagi mengeluh kesakitan dia hanya memejamkan mata menahan sakit di pipi dan dihatinya.
"Saya dan Elga tidak pernah mengajari kamu untuk tidak sopan kepada orang yang lebih tua, ingat Velyn dia sekarang mama tiri kamu istri saya dan kamu harus menghormati dia. Sekarang masuk kamar!" Perintah tak terbantahkan dari Reza.
"Maaf pah." Seru Velyn lirih dan berlalu masuk ke dalam kamar.
Senyum kemenangan tercetak jelas di raut wajah Karen melihat Velyn dibentak oleh Reza.
Tok-tok-tok!
"Masuk." Velyn pikir itu bi Ani karena jika situasi seperti ini bi Ani yang selalu menenangkan hatinya, tapi ternyata Fira yang sedang berjalan menuju dirinya dengan membawa satu baskom air dingin.
"Kak tadi aku liat papa nampar kak Velyn, jadi aku kesini mau kompres kakak." Ujar Fira menunduk, jujur dia sedikit takut dengan tatapan Velyn yang sangat mengintimidasi.
"Gak usah pura-pura peduli, keluar lo gue lebih respect sama bi Ani daripada lo sama nyokap lo yang bermuka dua." Usir Velyn dengan mendorong Fira keluar dari kamarnya.
"Tapi pipi kak Velyn merah." Fira tetap bersikukuh ingin mengobati pipi Velyn.
Brak!!!!
Velyn langsung menutup pintu kamarnya tanpa mendengarkan ucapan Fira lagi.
Velyn duduk memangku lututnya sendiri di balik pintu kamar, dia masih mengingat saat Reza menamparnya tadi. Rasa sakit dipipinya tidak seberapa dengan rasa sakit dihatinya.
"Ma Elyn kangen, abang El juga masih betah tidur ma. Elyn harus gimana, papa punya keluarga lagi ma Elyn sendirian." Pecah tangis Velyn di tengah gelapnya malam. Tadi dia tidak berniat ingin membentak Karen, tapi karena hatinya yang sensitif mengenai Elga mamanya Velyn tidak bisa lagi menahan emosinya itu.
Tok-tok-tok
"Non ini bibi, boleh bibi masuk?." Tanya bi Ani di balik pintu.
Velyn membuka pintu kamarnya dan langsung memeluk bi Ani yang tengah membawa nampan berisi air dingin dan juga makan malam.
Bi Ani menuntun Velyn duduk di tempat tidur.
"Non yang sabar ya, papa non Elyn lagi capek mungkin makanya tadi gak sengaja mukul non Elyn." Ujar bi Ani sambil mengelus kepala Velyn dengan penuh kasih sayang sementara Velyn masih betah di pelukan bi Ani.
"Bi, Elyn rindu mama rindu abang El. Kenapa mereka seakan akan ninggalin Elyn sendiri bi, kenapa abang El gak mau bangun kenapa mama ninggalin kami." Dengan suara tangisnya Velyn mengungkapkan semua perasaan yang sudah lama dia pendam dihatinya.
"Non Elyn, abang Elvan pasti bangun dia hanya sedang menikmati tidurnya yang panjang. Dan mama Elga gak akan pernah ninggalin non Elyn, mama selalu berada di sini di hantinya non dan abang Elvan."
Bi Ani juga merasa sakit melihat anak majikannya yang diperlakukan seperti itu oleh ayah kandungnya sendiri, padahal dulu keluarga Fathaan sangat harmonis.
"Ayo bibi obatin pipi non dulu, habis itu makan ya bibi suapin." Velyn menangguk mengiyakan.
...🍩...
IG: yndwrdn05