
Sudah sebulan berlalu Velyn menjalani rumah tangga dengan Arzan, selama itu juga hubungan keduanya semakin harmonis. Dengan Velyn yang sudah benar-benar mencintai Arzan, dan Arzan yang selalu memperlakukan Velyn layaknya seorang ratu.
"Mas, hari ini aku bawa mobil sendiri ya." Seru Velyn sambil mengoleskan selai dirotinya dengan terburu-buru.
"Mas antarkan seperti biasa sayang."
"Enggak mas, aku buru-buru hampir telat ini."
"Masih ada waktu lima belas menit lagi sayang."
"Ini semua gara-gara mas Arzan!." Kesal Velyn sambil memasang sepatunya dengan terburu-buru. Memang semalam mereka bercinta sampai hampir jam dua dini hari.
Arzan tertawa melihat wajah Velyn yang cemberut, dia sangat-sangat suka dengan sikap Velyn yang manja dengannya.
"Sudah gak ada penolakan, kamu mas antar ya."
"Huh, yaudah lagian udah telat juga biarin aku dihukum nanti."
Setelah selesai sarapan Velyn berlalu meninggalkan Arzan dimeja makan setelah melihat Vino menghampiri mereka, Vino sempat menyapa Velyn, tetapi Velyn hanya diam tidak menjawab.
"Nona Velyn kenapa bos." Tanya Vino, seraya mendorong kursi roda Arzan menyusul Velyn.
"Biasa, urusan rumah tangga."
Setelah sampai dimobil, Arzan melihat wajah Velyn yang masih terlihat kesal. Arzan mengelus pelan rambut Velyn, "Sayang jangan marah, mas minta maaf ya." Bujuk Arzan.
"Tapi janji ya jangan gini lagi, mas kan tau aku harus sekolah."
"Iya mas janji."
Vino diam-diam menyimak pembicaraan keduanya. Oh ternyata urusan ranjang. Batin Vino.
Sesampainya di sekolah beruntung bel masih belum berbunyi sehingga Velyin tidak jadi terlambat. Setelah Velyn menyalimi tangan Arzan dia langsung turun dari mobil. Dia melihat Clara, Vanesha, dan Kavin yang tengah memandang dirinya.
"Hi guys." Sapa Velyn, setelah menikah dengan Arzan sikap Velyn perlahan berubah tidak sedingin dulu.
"Hi Vel." Jawab mereka semua.
"Selamat pagi kak Kavin, eh ada kak Velyn juga." Sapa Fira yang datang tiba-tiba, membuat Clara, Velyn dan Vanesha menatap tajam ke arah Fira.
Sadar menjadi perhatian, Fira menormalkan ekspresinya.
"Santai dong kak, aku cuma mau kasih bekal dari mama buat kak Kavin di terima ya kak." Seru Fira sambil menyodorkan paperbag di depan Kavin.
"Gue udah makan bareng pacar gue!." Sarkas Kavin.
"Hah, pacar?." Kaget Fira, karena setaunya Kavin belum berpacaran lagi semenjak putus dengan Velyn.
Kavin tiba-tiba menarik Nesha dan mencium pipi Nesha tepat di depan Fira. "Kenalin ini Vanesha pacar gue." Kavin sengaja menekankan kata pacar supaya Fira berhenti mengejar dirinya.
"Kak, jangan bohong. Aku denger dari anak osis yang lain kalian gak pacaran cuma sebatas teman aja."
"Kita gak butuh lo percaya atau enggak!" Kali ini Velyn yang menjawab, dia sudah muak melihat tingkah sok polos saudara tirinya ini.
"Kak Velyn diam! Aku lagi bicara sama kak Kavin bukan sama kakak!."
Velyn tidak menanggapi, dia hanya menatap sinis Fira.
"Lo gak percaya?." Kali ini Nesha yang buka suara.
Fira mengangguk, dia masih tidak yakin dengan ucapan Kavin tadi.
"Gue udah pacaran sama Kavin dari dua minggu yang lalu, gue tau Kavin masih belum bisa melepas Velyn sepenuhnya." Nesha berhenti bicara, dia beralih memandang Velyn. Setelah itu dia kembali memandang Fira. "Tapi gue tau, Kavin berusaha buat buka hati sama gue. Dan gue emang mau hubungan gue itu privat sama Kavin, tapi berhubung lo yang suka kepo ini gak percaya jadi gue tegasin ya. Gue Vanesha Keyra resmi pacaran dengan Kavindra dan kami memutuskan akan melangsungkan pertunangan setelah acara study tour selesai." Jelas Nesha, membuat wajah Fira berubah pias. Dia dengan susahnya membuat hubungan Kavin dan Velyn hancur, tapi dia juga tidak bisa mendapatkan kemauannya.
"Udah-udah Sha, percuma lo ngomong sama parasit. Ayo kita pergi, bel udah bunyi kita tinggalkan bibit pelakor ini." Ajak Clara, sambil menarik tangan Velyn dan Nesha. Kavin mengekor dibelakang, sebenarnya dia sangat risih dengan tingkah Fira yang dengan terang-terangan mengejarnya.
Fira masih terdiam ditempatnya, dia mengepalkan tangan dengan wajah yang penuh emosi.
"Gue gak akan biarin kalian berdua bahagia, Kavin dan juga Vanesha." Lirih Fira dengan senyuman jahatnya.
...----------------...
Mas Arzanš¤ is calling
"Halo iya mas."
"Sayang hari ini mungkin mas pulang malam."
"Yaudah gak papa nanti aku pulangnya sama Clara aja, biar Clara main ke rumah."
"Iya, kamu jangan lupa makan terus jangan capek-capek."
"Iya iya mas, mas juga jangan telat makan. Yaudah dulu mas, guru udah masuk kelas ini."
"Semangat belajarnya sayangku." Velyn tidak menjawab, dia langsung mematikan sambungan telfonnya. Velyn merasa seperti ada ribuan kupu-kupu yang terbang diperutnya mengingat ucapan manis dari Arzan barusan.
"Hayoo, pasti bang Arzan gombalin kamu ya." Goda Clara, tidak lupa mengedipkan matanya kepada Velyn.
"Apaan sih Ra"
"Udah ngaku aja, muka lo merah banget Vel."
"Emang iya?." Tanya Velyn polos.
"Ckk, lo udah nikah sama abang gue kok makin blo**n ya Vel."
"Gue tampol mulut lo ya Ra."
Clara meledakkan tawanya, dia tidak perduli dengan guru yang sudah duduk manis didepan. Bagi Clara, membuat kesal Velyn adalah salah satu list wajib yang tidak boleh dilewatkan.
"Nanti gue pulang nebeng lo ya Ra, mas Arzan lembur katanya sekalian main ke rumah."
"Iya gue udah tau, barusan abang chat gue dia nyuruh gue bawa istrinya yang cantik ini tanpa lecet sedikitpun."
"Diem Raaa diem.!" Velyn benar-benar kesal dengan Clara yang tidak berhenti menggodanya.
Clara yang merasa kasihan mengentikan tawanya, dia takut akan dimarahi Arzan jika terus-terusan menjahili Velyn.
Setelah itu mereka sama-sama fokus dengan mata pelajaran.
Di kantor.
Arzan disibukkan dengan beberapa berkas pekerjaan yang harus dikirimkan hari ini oleh Vino ke luar negeri. Arzan yang fokus tidak menyadari dengan kehadiran Nayra yang membawa paperbag berisi makanan.
"Pak Arzan, ini sudah memasuki jam istirahat makan siang. Ini saya bawakan makanan kesukaan bapak. Saya lihat bapak kelelahan karena dari pagi sangat sibuk." Seru Nayra melembutkan nada suaranya.
Arzan menoleh, dia meliat Nayra dengan senyuman manisnya yang tidak terlepas dari wajahnya. Nayra memang menjadi salah satu wanita yang diperebutkan di kantor Narendra, tetapi itu semua tidak berharga dimata Nayra.
"Saya tidak lapar, bawa saja makanan itu untukmu." Ujar Arzan dengan datarnya, ada segurat kecewa diwajah Nayra melihat penolakan Arzan.
"Tapi anda harus minum obat."
Brakkk!!
"Saya bilang, bawa makanan itu!." Bentak Arzan dengan suara meninggi, Nayra kaget mendapat bentakan dari Arzan. Yang Nayra tau, Arzan tidak akan tega membentak wanita.
"Maaf pak, saya permisi." Lirih Nayra, menahan air matanya.
"Lain kali jaga sikapmu nona Nayra, saya sudah punya istri jangan melewati batas!." Tegas Arzan, dan kembali menyibukkan diri didepan laptop. Sepergian Nayra, Arzan meraih ponselnya dan melihat wallpaper yang terpampang foto Velyn saat mengenakan seragam sekolah. Senyum Arzan seketika melembut, dia sangat-sangat menyayangi Velyn dia rela mempertaruhkan segalanya asal Velyn bahagia.
Nayra menangis keluar dari ruangan Arzan.
"Aku tidak boleh lemah, aku harus mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikku." Lirih Nayra menatap sendu pintu ruangan Arzan.
...----------------...
IG:yndwrdn