Disaster In Marriage

Disaster In Marriage
Satu bulan



'Nggak biasanya Mama membela menantunya dibanding kakak? Biasanya Mama akan mengatakan jika menantunya yang seharusnya diam. Kenapa ini jadi sebaliknya? Tapi ya sudahlah, berarti Mama akan akur dengan Tyas. Tidak seperti Lili' ucap Radit yang mengatakan nya dalam hati sambil terus mengunyah makanan nya dan menatap satu persatu orang yang ada disana.


'Untung saja aku sudah memegang kartu AS Mama mertuaku. Jika tidak aku akan bernasib sama seperti Liana yang b*doh itu' ucap Tyas dalam hati yang tersenyum sambil terus mengunyah makanan nya.


'Sial!! Kenapa Mama malah membelanya? Sudah jelas aku yang anaknya, kenapa dia yang dibela. Ini pasti ada sesuatu yang tidak beres. Dan aku akan cari tahu, apa yang Mama sembunyikan dari ku' ucap Rafika yang sangat membencinya. Dan dia juga mengepalkan tangan nya


Semuq orang saling diam dan hanya fokus makan saja. Baik Tyas dan Radit tidak ada yang mengatakan apapun lagi. Mereka larut dalam fikiran nya masing-masing.


.


Berbeda dengan keadaan Liana yang sudah seperti mayat hidup. Bernafas, tapi seperti tidak memiliki jiwa. Bahkan setelah dia dinyatakan sembuh oleh dokter saja, dia masih diam dan tatapan nya kosong.


Alfred hanya bisa menatap prihatin. Bahkan dimana dia tidak banyak bicara menjadi lebih banyak bicara. Juga menyewa seseorang untuk menjaga Liana saat dia sedang bekerja. Bahkan semua orang tahunya jika Liana mengalami kecelakaan.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada kamu sebenarnya? Kenapa kamu hanya diam dan tatapan kamu yang kosong? Lalu semua orang beranggapan jika kamu sudah tidak ada?" tanya Alfred yang duduk dihadapan Liana dan dia mengusap pipi Liana dengan sangat lembut.


"Setidaknya kamu katakan sesuatu padaku? Jika kamu seperti itu terus, aku akan membuat kamu tinggal didalam rumah sakit jiwa. Apa kamu ingin itu?" tanya Alfred lagi dengan tatapan penuh kesedihan didalam matanya.


Tapi yang ditanya hanya diam saja. Bahkan tanpa reaksi apa-apa, dia seperti tidak mendengar apa yang Alfred katakan padanya. Bahkan mungkin tidak bisa mendengarnya, semua ucapan dan juga perkataan nya.


"Kamu disini sudah lebih dari satu bulan dan kamu seperti ini terus. Bahkan lebih parah, dokter saja sudah menyerah untuk menangani kamu. Apa yang kamu inginkan? Aku akan melakukan apapun yang kau inginkan" ucap Alfred yang mengatakan nya sambil membelakangi Liana.


saat Alfred sedang berada didalam kamarnya dan bersama dengan Liana. Tiba-tiba ada seseorang yang masuk kedalam pent house miliknya dan yang biasa keluar masuk kedalam pent house nya itu hanya tiga orang. Jika bukan Alfian, maka Mommy atau Daddy nya yang datang.


"AL, apa yang Mommy dengar benar jika kamu menyembunyikan seorang wanita?" tanya Mom Felisha yang ternyata beliau yang datang kedalam pent house miliknya.


"Mom, bisakah jika masuk mengabariku dulu?" bukan nya menjawab pertanyaan dari Mom Felisha, Alfred malah balik bertanya padanya.


"Itu bukan jawaban yang Mommy inginkan AL. Apa yang sudah kamu lakukan padanya?" tanya Mom Felisha dengan tatapan tajamnya dan langsung masuk kedalam kamar Alfred.


"Mom, setidaknya Mommy menghormati prifasi ku" ucap Alfred yang langsung menutup pintu kamarnya kembali.


"Mommy tidak perduli dengan apa yang kamu katakan. Mommy hanya ingin kamu katakan semuanya pada Mommy. Siapa dia dan dari mana asalnya?" tanya Mom Felisha dengan penuh penekanan disetiap katanya.


Alfred memang sangat keras kepala dan juga tidak pernah terbuka pada siapapun. Hanya pada Mommy nya saja yang bisa membuatnya menurut. Karena hanya Mommy nya orang yang dekat dengan nya, juga orang yang sangat dia hormati. Juga selalu didengar semua ucapan darinya, walau tidak terlihat olehnya.


Setelah cukup lama diam dan Mom Felisha sudah menatap wajah Liana yang hanya diam saja walau disekitarnya ada orang yang bertengkar bahkan berkelahi sekalipun. Dia tidak terusik sama sekali akan semua itu. Hingga Mom Felisha menatap tajam pada Alfred.


"Dia Alisha, dan dia sedang mengalami depresi berat. Dia tidak bisa mengingat segalanya dan saat aku akan mengembalikan pada keluarganya, ternyata keluarganya sudah tidak ada semuanya Mom. Dia hanya sendiri" jawab Alfred yang akhirnya mengatakan kebohongan pada Mom Felisha


"Apa kau yakin AL? Mommy tidak percaya padamu! Karena dia bukan Alisha, kamu fikir Mommy ini anak kecil yang bisa kamu bohongi Hah!" ucap Mom Felisha yang ternyata mencari semua kebenaran dan juga bukti yang dia inginkan.


"Jika Mommy sudah tahu kenapa bertanya?" jawab Alfred dengan santainya dan dia berdiri sambil memasukan kedua tangan nya kedalam saku celananya dengan sangat keren nya.


"Apa kau menyukainya AL? Kenapa kamu begitu berubah sekarang? Apa dia wanita yang sangat sepesial untuk mu?" tanya Mom Felisha dengan nada lembutnya dan juga sangat perlahan pada Alfred.


"Entahlah Mom, aku sendiri tidak tahu. Aku hanya bisa melihat kesedihan dan juga luka didalam matanya. Itu saja" Alfred juga mengatakan nya dengan nada lembutnya pada Mom Felisha.


"Apa kamu merasakan sakit melihatnya seperti itu? Apa ada sesuatu didalam diri kamu untuk bisa menolongnya? Jika iya, kamu benar-benar mencintainya AL. Sembuhkan dia dan buat dia menjadi wanita yang baru dan tidak bisa ditindas apa lagi menjadi wanita lemah. Buatlah dia seperti dirimu dan bisa seperti dirimu" ucap Mom Felisha yang malah mendukung Alfred untuk menjadikan Liana wanita yang tangguh dan dingin seperti dirinya.


"Apa Mommy menyetujuinya? Kenapa, apa Mommy sudah tahu segalanya yang aku tidak tahu?" tanya Alfred dengan tatapan datarnya pada Mom Felisha.


"Kau fikirkan saja sendiri. Asal kau tahu, jika kejadian sebelum dia seperti ini. Dia mendapatkan pele*ehan dari mantan suaminya sendiri. Jika kau bahas tentangnya, Mommy yakin dia akan merespon nya dengan baik" ucap Mom Felisha yang menyeringai saat mengatakan nya pada Alfred.


"Maksud Mommy? dia mendapatkan perlakuan tidak baik dari mantan suaminya? Bukankah dia hanya mendapatkan penghianatan saja? Kenapa sampai... "Belum selesai Alfred melanjutkan pertanyaan nya pada Mom Felisha dia melihat Liana mengamuk dan berteriak.


"Mom, apa yang Mommy lakukan padanya?" ucap Alfred yang langsung memeluk Liana dan membetulkan pakaian yang Mom Felisha tarik dengan paksa.


"Kenapa AL? Mommy hanya ingin melihat reaksi kamu saat ada seseorang yang ingin membuatnya terluka. Apa kamu bereaksi seperti dugaan Mommy atau tidak, ternyata memang seperti dugaan Mommy. Jaga dia dengan baik dan buatlah dia bahagia, karena selama ini hidupnya sangat menderita" jawab Mom Felisha dengan santainya dan dia mentap Alfred yang begitu khawatir akan keadaan Liana.


Bahkan dia memeluknya dengan erat saat Liana meronta-ronta dan memukulinya juga menjerit-jerit hingga Liana menagis dalam pelukan Alfred. Alfred mengurai pelukan nya saat Liana sudah lebih tenang dan hanya menangis saja.


"Tenanglah, kamu aman disini dan ada aku yang akan menjaga dan melindungi kamu" ucap Alfred yang mengusap air mata Liana, lalu menatap wajah Liana yang sudah sangat tirus.


"Kamu bisa mendengarku?" tanya Alfred yang menatap wajah Liana yang sudah menghentikan tangisan nya lalu dia mengangguk, untuk pertama kalinya selama satu bulan lebih ini dia merespon ucapan dari Alfred.


"Akan aku lakukan Mom" jawab Alfred yang menatap wajah Liana dengan lekat dan dia memutuskan untuk mengganti identitas Liana yang menyakitkan untuk bisa melupakan segalanya tentang masalalu nya yang menyakitkan.


"Jika kamu bisa mendengarku, sekarang aku katakan. Nama kamu adalah Alisha Bowie dan kamu adalah wanita yang kuat. Kamu adalah tunangan ku, Alfred Donald Harrison. Ingat itu baik-baik dan tanamkan didalam hati dan fikiran kamu. Kamu Alisha Bowie dan aku Alfred Donald Harrison" ucap Alfred yang mengulang kata-katanya pada Liana yang sepertinya merespon ucapan dari Alfred.


"Jika kamu mengerti dan mendengarku, katakan ya dan anggukan kepala mu" ucap Alfred yang tidak mendapatkan respon yang dia inginkan.


"Baru aku senang karena dia tadi mengangguk. Sekarang sudah kembali lagi" gumam Alfred yang menghela nafasnya lalu dia beranjak dari hadapan Liana dan mengambil sesuatu untuk Liana.


"Kamu gunakan ini, ini adalah cincin tunangan kita berdua. Aku sengaja membelikan ini untuk kamu, dan aku juga menggunakan nya. Sama seperti kamu" ucap Alfred yang memasangkan cincin berlian yang sangat mewah untuk Liana. Lalu dia menggunakan tangan Liana untuk memasangkan nya juga pada jarinya.


"Kita sudah resmi bertunangan. Kamu disini dulu ya, aku akan pergi sebenar. Suster yang menjaga mu sedang cuti, jadi tidak apa-apa kan jika aku tinggal sendirian? Aku akan segera kembali" ucap Alfred yang mengusap kepala Liana, lalu dia pergi.


Entah bagaimana, Liana seperti merasakan sebuah kasih sayang tulus dan dia beranjak dari sana. Dia langsung membersihakan dirinya dan berjalan menuju ruangan walk in closet dan menggunakan pakaian yang disediakan oleh Alfred untuknya. Setelah selesai, dia menuju dapur untuk menyiapkan makanan untuk Alfred.


Liana begitu cekatan dalam melakukan pekerjaan nya. Bahkan dia terlihat sangat sehat dan tidak seperti orang yang depresi. Dia hanya menyiapkan makanan yang tersedia didalam kulkas.


Tidak lama kemudian Alfred datang dan mencium aroma masakan menggelitik indra penciuman nya. Dia langsung menuju kearah dapur dan melihat ada berbagai makanan diatas meja. Alfred langsung berlari menuju kamarnya dan melihat Liana sedang membereskan tempat tidur.


"Apa kau sudah lebih baik?" tanya Alfred yang menatap kearah Liana yang hanya diam dan terus mengerjakan pekerjaan nya.


"Baiklah, jika kamu tidak mau mengatakan apa-apa. Apa kamu yang menyiapkan makanan disana? Atau Mommy yang menyiapkan itu semua?" tanya Alfred yang masih belum mendapatkan jawaban atas pertanyaaan yang dia berikan pada Liana.


"Baiklah, jika tidak mau mengatakan apa-apa padaku. Aku akan pergi sekarang" ucap Alfred yang akan pergi tapi tangan nya ditahan oleh Liana.


"Terimakasih" ucap Liana untuk pertama kalinya mengeluarkan suaranya pada Alfred. Dan itu membuat Alfred sangat bahagia, bahkan belum pernah Alfred memperlihatkan kebahagiaan nya pada siapapun. Bahkan saat dia memenangkan tender besar sekalipun.


Tanpa mengatakan apa-apa, Alfred langsung memeluknya dan mengusap punggungnya dengan sangat lembut dan juga penuh kasih sayangnya. Membuat Liana menangis kembali dan dia merasa bersalah pada Liana.


"Hey, kenapa menangis? Maaf jika sudah membuat kamu bersedih. Don't cry oke" ucap Alfred yang bertanya dan mengusap air mata Liana menggunakan ibu jarinya.


Liana memeluk Alfred lagi dan dia merasakan kenyamanan juga ketulusan didalam hati Alfred untuknya. Alfred merasa jika Liana memang sudah lebih baik dari sebelumnya dan dia sudah mau merespon setiap yang dilakukan oleh Alfred.


"Apa ingin menemaniku makan? Aku sudah sangat lapar" tanya Alfred yang merasa Liana sudah melepasakan pelukan nya dan mendongak kearahnya.


Liana hanya mengangguk dan dia menuntun Alfred untuk menuju ruang makan. Disana Liana menyiapkan makanan untuk Alfred dan memberikan nya. Walau terlihat tenang dan diam saja, Alfred merasakan jika Liana sudah lebih baik walau belum mau mengatakan apa-apa.


"Ini sangat enak, apa kau tidak ingin mencicipinya?" tanya Alfred yang mengunyah makanan nya dengan sangat lahap.


Liana hanya diam dan tidak melakukan apa-apa selain hanya diam dan menatap kearah Alfred yang makan dengan lahap. Alfred hanya menghela nafasnya saja saat melihat Liana kembali lagi seperti sebelumnya. Yang hanya diam dan tidak mengatakan apa-apa juga tatapan nya kosong.


'Apa yang harus aku lakukan supaya dia bisa mengatakan sesuatu dan bisa merespon dengan baik? Kenapa begitu sulit membuatnya kembali dan bisa berbicara lagi' gumam Alfred dalam hati yang memandang Liana. Liana juga memandanginya, tapi dengan tatapan kosong.


"Huh, jika kamu merasa sungkan karena adanya aku dan seseorang didalam pent house ini. Aku akan pergi dari sini dan membuat kamu merasa nyaman, jadi jangan diam lagi" ucap Alfred yang tersenyum tipis pada Liana dan Liana menatap kearah Alfred dengan tatapan yang berbeda dari sebelumnya.


"Aku sudah selesai makan. Aku akan mandi dulu, setelah itu baru aku akan pergi dari sini" ucap Alfred yang akan beranjak dari duduknya menuju kamarnya.


Tapi Alfred tidak melanjutkan langkahnya saat tangan nya digenggam oleh Liana. Dia berbalik menatap kearah Liana, Alfred merasa jika Liana memang menahan nya supaya tidak pergi dari pent house ini.


"Jika aku tidak boleh pergi, setidaknya katakan sesuatu padaku Alisha" ucap Alfred yang mengatakan nya dengan nada tegasnya pada Liana.


"Jika kamu tidak ingin mengatakan apa-apa padaku, lepaskan aku dan aku akan pergi dari kamu. Supaya kamu bisa terus diam dan diam selama yang kamu mau" ucap Alfred yang melepasakan tangan nya dari genggaman Liana dengan kasar.


Alfred benar-benar pergi dari sana dan tidak memperdulikan Liana yang menangis saat Alfred meninggalkan nya. Sebenarnya Alfred merasa berat dan bersalah saat meninggalkan Liana sendiri didalam pent house miliknya. Dia hanya ingin bisa menenangkan fikiran nya yang entah kenapa, dia sepertinya sedang sangat banyak fikiran. Karena Alfred tidak seperti biasanya yang seperti ini.


"Maafkan aku, aku tidak ingin marah pada kamu Lisha. Maafkan aku" gumam Alfred saat keluar dari pent house miliknya dan menuju unit lain yang berada tepat dibawah pent house miliknya.


"Aku ingin menenangkan fikiran ku dulu Lisha, jika aku sudah tenang dan kamu bisa lebih baik. Aku akan kembali lagi padamu secepatnya. Maafkan aku" gumamnya yang mencoba memejamkan matanya untuk bisa melupakan amarahnya yang tadi sangat membumbung tinggi.


Tiba-tiba ponselnya berdering dan menampilkan nama orang yang berbuat mood nya semakin hancur saja. Bagaimana tidak hancur, dia harus segera bersiap untuk bertemu dengan klien yang baru datang dari Italia untuk bisa menemuinya sekarang juga.


Walau kesal, Alfred tetap menemuinya. Dan mereka membahas masalah pekerjaan dan juga kerjasama yang akan mereka jalin untuk kesekian kalinya. Hanya sekarang akan bergabung dengan perusahaan yang ada disini.