Evelyn Story'S

Evelyn Story'S
Evlyn-15



Sore ini, mereka berdua memutuskan untuk pindah rumah. Arzan dan Velyn sudah selesai dengan barang-barangnya, Velyn dan juga Arzan berpamitan kepada Tama.


"Velyn pamit ya kek, terima kasih atas kenyamanannya selama Velyn berada disini." Ujar Velyn sambil menyalami tangan Tama.


"Arzan juga pamit kek, sesering mungkin Arzan akan mengunjungi kakek." Sambung Arzan dan melakukan hal yang sama seperti yang Velyn lakukan.


Setelah berpamitan, mereka berdua masuk ke dalam mobil dan menuju rumah baru mereka di antar oleh Vino.


"Vino berhenti di toko roti sebentar ya." Pinta Velyn, Vino menganggukkan kepalanya.


Arzan yang fokus dengan laptopnya, kini beralih memandang Velyn.


"Kenapa tuan?." Sadar diperhatikan Arzan, Velyn bertanya heran.


"Tidak!." Jawab Arzan cepat.


Velyn mengedikkan bahunya acuh, dia kembali fokus dengan buku yang ada ditangannya sementara Arzan diam-diam melirik pergerakan Velyn.


Velyn segera turun saat sampai di toko roti, dia langsung memesan banyak macam donat. Dia sudah berniat, jika hari ini akan maraton drakor sambil makan donat.


Setelah masuk ke dalam mobil, Arzan dibuat heran dengan beberapa box kue yang ada ditangan Velyn.


"Itu donat semua?." Tanya Arzan.


Velyn mengangguk dengan mata yang berbinar. "Tuan tidak suka donat?." Kali ini Velyn yang bertanya.


"Sedikit."


"Oh, tapi maaf ya tuan kalau tuan mau minta saja Vino untuk membelikannya karena ini buat stok sampai nanti malam di rumah." Dengan santainya Velyn berujar seperti itu sambil memakan donatnya.


Arzan terkekeh pelan melihat tingkah Velyn, begitu juga Vino. Mereka berdua heran Velyn mempunyai sikap yang berubah-ubah, kadang dingin kadang seperti anak kecil.


Tidak ada yang berbicara lagi, kecuali terdengar mulut Velyn yang mengunyah donat dengan nikmatnya.


Dua puluh menit kemudian, mereka sampai di alamat rumah mama Velyn. Ternyata lokasi rumah Velyn cukup dekat dengan lokasi kantor Arzan, mungkin hanya membutuhkan waktu lima belas menit untuk ke sana.


Arzan meneliti setiap sudut rumah itu.


...



...


"Maaf tuan rumahnya tidak sebesar mansion anda." Ujar Velyn tidak enak.


Begini saja sudah mewah nona. Batin Vino.


"Tidak, saya suka rumah ini terlihat nyaman."


Velyn tidak menggubris dia melangkahkan masuk ke dalam, ini adalah rumah dari hadiah ulang tahunnya. Rumah ini pemberian Reza dan Elga, Velyn tidak pernah menempati rumah ini karena dia lebih betah tinggal bersama Reza. Berhubung sekarang dia sudah bersuami jadi Velyn berniat tinggal di rumah itu.


"Ayo masuk tuan, Vino." Ajak Velyn mendahului mereka berdua.


"Vino, masukkan saja barang-barang itu ke kamar utama karena tidak mungkin saya menempati kamar atas dengan kondisi tuan Arzan seperti ini." Ujar Velyn sambil memandang ke arah Arzan.


Arzan tidak protes, dia cukup bersyukur karena Velyn mengerti kondisinya.


"Tuan, apa anda lapar?." Tanya Velyn.


"Sedikit."


"Saya pesan makanan dulu untuk kita." Arzan mengangguk, dia juga heran tadi di perjalanan Velyn sudah memakan donat yang banyak dan sekarang dia mengeluh lapar.


...🍩...


"Tuan, nona saya permisi dulu semuanya sudah beres."


Pamit Vino, dan diangguki oleh Arzan dan Velyn.


Setelah kepergian Vino, keheningan terjadi di sana. "Apa tuan sedang sibuk?." Tanya Velyn, sungguh dia bosan dengan suasana seperti ini.


"Ah tidak! Saya hanya merasa bosan."


"Biasanya kalau bosan, kamu melakukan apa?."


Velyn tengah berpikir, dirinya juga tidak mengerti kenapa sekarang merasa bosan. Biasanya dia akan stay di kamar dengan drakornya, apa mungkin Velyn ingin perhatian dari Arzan?.


Tidak! Velyn hanya berusaha bersikap baik dengan Arzan, dia tidak mau menambah luka lagi di dalam hidup Arzan. Sepeduli itu sekarang Velyn kepada suaminya? Entahlah itu datang secara tiba-tiba.


"Saya juga bingung." Kesal Velyn, moodnya benar-benar buruk sekarang karena dirinya bosan.


Arzan mendengus, dia juga tidak tau bagaimana menghadapi perempuan yang moodnya sedang buruk. Jujur dia baru pertama kalinya dekat dengan perempuan yang langsung menjadi istrinya.


Suasana kembali hening, Velyn memilih pergi ke dapur untuk mengambil sisa donat yang ia beli tadi sore.


Brakk....


Terdengar suara benda jatuh dari ruang keluarga, Velyn berlari dia takut terjadi apa-apa dengan Arzan.


Sesampainya di ruang tamu, raut wajah Arzan sudah berubah seperti ada orang lain didalamnya.


"PERGI KAU!!!" Teriak Arzan kearah Velyn, Velyn kaget dengan perubahan Arzan yang seperti ini.


"Tuan, anda ini kenapa?."


Arzan tidak menjawab, melainkan dia menatap Velyn dengan tatapan membunuhnya.


Velyn terdiam kaku ditempatnya, dia melihat tatapan yang sangat datar dari Arzan. Velyn masih tidak mengerti, sampai akhirnya Vino datang dengan berlari ke arah Arzan.


"Maaf nona, saya harus bawa tuan Arzan pergi dari sini?."


"Kenapa, ada apa dengan tuan Arzan?." Tanya Velyn setengah panik.


Vino tidak menjawab, dia segera pergi meninggalkan Velyn. Velyn tidak mengejar mereka, bagi Velyn mungkin perubahan Arzan tadi karena ada suatu masalah dikantornya.


Velyn membereskan peralatan kantor Arzan yang masih berserakan di ruang keluarga. Setelah itu Velyn masuk ke dalam kamarnya.


VinoAsist


Maaf nona, malam ini tuan Arzan tidak pulang. Kita ada meeting mendadak di luar kota.


Velyn tidak membalas pesan itu, dia sudah menduga pasti ada masalah di kantor Arzan. Tapi kenapa Arzan bisa berubah secara signifikan begitu? Entahlah lebih baik Velyn maraton drakor sekarang.


Di lain tempat, Mansion Arzan.


Arzan di kurung oleh Vino, terdengar suara teriakan dan tangisan dari dalam. Vino tidak tega mengurung bossnya seperti itu, tetapi ini harus ia lakukan demi keselamatan Arzan.


Setelah mengirim pesan kepada Velyn, kini Vino masih stay di depan kamar Arzan takut sewaktu-waktu ada kejadian yang tidak diinginkan.


Di dalam kamar, Arzan mengerang kesakitan. Dia memegang kepalanya yang seakan ingin meledak saat itu juga, saat ini ia terlihat bukan seperti seorang Arzan.


Bayangan masalalu itu muncul lagi, bahkan terasa sangat nyata.


"ARGHHHHH!!!!!! Gue benci kalian bangs*t!!!!!" Teriak Arzan.


Dia mencari benda-benda yang bisa melukainya di dalam kamar itu, tetapi dia semakin mengamuk karena tidak ada barang apapun disana.


Arzan semakin mengamuk dan menggila, setelah hampir satu jam keadaannya benar-benar lemah dan dia jatuh tergletak di lantai.


Vino yang sudah tidak mendengar teriakan Arzan, segera membuka kunci pintu kamar itu dan masuk ke dalam. Vino melihat Arzan yang sudah pingsan di lantai, dia memanggil supir pribadi keluarga Narendra untuk mengangkat Arzan ke tempat tidur.


Vino menatap Arzan kasihan, menjadi sekretaris Arzan selama lima tahun membuat Vino mengerti betapa kesepiannya seorang Arzan Narendra. Dan dia sedikit bersyukur dengan kehadiran Velyn di kehidupan Arzan.


"Seharusnya anda bersama dengan nona Velyn tuan, saya yakin nona Velyn pasti bisa membuat anda sembuh dari trauma itu." Ujar Vino lirih, dan meninggalkan Arzan di sana.


...🍩...


IG: yndwrdn05