
Sesuai janji sebelumnya, jika Liana akan mengajak semuanya orang untuk jalan-jalan dan berbelanja ke mall terbesar dan termewah. Dan tanpa dia sadari jika mall tersebut masih dibawah naungan perusahaan tempatnya bekerja.
"Sayang, dikampung mah tidak ada mall sebesar ini. Yang ada hanya supermarket dan itu juga kalo menggunkan troli berukuran kecil saja sudah bertabrakan" ucap Ibu Ati yang hnya fokus melihat-lihat saja tanpa mengambil apa yang dia butuhkan.
"Inikan kota besar Bu, yang jelas akan sebesar ini. Jika kecil maka tidak akan banyak pengunjungnya" ucap Liana yang mulai mengambil barang-barang yang dia butuhkan. Dia mendorong troli dengan bik Warsih yang hanya diam dan mengikutinya saja.
"Iya juga" ucap Ibu Ati yang tersenyum saja. Lalu dia mengambil beberapa makanan dan mereka berpisah untuk berbagi tugas.
"Bik, bibik saja yang belanja kebutuhan dapur dan juga keperluan bibik. Saya mau kesana dulu, sekalian mau membeli laptop baru. Nggak apa-apa kan bik?" tanya Liana yang bertanya dulu sebelum memerintahkan pada bik Warsih.
"Iya Buk, bibi akan belanja keperluan rumah. Ibuk hati-hati" jawab bik Warsih yang segera menuju stan sabun dan kawan-kawan nya.
"Aku harus membeli laptop yang baru. Karena kerjaan aku akan semakin sulit jika masih menggunakan laptop lama. Semoga saja ada dan bisa aku bawa pulang sekarang" gumam Liana yang berjalan penuh dengan senyuman dibibirnya. Sampai dia tidak sadar menabrak seseorang dan...
DUK...
BRUK...
"Maaf-maaf, saya tidak sengaja. Saya... " Liana tidak melanjutkan ucapan nya saat melihat seseorang yang tidak ingin dia temui sampai kapanpun.
"Oh, hay Li. Apa kabar?" sapa Tyas yang mengulurkan tangan nya pada Liana.
"B... Baik" jawabnya singkat lalu memberikan belanjaan Tyas yang tadi terjatuh.
"Maaf, saya buru-buru" ucap Liana setelah memberikan belanjaan Tyas.
"Tunggu dulu Li, kenapa musti buru-buru sih. Baru aku mau ngasih tahu kamu dan memperkenalkan kamu pada suami aku" ucap Tyas dengan sengaja menekankan kata suami pada Liana.
"Oh, selamat. Tapi aku buru-buru dan aku tidak ada waktu untuk berkenalan dengan suami kamu" jawab Liana yang mati-matian menahan tangisnya dan suaranya yang bergetar.
"Sayang sekali, semoga lain kali kita akan bertemu lagi dan aku berjanji akan mengenalkan nya pada kamu" ucap Tyas dengan senyuman mengembang dibibirnya penuh dengan kemenangan.
Liana tidak menjawab lagi, dia segera pergi dari sana. Yang awalnya ingin membeli laptop tidak jadi karena hatinya terasa sakit kembali saat melihat orang yang sudah sangat tegas padanya dan sudah menghianatinya.
'Tuhan, kenapa engkau mempertemukan aku dengan nya lagi. Aku sudah tidak ingin bertemu dengan nya dan berurusan dengan mereka lagi. Sudah cukup rasa sakit ini yang mereka berdua lakukan untuk ku. Tolong kuatkan dan jangan biarkan aku selalu rapuh seperti ini... Tolong bantu aku Tuhan. Hiks... Hiks... Hiks' ucap Liana dalam hati sambil terus menangis dan mengusap air matanya.
Kakinya membawanya entah kemana, dia sendiri tidak tahu. Disaat kalut seperti ini, dia lupa segalanya. Bahkan Ayah dan Ibunya dia tinggalkan begitu saja, dia benar-benar sangat terluka. Hingga dia hampir saja tertabrak oleh mobil jika saja tidak ada seorang pria yang menolongnya.
"Apa anda sudah tidak waras? Kenapa menyebrang jalan tidak melihat-lihat" ucap pria tersebut yang menatap Liana dengan aneh.
"Hey, apa anda mendengar saya!" ucap pria tersebut yang menggoyang-goyangkan bahu Liana lumayan kencang hingga dia tersadar dari lamunan nya.
"Maaf, saya tidak sengaja. Sekali lagi maafkan saya dan terimakasih sudah menolong saya. Saya permisi" ucap Liana yang kembali menyebrang jalan.
"Aneh sekali" gumamnya yang langsung masuk kedalam mobil dan pergi entah kemana.
Liana sudah sampai disebuah taman dan dia menangis sejadi-jadinya juga berteriak disana. Semua orang menatap aneh pada Liana, Liana tidak perdui pada tatapan aneh dari mereka. Yang bisa dia lakukan adalah menangis dan mengeluarkan semua kesedihan nya dan sakit hatinya itu.
Disaat tangisnya sudah mereda ponselnya berdering dan menampilkan nama Ibuk. Liana segera mengangkatnya dan mengatakan jika dia berada ditaman, dan akan segera kembali kesana untuk membayar semua belanjaan yang sudah diambil oleh Ibuk dan bik Warsih.
"Hay, ternyata dunia tidak sebesar itu ya? Kita bertemu lagi disini" ucap seorang wanita cantik yang tidak lain adalah Tyas.
"Sayang, coba kamu lihat kemari. Aku akan mengenalkan kamu pada seseorang, sini sayang" ucap Tyas yang menggandeng tangan Radit dengan sangat mesranya.
Liana hanya diam dan tidak mengatakan apa-apa hanya diam dan menatap kearah dua orang penghianat tersebut.
"Lili" ucap Radit yang terkejut melihat Liana adalah disana.
"Iya, apa ada yang salah dengan saya?" tanya Liana yang mencoba mengatakan nya dengan sedatar mungkin. Walau hatinya sangat sakit.
"Tidak ada, aku hanya mau memberitahu kamu, jika kami sudah menikah dan kamu sebentar lagi akan memiliki momongan" ucap Tyas yang langsung merangkul lengan Radit dengan sangat mesranya.
"Selamat untuk kalian berdua. Kalian memang pasangan yang sangat cocok juga sangat serasi, satunya penghianat dan satunya lagi pembohong. Sangat pas bukan?" ucap Liana yang mengatakan nya dengan tenang dan sedatar mungkin.
"Apa maksudmu! Kenapa kamu mengatakan itu pada kami?" ucap Tyas dengan menahan marahnya dan dia ingin mengangkat tangan nya pada Liana.
"Kenapa? Kenapa kamu marah? Apa kamu merasa dengan perkataan ku barusan? Oh, saya tahu. Apa memang itu benar" ucap Liana yang mengatakan nya dengan sinis juga.
"Kurang ajar, kau..." ucap Radit yang mengangkat tangan nya untuk menampar Liana, Liana sudah menutup matanya dan dia tidak merasakan apa-apa pada wajahnya, karena ada yang menahan tangan Radit untuk tidak langsung menyentuh wajah Liana. Liana bibantu lagi oleh seseorang yang tadi membantunya.
"Orang yang berani mengangkat tangan nya pada seseorang hanya seorang pengecut. Apa lagi mengangkat tangan nya pada seorang wanita" ucap pria tersebut yang menghempaskan tangan Radit menjauh dari hadapan Liana.
"Siapa anda, kenapa anda berani ikut campur dalam urusan pribadi kami? Dia adalah istri saya, dan saya berhak atas dirinya!" ucap Radit yang mengusap pergelangan tangan nya yang tadi dicengkram kuat oleh pria tidak dikenalnya.
"Saya tidak perduli, karena menurut saya. Itu tindakan pengecut, apa lagi jika memang dia adalah istriku anda. Anda berkewajiban untuk menjaganya, bukan melukainya. Ah, sudahlah" ucap pria tersebut yang menatap wajah Liana yang terlihat sangat ketakutan dan juga kesedihan dimatanya.
"Tapi saya bukan istri anda lagi. Bukankah anda sendiri yang bilang jika dia adalah istri anda, kenapa musti mengaku-ngaku menjadi suami saya? Sebaiknya jaga suami anda Nona, karena suami yang pernah menghianti istri sebelumnya. Maka, tidak menutup kemungkinan jika dia akan melakukan hal yang sama. Permisi" ucap Liana mengejar pria yang sudah dia lakukan menolongnya.
"Tuan, terimakasih banyak untuk bantuan yang ada berikan pada saya. Terimakasih anda sudah dua kali menolong saya" ucap Liana yang menunduk mengucapkan terimakasih pada pria tersebut.
"Itu tidak masalah, sebaiknya anda jangan pernah ingin terlihat lemah dihadapan semua orang. Apa lagi jika saya lihat mereka memang sengaja melakukan itu pada anda. Jika ingin terlihat kuat didepan orang lain, maka kuatkan hati anda dulu sebelum melakukan itu. Jika begitu saya permisi" ucap pria tersebut yang segera pergi dari hadapan Liana.
"Kenapa dia mengatakan seperti itu? Apa sangat terlihat jika aku ini memang benar-benar sangat rapuh? Tuhan, orang asing saja bisa melihatnya. Bagaimana dengan Ibuk dan Ayah? Mereka pasti lebih merasakan nya dibanding orang lain. Aku ingin bisa kuat Tuhan, kuatkan aku menjalani semuanya ini" gumam Liana yang langsung menuju supermarket yang ada didalam mall tersebut.
"Lili baik-baik saja Buk, Ibuk tidak perlu khawatir soal itu. Lebih baik kita bayar semuanya dulu, lalu kita akan makan malam disini saja" jawab Liana dengan senyuman mengembang dibibirnya untuk meyakinkan Ibunya.
"Baiklah, kata bik Warsih kamu akan membeli laptop? Lalu kenapa tidak membawa apa-apa ditangan kamu?" tanya Ibuk lagi dan itu membuat Liana menepuk keningnya sendiri.
"Lili lupa Buk, tadi Lili ketoilet dulu. Malah kelupaan untuk membelinya" jawab Liana sambil nyengir kuda menampilkan gigi putihnya.
"Kamu ini" ucap Ibunya yang memeluk tubuh Liana menuju kasir.
Mereka semua sudah berkumpul bersama didalam restaurant yang masih ada didalam mall tersebut. Dan disana juga ada dua orang yang tadi menemui Liana, siapa lagi jika bukan Radit dan Tyas.
"Sayang, bukankah mereka adalah kedua orang tuanya Liana? Apa kita sebaiknya menghampiri mereka sekarang?" tanya Tyas yang sudah selesai makan malam dengan Radit.
"Janganlah sayang, disini tempat umum dan juga sangat ramai. Jangan merbuat macam-macam" ucap Radit yang mencegah Tyas mempermalukan diri mereka sendiri.
"Baiklah, padahal aku hanya ingin menyapa mereka saja sayang" ucap Tyas yang mengerucutkan bibirnya kesal pada Radit yang tidak menuruti keinginan nya.
'Apa salahnya jika aku menghampiri mereka. Padahal aku ingin pamer pada mereka, bahwa aku sudah bahagia dan bisa memiliki pria yang benar-benar mencintaiku. Tapi, ya sudahlah biarkan saja' ucap Tyas dalam hati dan sambil menggerutu saat Radit mengajaknya untuk pulang.
Sedangkan keluarga Liana memang menyadari jika mereka melihat dua orang yang ada disana. Terutama Ibunya Liana, Ayah Liana melarang Ibuk untuk tidak mengatakan apa-apa dan membuat Liana curiga akan sikap mereka. Jadi Liana tidak bisa melihat Radit dan Tyas.
"Ibuk kenapa? Kenapa tidak makan? Apa makanan nya tidak enak, atau Ibuk tidak suka?" tanya Liana yang berhenti makan saat melihat Ibunya hanya diam saja.
"Nggak, makanan nya sangat enak. Ibuk hanya lelah saja, kamu landing tahu sayang, jika Ibuk ini sudah tua. Makanya gampang lelah, jangan khawatir" ucap Ibunya Liana yang tersenyum saat melihat Tyas dan Radit sudah pergi dari restaurant tersebut.
"Ya sudah, lebih baik Ibuk makan yang banyak dan setelah itu kita pulang" ucap Liana yang diangguki oleh Ibunya.
"Iya nak, kamu juga makan yang banyak. Supaya besok saat bekerja makin semangat" ucap Ibunya yang membuat Liana menggelengkan kepalanya.
"Lili masuk kerja mulai senin Buk, besok masih kerja dirumah. Jadi Lili masih ada waktu untuk bisa dirumah saja" jawab Liana yang membuat Ibunya menepuk keningnya sendiri.
"Maklum nak, Ibuk sudah tua. Makanya Ibunya bisa lupa akan hari" ucap Ibunya dengan tertawa.
Mereka makan dengan sangat lahap, setelah makan mereka langsung pulang. Liana sudah terbiasa membawa mobil sendiri dan mereka sampai didepan rumah. Betapa terkejutnya mereka saat sampai, dihalaman banyak sekali sampah dan juga telur-telur busuk yang sengaja dilemparkan kearah rumah Liana. Hingga bau busuk menguar sangat tajam.
"Ya Tuhan, siapa yang sudah tega melakukan ini semua? Tega sekali" gumam Ibuk Ati yang melihat semuanya berantakan dan bau busuk.
"Sudah Buk, Yah. Lebih baik kita masuk saja, ini sudah malam. Biarkan ini kita bersihkan esok hari saja, bibik juga istirahat saja bik. Jangan mengerjakan pekerjaan lain lagi" ucap Liana pada ketiga orang yang dia sayangi.
"Iya nak, Ibuk dan Ayah memang sangat lelah sekali hari ini" jawab Ibuk yang langsung masuk setelah Liana membuka pintu rumah.
"Iya Buk, bibik tidak akan mengerjakan ini sekarang. Biar besok saja, supaya tahu siapa yang sudah melakukan ini semua" jawab bik Warsih yang mengangguk setuju akan perintah dari Liana.
"Terimakasih, kita istirahat saja sekarang" ucap Liana yang langsung mengunci pintu dan menyimpan kuncinya ditempat biasa menyimpan kunci.
.
Seperti ucapan nya semalam, Liana dan ketiga orang itu langsung membersihkan halaman yang bahkan terlihat semakin kotor dari pada semalam. Dia tidak tahu siapa yang melakukan ini padanya dan kenapa bisa setega itu.
"Nak, apa tidak sebaiknya kamu pasang saja CCTV disekitar halaman dan juga teras? Jika perlu pasang diseluruh penjuru rumah, supaya bisa tahu siapa yang sudah melakukan itu pada kita" ucap Ayah memberikan usul pada Liana yang diam sejenak dari kegiatan nya.
"Lili juga berencana seperti itu Yah, tapi Lili terkadang lupa karena terlalu sibuk mengerjakan pekerjaan Lili yang sekarang semakin banyak setiap harinya. Tapi Lili akan menelpon orang untuk memasangkan CCTV dirumah hari ini juga. Lili sudah menelpon mereka tadi, mungkin sebentar lagi akan datang" jawab Liana yang menjelaskan pada Ayah Jaya.
"Itu lebih baik nak. Kita lanjutkan lagi beres-beresnya" ucap Ayah Jaya yang bersemangat kembali.
Mereka mengerjakan semuanya bersama-sama hingga selesai. Saat akan membuang sampahnya Liana mendengar semua orang sedang menggunjingnya dan menghinanya dengan sangat terang-terangan dihadapan Liana langsung.
"Buk, saya tidak pernah menyusahkan kalian semua selama saya tinggal dirumah saya ini. Tapi kenapa Ibuk-Ibuk ini selalu saja mencari masalah dengan saya. Apa saya salah menjadi janda diusia saya yang masih muda ini? Apa saya pernah melakukan kejahatan atau terlihat sedang mengganggu atau menggoda laki-laki yang ada disini? Tentu saja tidak bukan? Tapi kenapa kalian semua selalu saja seperti ini padanya saya, apa salah saya pada kalian semua? Tolong jelaskan pada saya Buk" ucap Liana dengan panjang lebar dan pandangan nya semgabur karena air matanya sudah menggenang dipelupuk matanya, jika Liana sekali saja mengedipkan matanya, maka air matanya akan menetes.
Semuanya hanya bisa diam dan tidak berani mengatakan apa-apa pada Liana, karena Liana sekarang berani bertanya langsung pada mereka yang sudah menggunjingnya. Liana hanya bisa tersenyum tipis melihat segalanya.
"Kenapa kalian semua hanya diam saja Buk? Apa pertanyaan saya terlalu sulit? Jika iya, akan saya permudah dan perjelas lagi. Saya menjadi janda karena keinginan saya sendiri dan saya menceraikan nya, bukan diceraikan. Dan ini bukan aib dan ini suatu kebebasan untuk saya sendiri, Semoga kalian semua mengerti dan berhenti memojokan diri saya" ucap Liana yang menekankan semua ucapan dari mulutnya.
Liana meninggalkan mereka yang hanya berbisik-bisik membicarakan Liana. Dan Liana bisa mendengar jika ini semua atas ulah mantan Mama mertuanya yang memang belum bisa terima jika dia menceraikan putranya yang penghianat itu.
Tapi Liana tidak ambil pusing. Dia hanya diam dulu dan melihat semuanya dari jauh, jika mereka berbuat diluar batas. Maka, Liana akan melakukan tindakan yang akan membuatnya jera sudah melakukan itu padanya.
"Kenapa nak? Apa mereka menggunjing kamu lagi? Biar Ibuk hadapi mereka semua, bila perlu Ibuk bungkam semua mulut mereka itu" tanya Ibuk Ati yang mendekat pada Liana yang sudah masuk kedalam halaman rumahnya.
Visual Liana Marisa, sicantik tenang tapi sangat rapuh.
Raditiya Hermansyah. Jika tidak suka cari visual sendiri ya😁
Visualnya Ayuning Tyas. Sahabat yang tega merebut suami sahabatnya sendiri.