
Sepanjang perjalanan Vino melihat tuan mudanya yang nampak sangat bahagia, sudah lama Vino tidak melihat wajah Arzan yang tenang.
"Vino, nanti siang kita jemput Velyn untuk pindah rumah."
"Apa nona Velyn tetap ingin tinggal di rumah orangtuanya tuan?."
"Iya dia lebih memilih tinggal di rumah mama Elga daripada di mansionku."
"Apa anda keberatan tuan?."
"Tentu saja tidak, kita bisa memakai mansion itu kalau ada hal yang tidak diinginkan. Jangan lupakan aku tentang waktu itu." Ujar Arzan, sejujurnya dia merasa cemas sendiri tetapi ia tidak ingin Velyn mengetahuinya.
Sesampainya di kantor, wajah Arzan masih berseri. Banyak karyawan yang menatapnya aneh dan juga kagum, menyadari hal itu Vino menggelengkan kepala melihat tingkah tuan mudanya.
"Maaf tuan ini di kantor." Seketika ekspresi wajah Arzan berubah menjadi datar dan dingin Vino sampai menggelengkan kepala karena itu.
...🍩...
Di mansion utama keluarga Narendra, Velyn merasa bosan karena tidak ada hal yang bisa ia lakukan kecuali menonton drakor di hp nya.
Velyn dikagetkan dengan Tama yang mengetuk pintu. "Masuk saja kek tidak Velyn kunci."
Velyn mempersilahkan Tama duduk di kasurnya, mereka berdua saling diam sampai akhirnya Tama membuka suara.
"Apa kamu menyesal telah menikah dengan cucu saya?." Tama bertanya sambil memegang tangan velyn, jujur Velyn merasa tidak nyaman sekarang ia merasa segan kepada Tama.
Velyn terdiam ia bingung harus menjawab apa.
"Saya akan cerita sedikit mengenai cucu saya Arzan." Tama menarik nafas sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Dulu saat Arzan berumur delapan tahun, ia ditinggal pergi oleh mamanya. Mamanya mengidap penyakit yang tidak bisa disembuhkan, semenjak itu papa Arzan anak kandung saya mulai berubah. Dia suka mabuk-mabukan, main judi, dan bermain wanita. Arzan yang tidak tau apa-apa hanya diam, tetapi siapa yang tau dia ternyata adalah anak yang kesepian. Saat mamanya masih hidup, Arzan tidak pernah mendapat kasih sayang dari sosok ibu."
"Mama Arzan selalu pergi ke luar negeri bersama teman-temannya meninggalkan Arzan yang masih membutuhkan kasih sayangnya. Hanya papa Arzan yang peduli saat itu, tetapi hanya sekedar formalitas asal Arzan menurut pasti papanya akan memberikan dia uang miris bukan?. Setelah kepergian mamanya Arzan selalu disiksa di mansion ini oleh papanya, dia dipukul, tidak dikasih makan, dan bahkan pernah dibuang di tempat pembuangan sampah. Beruntung Tania bunda Clara menemukan Arzan."
Tama berhenti sejenak karena mendengar isakan tangis kecil dari Velyn. "Mau saya lanjutkan?." Velyn mengangguk mengiyakan.
"Tania membawa Arzan kembali ke rumah papanya, tetapi ternyata saat itu papa Arzan menikah lagi dengan seorang wanita penghibur. Sejak kedatangan wanita itu Arzan kembali disiksa dengan sangat kejam, Arzan tidak diperbolehkan makan dan minum, bahkan jika Arzan sakit ia haru ikhlas memakan makanan yang sudah basi. Sedangkan papa Arzan menyiksa Arzan secara fisik, sampai Arzan berumur tujuh belas tahun mereka menyiksa Arzan."
"Saya waktu itu baru kembali dari luar negeri dan mendengar kabar itu merasa kaget, cucu kesayangan saya diperlakukan seperti binatang. Saya bawa Arzan pergi dari mansion ini dan saya bawa dia ke psikolog karena kata dokter Arzan terkena Self Injury atau gangguan mental , Arzan mempunyai IQ yang tinggi tapi sayang karena kekejaman tiga orang itu psikisnya jadi terganggu. Selama dua tahun dia menjalani terapi karena setiap kambuh, Arzan akan menyakiti dirinya sendiri dan mengamuk seperti orang gila."
Velyn tidak tahan mendengar cerita masalalu suaminya sendiri, walaupun ia baru kenal dengan keluarga ini tapi Velyn mengingat perjalanan hidupnya yang masih dibilang tidak separah Arzan.
Bagaimana mungkin anak umur delapan tahun diperlakukan seperti itu oleh orangtuanya sendiri, dan penyiksaan itu berlangsung selama sembilan tahun.
"Maaf kek, tapi Velyn tidak sanggup mendengarnya lagi. Apa sekarang Arzan masih sering kambuh?." Tanya Velyn, jujur sekarang ia merasa kasihan dengan pria itu.
"Nanti kamu akan tau sendiri, dan saya harap kamu akan selalu siap saat waktu itu tiba."
"Kenapa Arzan bisa maaf sebelumnya, kondisinya bisa lumpuh?." Tama tersenyum, dia sudah menduga jika Velyn akan menanyakan hal itu.
"Satu tahun yang lalu, Arzan harus menjalani rapat penting keluar kota waktu itu dia tidak bersama Vino karena Vino saya tugaskan ke perusahaan cabang. Kami tidak menduga Arzan akan kambuh saat didalam perjalanan itu, Arzan kecelakaan dan mengakibatkan kelumpuhan pada kakinya sampai sekarang."
Velyn mengangguk dia sekarang sedikit banyak sudah tau cerita tentang suaminya.
"Kembali ke pertanyaan saya, kamu menyesal menikah dengan Arzan?."
"Velyn tidak pernah menyesal atas keputusan yang Velyn ambil kek, sekarang kami sedang beradaptasi. Dan Velyn hanya akan menikah sekali seumur hidup, itu janji Velyn sama mamah."
"Saya memang tidak salah memilih kamu sebagai istri cucu saya."
Velyn yang penasaran memberanikan bertanya kepada Tama. "Kenapa kakek memilih Velyn?."
"Apa kamu tidak ingat pernah bertemu saya sebelumnya?." Velyn menggeleng dia tidak pernah merasa bertemu dengan Tama sebelumnya.
"Saat itu kamu terlibat kasus bully di sekolah padahal itu bukan perbuatan kamu, tetapi Reza papa kamu malah menyalahkan kamu dan memukul kamu didepan semua guru. Waktu itu saya berada di sana untuk rapat karena sekolah itu milik saya."
Velyn mencoba mengingat, tetapi ia benar-benar lupa dengan Tama.
"Sudahlah kamu tidak perlu mengingatnya, yang jelas sejak saat itu saya tertarik dengan kamu. Dan juga saat pertama kali saya datang ke rumah kamu dengan Arzan, hanya kamu yang tidak menatap Arzan sebagai seorang yang lumpuh." Jelas Tama mengusap kepala Velyn.
Velyn tersenyum, dia kembali mengingat perjalanan yang sudah dilewati Arzan. Mulai dari dia disiksa, dan sekarang lumpuh karena kejadian itu. Velyn masih beruntung hidupnya tidak seperti itu walaupun dia juga mendapat kekerasan fisik dari papanya.
Saat ingin melanjutkan pembicaraan, Arzan datang bersama Vino. Velyn mengubah wajah datarnya, dia hanya berusaha menjaga perasaan Arzan.
Tama paham akan hal itu, Velyn memang gadis yang lebih mengutamakan perasaan orang lain buktinya tadi saja dia menangis sesegukan mendengar cerita perjalanan hidup Arzan, sekarang dia bersikap datar seolah tidak ada apa-apa.
Arzan mengernyit melihat wajah Velyn yang sepertinya habis menangis. "Kamu habis nangis?." Tanya Arzan membuat Velyn kaget, dia lupa tidak cuci muka tadi.
"Velyn kenapa kek?." Tanya Arzan, Tama hanya tersenyum sementara Velyn merasa kesal karena Tama tidak membantunya mencari alasan untuk menjawab pertanyaan Arzan.
"Biasa, masalah wanita!." Ketus Velyn dan langsung beranjak pergi ke kamar mandi untuk cuci muka.
Tama tersenyum melihat tingkah Velyn sementara Arzan masih dilanda kebingungan.
"Sudahlah dia tidak apa-apa hanya sedikit cerita masalalu." Ujar Tama dan beranjak pergi keluar dari kamar.
"Ada apa dengan mereka berdua?." Seru Arzan lirih.
...🍩...
IG: yndwrdn05