
"Tidak perlu Buk, Lili sudah membuat mereka bungkam saat ini. Biarkan saja mereka mau mengatakan apa, yang penting unik Lili hanya Ibuk dan Ayah saja. Selebihnya biarkan saja" ucap Liana yang merangkul lengan Ibunya untuk masuk kedalam rumah.
"Ih, bau asem" ucap Ibunya menggoda, lalu mereka berdua tertawa bersama dengan sangat bahagisa sekali.
"Kalian ini bukan nya membersihakan diri, malah tertawa-tawa disini" ucap Ayah Jaya yang sudah mandi dan juga terlihat sangat wangi.
"Wah, Ayah sushi sangat wangi sekali. Mau kemana Yah?" tanya Liana yang mendekat kearah Ayah Jaya.
"Ayah ingin jalan-jalan sebentar keluar. Tapi nanti setelah Ibuk selesai mandi dan dandan cantik untuk Ayah" ucap Ayah Jaya yang membuat Liana menggoda Ibunya yang tersenyum malu-malu.
"Sudah, Ibuk jangan malu-malu seperti itu. Ayah ngajak Ibuk kencan tuh" ucap Liana yang langsung mendapatkan cubitan gemas dari Ibunya.
"Ish, kamu ini ngomong apa sih. Ibuk ini sudah tua, masa ada istilah kencan segala" ucap Ibuk dengan pipi yang merona karena malu digoda oleh putrinya.
Mereka terlihat sangat romantis sekali, walau usianya sudah tidak muda lagi. Tapi keduanya selalu bisa membuat hati Liana menghangat dan merasakan kebahagiaan juga. Bahkan Liana sangat menginginkan pendampingnya kelak sama seperti sangat Ayah. Walau dingin dan jarang berbicara, tapi sangat baik dan juga pengertian.
'Tuhan, jika memang aku ditakdirkan untuk memiliki pendamping kelak, berikan yang seperti Ayah. Pria baik dan juga penyabar seperti beliau, biar tidak memiliki apa-apa dan pekerjaan tetap tidak masalah. Asalkan dia setia dan tidak pernah berbuat ulah' ucap Liana yang berdo'a untuk dirinya supaya menemukan pria yang sama seperti Ayah nya.
Liana seperti biasa mengerjana tugas yang diberikan padanya. Hingga hari-hari berlalu dengan cepat, dia hari ini akan ke Mall lagi untuk membeli laptop untuknya bisa bekerja dengan baik. Karena laptop lamanya sudah tidak bisa dia gunakan lagi, selain sudah tidak bagus, kegunaan nya juga berkurang. Mungkin karena sudah terlalu lama.
Liana bersiap untuk pergi. Dia sudah tampil sangat cantik dan sederhana, karena Liana tidak suka sesuatu yang berlebihan.
"Kamu mau kemana nak? Inikan hari libur" tanya Ibuk Ati yang melihat Liana sudah sangat rapih, juga cantik.
"Lili mau membeli laptop Buk, besok Lili sudah bekerja dikantor. Jadi Lili harus mempersiapkan segalanya Buk" jawab Liana yang segera pamit pada Ibunya dan Ayah.
"Hati-hati dijalan nak" ucap Ibuk saat Liana sudah masuk kedalam mobilnya.
Liana langsung pergi dan menuju Mall terdekatnya saja, karena dia tidak ingin menghabisakan waktu hanya untuk kesana. Dia sampai dan memebeli laptop pilihan nya yang sesuai dengan keinginan nya sendiri.
"Akhirnya bisa beli ini juga. Aku harus segera pulang saja, aku tidak ingin terlalu lama diluar seperti ini. Tapi pakaian kantorku sudah lama aku berikan, sebaiknya aku belanja saja pakaian nya. Masa harus menggunakan pakaian biasa" gumam Liana yang menuju stan pakaian kerja dan perlengkapan nya.
Liana membeli beberapa pakaian dan celana saja. Dia lebih suka menggunakan celana dibandingkan rok, karena lebih leluasa dalam bergerak. Dia sangat antusias membeli semua perlengkapan kerjanya hingga selesai dan tidak sengaja dia bertemu dengan seseorang yang sangat dia kenal.
"Hai, kamu belanja disini juga?" tanya seorang pria muda yang tidak lain adalah Bosnya dikantor Alfian Syah.
"Eh, i... Iya Pak, Bapak juga belanja disini?" jawab Liana yang menengok kearah Alfian.
"Ini memang store langganan saya. Apa ini langganan anda juga Nona Liana?" jawabnya yang balik bertanya pada Liana.
"Tidak Pak, kebetulan saya membutuhkan sesuatu dan disini ada semua yang sedang saya cari" jawab Liana yang segera pamit saat petugas kasir memanggilnya untuk membayar.
"Saya permisi duluan Pak. Senang bisa bertemu dengan anda disini" ucap Liana yang membungkukan tubuhnya pada Alfian.
"Iya, saya tunggu besok dikantor. Karena akan ada meeting membahas masalah pengangkatan anda dan juga penyambutan CEO kita, yang baru datang dari Italia" jawab Alfian yang mengatakan jika mereka akan sibuk besok.
"Baik Pak, saya permisi" ucap Liana yang langsung pergi dari srtor tersebut.
"Jika bukan Pak Alfian bukan CEO, lalu siapa CEO nya?" gumam Liana yang sudah masuk kedalam mobil.
"Besok pasti akan melihatnya langsung" gumamnya lagi lalu melajukan mobilnya menuju arah pulang.
Liana tidak pernah merasa sebahagia dan sebebas ini dalam mengambil tindakan. Biasanya dia akan selalu ini dan selalu itu, menuruti keinginan Radit. Bahkan sesuatu yang bukan dirinya, dia hanya bisa diam dan menerima semuanya apa yang dikatakan oleh Radit.
"Sudah pulang nak?" tanya Ibuk saat melihat Liana masuk kedalam rumah.
"Iya Buk, Lili masuk lame dulu ya Buk. Mau nyimpen ini dulu" jawab Liana yang segera masuk kedalam kamarnya untuk menyimpan barang belanjaan nya dan memilah barang-barangnya yang sudah tidak terpakai. Rencananya akan dia sumbangkan pada yang membutuhkan nantinya, jadi tidak akan mubazir.
"Kenapa perasaan ku tidak tenang ya? Apa mungkin pekerjaanku sekarang membuat aku kesusahan atau bagaimana? Tuhan, tolong selalu lancarkan segala urusan ku Tuhan" ucap Liana yang hatinya tidak tenang dan jantungnya juga berdetak kencang.
"Semoga saja semuanya baik-baik saja" gumamnya yang langsung keluar setelah membawa dus berukuran sedang untuk dibawa pada yang membutuhkan.
Liana mengobrol dengan Ibuk dan Ayah nya. Mereka membicarakan apa mungkin mereka berdua akan selalu tinggal disana atau pulang kampung. Karena Liana selalu meminta untuk mereka ada disini untuk menemani dirinya. Apa lagi jika hanya berdua dengan bik Warsih, dia takut jika nanti baik Radit atau keluarganya yang lain akan mengganggunya. Mungkin akan membuatnya susah menghadapi mereka semua yang memang selalu benar.
.
Sedangkan ditempat lain dua orang pria sedang berada disebuah club malam yang sangat megah. Dengan salah satu dari mereka ditemani oleh para wanita cantik dan juga sangat sexy tentunya. Sedangkan seorang pria berwajah dingin dan terlihat masih sangat muda, walau usianya sudah matang. Mungkin karena dia memiliki wajah baby peace hanya sendiri dengan wajah datarnya.
"Al, apa kamu sudah siap untuk jadi CEO diperusahaan keluarga kamu? Daddy kamu sudah berulang kali mengatakan itu padaku" tanya Alfian, saudara sepupu Alfred.
"Kau ini adalah pewaris satu-satunya dan kerajaan bisnis terbesar didunia. Aku tidak mungkin selalu menyembunyikan kamu dari dunia terus-menerus" ucap Alfian yang sudah meminta wanita-wanita itu keluar.
"Aku tidak perduli, jika kamu sudah tidak ingin berada disamping ku lagi, tidak masalah. Kau boleh pergi" jawab Alfred dengan santainya dan tanpa ekspresi apapun.
"Oke, jika kamu menginginkan aku untuk pergi. Karena aku juga sudah lelah selalu menuruti apa yang kau inginkan. Aku juga sedang dibutuhkan diperusahaan keluarga aku sendiri, jadi mulai sekarang urus semuanya sendiri dan tidak perlu menghubungi ku lagi" ucap Alfian yang langsung pergi setelah mengatakan itu pada Alfred.
"Dasar flat. Dia fikir dia siapa, seenak jidatnya saja ngomong gitu. Kalo bukan uncle Donald yang mengatakan untuk menjaganya. Ogah banget aku melakukan nya, sudah dewasa saja tidak berfikir dewasa" gerutu Alfian yang menuju mobilnya.
"Aku harus mengatakan ini pada uncle Donald, jika putra satu-satunya ini susah untuk diberi tahu" gumamnya lagi saat sudah didalam mobil.
Seperti ucapan nya tadi, jika dia akan menemui. Karena keluarga Donald Harrison sedang berada disini untuk memantau kinerja putra mereka berdua.
"Malam uncle, auntie" sapa Alfian yang mencium punggung tangan kedua orang tuanya Alfred.
"Dimana anak nakal itu? Kenapa dia tidak ikut dengan kamu pulang? Apa dia membuat ulah lagi dan membuatmu susah?" tanya Mom Felisha menatap wajah keponakan nya ini.
"Seperti dugaan auntie, dia sangat sulit untuk melakuakan pekerjaan nya disini dan mengembangkan nya. Dia hanya mengandalkan ku saja, mungkin karena dia tidak suka berada disini" jawab Alfian dengan Sejujurnya yang dia ketahui.
"Anak itu, padahal disini adalah tempat kelahiran nya. Malah tidak betah disini" ucap Mom Felisha yang hanya bisa menghela nafasnya.
Mom Felisha memang asli warga negara ini, sedangkan Dad Donald berasal dari Italia. Jadi sudah dipastikan jika mereka melahirkan penerus yang blasteran. Mereka memang sudah sangat lama tidak pulang kemari karena sibuk mengembangkan bisnisnya. Dan sekarang baru kembali dan bersama dengan putra tunggalnya.
"Dia memang sejak kecil tidak bisa tinggal disini, karena cuacanya tidak bisa ditebak. Jadi dia tidak suka, biarkan saja dulu Mom, jika dia sudah bisa adaptasi pasti mengerti dan dia akan betah disini" ucap Dad Donald yang mencoba membuat istrinya bisa lebih sabar lagi menghadapi putranya yang memang sangat berbeda dengan mereka berdua.
"Baiklah, Mommy akan bicara padanya baik-baik dan menanyakan semuanya" ucap Mom Felisha yang menghela nafasnya kasar.
"Baiklah uncle, auntie. Aku pulang dulu, Mami sama Papi pasti sudah menunggu dirumah" ucap Alfian yang pamit pulang.
Saat Alfian akan masuk kedalam mobil, dia melihat mobil yang dikendarai oleh Alfred baru memasuki halaman mainson mewah tersebut. Alfred berjalan dengan langkah tegapnya menghampiri Alfian yang hanya berdiri menatap sepupunya.
Alfred melewati Alfian begitu saja tanpa mengatakan apa-apa. Yah mungkin bagi Alfian ini sudah biasa, karena dia sudah mengenalnya sejak kecil dan mereka selalu bersama hingga sekarang. Untung saja Alfian memiliki saudara yang bisa diandalkan dalam memimpin perusahaan keluarganya. Jika tidak dia tidak mungkin melakukan itu sekarang dengan Alfred.
Alfian hanya bisa menghela nafasnya saja lalu dia memasuki mobilnya dan pergi dari mainson keluarga Harrison. Alfred sedang duduk didepan kedua orang tuanya yang sedang menatapnya datar juga. Baik Alfred, Mom Felisha dan Dad Donald tidak ada yang mau membuka mulutnya sendiri.
"Kenpa kamu menolak untuk memimpin perusahaan disini? Sedangkan hotel dan apartment kamu mau mengurusnya" tanya Mom Felisha yang sudah jengah akan sikap dingin dan diam putranya.
"Karena tidak menyukai bidang itu" jawabnya tanpa beban dan ekspresi diwajahnya.
"Jika tidak menyukainya, kenapa kamu malah menyetujui untuk membangun perusahaan disini? Dan kamu sendiri yang merekrut kariawan kamu sendiri" tanya Dad Donald yang menatap datar juga pada Alfred.
"Karena aku kira Daddy yang akan menjalankan nya. Makanya aku setuju dengan usulan Daddy dan Mommy membangun perusahaan disini" jawab Alfred menatap wajah kedua orang tuanya.
"Daddy sudah memutuskan, jika kantor pusat akan berpindah kemari. Dan kamu yang akan memimpin nya disini, karena Mommy dan Daddy sudah. memutuskan untuk pensiun dan hanya sesekali datang keperusahaan. Daddy tidak menerima penolakan darimu lagi Alfred Donald Harrison" ucap Dad Donald dengan sangat tegas dan tidak menerima bantahan sedikit pun dari Alfred.
"Baiklah Dad, atur saja semuanya sesuai keinginan Daddy. Aku pulang" ucap Alfred yang akan beranjak dari duduknya namun ditahan oleh Mom Felisha.
"Disini rumah kamu Al, kenapa kamu ingin pergi lagi? Apa kamu tidak bisa tinggal disini saja tanpa di pent house mu itu? Apa karena ada seorang wanita didalamnya, makanya kamu betah berada disana? Iya Al? Jawab Mommy!" tanya Mom Felisha dengan sangat tegas dan juga penuh penekanan disetiap katanya.
"Dia bukan siapa-siapa dan dia sudah pergi. Dia disana hanya mencari bukti,setelah itu dia pergi dari pent house milik ku, apa Mommy puas atas jawaban nya? Jika sudah, dan tidak ada yang dibahas lagi. Aku pulang" ucap Alfred yang langsung pergi dari hadapan kedua orang tuanya yang hanya bisa menghela nafasnya dan mentap punggung Alfred yang menjauh.
"Kenapa dia sangat sulit untuk diatur Dad? Mommy menyerah dengan nya, dia sudah banyak berubah semenjak Albert dinyatakan meninggal, bahkan dia lebih dingin dan tidak tersentuh sama sekali. Mommy takut jika nanti tidak akan ada wanita yang mau dan menerima dirinya, Mommy takut jika dia tidak ingin menikah. Dan apa yang akan terjadi padanya dan keluarga kita?" ucap Mom Felisha dengan menunduk sedih, apa lagi putra pertamanya yang sangat hangat dan humble itu meninggal karena sakitnya yang tidak pernah dia katakan pada mereka semua.
"Kita lihat dan pantau saja dia seperti apa. Jika memang harus kita yang bertindak, maka kita akan bertindak untuk mencarikan seorang wanita yang mau menikah dengan nya, baik itu janda atau apapun. Asalkan dia baik dan menerima Alfred sepenuh hatinya, baik dari keluaga sederhana atau miskin sekalipun. Kita hanya harus mencarinya saja, atau menunggu kehadiran nya yang akan merubah dia seperti dulu lagi" ucap Dad Donald yang merangkul Mom Felisha untuk bisa lebih tenang dan tidak berfikiran macam-macam.
"Iya Dad, Mommy juga setuju akan usulan itu" ucap Mom Felisha yang menghela nafasnya dan membalas pelukan dari suaminya.
.
Sedangkan didalam pent house, Alfred sedang mantap CCTV nya berulang-ulang. Dimana wanita itu selalu menangis dan tidak pernah tidak menangis, bahkan dia sudah mencari tahu semuanya tanpa terlewat. Hingga dia menatap semua bukti yang ternyata dia retas saat wanita itu tertidur dan lupa mematikan laptopnya.
"Dadar b*ji**an, pria sepertinya dia tangisi dan malah mencari bukti ini untuk menyakiti dirinya sendiri? Apa yang sebenarnya kau inginkan dari ini semua? Dasar aneh" gumamnya yang terus mengulang-ulang rekaman CCTV tersebut.
"Makanya aku meminta untuk dia bekerja diperusahaan langsung. Dengan begitu aku bisa memantau semuanya dari dekat. ****! Kenapa aku selalu memikirkan nya. Come on Al, jangan berfikiran macam-macam dan stop memikirkan dirinya, oke" ucapnya yang langsung menutup layar laptopnya dan dia merebahkan dirinya diatas ranjang yang sama dengan wanita yang pernah menyewa pent house miliknya ini.
"Aromanya masih tertinggal disini. Hanya pria b*e**s*k yang melakukan ini semua pada wanita yang begitu lembut dan keibuan. Apa yang aku fikirkan sebenarnya" ucapnya lagi sambil mengacak-ngacak rambutnya hingga berantakan.