
Velyn segera menghapus air matanya, saat melihat mobil Arzan yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Velyn langsung masuk ke dalam mobil Arzan, tidak lupa diiringi dengan senyum manisnya.
"Sayang, kenapa tidak menunggu di rumah papa saja. Mengapa kamu harus berjalan?." Tanya Arzan lembut, seraya mengusap peluh yang masih tersisa didahi Velyn.
"Pengen jalan aja mas, udah lama gak menikmati suasana di daerah sini." Jawab Velyn sambil menaruh kepalanya dipundak Arzan.
Arzan sudah tau jika tidak ada yang beres dengan Velyn, tadi dia sempat melihat gerak-gerik Velyn yang seperti mengusap kasar air mata dipipinya.
Arzan mengangkat pelan kepala Velyn, dia menatap lekat-lekat wajah wanita yang dicintainya itu. Diam-diam tangan Arzan mengepal saat menyadari pipi sebelah kiri Velyn memerah, tetapi dia tidak ingin membahas itu sekarang. Melihat Velyn yang lebih banyak diam, Arzan terus memberikan ketenangan terhadap Velyn.
Sesampainya di rumah, setelah membantu Arzan bersih-bersih, Velyn pamit ingin istirahat sementara Arzan pura-pura fokus didepan laptopnya. Perlahan Arzan menghampiri Velyn yang tengah terlelap, dia mengusap lembut pipi Velyn yang semakin lama semakin mengembang itu.
"Jika saja kamu mau sayang, mas pasti sudah menghancurkan Reza sampai ke akar-akarnya. Tapi dengan kelembutan hatimu, kamu bahkan masih ingin melindungi keluargamu yang jahat itu." Lirih Arzan sambil mengamati wajah Velyn.
Arzan mengompres pipi Velyn dengan telaten, setelah tadi meminta bantuan bi Rani. Velyn membuka mata saat merasa pipinya dingin, dia melihat Arzan yang tengah fokus mengompres pipinya.
"Mass." Cicit Velyn dengan perasaan takut, dia takut Arzan marah karena ketidak jujuran Velyn.
"Kenapa hm.?"
Velyn menggeleng.
"Bisa sayang ceritakan, kenapa pipinya memerah seperti ini?." Tanya Arzan lembut, seraya menaruh bekas kompresan Velyn tadi ke meja.
"Tapi mas janji setelah aku cerita, mas gak boleh benci sama keluarga Velyn." Seru Velyn.
"Mas gak bisa janji, kalau itu sudah kelewat batas mas gak bisa membiarkannya."
"Mass." Seru Velyn dengan tatapan memohon.
Arzan menghela nafas sebentar, kemudian mengangguk. Dia tidak mungkin bisa tidak menuruti permintaan wanita yang dicintainya itu.
Velyn menceritakan semua kejadian tadi dirumahnya tanpa terkecuali, Velyn tipe orang yang sangat jujur bahkan bisa dibilang terlalu jujur. Velyn mengingat pesan almarhum mamanya 'saat kamu sudah menikah nanti, mau sekecil apapun masalah kamu, kamu harus terbuka dengan suamimu nak. Bagaimanapun juga dia berhak tau, dia adalah tempat kamu pulang saat dunia tidak menyenangkan bagimu.'
Mendengar cerita Velyn, emosi Arzan sudah mencapai diubun-ubun tetapi Arzan tidak memperlihatkannya kepada Velyn. Arzan tidak habis pikir, dendam apa keluarga Velyn terhadap Velyn sampai-sampai mereka berdua membenci Velyn.
Setelah puas bercerita, Velyn kembali mengantuk. Arzan mengelus kepala Velyn sampai terlelap.
"Selamat tidur princess." Seru Arzan, dengan bersusah payah dia berusaha mencium pipi Velyn.
Arzan kemudian menghubungi Vino, dia memerintahkan Vino untuk mengawasi gerak-gerik keluarga Fathaan terutama Karen dan Fira.
Setelah itu Arzan juga merebahkan dirinya disamping Velyn setelah bersusah payah naik ke atas kasur sendirian.
...----------------...
Keesokan harinya, Velyn terbangun lebih dahulu. Dia melihat disampingnya Arzan yang tengah tidur dengan damai, Velyn mengelus pelan pipi Arzan sehingga Arzan merasa tidak nyaman dan terbangun.
"Selamat pagi my husband." Ujar Velyn sambil mencium pipi Arzan.
Arzan tersenyum sangat manis, sehingga matanya menyipit. Dia sangat suka saat Velyn bermanja dengannya sepagi ini. Velyn kembali tidur dengan sambil memeluk Arzan, Velyn mencari posisi ternyamannya.
"Mas hari ini aku gak sekolah dulu ya, aku mau ikut mas ke kantor." Pinta Velyn sambil memandang Arzan.
"Hey, kenapa istri mas ini tiba-tiba manja begini hm."
"Ish, aku cuma lagi pengen deket-deket sama mas terus mungkin ini kemauannya baby."
Arzan terkekeh pelan, kemudian dia mengelus perut Velyn yang mulai terlihat membuncit meskipun hanya sedikit.
"Baby mau ikut papa ke kantor hm?."
"Iya papa, aku mau ikut papa." Velyn yang menjawab dengan menirukan suara anak kecil.
Arzan tidak bisa menahan tawanya, dia memeluk Velyn dan mencium Velyn bertubi-tubi, dia merasa sangat gemas dengan tingkah istrinya itu.
"Emang gak papa?." Tanya Velyn, dia takut merepotkan Vano nantinya.
"Iya sayangku, nanti biar mas yang bilang ke Vano."
"Yaudah nanti kan pas jam makan siang aku kesananya, mas jangan makan dulu ya nanti aku bawain tapi belinya diluar kan aku gak boleh masak."
"Iya istriku yang bawel." Jawab Arzan sambil mencubit hidung Velyn dengan gemas.
"Ihhh mas, gak bisa nafas tau!." Sungut Velyn kesal.
Arzan tersenyum, dia berharap Velyn melupakan tentang perlakuan keluarganya kemarin. Setelah itu, mereka bergantian bersiap-siap untuk melakukan aktifitas.
"Sayang, roknya jangan pakai yang ketat nanti baby gak bisa nafas." Peringat Arzan.
"Iya mas, ini udah rok yang paling lumayan besar kok."
"Perutnya udah mulai keliatan ya sekarang." Ujar Arzan lagi tidak melepas pandangannya dari Velyn.
"Makanya mas aku selalu pakai cardigan kalau sekolah, takutnya ada anak-anak yang curiga."
Arzan mengangguk, kemudian dia menghampir Velyn dan mengelus perut Velyn lembut.
"Sayang, jangan nakal-nakal diperut mama ya. Jangan bikin mama sakit, kamu harus sehat-sehat sampai nanti ketemu papa dan mama." Seru Arzan, Velyn yang mendengar hal itu menjadi terharu.
Velyn berpikir, disaat dia dicampakkan oleh keluarganya sendiri. Dia tetap bersyukur masih diberikan suami yang sangat mencintai dirinya, dan memperlakukan dirinya seperti seorang ratu.
"Ayo papa kita berangkat." Ajak Velyn. Arzan tersenyum mengiyakan, kemudian Velynn mendorong kursi roda Arzan keluar dari kamar. Di ruang tamu, sudah ada Vino yang tengah menunggu.
Di dalam mobil, tidak ada percakapan apapun. Vino yang fokus menyetir, Arzan yang sedang memangku laptopnya, sementara Velyn memeluk lengan Arzan dan menyandarkan kepalanya ke pundak Arzan.
Entah mengapa hari ini Velyn selalu ingin menempel dengan Arzan, jika saja dirinya tidak sedang ujian mungkin dia sudah mengekori Arzan ke kantor.
Arzan tersenyun tipis melihat Velyn yang bermanja dengannya, sambil memakan permen lolipop. Satu hal yang Arzan tau, semenjak Velyn hamil, Velyn sangat suka dengan makanan yang sangat manis bahkan di rumah Arzan harus menyetok permen atau donat, karena jika tidak, Velyn akan ngambek dan menangis. Mengingat hal itu membuat Arzan merasa bersalah, tetapi dia juga sudah berkonsultasi dengan dokter, dan dokter mengatakan jika itu hal yang wajar. Yang terpenting, Velyn bisa mengatur pola makannya dengan baik.
Sesampainya di sekolah, Velyn masih enggan turun dari mobil membuat Arzan sampai tidak tega melihatnya.
"Sayang, hari ini kamu harus ujian. Nanti kalau kamu begini terus yang ada kamu gak bisa fokus loh."
"Tapi aku ingin ikut mas aja."
Arzan tersenyum lembut kemudian dia mendekatkan mulutnya ke perut Velyn, seolah-olah dia akan bicara dengan bayinya.
"Nak, ayo bujuk mama mu untuk menyelesaikan ujiannya. Nanti siang bilang sama mama, papa akan jemput."
"Mas beneran mau jemput aku?." Tanya Velyn setengah berteriak dengan mata yang berbinar-binar, membuat Arzan dan Vino kaget.
"Iya sayang, nanti mas yang jemput kamu."
"Beneran ya janji."
"Iya sayangku." Jawab Arzan gemas.
"Yasudah, ayo sayang kita segera selesaikan ujian dan ke kantor papa." Seru Velyn semangat sambil mengelus perutnya.
Pandangannya kemudian beralih kepada Arzan. "Semangat kerjanya papa." Bisik Velyn, tidak lupa dia mencium pipi Arzan dan langsung turun dari mobil. Membuat Arzan terkekeh melihat tingkah sang istri.
"Nona Velyn sangat menggemaskan bos." Seru Vino. Arzan membalsnya dengan tatapan tajam. Membuat Vino menyengir dan meminta maaf.
Aku menyukai semua sifat apa adanya itu baik sekarang maupun selamanya. Batin Arzan.
...----------------...
IG: yndwrdn