Evelyn Story'S

Evelyn Story'S
Evlyn-8



Setelah kepergian keluarga Narendra, Velyn kembali disidang oleh Reza, Karen, dan Fira.


"Secepatnya kamu putuskan hubungan dengan Kavin!." Perintah tak terbantahkan dari Reza.


Diam-diam Fira tersenyum ditempatnya sama halnya dengan Karen.


Velyn tidak menjawab, dia beranjak ingin pergi ke kamarnya.


"Evelyn!!!!!." Bentak Reza keras.


"Apa kamu tidak mendengar perintah saya, putuskan hubungan dengan Kavin atau Elvan yang akan menjadi korbannya." Kekehan kecil muncul di bibir Reza, entah kenapa Reza menjadi sebenci itu dengan Velyn.


Tanpa berfikir panjang Velyn mengiyakan permintaan papahnya, dia tidak mau masalah ini sampai berimbas dengan kondisi Elvan.


"Kamu harusnya tau diri, berbalas budi sedikitlah dengan papamu." Seru Karen setelah kepergian Reza.


"Velyn, Velyn kasihan ya jadi lo. Udah dibenci papa, dijodohin, harus putus lagi sama orang yang lo sayang." Ledek Fira.


Velyn tidak kaget dengan perubahan sikap Fira, dia tau macam-macam orang munafik seperti Fira.


Velyn menatap datar ke arah Fira tidak lupa dengan senyum tipisnya. "Kenapa lo kaget?." Tanya Fira ketus.


"Gue udah tau tipe orang kayak kalian itu gimana, jadi gue gak perlu kaget untuk tau orang munafik yang sesungguhnya seperti apa!." Jelas Velyn dengan tatapan tajamnya.


"Oh iya? Baguslah setidaknya sekarang lo kehilangan segalanya." Seru Fira.


"Gue memang kehilangan segalanya, tapi gue gak kehilangan akal sehat gue."


"Aku akan menghancurkanmu Velyn." Kali ini Karen yang bersuara.


"Oh mama tiriku? Silahkan lakukan apapun yang kalian ingin lakukan karena pemain sesungguhnya tau kapan ia harus bertindak!." Setelah mengucapkan kalimat itu, Velyn berlalu dari hadapan mereka.


Sesampainya di kamar, Velyn langsung mengunci pintu dan tubuhnya ambruk ke lantai dengan air mata yang mengalir dipipinya.


"Bagaimana caranya gue bilang ini semua sama Kavin." Lirih Velyn, dia benar-benar tidak bisa melepas Kavin baginya dua tahun bukanlah hal yang mudah melupakan segala kenangan yang ada didalamnya.


Velyn berpikir, baru saja hubungannya membaik dengan Kavin. Sekarang ia harus mengakhiri semua itu.


Velyn menghubungi Clara, ia tidak tau lagi harus kemana.


^^^"Halo Clar."^^^


"Iya Vel, kenapa?."


^^^"Bisa ketemu sekarang?."^^^


"Kenapa suara lo serak? Lo ada masalah?."


^^^"Gue jemput lo sekarang."^^^


"Oke gue tunggu."


Velyn bersiap ia berniat ingin menginap di rumah sakit malam ini. Sedari tadi Kavin tidak henti menghubungi dirinya, ada rasa sakit saat mengabaikan Kavin seperti itu tetapi dirinya harus segera mengambil keputusan.


KavinAydinRz


Ketemu di taman biasa aku tunggu


Setelah mengirimkan pesan itu, Velyn buru-buru berangkat menjemput Clara.


...🍩...


Di rumah Kavin.


Elyn❤️


Ketemu di taman biasa aku tunggu


Tanpa membalas pesan Velyn, Kavin segera bersiap untuk menuju ke tempat biasa mereka ketemu. Mendadak perasaan Kavin menjadi tidak enak, dia merasakan resah dihatinya.


"Mau kemana anak bunda malam-malam gini." Tanya bunda Kavin.


"Ini calon mantu bunda ngajakin ketemu."


"Jemput aja kasian Velyn nya udah malem."


"Dia udah berangkat bun, biar nanti Kavin ikutin mobilnya dari belakang pas pulang."


"Siap bun."


Bunda Kavin memang sangat menyukai Velyn, dulu dia sangat menginginkan seorang anak perempuan tapi takdir berkata lain dia keguguran dan tidak mempunyai anak lagi sampai sekarang.


Makanya dia sudah menganggap Velyn seperti putrinya sendiri apalagi anaknya sangat mencintai Velyn.


Back to Velyn.


Velyn sampai di depan rumah Clara, dia sengaja tidak masuk karena sepertinya Clara sedang ada tamu. Velyn sepertinya tidak asing dengan mobil yang terparkir dihalaman rumah Clara.


Velyn dikagetkan dengan Clara yang sudah masuk kedalam mobilnya. "Vel lo kenapa?." Tanya Clara dengan nada khawatirnya.


"Lo lagi ada tamu Clar?" Bukannya menjawab, Velyn malah balik tanya.


"Iya kakak sepupu gue lagi bicara-bicara sama bunda sama ayah katanya mau nikah. Bentar lo jangan bahas ini dulu, lo kenapa tiba-tiba ngajak ketemuan? Gak biasanya banget!."


Velyn tiba-tiba langsung memeluk Clara. Clara yang kaget hanya diam dan memberikan usapan pelan dipunggung Velyn, Clara menunggu Velyn siap bercerita.


"Clar, gue bingung gue gak tau harus bagaimana."


"Lo tenangin diri dulu, tarik nafas buang pelan-pelan terus cerita ada apa."


"Gue dijodohin."


"Whatt!!!? Serius lo?."


Velyn mengangguk mengiyakan.


"Yang gue bingung sekarang, gimana caranya gue bilang sama Kavin lo tau kan sesayang apa gue sama dia."


"Lo dijodohin sama siapa?."


"Gue juga gak tau namanya gue lupa, dia partner papa."


"Alesannya apa lo mau dijodohin?."


"Perusahaan papa kolaps Clar dan gue harus menikah dengan partner papa supaya dia mau menyuntikkan dana ke perusahaan. Awalnya Fira yang mau dijodohkan tapi dia nolak dan gue yang harus jadi korban, kalau gue gak mau abang El akan diberhentikan pengobatannya." Jelas Velyn sambil menangis.


"Vel, gue tau ini berat buat lo tapi semua keputusan ada ditangan lo. Gue tau beratnya lo ngelepas Kavin, tapi lo gak boleh egois Clar lo gak boleh nyakitin Kavin."


"Gue takut dia benci gue Clar, gue hancur kalau dia pergi."


"Lebih baik dia sakit sekarang Vel daripada nanti, sekarang lo ajak Kavin ketemu lo bicara baik-baik sama dia jangan sampai dia tau masalah ini dari orang lain." Clara menatap sendu ke arah sahabatnya itu, begitu berat cobaan yang harus ia lalui.


"Gue bingung bilangnya gimana Clar."


"Terserah lo Vel, menurut gue lo jujur aja sama Kavin kalau lo mau nikah."


Velyn terdiam dia mencerna semua kalimat yang terucap dari bibi sahabatnya itu. "Siap gak siap lo harus bisa." Clara menarik Velyn ke dalam pelukannya.


"Ayo gue yang bawa mobilnya, lo siapin mental buat bicara sama Kavin."


Dua puluh menit kemudian, mereka sampai di taman tempat janjian Velyn dan Kavin. Di depan sana sudah ada Kavin yang duduk dengan santai di kursi taman. Clara sengaja menghentikan mobilnya sedikit jauh dari Kavin agar tidak mengganggu mereka berdua.


Velyn menatap sendu ke arah Kavin, dia tidak tega memutuskan semua ini secara mendadak. Melihat Velyn yang diam, Clara menepuk pelan pundak Velyn.


"Lo pasti bisa, samperin Kavin dan lo bicara semuanya. Apapun nanti resikonya lo harus bisa terima, mau Kavin benci atau ngejauh dari lo." Velyn mengangguk, benar kata Clara apapun resikonya Velyn harus siap terima.


Dengan keputusan yang mantap, Velyn turun dari mobil dan berjalan dengan tatapan yang datar ke arah Kavin.


"Vin, sudah lama?."


Kavin kaget dengan kehadiran Velyn, dia pikir Velyn masih berada di dalam perjalanan karena ia tidak melihat mobil velyn.


"Baru sampai, kamu naik apa?"


"Aku naik taxi." Jawab Velyn sambil tersenyum tipis.


Kavin melepas jaketnya dan memakaikannya kepada Velyn, Velyn tertegun atas perlakuan Kavin ia semakin tidak rela untuk melepas Kavin.


Boleh Elyn peluk Rafa?


...🍩...


IG: yndwrdn05