Evelyn Story'S

Evelyn Story'S
Evlyn-21



Arzan langsung mendorong kasar Nayra, menyebabkan Nayra terhempas ke lantai. Velyn tidak bergeming, dia menatap Nayra dengan tajam.


"Pergi dari ruangan saya sekarang nona Nayra, kedepannya jaga sikap anda.!" Seru Arzan dengan menatap tajam Nayra.


Tatapannya berubah melembut saat melihat Velyn, yang menatap dirinya dengan sendu.


Nayra melewati Velyn begitu saja, Nayra sangat membenci Velyn. Andai Velyn tidak mau dijodohkan dengan Arzan, mungkin saat ini Nayra masih punya kesempatan. Bagaimana mungkin Nayra bisa melupakan Arzan, Arzan adalah sosok pria penyayang dan perhatian. Tetapi karena egonya sendiri, Nayra kehilangan Arzan sekarang.


"Aku harus bisa mendapatkan Arzan kembali dengan cara kotor sekalipun!." Jerit Nayra dalam hati.


Kembali ke Velyn dan Arzan.


"Sayang, mas bisa jelasin." Ujar Arzan berusaha menggapai tangan Velyn, tetapi Velyn sengaja menghindar. Hal itu membuat rasa sakit di dada Arzan, baru pertama kali Velyn sedingin itu dengannya bahkan sampai menghindar.


"Kenapa mas gak jelasin dari awal? Pantas saja saat aku pertama kali datang ke kantor ini dia menatapku seakan sangat membenciku. Aku sudah mendengar semuanya mas, aku bebaskan mas memilih aku atau dia. Karena aku tau cerita kalian belum selesai."


Arzan panik mendengarkan ucapan Velyn. "Enggak sayang! Jangan bilang seperti itu, mas sudah selesai dengannya. Kita sudah selesai sejak dia meninggalkan mas satu tahun yang lalu. Sekarang mas sudah punya kamu."


Entahlah Velyn merasa kecewa, kenapa dari awal Arzan tidak pernah bercerita dengannya. Dia juga sedikit cemburu melihat Nayra dengan lancangnya memeluk Arzan tadi.


"Aku pamit mas mau ke rumah sakit dulu, mas bisa nyusul nanti aku mau naik taxi. Permisi mas." Seru Velyn, tidak lupa dia menyalami tangan Arzan sebelum pergi.


"Tapi sayang." Teriak Arzan yang tidak dihiraukan oleh Velyn.


Arghhhh


"Ini semua gara-gara Nayra!!."


Arzan menghubungi boydiguard nya untuk mengikuti Velyn dan menjaganya, dia tidak mau terjadi suatu hal yang buruk terhadap Velyn.


"Bos, aku melihat nona Velyn tadi pergi dari kantor ini dengan tergesa-gesa, nona juga kelihatannya sambil menangis." Lapor Vino, melihat Arzan yang acak-acakan Vino mengerti jika keduanya pasti habis bertengkar.


Setelah beberapa saat diam, akhirnya Arzan menceritakan semua kejadian tadi kepada Vino.


"Apa perlu saya memecat nona Nayra bos?."


"Jangan Vino, aku tau istriku pasti akan marah. Aku tau dia orang yang selalu memikirkan perasaan orang lain. Tetapi jika istriku yang meminta, kamu harus lakukan hari itu juga."


"Baik bos."


"Ayo kita susul istriku ke rumah sakit." Ajak Arzan yang diiyakan oleh Vino.


Sepanjang perjalanan ke rumah sakit, Arzan hanya diam. Dia memikirkan bagaimana caranya meminta maaf kepada Velyn, baginya ini sangat menyakitkan. Untuk pertama kalinya Velyn marah dan tidak mau didampingi Arzan.


Empat puluh menit kemudian, mereka sampai di rumah sakit Narendra.


"Pergi lo, dasar pembunuhhh!!!!!" Teriak seseorang didalam sana. Sementara perempuan cantik disampingnya terus menenangkan pria yang tengah berteriak itu.


"Abang, Elyn bukan pembunuh mama. Itu semua kecelakaan." Teriak Velyn, ya yang mengusir Velyn tadi adalah Elvan. Awalnya Velyn bahagia mendengar kabar bahwa Elvan yang sadar dari tidur panjangnya, tapi kebahagiaan itu tidak bertahan lama setelah dirinya bertemu dengan sang kakak.


"Andai waktu itu lo gak egois, gak seperti anak kecil yang pakek acara kabur-kabur dari rumah, mama gak mungkin meninggal!." Teriak Elvan.


Velyn menggeleng, dia bukan pembunuh semuanya murni kecelakaan.


"Ra, mending lo usir pembunuh ini dari sini. Karena gue gak mau ngeliat muka dia lagi!" Ujar Elvan penuh emosi.


Zahra diam, sejujurnya dia tidak tega melihat keadaan Velyn. Tetapi Elvan menahan dirinya untuk tidak menghampiri Velyn.


Arzan tiba-tiba masuk setelah mendengar keributan di dalam. Dia melihat Velyn yang tengah menangis dilantai.


"Apa anda tidak punya hati nurani tuan Elvan." Seru Arzan menatap datar ke arah Elvan.


"Kamu siapa? Ini semua gak ada urusannya sama kamu." Pekik Elvan yang masih dipenuhi emosi.


"Saya Arzan, suami adik anda."


Elvan terkekeh, dia menatap sinis kepada adiknya.


"Oh jadi setelah membunuh mama lo nikah sama om-om ini, apalagi keadaan dia lumpuh lo dijadikan pembantunya atau perawatnya? Seharusnya dari dulu gue tau kalau lo itu murahan!."


"Cukup tuan Elvan! Jangan menghina istri saya. Dia memang adik anda tapi tidak seharusnya anda menyakiti hatinya."


"Cih, tau apa kamu soal keluarga saya?. Dia itu pembunuh, dan ya setau saya dia mempunyai kekasih tapi sekarang malah menikah dengan anda apa itu namanya kalau bukan murahan?."


"Cukup abang, cukup. Elyn minta maaf kalau memang abang nyalahin Elyn gak papa, Elyn terima. Elyn senang abang El bangun, maaf jika kedatangan Elyn bikin abang gak nyaman. Semoga cepat pulih ya bang, Elyn sayang abang. Elyn pamit." Seru Velyn dan beranjak keluar dari ruangan Elvan.


Arzan mengikuti Velyn, dia benar-benar tidak habis pikir dengan saudara istrinya itu. Padahal Velyn sangat menantikan kesadaran dirinya, tetapi yang didapat Velyn hanyalah penghinaan.


"Elynnn!!!." Teriak Zahra, Zahra ingin mengejar Velyn, tetapi ditahan oleh Elvan.


"Sudah biarkan saja, aku tidak butuh pembunuh seperti dia!."


"Tapi El, dia itu adik kamu. Hampir setiap hari dia menunggu kamu bangun." Ucap Zahra lembut.


"Bagiku dia tetap seorang pembunuh Ra, aku gak bisa terima itu semua." Seru Elvan dengan mata yang berkaca-kaca. Zahra menjadi kasihan, dia juga tau bagaimana terpukulnya Elvan saat kehilangan mamanya, Elga.


Zahra menarik Elvan kedalam pelukannya, dia menenangkan Elvan yang terisak.


"Jangan kasar sama Elyn ya sayang."


"Aku tidak janji Ra." Balas Elvan sambil memeluk Zahra erat, dia sangat rindu dengan kekasihnya ini. Seorang dokter cantik yang dia pacari semenjak tiga tahun yang lalu, seseorang yang berhasil masuk ke dalam hatinya, yang berhasil menarik perhatiannya.


"Yang sabar ya, masih ada aku di sini." Seru Zahra sambil mengusap jejak air mata Elvan.


"Terima kasih sayang. Oh iya papa sering gak jenguk aku di sini?." Tanya Elvan tiba-tiba, membuat Zahra terdiam. Dia tidak tau harus menjawab apa, karena semenjak Elvan koma, Reza tidak pernah menjenguk dirinya di rumah sakit.


"Kenapa diam sayang? Pasti papa sering kan ke sini?." Tanya Elvan lagi, Zahra terpaksa mengangguk, dia tidak mau mengecewakan Elvan. Walaupun dia tau, yang hampir setiap hari datang ke rumah sakit adalah Velyn bukan Reza.


Velyn berjalan pergi sambil menangis, dia masih mengingat saat Elvan membentaknya tadi. Dia pikir Elvan tidak akan berubah, ternyata Elvan juga sama dengan Reza mengecap Velyn sebagai pembunuh.


Langkah Velyn tiba-tiba berhenti, kepalanya seakan berputar pandangannya memburam dan-


BRUKKK


Velyn tidak bisa menahan dirinya lagi, dia pingsan.


"Velynnnn!!!!" Teriak Arzan. Vino segera memanggil suster untuk meminta bantuan terhadap Velyn.


Beberapa perawat membantu Velyn, mengangkatnya ke atas brankar. Arzan merasakan perasaan bersalah yang mendalam dihatinya.


"Bertahan sayang." Lirih Arzan dengan mata yang berkaca-kaca, melihat mata Velyn tertutup rapat dengan bibir yang pucat.


...----------------...


IG: yndwrdn