
Ternyata dugaan nya salah, dia tidak bisa bebas begitu saja dari Raditiya dan keluarganya. Saat dia keluar rumah untuk melakukan sesuatu, para tetangga malah menggunjingnya dan menghinanya.
"Lihat tuh, wanita yang sudah tidak bisa punya anak saja belagu. Menceraikan suami tanpa alasan yang jelas. Sebaiknya kita berhati-hati, takutnya dia malah menggoda suami kita lagi" ucap salah seorang dari mereka yang sedang berbelanja sayur.
"Iya, sok kecakepan. Mending jika dia ini cantik dan bekerja, wong pengangguran saja belagunya minta ampun" ucap seorangnya lagi yang bertubuh gempal.
"Iya, sampe rumahnya saja dikuasai sendiri. Suami tidak diberi apa-apa, dasar istri tidak tahu diuntung. Sudah untung ada yang mau menikahi walau mandul. Tapi ya... Namanya juga orang nggak beradab ya pasti tidak akan memiliki etika" ucap seseorang lagi yang berpakaian selalu bagus dan seperti toko emas berjalan.
"Ibu-Ibu, sebaiknya jangan menggunjing orang pagi-pagi. Baik dan benarnya bukan kita yang merasakan, semua orang memiliki fikiran dan keinginan nya sendiri. Jadi lebih baik kita jang ikut campur, apa lagi menyalahkan satu pihak, yang belum tentu itu kebeneran nya" ucap Bu Rt yang juga berbelanja disana dan baru bergabung dengan mereka yang sedang menggunjing dan menghina Liana.
"Bu Rt tidak tahu saja bagaimana aslinya. Makanya membela dia, hati-hati loh Bu. Takutanya dia itu akan menusuk Ibu dari belakang, karena Ibu terlalu baik padanya" ucap Ibu-Ibu yang pertama bicara.
"Iya, lihat saja mana ada wanita yang seperti itu disini. Hanya dia saja yang mempermalukan komplek kita ini dengan kelakuan nya. Nanti tempat kita ini akan tercemar dan terkenal tidak baik" sambung Ibu-Ibu yang bertubuh gempal itu.
"Pagi Ibu-Ibu, maaf. Maksud dari dipermalukan itu seperti apa ya? Apa karena saya sudah menjadi janda dan saya tinggal dirumah saya sendiri? Tolong jelaskan pada saya Bu supaya saya mengerti" tanya Liana yang sebenarnya hatinya terasa sangat sakit dan rasanya dia ingin menangis dan menjerit sekencang-kencangnya.
"Jika yang kamu tanyakan sudah jelas jawaban nya kenapa masih bertanya juga? Apa tidak bisa berfikir? Oh iya, saya lupa jika dia ini tidak berpendidikan" ucap Ibu-Ibu yang yang menggunakan emas sangat banyak.
"Makanya saya bertanya, karena saya tidak berpendidikan. Jika saya berpendidikan maka saya tahu" jawab Liana dengan senyuman yang selalu dia tampilkan.
"Sudahlah jangan diladenin Bu, yang ada akan berdampak negative pada keluarga kita dan anak-anak kita. Ayo pergi" ucap Ibu-Ibu yang pertama dan dia tidak jadi membeli sayurnya, setelah dia mengacak-ngacak sayuran yang ada.
"Bu, bagaimana ini? Kenapa tidak ada beli? Rugi dong saya Bu" tanya penjual sayur yang protes akan kelakuan Ibu-Ibu yang hnya bergosip saja setiap pagi.
"Biar saya yang membelinya bang. Sama ayam, ikan, cumi, udang dan kerangnya ya bang" ucap Liana yang membuat pedangnya merasa senang, jadi dia tidak akan rugi.
"Terimakasih banyak mbak, ini semuanya saya kasih diskon deh. Karena ada beberapa sayur yang sudah sedikit rusak" ucap abang sayur yang menyerahkan satu kantong pelastik pada Liana.
"Ini uangnya bang, terimakasih juga" ucap Liana yang memberikan beberapa lembar uang kertas berwarna merah.
"Bu Rt, saya permisi duluan" ucap Liana sangat sopan padanya.
"Iya mbak Lili, kapan-kapan jika ada waktu ikut kumpul bareng ya. Karena sebentar lagi akan diadakan perkumpulan penghuni komplek untuk saling bantu dan gotong royongnya" ucap Bu Rt dengan ramah dan juga memang hanya dia yang paling baik dari semua Ibu-Ibu yang ada disini.
"Iya Bu, kebetulan saya sedang mengajukan cuti jadi akan saya usahakan datang" jawab Liana yang segera pergi dari sana menuju rumahnya sendiri.
"Nak, kamu kenapa? Apa mereka menggunjing kamu?" tanya Ibunya Ati yang menatap wajah putrinya yang terlihat sangat tidak baik-baik saja.
"Bu, apa status seorang janda itu sangat tidak baik yang Bu, dimata masyarakat?" tanya Liana yang akhirnya menangis dalam pelukan Ibunya.
"Tidak ada yang salah sayang. Pandangan mereka saja yang memang tidak baik, walau kita sudah berbuat baik dan apa yang mereka inginkan. Belum tentu akan terlihat baik, karena sesungguhnya mereka memang sudah tidak menyukai kita. Baik dan buruknya kita yang jalani, jadi jangan dengarkan apa yang mereka katakan pada kita" ucap Ibu Ati yang memeluk tubuh putrinya yang sudah menangis sesegukan.
"Dengarkan Ibu nak, kamu harus bangkit dan jangan dengarkan apa yang mereka katakan. Kamu hanya perlu menjadi diri kamu sendiri, Ibu dan Ayah akan selalu ada untuk kamu. Jadi tersenyumlah dan sambut masadepan kamu dengan senyuman dan keceriaan kamu seperti dulu" ucap Ibu Ati yang mengusap air mata Liana yang mengalir dipipinya.
"Iya Bu, makasih banyak. Jika tidak ada Ibu dan Ayah, aku tidak tahu apa aku bisa melewati semuanya sendiri dengan semua hinaan dari mereka" ucap Liana yang memeluk Ibunya lagi dan mereka tersenyum bersama.
"Kamu belanja sebanyak ini untuk apa?" tanya Ibunya yang melihat Liana membawa kantong pelastik berukuran cukup besar ditangan nya.
"Untuk stok kulkas Bu, kata bibik sudah pada habis persediaan didalam. Makanya aku beli sekarang, nanti juga Lili akan ke supermarket. Apa Ibu mau ikut?" tanya Liana yang sudah menjawab pertanyaan dari Ibunya.
"Tentu saja Ibu harus ikut. Ibu sudah lama tidak shopping-shopping" jawab Ibunya dengan tertawa cekikikan saat mengatakan shopping-shopping pada Liana.
"Boleh juga Bu, kita semua akan pergi. Bibik juga ikut ya" ucap Liana yang melihat kearah bibik yang sedang membuka semua belanjaan Liana.
"Iya Bu, tapi ini kenapa sayurnya pada rusak Bu? Ini harus komplen pada siabang sayur itu, masa nggak ngasih sayur yang bagus" ucap bik Warsih yang memperlihatkan sayuran yang sebagian rusak itu.
"Saya memang sengaja membelinya bik, karena kasihan abang sayurnya. Dia terlihat sedih saat dagangan nya diacak-acak saja oleh mereka tanpa membeli. Jadi saya membantunya, dan ternyata dia juga tidak enak. Jadi ada potongan nya juga tadi" jawab Liana dengan senyuman mengembang dibibirnya.
"Owalah, bibik kira Ibu dibohongi oleh kang sayur itu" ucap bik Warsih yang tersenyum saat mengatakan nya.
"Ya sudah Bu, Lili kekamar dulu ya. Kebetulan pekerjaan Lili bentar lagi selesai" ucap Liana yang langsung masuk kedalam kamarnya, saat dia masuk hal pertama yang dia lihat adalah foto pernikahan nya yang berukuran sangat besar didalam kamar.
"Bik, tolong bakar foto ini yang bik. Dan jika ada yang bersangkutan dengan ini semua langsung bakar saja" ucap Liana yang keluar kembali sambil membawa bingkai foto besar tersebut.
"Baik Bu" jawab bik Warsih yang menerima foto tersebut lalu membawanya kejalanan belakang untuk membakarnya.
Liana kembali menangis dan dia tidak tahu kenapa air matanya tidak berhenti keluar. Apa lagi jika mengingat masalalu yang sudah sangat lama mereka lewati bersama. Memang akan sangat sulit untuk melupakan nya begitu saja.
.
Sedangkan dirumah Radit, lebih tepatnya rumah orang tuanya. Radit sedang duduk disofa dihadapan Mama Hanum dan juga kakaknya.
"Aku juga tidak tahu Ma, jika harta atau rumah itu. Radit memang tidak ada hak sama sekali Ma, karena rumah itu memang dia yang membeli sebelum kami menikah" jawab Radit yang mengusap wajahnya dan dia harus selalu bersama dengan Tyas didalam apartment nya juga.
"Jadi benar, jika kamu sudah menikah dengan wanita itu? Kenapa kamu tidak pernah mengatakan nya pada Mama?" tanya Mama Hanum kembali yang memang sangat penasaran akan kebenaran Radit dengan istri mudanya itu.
"Iya Ma, Radit sudah menjalin hubungan dengan nya lama. Bahkan sebelum aku menikah dengan Lili, tapi selama ini kami selalu bermain cantik dan tidak pernah tercium. Makanya aku jalani hingga kemarin aku menikahinya" jawab Radit dengan sangat lesu dan ada rasa penyesalan yang dalam dihatinya.
"Lalu, apa benar dia sedang hamil? Mama akan menerima dia jika dia memang pantas untuk kamu. Mama tidak mau jika kamu mendapatkan wanita yang salah kembali" ucap Mama Hanum dengan tatapan tajamnya pada Radit.
"Iya Ma, dia sedang hamil tiga bulan. Yang Mama harus tetap setuju, karena aku akan menjadi seorang Ayah. Bukankah ini yang Mama inginkan, seorang cucu? Jadi Mama jangan menuntut aku yang tidak-tidak lagi. Aku sudah memberikan apa yang Mama inginkan" jawab Radit yang mengangguk dan dia menjelaskan semuanya pada Mama Hanum.
"Ya sudah, bawa dia kemari. Mama ingin mengenalnya juga" ucap Mama Hanum dengan datar dan sinisnya.
"Akan aku bawa kemari Ma, aku akan menjemputnya dulu. Dia pasti akan senang mendengar akan dikenalkan dengan Mama" ucap Radit yang langsung pergi membawa mobil nya.
"Semoga saja dia bisa kita manfaatkan juga Ma, seperti Liana yang dengan mudahnya membiarkan kita mengambil barang-barangnya yang berharga" ucap Rafika yang bersemangat untuk bisa mengambil apa yang dia inginkan dari istri barunya Radit.
"Iya, semoga saja memang sama bodohnya, Mama mau pergi dulu, Mama mau menyebarkan gosip tentang siapa Liana yang sudah menceraikan Radit" ucap Mama Hanum yang mendapatkan anggukan kepala dari Rafika.
.
Sedangkan Radit sudah sampai didalam apartment milik Tyas, dia melihat Tyas yang baru selesai mandi. Otaknya yang selalu dipenuhi oleh hal-hal yang berbau mesum langsung menghampirinya dan melakukan nya ditempat itu juga. Diruang tamu saja mereka melakukan nya dengan sangat bersemangat untuk bisa mencapai kenikmatan masing-masing.
"Tumben banget balik lagi kesini sayang? Apa Liana tidak akan marah saat kamu tidak pulang dan menemaninya?" tanya Tyas saat sudah selesai melakukan anu-anu.
"Aku sudah tidak akan kerumah Liana lagi atau bersama dengan nya" jawab Radit dengan lesu mengatakan nya.
"Kenapa? Kenapa bisa?" tanya Tyas dengan tatapan bingungnya.
"Aku sudah diceraikan olehnya dan aku diusir tanpa mengatakan apapun padaku. Makanya aku kemari lagi dan entah tahu dari mana semua bukti-bukti kita berselingkuh dan bahkan kamu sedang hamil. Aku benar-benar tidak tahu, padahal selama ini kita selalu bermain aman kan sayang" jawab Radit yang membuat Tyas tersenyum puas mendengarnya, jadi dia akan menjadi satu-satunya istri Radit.
'Akhirnya, aku bisa melakukan ini juga dan aku sudah menjadi istri satu-satunya Radit. Aku sudah bisa menyingkirkan Liana tanpa aku yang harus mengatakan nya langsung' ucap Tyas dengan senyuman mengembang dibibirnya.
"Jika begitu kita hanya harus memperkenalakan dan mengumumkan hubungan kita ini sayang, kita harus segera mempublikasikan hubungan kita berdua sayang" ucap Tyas dengan sangat semangat dan tentunya sangat bahagia.
"Iya sayang, terserah pada kamu saja. Untuk saat ini, kita kerumah Mama aku dulu. Beliau ingin bertemu dengan kamu dan bisa dekat dengan kamu, apa lagi beliau sudah tahu akan memeiliki seorang cucu" ucap Radit yang bangkit lalu menuju kamar mandi.
"Akhirnya aku bisa merebut apa yang kamu miliki Liana, dengan begitu kamu akan menderita dan tidak bisa memamerkan kemesraan kalian lagi. Karena sekarang dia sudah menjadi milik ku seutuhnya. Nikmatilah kesedihan dan juga keterpurukan kamu itu" gumam Tyas sambil mengusap perutnya yang sudah sedikit terlihat.
"Sayang, kenapa kamu selalu bisa membuat ku semakin ingin lagi dan lagi melakukan nya dengan mu" ucap Radit saat melihat Tyas yang belum menggunakan pakaian malah berpose sangat menantang untuk Radit.
"Aku memang sengaja melakukan ini sayang. Kemarilah, aku sangat menginginginkan nya sekarang juga" jawab Tyas yang membuat Radit mendekat dan langsung memainkan nya, membuat Tyas me*d*s*h berulang-ulang dan siap untuk melakukan nya.
"Kau memang selalu nikmat sayang. Apa lagi sedang hamil seperti ini" ucap Radit yang terus memacu dirinya dengan tempo pelan tapi pasti, karena tidak ingin membuat baby nya kenapa-kenapa.
"Untukmu memang harus yang terbaik dan sepesial dari aku" jawab Tyas disela dessahhan nya.
Mereka melakukan nya cukup lama hingga mereka tidak jadi pergi kerumah Mama Hanum yang memang awalnya akan kesana. Karena mereka berdua masih melakukan anu-anu, jadi gagal sudah rencana mereka berdua.
.
Liana sedang mengerjakan pekerjaan nya, tapi tiba-tiba dia mendapatkan panggilan telpon dari kantor. Dia segera mengangkatnya dan mendengarkan apa yang disampaikan oleh wakil CEO nya. Jika mulai senin Liana harus bekerja secara langsung didalam perusahaan.
Bahkan dia sudah diangkat langsung menjadi direktur keuangan dan itu membuat Liana merasa tidak percaya akan apa yang dia dengar. Dia menjadi direktur sekaligus dalam kurun waktu yang sangat cepat ini.
Ibu Ati sangat senang saat Liana bilang dia akan kembali kekantor lagi dan menjadi direktur keuangan. Dia memang senang jika melihat putrinya senang juga. Tapi bliau selalu mengingatkan supaya harus tetap berusaha memberikan yang terbaik dan bekerja keras untuk bisa membuat dia menjadi lebih baik dan baik lagi.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya untuk like, komen, vote dan hadiahnya ya....
Bintangnya juga jangan sampe lupa ya😉
Thanks and happy reading...🤗🤗🤗