
Semenjak mengetahi Velyn hamil, Arzan semakin posesif kepaada istrinya itu. Contohnya seperti sekarang,
"Sayang, sudah mas bilang jangan masak. Nanti siang akan ada pembantu, mas sudah menyuruh Vino mencarinya semalam."
"Tapi mas, masak hari ini mas gak sarapan?." Tanya Velyn lesu.
"Mas bisa sarapan di kantor."
"Atau mas mau aku bikinin roti aja ya." Tawar Velyn, Arzan mengangguk mengiyakan.
Velyn kemudian membuatkan sarapan berupa roti seperti dirinya untuk Arzan, semenjak hamil, dipagi hari Velyn lebih suka makan roti atau apapun yang berasa manis. Setelah itu dia akan makan makanan yang berat di sekolah.
Setelah selesai sarapan, Velyn pamit ke sekolah kepada Arzan. Velyn dijemput Clara, karena tidak diizinkan membawa mobil sendiri oleh Arzan. Bukannya Arzan tidak mau mengantar Velyn, tetapi Velyn tidak mau diantar oleh Arzan karena menurut Velyn itu akan membuat Arzan terlambat.
Baik Clara, Nesha, maupun Kavin sudah mengetahui kehamilan Velyn. Mereka sangat senang akan segera mempunyai keponakan, dan mereka juga diberi pesan oleh Arzan agar selalu menjaga Velyn di sekolah.
Sesampainya di sekolah, Velyn dan Clara segera turun dari mobil dan menghampiri Kavin juga Nesha. Setelah itu mereka berempat berjalan di koridor, banyak pasang mata yang memandang mereka. Tak terkecuali Kavin yang paling menonjol.
"Guys, gue temenin Velyn dulu ke kantin. Bumil belum makan soalnya." Seru Clara berbicara dengan pelan, dia tidak mau jika ada yang mengetahui kehamilan Velyn.
Kavin dan Nesha mengangguk, mereka berpisah. Kavin dan Nesha ke ruang osis, sementara Clara dan Velyn ke kantin.
"Clar, kayaknya nanti aku mau mampir ke rumah deh."
"Mau ngapain lo?."
"Ya jenguk papa Clar, udah lama gue gak ketemu beliau kangen banget." Seru Velyn dengan sendu.
"Tapi kan.." Clara tidak meneruskan ucapannya, dia kembali mengingat perlakuan kasar Reza. Apalagi ditambah Elvan, memang Clara mengetahui kejadian di rumah sakit beberapa waktu lalu.
"Udah gak papa, gue bisa jaga diri. Lo cukup anterin gue aja, nanti pulangnya gue bisa naik taxi."
"Gak! Gue ikut, nanti ngebiarin lo pulang sendirian yang ada bang Arzan marah sama gue."
"Gue jamin, mas Arzan gak akan marah sama lo. Lagian gue kan harus pamit juga dengannya."
Clara tidak menjawab, dia terus berjalan dengan pemikiran yang tidak-tidak. Velyn tersenyum, dia tau jika Clara pasti menghawatirkannya.
"Clar, mereka keluarga gue. Mereka gak mungkin nyakitin gue, apalagi gue membawa hadiah buat mereka." Seru Velyn sambil menyentuh perutnya yang rata.
Clara menghela nafas panjang, mau bagaimanapun dia tidak bisa memaksa Velyn untuk tidak bertemu keluarganya.
"Baiklah, tapi nanti kalau ada apa-apa lo cepet kasih tau bang Arzan atau gue."
"Siap aunty Clara." Jawab Velyn dengan gerakan hormat. Clara hanya bisa tersenyum, dia sangat menyayangi Velyn apalagi sekarang mereka sudah menjadi keluarga.
...----------------...
"Mas nanti aku izin mau ke rumah papa ya."
"Mas temani ya."
"Gak usah mas, mas lagi kerja biar aku sendiri aja. Aku kangen papa mas."
"Yaudah nanti pulangnya mas jemput ya."
Velyn mematikan sambungan telfonnya, dia berpamitan kepada Arzan untuk mengunjungi papanya.
Velyn sudah sampai di kediaman Fathaan, dia mengambil nafas yang dalam dan menghembuskannya perlahan. Rasanya seperti sudah lama meninggalkan rumah itu, Velyn menjadi rindu dengan keluarga harmonisnya dulu.
"Non Velyn!." Pekik pak Adri supirnya dulu.
Pak Adri hanya tersenyum, semenjak Velyn meninggalkan rumah itu. Semua kendali dipegang oleh Karen mama tiri Velyn, sampai-sampai Reza juga sepertinya sudah menjadi bonekanya Karen dan Fira.
Velyn berlalu, dia membuka pintu dan masuk ke dalam. Dari kejauhan terlihat, Reza yang tengah mengelus rambut Fira dengan penuh kasih sayang. Sementara Elvan yang tidur dipangkuan Karen sambil bermain game diponselnya.
Velyn menatap sendu pandangan yang ada didepannya saat ini, momen itu seperti momen keluarganya dulu saat masih ada Elga.
"Pah, abang." Panggil Velyn lirih. Mereka semua menatap Velyn, Karen dan Fira tersenyum penuh kemenangan melihat raut wajah Velyn yang sedih.
Reza masih terdiam di tempatnya. Melihat hal itu, Velyn hanya bisa menahan sesak didalam dadanya. Dia menghampiri Reza dan menyalimi tangan Reza, setelah itu dia menuju ke arah Elvan.
"Abang udah sehat?." Tanya Velyn dengan senyumannya. Tetapi senyuman itu tidak bertahan lama, Elvan beranjak dan menatap tajam ke arah Velyn.
"Apa peduli lo pembunuh!." Sarkas Elvan.
Velyn tidak bergeming, dia menatap sendu ke arah abangnya.
"Elyn cuma mau tau keadaan abang El aja." Lirih Velyn.
"Gak sudi gue lo panggil abang!. Denger ya, kalau emang lo ngerasa bersalah atas kejadian itu. Dimana lo saat gue koma, lo bahkan dengan enaknya menikah dengan om-om kaya!."
"Bang, Elyn hampir setiap hari selalu jengukin abang. Elyn selalu berharap abang El cepet bangun."
"Gak usah ngaco lo! Gue tau sendiri setiap hari yang nemenin gue di rumah sakit itu papa, mama, sama Fira!." Ketus Elvan.
Velyn menatap nanar Elvan, segitu lancarnya dia menyebut Karen 'mama'. Elvan benar-benar berubah.
"Sadar, bang dia bukan mama kita. Mama kita hanya mama Elga!." Seru Velyn sambil menunjuk Karen. Karen memasang wajah sedihnya disana, bertujuan mencari simpati.
"Jangan pernah kamu tunjuk-tunjuk istri saya seperti itu!." Kali ini Reza yang bersuara. Velyn terdiam, dia memandangi Reza dan Elvan bergantian, dia benar-benar tidak percaya kedua pahlwan yang dia sayang berubah secepat ini.
Karen pura-pura menangis, Fira menghampiri Karen dan menenangkannya. "Sudahlah mas, sampai kapanpun Velyn tidak akan pernah menerimaku sebagai ibunya." Ujar Karen penuh drama. Velyn menatap benci kepada ibu tirinya itu, apalagi dia sempat melihat senyuman sinis dari bibir Fira.
Reza menghampiri Karen dan memeluknya didepan mata Velyn, membuat Velyn merasakan sakit hati yang amat dalam. Dia tiba-tiba mengingat almarhum mamanya.
"Lo udah gak dibutuhin disini mending lo pergi pulang ke suami cacat lo itu!."
"Disini juga rumah Elyn bang, rumah mama Elga. Dan yang berhak pergi dari sini adalah mereka berdua!." Teriak Velyn, kesabarannya sudah cukup.
Plakkk!
"Beraninya kamu berteriak kepada keluarga saya Evelyn!" Bentak Reza setelah menampar pipi Velyn. Sakit, sakit itulah yang dirasakan Velyn. Dia menatap sendu ke arah Reza dengan air mata yang mengalir deras dipipinya.
"Lo dateng kesini hanya menganggu ketenangan kita, mending lo segera pergi. Kita gak butuh pembunuh kayak lo!." Sarkas Elvan memandang benci ke arah Velyn.
DEG!
Elvan mengusir Velyn, Velyn masih mematung ditempatnya. Dia benar-benar tidak bisa mempercayai yang terjadi hari ini.
"Suami Elyn gak cacat bang, jangan pernah menghina suamiku. Maaf jika kedatangan Elyn mengganggu keharmonisan rumah tangga kalian, Elyn kangen papa kangen abang tapi cuma ini yang El dapet. Papa akan segera menjadi kakek, dan abang akan mempunyai keponakan hanya itu yang mau Elyn sampaikan." Jelas Velyn, mereka yang disana masih diam menunggu Velyn melanjutkan ucapannya.
"Maaf Elyn mengganggu suasana bahagia keluarga kalian, tapi Elyn tidak akan menyerah, Elyn akan terus berusaha buat ngeyakinin kalian kalau Elyn bukan pembunuh dan mengungkap sifat asli mereka berdua, Elyn pamit."
Velyn berbalik, dia segera pergi dari sana. Bukan hanya fikirannya yang sakit, hatinya juga benar-benar sakit. Setelah menghubungi Arzan, Velyn berjalan agak jauh dari rumah itu sambil menangis.
...----------------...
IG: yndwrdn