
Velyn atau lebih lengkapnya, Evelyn Xena Rafiska Fathaan. Kerap di panggil Elyn oleh keluarganya, tetapi semenjak kejadian itu 'ia' lebih suka dipanggil Velyn. Velyn mempunyai sikap yang tegas, datar, dan arrogant kecuali dengan dua orang di dalam hidupnya.
"Baru pulang kamu, dasar anak tidak tau diri!" Bentak Reza ayah kandung Velyn.
"Maaf pah, Velyn habis dari toko buku." Velyn menunduk tidak berani menatap wajah ayahnya yang datar itu . Dulu tatapan itu sangat lembut penuh kasih sayang, tetapi dalam sekejab semuanya berubah.
"Masuk kamar! jam delapan nanti ikut saya." Belum sempat Velyn menjawab, Reza berlalu dari ruang tamu.
Velyn menatap nanar kepergian ayahnya, perlahan air matanya terjatuh di pipi mulusnya itu.
"Gak, gue gak boleh nangis pasti papa cuma belum bisa nerima semua ini." Lirih Velyn dan berlalu ke kamarnya.
Di dalam kamar, Velyn terdiam sambil memegang ponselnya. Tiba-tiba ada satu notifikasi pesan dari akun line nya.
claraST
Vel, nanti malem temenin gue bisa? gue harus datang ke acara pertunangan sodara sepupu gue
^^^VlynXR^^^
^^^Gk bs^^^
claraST
Mau kemana lo?
^^^VlynXR^^^
^^^D ajk bkp^^^
claraST
Ok next time
Velyn hanya menatap datar room chat bersama Clara, satu-satunya sahabat yang selalu ada untuk Velyn. Clara Sabrina Thalita, biasa dipanggil Clara. Clara mempunyai sikap yang berbanding terbalik dengan Velyn, mereka berdua sudah bersahabat sejak awal masuk SMP.
Velyn menghembuskan nafasnya yang terasa sesak, dia kembali mengingat perubahan sikap ayahnya semenjak kejadian lima bulan yang lalu.
Drtt....Drtt....
Kak Zahra is calling.
"Halo kak."
"Elyn, kamu bisa ke rumah sakit sekarang?."
"Iya bisa, tunggu Elyn kak."
Velyn bergegas bersiap menuju ke rumah sakit, sesampainya di ruang tamu ia bertemu dengan Reza ayahnya.
"Pah, Velyn pamit mau ke rumah sakit dulu."
"Ingat, kamu harus ikut saya nanti malam." Velyn mengangguk, sebelum meninggalkan ruang tamu ia berhenti, kemudian berbalik-
"Setidaknya papa ke rumah sakit walaupun hanya lima menit, dia juga anak papa." Velyn berujar dengan suaranya yang lirih.
Reza terdiam di tempatnya, memikirkan ucapan Velyn tadi, tidak berlangsung lama dia mengembalikan wajah datarnya yang seakan penuh dendam.
Velyn mengendarai mobilnya dengan kecepatan standar menuju rumah sakit, pikirannya berkecamuk.
Dua puluh menit kemudian, dia sampai di salah satu rumah sakit milik keluarga Narendra. Rumah sakit standart internasional, dimana pemiliknya merupakan pengusaha sukses di mancanegara.
Velyn berjalan sedikit cepat menuju salah satu ruangan VVIP di sana. Sesampainya di ruangan itu, Velyn mengetuk pintu dan langsung masuk.
Pandangan pertama yang ia lihat adalah seorang lelaki yang terbaring lemah di atas brangkar dan disampingnya ada seorang dokter cantik yang tengah menemani disampingnya.
"Tadi kakak periksa El, awalnya dia menggerakkan jarinya tapi hanya sedikit setelah itu tidak ada pergerakan lagi. Maafkan kak Zahra El."
Velyn tersenyum dan memegang tangan Zahra.
"Kak Zahra tidak perlu meminta maaf, Elyn harusnya berterima kasih karena kakak sudah merawat dia dengan sangat baik." Setelah mengucapkan itu, Velyn beralih ke lelaki yang seakan damai dengan tidurnya. Merasa mereka berdua butuh privasi, Zahra menepuk pelan pundak Velyn dan pergi ke luar.
Velyn tersenyum nanar melihat lelaki tampan di depannya itu.
"Abang, abang masih betah ya tidurnya abang gak rindu sama El?." Ujar Velyn dengan air mata yang perlahan mengalir.
"Abang El tau, sekarang papah benci Elyn tapi semoga papa gak benci abang ya." Tangis Velyn pecah setelah mengucapkan kalimat itu. Dia menahan sesak didadanya ketika mengingat perlakuan Reza sekarang.
Elvan Aristides Rafisqy Fathaan, kerap dipanggil Elvan. Dia merupakan kakak laki-laki dari Velyn, dulu Velyn sangat suka dipanggil Elyn karena sama seperti nama panggilan abangnya tetapi sekarang dia lebih suka dipanggil Velyn karena kejadian enam bulan lalu telah merubah segalanya.
...🍩...
Velyn menepati janjinya untuk menemani ayahnya ke suatu tempat yang ternyata di sebuah restoran. Velyn mengedarkan pandangannya ke segala arah mencari keberadaan Reza, sampai pandangannya bertumpu di suatu titik dimana Reza tengah berbicara dengan seorang wanita yang Velyn yakini usianya hampir sama dengan mamanya. Disamping wanita itu ada gadis yang sepertinya sama dengan usianya, dengan ragu Velyn menghampiri mereka dengan pemikiran-pemikiran yang aneh.
"Pah." panggil Velyn, tapi pandangannya terus menatap ke arah wanita yang memandangnya dengan sinis.
"Kamu sudah datang, silahkan duduk." Ujar Reza dengan wajah datarnya, padahal yang Velyn liat tadi Reza sedang tertawa dengan dua wanita itu.
"Mereka siapa pah?." Tanya Velyn karena rasa penasarannya yang cukup tinggi.
"Perkenalkan aku Karen Syafazea, istri Reza Fathaan papa kamu dan juga mulai sekarang aku adalah mama tiri kamu." Bukan Reza yang menjawab melainkan wanita yang didepannya itu.
DEG
Velyn mematung dikursinya, dia berusaha mencerna baik-baik setiap ucapan yang keluar dari mulut wanita itu. Velyn beralih menatap papanya dengan tatapan yang kecewa, separah itu kejadian enam bulan lalu sampai papanya tidak memikirkan dirinya dan juga Elvan.
Karena tidak tahan dengan suasana yang sedikit canggung, gadis seusia Velyn buka suara.
"Hai kak, nama aku Fira Azucena Syafazea panggil saja Fira. Kita akan menjadi saudara." Velyn hanya menatap datar ke arah Fira dan Karen, apa tidak cukup bagi papanya sudah menyakiti hati Velyn dengan membenci kehadirannya? Apa ini cara papanya melampiaskan kesepian di hatinya?
"Pah." Panggil Velyn lirih, dia mengabaikan Fira yang terlihat ceria saat menatap dirinya.
Reza mengerti tatapan bingung dan kecewa Velyn yang ditujukan kepadanya itu, Reza benci tatapan itu tatapan yang selalu mengingatkan dirinya dengan seseorang yang tidak mungkin bisa lagi dia gapai.
"Kurang jelas? Dia akan menjadi mama tiri kamu, dan Fira ini akan menjadi saudara tiri kamu. Saya harap kamu menerima mereka, mereka berdua akan tinggal bersama kita mulai sekarang dan Fira juga akan sekolah di tempat yang sama dengan kamu menjadi adik kelas kamu."
Velyn hanya terdiam menyimak semua ucapan yang terlontar dari mulut Reza, dia masih tidak menduga papanya akan melakukan hal ini.
"Saya izin pamit." Tanpa mendengar jawaban dari mereka Velyn beranjak dan meninggalkan restoran itu dengan hati yang kecewa.
"Kak Velyn!." Panggil Fira, tetapi Velyn enggan menoleh karena dia masih tidak bisa menerima semua ini.
Velyn berhenti dibalik pilar di dalam restoran itu, dia menoleh ke tempat Reza. Dia melihat Reza yang seakan bahagia bersama mereka, Velyn melihat ayahnya sangat bahagia seperti keluarganya dulu.
Sesampainya di luar restoran, Velyn dikagetkan dengan keberadaan Clara.
"Vel, lo ngapain di sini? sama Kavin lo?." Tanya Clara.
"Enggak, gue lagi ketemu sama seseorang. Lo sendiri kenapa ada di sini? Bukannya lo ada ke acara pertunangan sepupu lo itu?."
"Awalnya sih gitu, tapi mereka membatalkan acara pertunangannya karena pihak wanita yang kabur entah kemana."
Velyn hanya membulatkan mulutnya. Kemudian dia pamit pergi kepada Clara, Clara merasa ada yang aneh dari gerak gerik Velyn, dia melanjutkan langkahnya masuk ke dalam restoran biarlah besok dia bertanya di sekolah kepada Velyn.
...🍩...
IG: yndwrdn05
...Maaf jika masih ada penulisan kata yang salah dan alur yang acak, cerita ini murni dari karya aku sendiri semoga kalian suka❤️...