Evelyn Story'S

Evelyn Story'S
Evlyn-2



Sesuai ucapan Reza semalam, ternyata ia benar-benar membawa Karen dan Fira tinggal di rumahnya. Buktinya sekarang mereka bertiga tengah sarapan di meja makan tanpa menunggu dirinya.


"Ayo kak kita sarapan bareng." Ajak Fira. Velyn hanya menatap datar ke arahnya, lalu tatapannya berubah sendu kepada Reza.


"Pah, Velyn pamit berangkat." Reza mengacuhkan Velyn, Velyn hanya tersenyum menanggapinya sudah selama enam bulan berlalu Velyn selalu mendapat perlakuan Reza yang seperti itu.


"Velyn, tidak sarapan dulu? mama sudah masak buat kamu." Seru Karen, berusaha bersikap sebaik mungkin di depan Reza.


Velyn tidak menggubris Karen, dia sedang menunggu bekal makanan yang tengah disiapkan oleh bi Ani pembantu keluarga Velyn yang sudah mengabdikan setengah usianya di dalam keluarga Fathaan.


Merasa diacuhkan oleh Velyn, Karen semakin berusaha mencari perhatian Velyn di depan Reza.


"Velyn, setidaknya kamu bawa makanan ini ke sekolah supaya makanannya tidak terbuang sia-sia." Ucap Karen dengan dramatis.


Velyn tersenyum sinis menatap Karen, dari awal pertemuan mereka saja Velyn merasa ada yang aneh dengan mama tirinya itu.


"Simpan saja masakan itu untuk anak anda." Jawab Velyn  datar.


"Tapi kan mama-."


Brakk.....


"Saya sudah bilang, simpan saja makanan itu dan jangan pernah anda harap anda bisa menggantikan posisi mama saya." Bentak Velyn, tidak perduli dia adalah yang orang lebih tua darinya bagi Velyn, Karen adalah manusia ular yang hanya pura-pura baik. Kenapa Velyn bisa menyimpulkan demikian? karena kesan pertama bertemunya mereka Velyn sudah paham sifat mama tirinya itu.


"Velyn!!." Kali ini suara Reza yang membentak.


Velyn menunduk, dia tidak pernah bisa berani melawan papanya. Dia tidak mau mengecewakan mamanya, dan dia juga tidak mau di buang oleh Reza.


Sesakit apapun fisik dan batin Velyn, itu tidak akan pernah bisa membuat Velyn benci ataupun melawan kepada Reza karena mamanya tidak pernah mengajarkan seperti itu.


Reza berjalan menghampiri Velyn dan,


Plakkkk


Reza menampar keras pipi Velyn, Velyn merasa sudut bibirnya mengeluarkan darah tetapi dia hanya diam menunduk.


"Saya tidak pernah mengajarkan kamu untuk tidak sopan kepada orang yang lebih tua apalagi dia itu mama kamu."


"Maaf pah, tapi papa pasti tau tidak akan pernah ada orang yang bisa menggantikan mama, Velyn pamit pah." Dengan enggan Velyn mengambil tangan Reza dan mencium punggung tangannya kemudian Velyn berlalu dari hadapan mereka dengan suasana hati yang buruk.


Di teras rumah ternyata sudah ada bi Ani yang menunggu Velyn dengan sekotak bekal makanan di tangannya. Bi Ani menatap sendu ke arah anak majikannya itu yang sudah ia anggap seperti anak kandungnya sendiri.


"Non yang sabar ya, nanti tuan pasti akan sadar dengan sendirinya." Ujar bi Ani sambil mengelus kepala Velyn dengan penuh rasa kasih sayang.


"Makasih bi, Velyn berangkat dulu jangan pernah bosen tinggal di sini ya bi nanti Velyn sendirian." Seru Velyn dan langsung memeluk bi Ani, bi Ani menahan tangisnya agar tidak membuat Velyn menjadi tambah sedih.


"Bibi obatin dulu luka non Velyn ya." Bi Ani melepas pelukannya dan menyentuh pipi Velyn yang memerah dengan perlahan.


Velyn tersenyum dan menggeleng. "Biarkan seperti ini bi, biar papa bisa lega sudah menyalurkan rasa sakit akibat perbuatan Velyn enam bulan yang lalu."


Bi Ani tersenyum, dia merasa bangga dengan Velyn karena sekasar apapun perlakuan Reza, tidak pernah sedikitpun Velyn menaruh dendam kepada papanya itu.


"Satu hal yang harus non tau, tuan itu sangat menyayangi non Velyn hanya saja tuan masih belum siap dengan semua ini non yang sabar nanti kebahagiaan pasti non Velyn dapatkan lagi."


Velyn mengangguk dan berpamitkan kepada pembantunya itu. Setelah kepergian Velyn, bi Ani menghampiri suaminya yang bekerja sebagai sopir pribadi keluarga Fathaan. Adrian atau yang dipanggil Adri suami bi Ani sekaligus sopir disana adalah saksi perjalanan kehidupan keluarga Fathaan selama bertahun-tahun.


"Kasian non Velyn, mana sekarang tuan tidak peduli dengan keadaan tuan muda Elvan." Ujar bi Ani.


...🍩...


Velyn sampai di sekolahnya, sekolah yang cukup terkenal di kota itu. Salah satu sekolah yang dimiliki keluarga Narendra.


"Woy, bengong aja lo." Entah datang darimana tiba-tiba Clara mengageti Velyn.


"Sial, lo ngagetin gue aja!." Dengan wajah datarnya Velyn menatap Clara yang tengah cengengesan dengan susu youghurt rasa pisang ditangannya.


Velyn menggelengkan kepala melihat tingkah Clara yang menyebalkan, tetapi Velyn sangat menyayangi Clara karena Clara tidak pernah menusuk dia dari belakang dan Clara juga adalah tempat cerita bagi Velyn.


"Udah sih natapnya Vel gue ngeri tau, btw gue bawain donat nih buatan bunda katanya buat lo." Clara menyerahkan satu box donat ke arah Velyn, Velyn menerimanya dengan hati yang senang. Bunda Clara memang sangat baik dengannya, mungkin Clara sudah menceritakan masalah keluarganya itu tidak masalah bagi Velyn, tapi yang terpenting Clara tidak membuka aib keluarganya di depan teman sekolah.


"Bilang makasih buat bunda."


"Hem." Clara mengangguk dan menarik tangan Velyn, tetapi Velyn diam ditempatnya. Clara mengikuti arah pandang Velyn ke satu siswi yang Clara yakini dia murid baru.


"Lah, itu kan pak Adri supir pribadi keluarga lo? Itu siapa Vel yang turun dari mobil om Reza?." Clara tidak mendapat jawaban dari Velyn, sedetik kemudian Clara sadar ada yang berbeda dari pipi Velyn.


"Vel, plis lo jujur sama gue lo dipukul lagi sama om Reza?." Clara mengguncang bahu Velyn karena tatapan Velyn terpaku dengan siswi tadi. Clara memang mengetahui sikap kasar Reza kepada Velyn, berkali-kali Clara menyuruh Velyn agar tinggal di rumah pemberian orang tuanya sendiri tapi Velyn tetap bersikeras ingin tinggal bersama Reza.


Velyn hanya menganggukkan kepalanya, dan berlalu dari hadapan Clara. "Untung gue sayang, coba kalau enggak." Dengan kesal Clara menyusul Velyn yang sudah berjalan di koridor.


"Velyn lo belum jawab yang tadi itu siapa." Cerca Clara. Tiba-tiba Velyn menarik Clara masuk ke dalam toilet, tanpa adanya persiapan kepala Clara terbentur pintu masuk di toilet.


Dukkkk


Awwwsss, ringis Clara.


"Lo jahat banget sumpah, udah jidat gue luas malah kepentok lagi." Clara mengelus-ngelus kepalanya yang berdenyut sementara Velyn hanya terkekeh pelan, percayalah Clara ikut senang karena bisa membuat Velyn tersenyum walaupun dirinya harus tersakiti dulu.


"Sory." Seru Velyn lirih.


"Abaikan saja, setelah lo narik gue kayak tadi harusnya ada hal penting yang mau lo kasih tau ke gue."


Velyn menarik nafasnya pelan.


"Dia sodara tiri gue."


"Hah, sejak kapan? Kenapa bisa?."


"Bokap diem-diem nikah lagi dan mama tiri gue itu punya anak dengan umur yang beda setahun sama gue."


"Jadi kalian tinggal satu atap?."


"Mau gimana lagi, selagi mereka gak ngusik kenyamanan gue, gue gak masalah asal jangan pernah coba-coba gantiin posisi mama." Velyn mengepalkan tangannya setelah mengucapkan kalimat itu.


Clara menatap sendu ke arah Velyn, tetapi dia segera mengubah kembali ekspresi wajahnya karena Velyn paling benci dikasihani.


"Yaudah mending sekarang kita ke kelas udah hampir bel, tenang aja rahasia lo aman sama gue kecuali adik tiri lo sendiri yang mau ngumbar ini semua." Velyn mengangguk dan percaya dengan Clara, karena memang sejauh ini Clara cukup bisa menjaga rahasianya dengan baik walaupun dia memiliki sifat yang lumayan bar-bar.


...🍩...


IG: yndwrdn05