Evelyn Story'S

Evelyn Story'S
Evlyn-7



Kenapa harus saya?


Velyn masih berusaha tenang dia tidak akan gegabah dan bertindak yang nantinya akan merugikan dirinya sendiri.


"Karena saudara tiri kamu Fira tidak mau, jadi kamu yang harus menggantikannya."


"Mohon maaf sebelumnya, tetapi saya tidak tahu menahu soal permasalahan ini. Kenapa jadi saya yang harus menggantikan Fira?." Dengan sikap tenangnya Velyn berani bertanya demikian dengan Tama, Tama sedikit menyunggingkan senyumnya dia cukup tertarik dengan karakter Velyn.


"Saya rasa papa kamu lebih berhak untuk menjelaskannya."


Reza berdiri dari duduknya dan menyuruh Velyn mengikutinya, Velyn mengekor dibelakang Reza. Reza membawa Velyn ke ruang kerjanya, sejenak dia menghela nafas dia menatap Velyn dengan wajah datarnya.


"Kamu jangan sok jual mahal, kamu tau keluarga Narendra adalah keluarga terpandang di negara ini. Perusahaannya yang meluas dimana mana, saya yakin kamu pasti tau itu."


"Kenapa papa tidak menikahkan Fira saja, kenapa harus Velyn."


"Fira tidak mau karena Arzan dalam kondisi cacat, dan kamu harusnya tau diri dengan keadaan ini."


"Jadi papa lebih milih menjual anak kandung sendiri daripada anak tiri papah?." Tanya Velyn tidak habis pikir, ternyata sudah sejauh ini papanya membenci dirinya.


"Kamu tau, perusahaan saya saat ini diambang kebangkrutan dan kalau sampai perusahaan Narendra mencabut sahamnya kita akan menjadi gelandangan!." Reza mengucapkan kalimat itu dengan nada yang penuh emosi, dia sambil mencengkram kuat dagu Velyn. Velyn tidak menangis, dia hanya kecewa setega itu papanya menjual dirinya sendiri hanya demi perusahaan.


"Tapi pah, Velyn sudah punya Kavin. Velyn tidak mungkin meninggalkan Kavin." Dengan suara bergetar Velyn mencoba membujuk papanya walaupun itu hal yang mustahil.


"Pilihan ada ditangan kamu, kamu menikah dengan tuan Arzan atau kamu  mau melihat saya menghentikan pengobatan untuk Elvan." Setelah mengucapkan hal itu Reza berlalu keluar meninggalkan Velyn dengan sejuta keputusannya.


Velyn lupa kalau biaya rumah sakit Elvan masih ditanggung Reza, dan sekarang mau tidak mau Velyn harus menerima permintaan papanya itu walaupun ia harus menyakiti Kavin.


Velyn kembali ke ruang tamu dengan raut wajah yang lebih datar dari tadi.


"Bagaimana nak Velyn apa kamu setuju?." Tanya Tama, Velyn masih diam sementara Reza menatapnya seakan ingin menelannya hidup-hidup.


"Apa karena cucu saya lumpuh kamu tidak bersedia?." Kini Tama bertanya dengan suara lirihnya membuat Velyn langsung menatap Tama dengan rasa bersalah.


"Tidak kek, tapi hanya saja Velyn kan masih sekolah." Jawab Velyn dengan ragu.


"Tenang saja pernikahan kalian tidak akan kami publish, asalkan kamu mau menikah dengan Arzan maka perusahaan kalian akan aman dan akan menjadi perusahaan nomor1 di anak cabang perusahaan kami." Reza tersenyum dengan penawaran itu, berbeda dengan Velyn yang mengepalkan tangannya dibawah meja melihat senyuman Reza dan Karen.


"Baik kalau begitu kami sudah memutuskan pernikahan kalian akan dilangsungkan minggu depan dan kami akan memberikan uang kompensasi kepada keluarga kalian." Jelas Tama dan itu membuat Velyn kaget bukan main.


"Apa tidak terlalu cepat kek?." Tanya Velyn.


"Tidak, saya tidak mau kamu sampai berubah pikiran." Jawab Tama dengan lugas.


"Maaf izinkan saya berbicara berdua dengan Velyn." Akhirnya pria datar itu membuka suaranya juga, Arzan seakan mengkode Velyn untuk mengikutinya.


Vino mendorong kursi roda Arzan menuju taman di depan rumah Velyn, dengan tatapan datarnya Velyn mengikuti mereka berdua.


"Saya tau kamu tidak menginginkan pernikahan ini." Tanpa basa basi Arzan mengungkapkan apa yang ada dipikirannya.


Velyn masih diam, bukan dia tidak ingin menghargai atau tidak suka dengan Arzan tetapi jujur ia merasa segan karena langsung berhadapan dengan salah satu orang terpenting di negaranya.


"Baiklah mari bekerja sama di dalam pernikahan ini." Singkat, padat dan lugas. Setelah itu Velyn beranjak ingin pergi dari taman itu sebelum sebuah suara menghentikan pergerakannya.


"Secepatnya nona muda harus segera memutuskan hubungan dengan tuan muda Kavin keluarga Zhafran, walau bagaimanapun nantinya pernikahan kalian akan sah dimata hukum dan agama." Vino berujar dengan suara datarnya.


Velyn melanjutkan langkahnya tanpa berbalik sedikitpun ke belakang. Setelah kepergian Velyn,


"Kenapa anda diam tuan muda? Apa anda tidak menginginkan semua ini, saya masih bisa memohon dengan tuan besar." Tanya Vino melihat Arzan temenung memandang kepergian Velyn.


"Tidak, biarkan saja pernikahan ini berjalan aku tidak mau mengecewakan kakek." Jawab Arzan, karena memang itu alasan Arzan untuk menerima perjodohan mendadak ini.


Sikap Arzan memang hangat dan lembut di dalam tapi akan berbeda jika sudah dengan partner bisnisnya, ia bersikap datar dan dingin karena tidak ingin dikasihani oleh orang-orang mengenai keadaannya.


"Beruntung nona Fira menolak pernikahan ini." Ujar Vino dan ditanggapi senyuman oleh Arzan. Karena saya tau sejak awal anda sudah tertarik dengan nona Velyn hanya dengan melihat fotonya. Batin Vino, ia kembali mengingat kejadian beberapa menit yang lalu.


Flashback...


"Saya datang kesini ingin menjodohkan Arzan dengan putri pak Reza."


Reza, Karen dan Fira tentunya kaget dengan kedatangan keluarga Narendra ke rumah mereka.


Melihat kebingungan keluarga Fathaan, Tama melanjutkan pembicaraannya.


"Saya tau perusahaan anda hampir bangkrut dan jika saya menarik semua saham perusahaan saya maka anda akan bangkrut total, jadi bagaimana tawaran saya pak Reza?." Tama mengucapkan itu sambil tersenyum tipis ke arah Reza yang dilanda kebingungan.


"Fira, apa kamu mau membantu papa?." Tanya Reza menatap anak tirinya disampingnya itu.


Fira memandang jijik ke arah Arzan, Arzan yang dipandang seperti itu merasa marah.


"Pa, Fira tidak mau Fira masih muda tidak mau menikah kenapa tidak kak Velyn saja pah." Fira berusaha membujuk Tama.


"Apa karena cucu saya lumpuh kamu tidak bersedia Fira?." Tanya Tama berusaha menahan emosinya.


"Iya, saya tidak mungkin hidup dengan seorang yang lumpuh. Bagaimana nantinya masa depan saya." Fira menjawab dengan tegas ia melupakan sifat sok polosnya itu. Tama tersenyum dia sudah bisa menebak akan menerima penolakan dari  anak tiri Reza.


Reza menyerahkan foto Velyn kepada Tama, walaupun Tama mengetahuinya tapi ia tetap mengambil foto itu untuk ditujukan ke Arzan. Kesan pertama yang Arzan lihat adalah kata 'menarik'.


Sejujurnya Tama berharap Velyn yang akan menjadi cucu menantunya, tetapi ia ingin melihat seburuk apa keluarga ini.


"Baiklah kita tunggu Velyn." Putus Reza.


Flash off...


Arzan kembali memikirkan ucapan Vino, ia juga merasa beruntung karena Fira menolak pernikahan ini. Tetapi yang Arzan khawatirkan, Velyn dengan pacarnya itu sepertinya mereka saling mencintai. Tetapi Arzan tidak perduli itu, yang terpenting kakeknya bahagia.


Tetapi tunggu, kenapa Arzan tiba-tiba menjadi peduli kepada Velyn, bahkan dengan keluarganya pun Arzan tidak seperti itu kecuali dengan kakeknya dan Vino.


...🍩...


IG: yndwrdn05