Evelyn Story'S

Evelyn Story'S
Evlyn-22



Arzan terdiam di depan ruang IGD, tidak ada sepatah dua patah kata yang terucap dari bibirnya. Pandangannya kosong dan dingin, Vino yang melihat itu mengetahui jika kalau Arzan sudah begini itu tandanya dia sedang kecewa terhadap dirinya sendiri.


Seorang dokter keluar dari ruangan itu.


Arzan mendongak, Vino membantu Arzan menghampiri dokter itu.


"Bagaimana keadaan istri saya dok?." Tanya Arzan penuh harap.


"Ikut ke ruangan saya sebentar tuan." Ajak dokter itu mendahului Arzan, pikiran Arzan sudah berubah menjadi yang tidak-tidak. Dia takut Velyn mempunyai penyakit yang serius.


"Istri anda tidak apa-apa, dia hanya kelelahan. Wajar bagi seorang ibu hamil di trimester pertama."


Arzan terdiam, dia mencerna semua ucapan dokter wanita itu barusan.


"Anda bilang apa dok?." Tanya Arzan ingin memastikan sekali lagi.


"Tuan Arzan, saat ini istri anda tengah mengandung. Dan kandungannya sudah memasuki tiga minggu, jadi saya harap anda bisa menjaga kondisi istri anda, jangan sampai memberikan beban pikiran yang berat karena itu akan menghambat proses pertumbuhan janin."


Arzan sudah tidak bisa menahan lagi air matanya, dia tidak menyangka akan diberikan kepercayaan secepat ini.


"Aku akan menjadi seorang ayah." Lirih Arzan pelan.


Dokter itu tersenyum, dia juga ikut bahagia melihat pemilik rumah sakit tempat dia bekerja akan segera mempunyai anak.


"Saya harus bagaimana dok, em maksudnya istri saya."


"Yang penting selalu jaga kegiatan nyonya Velyn jangan biarkan dia melakukan kegiatan yang terlalu banyak, jangan sampai kelelahan. Nanti saya akan kasih resep obat vitamin supaya kandungan nyonya Velyn sehat."


Arzan mengangguk, kemudian dia memanggil Vino diluar untuk mengantarkan dirinya ke ruangan Velyn.


Sepanjang menuju ke kamar Velyn. Arzan tidak henti-hentinya tersenyum. "Bos, apa nona Velyn baik-baik saja?." Tanya Vino, dia juga ikut khawatir melihat keadaan Velyn tadi.


"I'm going to be a father."


"Anda serius bos?."


"Yes." Vino sangat bahagia mendengarnya, dia menjadi tidak sabar ingin segera bertemu anak dari Arzan bossnya.


Setelah sampai di kamar Velyn, Vino mendorong kursi roda Arzan mendekati ranjang Velyn. Setelah itu Vino meninggalkan mereka berdua.


Sepeninggal Vino, Arzan hanya diam. Dia merasa kecewa dengan dirinya sendiri karena sudah lalai mengetahui kondisi Velyn, apalagi dengan kejadian yang tadi. Arzan tidak bisa memaafkan dirinya sendiri jika sampai terjadi apa-apa dengan Velyn, apalagi sekarang ada buah hatinya di rahim Velyn.


Velyn mengeluh, perlahan dia membuka matanya dan menyesuaikan pandangan disekitarnya. Velyn mendesis kala menyadari tangan kirinya tengah diinfus, pandangan Velyn teralihkan dengan orang disampingnya yang tengah menggenggam tangannya.


"Mass.." Lirih Velyn.


"Iya sayang, apa kamu butuh sesuatu?." Tanya Arzan.


Velyn menggeleng, dia memperhatikan dengan lekat wajah tampan suaminya itu. Terlihat Arzan yang habis menangis.


"Kenapa liatin mas nya begitu?."


"Mas Arzan habis nangis?." Bukannya menjawab, Velyn malah bertanya balik.


Arzan menggeleng, dia hanya tersenyum sambil mengusap kepala Velyn dengan lembut. "Mas merasa sangat bersalah denganmu, mas minta maaf sayang."


"Sudahlah mas, aku udah melupakan kejadian tadi. Aku hanya sedikit cemburu melihat dia memeluk mas didepanku."


Arzan tersenyum dengan kejujuran Velyn, dia membelai lembut rambut Velyn dan tangan yang sebelahnya lagi mengelus perut Velyn yang masih rata.


"Mas janji, kedepannya mas akan menjaga jarak dari Nayra. Jika perlu mas akan pecat dia kalau sayang mau."


"Iya sayang."


"Mas kenapa elus-elus perut aku terus sih, aku geli mass." Seru Velyn, membuat Arzan terkekeh pelan.


Arzan dengan susah payah mencium perut Velyn yang rata, membuat Velyn mengernyit bingung.


"You'r pregnant." Lirih Arzan, tapi masih mampu didengar Velyn.


Velyn terdiam dengan mata yang berkaca-kaca.


"Mas tidak berbohong kan?." Tanya Velyn memastikan. Arzan menggeleng dia kembali meyakinkan Velyn jika dirinya tengah hamil.


Velyn terisak, dia sangat bahagia mengetahui dirinya akan segera menjadi seorang ibu.


"Terima kasih sayang, kamu sudah memberikan hadiah terindah buat mas." Seru Arzan dengan mata yang berkaca-kaca, dia mencium lembut tangan Velyn.


Velyn mengangguk dia mengusap air mata yang jatuh dipipi Arzan. Velyn juga merutuki dirinya saat teringat tadi pagi dikantor dia makan bakso dengan sambal yang banyak, tetapi dia tidak berani mengadu kepada Arzan.


Pintu ruang rawat Velyn terbuka, menampilkan Zahra dengan senyuman manisnya.


"Selamat ya adikku, kamu akan segera menjadi seorang ibu." Seru Zahra sambil memeluk Velyn, dia mengetahui Velyn hamil karena tadi dia bertanya dengan dokter yang memeriksa Velyn. Zahra cukup kaget saat mendengar Velyn pingsan di rumah sakit, setelah Elvan tertidur, Zahra langsung mencari ruang rawat Velyn. Arzan berlalu pergi dari sana, karena dia tidak mau mengganggu mereka.


"Dan kakak akan menjadi aunty nya." Balas Velyn tersenyum haru.


"Jangan memikirkan yang berat-berat El, jaga kondisi kandungan kamu apalagi ini masih rentan. Nanti kakak akan sering-sering sharing tentang seputar kehamilan sama kamu."


"Terima kasih kak." Jawab Velyn.


Tiba-tiba wajah Velyn menjadi sendu, dia kembali teringat dengan Elvan. Zahra yang mengerti segera menenangkan Velyn yang kelihatannya hampir ingin menangis.


"Jangan terlalu dimasukkan ke hati, percaya sama kakak Elvan pasti sangat sayang sama kamu cuma dia belum bisa menerima kepergian mama Elga. Kamu yang sabar ya, nanti kakak bantu kamu agar Elvan tidak salah paham lagi."


Velyn mengangguk, dia juga teringat bahwa dirinya tengah hamil. Jadi dia tidak mau bayinya sampai kenapa-kenapa.


Setelah berbincang sebentar, Zahra pamit karena ingin memeriksa pasien yang lain. Dan juga dia tidak ingin meninggalkan Elvan lama-lama.


Arzan kemudian masuk ke dalam, tatapannya sangat lembut kepada Velyn. Arzan memberitahukan jika Velyn sudah boleh pulang sekarang, Vino yang disuruh Arzan untuk menebus obat Velyn sudah kembali. Mereka bertiga meninggalkan rumah sakit Narendra.


Didalam mobil, tangan Arzan tidak berhenti mengelus perut Velyn walaupun masih rata. Hal itu membuat hati Velyn terenyuh, dia melihat bagaimana keantusiasan Arzan saat mengetahui dirinya hamil.


"Mas aku pengen makan es cream." Ujar Velyn menatap Arzan dengan mata yang berbinar.


"Boleh, sayang maunya dibawa pulang apa makan di tempat?" Tanya Arzan lembut.


"Dibawa pulang aja mas." Jawab Velyn. Arzan mengangguk, dia kemudian menyuruh Vino untuk mampir ke kedai es cream sebentar dan menyuruh Vino membelinya.


"Apa kamu tidak ingin yang lain lagi hm?."


"Enggak mas, aku cuma pengen es cream." Jawab Velyn, sambil menyandarkan kepalanya dipundak Arzan. Velyn tiba-tiba merasa mengantuk, mungkin efek obat yang sempat dia minum tadi sebelum pulang dari rumah sakit.


Arzan terus mengelus kepala Velyn sambil sesekali mencium rambutnya, Arzan sangat suka dengan aroma Vanila ditubuh Velyn. Sesampainya di rumah, mau tidak mau dia harus membangunkan Velyn. Sebenarnya Arzan tidak tega, tetapi mengingat kondisinya dia terpaksa.


Andai aku bisa berjalan lagi, mungkin aku akan berguna bagi istriku. Batin Arzan, sebenarnya Arzan bisa saja melakukan operasi dikakinya. Tetapi kata dokter kesembuhannya mungkin hanya tiga puluh persen saja, dan itu membuat Arzan tidak percaya akan melakukan operasi.


...----------------...


IG: yndwrdn