
Velyn masih betah memeluk Arzan tidak lupa dengan isakan kecilnya. "Kenapa kamu menangis hm?."
"Aku tidak suka ada orang yang menjelekkan mas, apalagi itu keluargaku sendiri."
"Tapi kan yang dibilang mereka memang benar sayang." Arzan menjadi gemas terhadap Velyn, yang tengah mengadu kepada nya.
"Enggak, bagi aku mas itu hanya sedang duduk biasa karena kelelahan. Aku yakin nanti mas bisa berjalan lagi seperti semula." Tegas Velyn.
"Iya ya, mas juga yakin. Jadi istri mas ini jangan memikirkan hal itu lagi, nanti mas gak bisa nahan emosi sama orang yang udah bikin kamu nangis." Seru Arzan sambil mencium pipi Velyn, Velyn merasa malu karena didalam mobil itu bukan cuma ada dirinya dan Arzan tetapi juga ada Vino.
"Mas jangan gini, malu ada Vino." Cicit Velyn pelan, yang masih bisa didengar Arzan maupun Vino. Dan itu membuat Vino tertawa dengan tingkah malu sang nyonya.
"Mas, Vino ketawa!." Seru Velyn sambil menyembunyikan pipi merahnya didada bidang Arzan.
"Vino!!." Peringat Arzan seolah-olah serius karena melihat wajah Velyn, sementara Vino menyembunyikan tawanya. Takut jika Arzan benar-benar marah karena berani menggoda Velyn.
Setelah sampai di kantor Arzan, Velyn dan Vino membantu Arzan turun dari mobil. Banyak pasang mata yang memandang ke arah Velyn.
Arzan mengajak Velyn masuk, awalnya Velyn ingin mendorong kursi roda Arzan tetapi Arzan tidak memperbolehkannya. Dia meminta Velyn untuk berjalan disampingnya sambil menggenggam tangan Arzan. Sementara Vino yang mendorong Arzan.
Ternyata Arzan mengumpulkan semua karyawannya di aula kantor, dia ingin memperkenalkan Velyn kepada seluruh karyawannya.
"Selamat pagi semua, hari ini saya datang ke kantor bersama seseorang yang saya cintai. Perkenalkan dia Evelyn Xena Narendra, yang tidak lain adalah istri sah saya. Saya harap kalian semua bisa mengenalnya dengan baik." Arzan tersenyum setelah mengucapkan kalimat itu, dia memandang Velyn dengan penuh cinta.
Velyn yang awalnya gugup, menjadi sedikit tenang setelah tangannya digenggam Arzan. "Kalian sudah mengetahui saya siapa dari suami saya, kedepannya saya berharap kita bisa bekerja sama dengan baik." Tutur Velyn dengan tegas. Ada rasa kagum didalam hati Arzan melihat sikap dewasa Velyn.
Setelah pengumuman itu, Arzan mengajak Velyn ke ruangannya yang berada di lantai 40. Velyn kagum dengan interior kantor Arzan yang menurutnya aesthetic, sampai di depan ruangan Arzan, Velyn memicingkan matanya melihat seorang perempuan yang memandangnya dengan tatapan tajam, di mejanya tertulis 'Nayyara K.A secretary'.
Velyn sempat tersenyum tipis kepada perempuan yang dia ketahui sekretaris suaminya, sekretaris itu hanya menanggapi dengan menunduk singkat.
Velyn masuk ke dalam ruangan Arzan, dia meneliti setiap sudut di ruangan itu. Sampai pada akhirnya dia memberanikan diri melangkahkan kakinya menuju meja Arzan, terlihat Arzan yang langsung fokus dengan laptopnya.
Velyn mengangkat senyumannya saat melihat foto pernikahan mereka terpampang jelas diatas meja Arzan, menyadari keberadaan Velyn didekatnya, Arzan menarik tangan Velyn agar duduk dipangkuannya. Velyn yang kaget hanya bisa menahan deru nafasnya.
"Mas, ini di kantor." Cicit Velyn.
"Biarkan saja, ini ruanganku sayang jadi kamu tidak perlu khawatir ada yang melihatnya." Balas Arzan mencium pipi Velyn, diperlakukan seperti itu membuat Velyn menjadi salah tingkah.
Suara pintu terbuka, saat Arzan sedang memeluk Velyn. Mata Arzan menajam saat tau siapa yang menerobos masuk ke dalam ruangannya tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu. Arzan menahan pinggang Velyn yang akan berdiri dari pangkuannya, meskipun Velyn merasa tidak enak tapi dia tidak ingin membuat Arzan kecewa karena melihat ekspresi marah dari wajah Arzan.
"Apa kamu tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu nona Nayra?." Seru Arzan dingin.
"Maaf pak, maafkan saya." Jawab Nayra dengan sedikit menunduk.
"Tinggalkan berkas itu, dan keluar dari ruangan saya. Kedepannya saya harap kamu lebih sopan nona Nayra."
"Baik pak, saya permisi pak Arzan, bu Velyn." Pamit Nayra dengan rasa malunya.
Setelah kepergian Nayra sekretaris Arzan, Velyn melihat Arzan membuang nafasnya secara kasar. Velyn membelai wajah Arzan untuk yang pertama kalinya, membuar tubuh Arzan meremang mendapat perlakuan tersebut dari istrinya.
"Tapi mas tidak suka sayang."
"Iya aku ngerti, ya udah mas jangan marah lagi ya." Bujuk Velyn sambil mencubit pelan hidung mancung Arzan.
Arzan mengangguk, kemudian dia meraba bibir merah alami Velyn tanpa diolesi lipstik itu. "Bolehkan?." Izin Arzan.
Velyn merasa malu dan menganggukkan kepalanya pelan. Sebelum itu Arzan mengunci ruangannya secara otomatis, hingga tidak ada siapapun yang akan mengganggunya.
Arzan mencium pipi Velyn dengan penuh kelembutan, Velyn yang baru pertama kali melakukan hal itu berusaha membalasnya. Velyn merasa ada yang keras dibawahnya, karena posisi mereka saat ini dimana Velyn berada dipangkuan Arzan. Velyn melepaskan ciuman mereka, dan menatap wajah Arzan yang sepertinya tengah menahan hasratnya.
"Mas apa tidak sebaiknya kita lakukan di rumah?." Tanya Velyn malu-malu.
Arzan menggeleng "Mas tidak ingin memaksa kamu, karena mas ingin melakukan itu jika kamu sudah mencintai mas."
"Tapi aku ingin melaksanakan kewajiban seorang istri mas." Cicit Velyn pelan dengan rona pipi yang memerah, Arzan tersenyum melihat tingkah Velyn.
"Tapi bagaimana dengan keadaan mas yang begini, mas tidak mau kamu kelelahan."
"Aku bisa melakukannya mas, aku kasihan melihat mas tersiksa."
Arzan semakin melebarkan senyumannya, sementara Velyn mengutuk dirinya didalam hati. Walau dia suka membaca novel crita +21 tetapi dia tidak tau bagaimana memimpin percintaan. Memikirkan hal itu, membuat pipi Velyn memerah.
"Baiklah jika ini permintaan istriku, ayo kita pulang ke rumah." Arzan sengaja menggoda Velyn.
"Ihhh masss apaan sih."
Akhirnya Arzan meminta Vino untuk mengantarkannya pulang dengan alasan Velyn yang tidak betah di kantor. Vino dibuat bingung, belum ada dua jam Velyn berada di kantor, tetapi dia sudah bilang tidak betah.
Sesampainya di rumah, Velyn menjadi gugup, jujur dia tidak tau harus memulai dari mana. Melihat Velyn yang diam dari halaman rumah sampai ke kamar, membuat Arzan bingung.
"Sayang, kalau kamu tidak siap mas tidak akan meminta hak kepadamu."
"Eh enggak mas, aku siap. Ayo kita lakukan." Ajak Velyn. Arzan tersenyum kemudian menarik Velyn dan mencium bibir Velyn dengan sangat lembut. Velyn yang memimpin percintaan mereka, walaupun masih siang hari Velyn dan Arzan menikmatinya dengan hati yang berbunga bunga.
Sampai akhirnya setelah pembuangan di rahim Velyn selama beberapa kali, membuat meraka berdua sama-sama lelah dan Velyn yang tumbang disamping Arzan.
Velyn yang mengantuk mencoba mencari posisi tidur yang nyaman sambil memeluk Arzan dalam keadaan mereka berdua yang benar-benar polos tidak memakai apapun.
Arzan tersenyum mengingat permainannya tadi dengan Velyn, padahal setelah kecelakaan waktu itu yang membuat dirinya lumpuh, Arzan berpikir tidak akan ada orang yang menerima dirinya apalagi sampai menikah seperti sekarang.
"I love you Evelyn, dari awal bertemu denganmu aku sudah yakin kalau kamu akan menjadi istri sekaligus ibu yang baik untuk anak-anakku nanti. Cepat jadi ya jagoan papa." Ujar Arzan sambil mengelus perut rata Velyn, sesekali mencium wajah Velyn.
Maaf yaa, kalau teks nya kurang tepat. Sejujurnya tidak terlalu menau soal masalah rumah tangga apalagi mengenai hubungan suami istri.
IG: yndwrdn