Disaster In Marriage

Disaster In Marriage
Panas dingin



"Ada apa dengan ku? Kenapa badanku terasa panas dingin seperti ini? Apa yang terjadi padaku" gumam Alfred yang membantu Liana menggunakan pakaian nya.


"Apa aku sakit, badanku rasanya benar-benar tidak karuan. Apa lagi kenapa dia malah terbangun seperti ini? ****!! Dia bangun karena melihatnya tidak menggunakan pakaian. Lain kali jangan seperti ini lagi, biarkan suster yang menggantikan pakaian nya saja" gumam Alfred yang segera merendam dirinya menggunakan air dingin.


"Jika seperti ini terus, sudah bisa dipastikan. Jika aku akan melakukan lah yang sama seperti mantan suaminya yang ba*ingan itu" ucapnya yang terus mengumpat karena senjatanya tidak mau tertidur.


Akhirnya setelah berjam-jam berendam dan Alfred juga sudah menggigil kedinginan. Mungkin dia langsung terserang demam, dan itu tidak ada yang tahu. Dia hanya diam dan berulangkali bersin-bersin.


HACIH...


HACIH...


HACIH...


"Sepertinya aku memang langsung demam dan flu. Apa yang harus aku lakukan jika sudah seperti ini? Rasanya sangat lemas sekali" gumam Alfred yang segera membaringkan tubuhnya diatas ranjang dan memunggungi Liana.


"Rasanya sangat dingin" gumam Alfred yang menggigil kedinginan. Hingga dia membungkus seluruh tubuhnya menggunakan selimut tebalnya.


Alfred benar-benar terserang flu, mau bagaimana lagi jika sudah seperti itu. Bahkan Mom Felisha tidak tahu jika putranya sedang demam dan tinggal bersama dengan ODGJ(Orang Dengan Gangguan Jiwa). Jadi mana bisa orang memiliki gangguan mental bisa menjaganya dan mengobatinya.


Tapi dugaan nya salah. Jika Liana malah merawat Alfred hingga sembuh, bahkan tidak ada yang tahu. Alfred saja tidak tahu jika dirinya dirawat oleh orang gangguan jiwa. Siapa yang tahu.


Semalaman Alfred hanya mengigau dan dia tidak ingat apa-apa selain dia habis berendam dan langsung tertidur dalam ingatan nya. Dia memegang keningnya dan ada sesuatu yang menempel dan ada tangan sedang menggengam tangan nya.


'Tangan siapa ini? Dan siapa yang semalam merawatku?' tanya Alfred dalam hati dan memegang tangan seseorang yang sedang duduk dilantai sambil menelungkupkan kepalanya.


"Siapa dia? Kenapa dia bisa ada disini dan dikamar ini? Lalu, diamana Alisha. Kenapa dia tidak terlihat" gumam Alfred yang menyingkirkan tangan nya dari genggaman tangan seseorang ini.


"Alisha? Dia yang sudah melakuan ini padaku? Dia yang sudah merawatku semalaman dan duduk dilantai dengan posisi seperti itu" gumam Alfred yang segera bangun dan mengangkat tubuh Liana yang tidak bergerak sedikitpun.


"Kenapa dia bisa melakukan seperti ini? Apa akan bawah sadarnya memintanya seperti ini? Dia memang seperti ini atau hanya pura-pura? Jika dia berpura-pura kenapa dokter yang menanganinya semua mengatakan hal yang sama dan mereka adalah orang-orang yang random, juga tidak saling kenal satu sama lain. Bahkan mereka memeriksanya dihadapanku. Aku pasti sudah tidak waras, karena berfikir jika Alisha baik-baik saja" gumam Alfred yang menatap wajah Liana dengan lekat dan juga melihat ada beberapa berkas luka yang ada dipergelangan tangan nya.


"Apa yang sudah dia lakukan pada tangan nya? Kenapa semua banyak luka dan berdarah-darah seperti ini?" tanya Alfred pada dirinya sendiri dan memegang kedua tangan Liana.


Alfred sekarang yang merawat Liana dan dia mengobati luka-luka ditangan Liana. Membersihakan luka-lukanya dan mengolesi lukanya dengan salep dan membalutnya menggunakan perban.


"Apa yang sudah kamu lakukan dengan tangan kamu? Apa yang sudah kamu lakukan semalaman, sampai seperti ini?" gumam Alfred yang terus menatap kearah Liana.


"AL, kenapa kamu tidak..." ucap Mom Felisha tidak melanjutkan ucapan nya saat masuk kedalam kamar dan melihat Alfred sedang duduk mengobati Liana.


"Apa yang terjadi padanya AL?" tanya Mom Felisha yang kedua tangan Liana penuh dengan perban.


"Entahlah Mom, saat aku bangun dia sudah seperti ini. Makanya aku obatin" jawab Alfred yang menatap kearah Liana.


"Bagaimana kamu tidak tahu AL? Tidak biasanya kamu seperti ini saat tertidur tidak mengingat apa-apa" tanya Mom Felisha lagi sambil menatap kearah Liana dan Alfred.


"Aku, aku semalam demam dan entah kenapa dia bisa merawatku. Tapi saat aku bangun sudah melihat dia seperti ini dan sudah tidak sadarkan diri lagi" jawab Alfred yang beranjak dari duduknya menuju kearah kamar mandi.


"Apa!! Jadi, dia merawat kamu semalaman? Bagaimana bisa?" tanya Mom Felisha dengan berteriak pada Alfred.


"Aku tidak tahu pastinya Mom. Dia tadi pagi saat aku bangun seperti sudah merawatku, bisa Mommy lihat sendiri bukan. Kamar ini sangat berantakan dan juga ada beberapa barang yang pecah" jawab Alfred yang menghela nafasnya dan dia segera keluar dari kamar untuk meminta pelayang membereskan semua kekacauan didalam kamarnya.


"Kasihan sekali kamu nak, kamu harus menderita seperti ini. Sedangkan orang yang sudah membuat kamu seperti ini berbahagia diluaran sana. Segeralah sembuh sayang, supaya kamu bisa membalaskan dendam pada orang-orang yang sudah membuat kamu seperti ini" ucap Mom Felisha setelah kepergian Alfred dari kamar.


"AL, apa dokternya akan datang kemari? Kenapa belum datang juga?" tanya Mom Felisha saat Alfred masuk kedalam kamar.


"Dia sudah datang Mom" jawab Alfred bersama seorang dokter yang kemarin menyarankan untuk dibawa kenegara ini.


Dokter memeriksa Liana dengan sangat teliti. Bahkan hingga ke lukanya, jadi dia menyimpulkan untuk segera menjalani pengobatan. Untuk menghindari kejadian seperti ini terulang kembali. Melukai dirinya sendiri dan bisa lebih parah lagi jika tidak segera diobati.


"Tuan Muda, Nyonya. Sebaiknya kita bawa ke klinik saya langsung, pasien akan lebih parah jika tidak segera ditangani" ucap dokter Ferry yang sudah memeriksa kondisi Liana.


"Lakukan yang terbaik untuknya" ucap Alfred yang menatap Liana dengan tatapan datarnya. Padahal didalam hati dia merasa sedih dan juga terluka melihat Liana seperti itu.


"Akan saya lakukan yang terbaik Tuan Muda" jawab dokter Ferry. Dan mereka pergi mengantarkan Liana menuju klinik dokter Ferry.


"Anda bisa menjaganya disini Tuan Muda. Dan jika anda bisa setelah pasien sadar kami akan melakukan pengorbanan nya segera" ucap dokter Ferry yang mempersiapkan ruangan untuk tempat pemeriksaan.


"Lakukan saja tugasmu dengan baik dan tanpa kesalahan" ucap Alfred menatap tajam pada dokter Ferry.


"B... Baik Tuan Muda" jawab dokter Ferry yang ketakutan.


Dokter Ferry melakukan hipnoterapy pada Liana dan melakukan nya lumayan lama. Dengan ditemani oleh Alfred disampingnya, Alfred tidak ingin berjauhan dengan Liana. Karena dia tidak percaya pada dokter Ferry atau siapapun.


Setelah melakukan pemeriksaan dan juga hipnoterapy, Liana diperbolehkan untuk pulang. Begitu setiap harinya hingga semuanya berjalan lumayan lama. Dan hati berganti hari, bulan berganti bulan. Tepat sudah hampir sepuluh bulan lamanya. Kondisi Liana sudah lebih baik dan bisa diajak ngobrol, walau masih banyak diam dan kadang juga tidak mengatakan apa-apa saat ditanya.


"Bagaimana keadaan kamu sekarang sayang? Apa masih merasakan sesuatu?" tanya Mom Felisha yang bertanya pada Liana yang sudah resmi berganti nama menjadi Alisha Bowie.


"Tidak ada Mom" jawabnya singkat dan tidak mengatakan apa-apa lagi.


"Iya Mom" ucap Alisha yang melakukan kegiatan seperti merangkai bunga dan melakukan kegiatan-kegiatan lainnya.


Bahkan dia lebih sering berenang dan juga melatih ilmu bela dirinya. Sehingga sekarang sudah mahir melakukan berbagai serangan dan menahan serangan. Senjata saja dia sudah bisa menguasainya. Alisha sudah benar-benar tidak ingat akan masalalu nya, karena masalalunya sudah dikunci sangat dalam dan mungkin akan sulit untuk mengingatnya.


Karena itu adalah keinginan alam bawah sadarnya. Yang tidak menginginkan ingatan itu membuat dirinya menjadi lemah dan mudah untuk ditindas, bahkan Alfred juga merubah wajahnya menjadi sangat berbeda. Membuat semua orang tidak akan bisa mengenalinya lagi, bahkan rahasia ini hanya mereka yang tahu akan ini semua.


"Ya sudah, apa kamu mau ikut Mommy jalan? Mommy merasa jenuh dimainson terus. Kita Jurassic semua uang dua pria kaku itu" tanya Mom Felisha yang menaik turunkan alisnya pada Alisha.


"Boleh juga Mom. Aku juga ingin membeli sesuatu untuk memberikan nya kejutan, bukankah hari ini adalah kedatangan nya kemari Mom? Aku akan berikan kejutan untuknya" jawab Alisha yang bersemangat dan dia akan selalu ingat terus hati dan tanggal kedatangan Alfred ke Jerman.


"Benar juga. Kita siapkan saja semuanya, kita pergi sekarang?" tanya Mom Felisha lagi yang dijawab anggukan kepala oleh Alisha.


Mereka berjalan seperti Ibu dan anak saja. Dan tanpa mereka sadari ternyata orang akan diberikan kejutan sudah datang dan sekarang mengikuti mereka berdua untuk berbelanja.


"Dia sudah sembuh, walau belum sembuh total. Setidaknya dia sudah lebih baik" gumamnya yang terus mengikuti mobil yang dikendarai oleh Alisha dan Mom Felisha didalamnya.


"Apa yang akan mereka lakukan didalam tempat ramai seperti ini? Dasar wanita" gumam Alfred yang menggunakan kacamata hitam, masker dan topi yang dia turunkan hingga menutupi wajahnya.


"Mom, apa ini bagus?" tanya Alisha yang sedang memegang sebuah kalung kecil cantik dan juga sangat mahal tentunya.


"Wah bagus sekali sayang. Itu sangat cocok, langsung bungkus saja. Bila perlu kamu langsung kenakan saja" jawab Mom Felisha yang mengambil kalung dari tangan Alisha.


"Ini memang produk terbaru kami dan ini baru saja kami keluarkan dan hanya ada satu-satunya" ucap pelayan toko tersebut yang tentu saja tidak didengarkan oleh kedua wanita beda usia itu.


"Apa bagus Mom?" tanya Alisha yang memperlihatkan dirinya sendiri didepan cermin.


"Sangat bagus dan juga cantik, karena kamu yang menggunakan nya" jawab Mom Felisha yang tersenyum dan mengusap pipi Alisha.


"Thank you Mom" ucap Alisha yang tersenyum juga lalu dia segera membayarnya menggunakan kartu tanpa batasnya.


Mereka berdua langsung pergi dari sana setelah Mom Felisha juga membeli berlian yang sama mahalnya dengan kalung Alisha. Mereka menuju stan pakaian dan disana Alisha melihat ada sebuah dasi yang kelihatan nya sangat cocok untuk Alfred.


Dia juga membelikan pin penjepit dasi. Dia juga membelikan berbagai jenis dan motif dasi untuk Alfred. Alisha merasa sepertinya sedang ada yang memperhatikan dan juga mengawasinya. Dia melihat kesana kemari dan tidak ada yang mencurigakan.


"Kenapa sayang? Ada sesuatu?" tanya Mom Felisha yang melihat Alisha tegang dan sudah berkeringat dingin.


"Aku seperti merasakan ada seseorang yang sedang memperhatikan dan mengawasi kita Mom" jawab Alisha yang sudah me*emas tangan nya saat dia tidak bisa mengontrol rasa takutnya.


"Ya sudah, lebih baik kita pergi saja dari sini dan kamu membawa obat kamu sayang?" tanya Mom Felisha yang tidak mendapatkan respon dari Alisha.


'Jangan sampai dia kenapa-kenapa disini. Apa dia membawa obatnya atau tidak?' ucap Mom Felisha yang mengajak Alisha untuk duduk dan dia mencari ada obat milik Alisha atau tidak.


Setelah menemukan nya Mom Felisha langsung memberikan nya dan meminta untuk Alisha meminumnya. Lalu Mom Felisha melihat jika Alisha sudah mulai tenang dan tidak segelisah tadi.


"Syukurlah, dia selalu ingat akan obatnya ini. Sayang semoga nanti akan bisa sembuh total dan bisa normal kembali. Mommy ingin selalu menghabiskan waktu seperti ini dengan kamu sayang" ucap Mom Felisha yang menggenggam tanga Alisha.


"Kalian bawakan belanjaan nya sekarang" ucap Mom Felisha pada dua bodyguard yang mengawal mereka berdua.


"Sayang, kita pulang sekarang ya? Kamu harus istirahat segera" ucap Mom Felisha yang menuntuk Alisha yang kembali diam dan menatap kosong kembali. Mom Felisha merasa bersalah, karena sudah membawa Alisha ketempat umum dan membuatnya merasa tidak nyaman.


"Maafkan Mommy sayang. Mommy tidak bermaksud membuat kamu seperti ini lagi, bagaimana akan Mommy katakan pada Alfred akan kamu yang seperti ini kembali? Maafkan Mommy sayang" ucap Mom Felisha yang tidak melepasakan genggaman tangan nya pada Alisha.


"Lebih cepat lagi" ucap Mom Felisha pada supirnya dan mereka sudah sampai didepan mainson.


"Ayo turun sayang. Hati-hati jalan nya" ucap Mom Felisha yang menggandengnya dengan perlahan dan hati-hati.


"Istirahatlah sayang" ucap Mom Felisha yang membaringkan Alisha diatas ranjang miliknya. Lalu Mom Felisha meminta suster untuk menjaga Alisha.


"Mom, apa yang terjadi pada Shasha?" tanya Alfred yang baru datang dan dia langsung menanyakan nya pada Mom Felisha.


"Kamu, kapan kamu sampai? Bukankah kamu akan datang nanti malam? Kenapa sudah datang?" tanya Mom Felisha yang tidak menjawab pertanyaan dari Alfred.


"Mom" ucap Alfred yang langsung berlari menuju kamarnya bersama dengan Alisha. Dia tidak menghiraukan teriakan Mom Felisha padanya.


"Sha" ucap Alfred yang melihat Alisha yang sudah terlelap dengan ditemani oleh suster Fitri disamping tempat tidurnya.


"Tuan Muda" ucap suster Fitri yang menghampiri Alfred yang mendekat kearah Alisha.


"Kau boleh keluar" ucap Alfred yang mengibaskan tangan nya pada suster Fitri.


Setelah suster Fitri keluar, Alfred langsung duduk disamping Alisha yang terlelap dengan wajah yang kembali gelisah seperti dia pertama kali melihatnya pada malam itu.


"Dear, kenapa kamu seperti ini lagi? Maafkan aku yang sudah melakukan ini pada kamu tanpa aku sadari membuat kamu seperti ini. Tolong jangan membuat aku khawatir dengan keadaan kamu ini Dear" ucap Alfred yang mengusap pipi Alisha yang sedang terlelap itu.



Visual Liana yang sudah menjadi Alisha😘