
"Pergi kau jal*ng!!!!." Teriak Arzan didepan wajah Velyn, membuat Velyn tersentak kaget. Velyn perlahan bergerak mundur.
"Arrgghhhhhh!!!" Arzan menjerit sambil memegangi kepalanya, Velyn mencoba mendekati Arzan.
"Pergi kamu jangan pukul saya, saya mohon."
DEG.
Racau Arzan sambil menangis, sekarang Velyn mengerti. Penyakit Arzan kambuh dan memorinya sedang kembali pada beberapa tahun yang lalu.
"Mas, mas tenang ini aku Velyn." Seru Velyn berusaha melepaskan cengkraman tangan Arzan dikepala Arzan.
Arzan menghempas tangan Velyn, dan memandang Velyn dengan tatapan takut.
"Maafkan saya, saya berjanji tidak akan makan tanpa seizin anda lagi. Saya akan menuruti semua perintah anda, tapi jangan pukul saya." Arzan semakin meracau dengan air mata yang mengalir.
Velyn merasa teriris hatinya melihat keadaan Arzan sekarang, Velyn berusaha memeluk suaminya itu meskipun Arzan memberontak.
"Mas ini aku, istri mas Arzan. Mas jangan takut disini ada aku."
Perlahan Arzan memandang Velyn dengan tatapan sendunya, tapi rasa sakit dikepala Arzan semakin menjadi. Arzan melepas kasar pelukan Velyn, kemudian dia mencengkram dagu Velyn dengan kuat sampai kukunya menancap didagu Velyn dan mengeluarkan sedikit darah.
Velyn tidak menyerah, dia tetap berusaha memeluk Arzan.
"Mas, mas tidak perlu takut lagi. Ada aku disini, aku gak akan biarin siapapun nyakitin mas. Mas tenang ya." Seru Velyn sambil mengelus punggung Arzan dengan pelan. Arzan tidak memberontak, dia membalas pelukan Velyn tak kalah erat. Arzan menenggelamkan kepalanya diceruk leher Velyn.
"Jangan tinggalkan saya, saya mohon siapapun anda. Saya takut papa saya memukul saya lagi, dan wanita itu akan memberikan makanan basi kepada saya." Racau Arzan dengan tubuh yang bergetar, tidak lupa dengan air mata yang terus membanjiri wajah tampannya.
Hati Velyn terenyuh, melihat betapa terlukanya batin Arzan dimasa lalu. Velyn tersadar saat tubuh Arzan tidak bergerak lagi, dan tangan Arzan yang memeluk tubuh Velyn juga terlepas.
Ternyata Arzan pingsan, Velyn yang panik berusaha mencoba untuk tetap tenang. Dia merebahkan tubuh Arzan dengan pelan dan menyelimuti Arzan, tidak lupa juga menghapus keringat Arzan.
Velyn segera menghubungi Vino, dan menceritakan semua kejadian tadi. Vino sangat kaget, awalnya dia menawarkan diri untuk datang ke rumah Velyn dan membantu Velyn mengurus Arzan. Tetapi Velyn mengatakan jika Arzan sudah tenang, Vino menjelaskan dengan detail saat Arzan kambuh dan berakhir pingsan, Vino juga mengatakan tidak perlu khawatir karena Arzan pingsan.
Vino juga menceritakan, jika Arzan hanya membutuhkan seseorang pendamping saat dia sedang kambuh dan jangan pernah meninggalkan Arzan sendirian. Vino cukup dibuat terkejut, karena Velyn bisa mengatasi Arzan, padahal dengan Nayra dulu, Nayra tidak bisa menenangkan Arzan secepat itu.
Setelah selesai menghubungi Vino, Velyn memeluk Arzan yang tengah pingsan itu. Mata Velyn berkaca-kaca jika teringat dengan masalalu Arzan.
"Aku berjanji akan selalu berada disamping mas Arzan, dan menjadi obat untuk mas. Selamat tidur kesayangan Velyn." Bisik Velyn ditelinga Arzan, tidak lupa dia juga mencium kening Arzan cukup lama. Setelah itu Velyn tidur disamping Arzan sambil memeluk Arzan.
Keesokan harinya, Arzan terbangun lebih dulu. Dia berusaha mengingat kejadian tadi malam, dia menjadi khawatir saat melihat tanggal dimana penyakitnya akan kambuh. Pandangannya teralihkan kepada Velyn yang masih nyaman didalam mimpinya.
Mata Arzan tefokus didagu Velyn, terlihat ada bekas darah kering disana. Mata Arzan berkaca-kaca, dia merasa bersalah sudah menyakiti istrinya sendiri. Arzan terdiam, dia mengelus pelan pipi Velyn.
Velyn terganggu dengan usapan tangan Arzan, Velyn terbangun dan langsung memeluk Arzan.
"Mass." Cicit Velyn pelan.
Velyn melihat mata Arzan yang berkaca-kaca, dia sudah paham pasti suaminya sedang dilanda rasa bersalah. Menikah selama hampir enam bulan, membuat Velyn tau dan paham semua sifat Arzan.
"Maafkan mas sayang." Lirih Arzan membalas pelukan Velyn, dan menaruh kepalanya diceruk leher Velyn.
"Apa mas sudah merasa lebih baik?." Bukan menjawab ucapan Arzan barusan, Velyn malah bertanya keadaan Arzan.
Arzan mengangguk didalam pelukan Velyn.
Hati Arzan terenyuh mendengar seberapa khawatirnya Velyn dengan dirinya. Arzan mendongak dan memandang wajah Velyn lekat-lekat.
"Maafkan mas sudah menyakitimu semalam, mas pantas mendapatkan hukuman sayang." Lirih Arzan sambil menyentuh dagu Velyn yang luka.
Velyn menggeleng, dia menggapai tangan Arzan dan menggenggamnya.
"Mas tidak perlu minta maaf, luka ditubuh Velyn tidak sebanding dengan apa yang mas rasakan tadi malam. Mas gak salah, disini mas hanya korban dari kejahatan masalalu." Ujar Velyn.
Arzan menatap istrinya itu dengan kagum, kemudian dia mencium pucuk kepala Velyn dengan lama.
"Terima kasih sayang, mas sangat beruntung memiliki istri sepertimu. Tetap bertahan disamping mas ya."
Velyn mengangguk, kemudian dia berhambur kepelukan Arzan. Velyn masih mengingat jelas betapa tersiksanya Arzan tadi malam, hal itu membuat Velyn berjanji dengan dirinya sendiri untuk tidak membiarkan Arzan sendirian sampai penyakit itu benar-benar sembuh.
"Ayo siap-siap, mas harus ke kantor. Dan jangan lupa mas anterin aku ke rumah Clara, aku ada janji mau jalan-jalan mas."
"Tapi sayang jangan kelelahan ya, nanti kalau capek bilang sama Clara."
"Iya suamiku, nanti mas jemputnya pas pulang kantor aja ya. Soalnya udah lama aku gak main sama bunda."
"Iya istriku." Balas Arzan.
"Ayo sayang, kita siap-siap ketemu aunty Clara. Kita kuras habis uang jajan aunty." Pekik Velyn heboh sambil mengelus perutnya, Arzan yang melihat itu pun tersenyum dan merasa sangat beruntung memiliki Velyn.
Aku adalah laki-laki yang paling beruntung memiliki istri sepertimu sayang. Batin Arzan menatap Velyn.
Setelah itu Velyn membantu Arzan bersiap-siap, kemudian bergantian dengan dirinya sendiri.
#
Setelah berpamitan dengan keluarga Clara, Arzan melajukan mobilnya menuju kantornya.
"Bos, semalam nona Velyn menghubungiku dia bilang penyakitmu kambuh."
"Seperti itulah, aku juga tidak tau mengapa bisa kambuh lagi. Aku pikir setelah beberapa bulan penyakit sialan itu tidak kambuh, aku kira sembuh ternyata semalam masih terulang kembali."
Vino mengangguk anggukkan kepalanya "Tapi nona hebat bos."
"Maksudmu." Tanya Arzan, tetapi pandangan matanya tidak lepas dari ponselnya yang berisi chat dari Velyn. Velyn mengirip pap kepada Arzan, dia memberitahu Arzan jika dirinya saat ini tengah membuat kue dengan bundanya Clara.
"Iya, nona bisa menenangkanmu dengan waktu yang lumayan cepat bos tidak seperti nona Nayra."
"Kau benar Vino, mungkin rasa traumaku perlahan menghilang karena kehadiran Velyn. Dan iya jangan pernah membahas tentang Nayra lagi denganku, kecuali berhubungan dengan pekerjaan. Aku tidak mau istriku kecewa Vino." Jelas Arzan membuat Vino mengerti.
Kau semakin banyak berubah bos. Batin Vino dengan senyuman tipisnya.
Setelah itu tidak ada percakapan lagi dari mereka.
...----------------...
IG: yndwrdn.