
Alfred benar-benar sangat frustasi, karena dia sudah mencari keberadaan Alisha yang sudah lima tahun ini tidak dia temukan. Bahkan dia sudah mencarinya di Jerman dan tidak ada disana.
Bahkan pesta pernikahan yang awalnya digadang-gadang akan menjadi pernikahan yang sempurna dan paling megah dari setiap pernihakan yang ada. Tapi harus gagal, karena mempelai wanitanya pergi dan tidak kembali.
Sedangkan yang diberikan saran oleh Alisha sudah menikah, siapa lagi jika bukan Alfian dan sekarang sudah akan memiliki dua anak, karena sekarang Dini sedang hamil anak keduanya.
"Al, apa kamu belum bisa menemukan kakak ipar?" tanya Alfian yang menatap wajah Alfred yang bahkan lebih dingin dan sangat kejam sekarang.
"Seperti yang kamu lihat" jawabnya dengan sangat datar dan tidak mengalihakan pandangan nya dari layar laptopnya.
"Al, kenapa kamu sekarang sangat berubah dan bahkan kamu melampiaskan semua kemarahan kamu pada seseorang yang sama sekali tidak salah apapun padamu" ucap Alfian yang membuat Alfred mengepalkan kedua tangan nya dan dia terlihat sangat emosi.
Flashback On...
"Sekarang kamu cari dia dan jangan pernah kembali kesini sebelum menemukan Alisha dan kedua cucuku" ucap Mom Felisha yang meninggalkan Alfred didalam kamarnya sendiri.
"Kamu sudah melakukan kesalahan besar AL, kesalahan yang sama seperti yang Daddy lakukan dulu, sehingga membuat kakak kamu pergi untuk selamanya. Jadi, carilah dia sebelum kamu menyesalinya seumur hidup kamu" ucap Dad Donald yang menepuk bahu Alfred memberikan semangat dan nasehat.
Alfred hnya menunduk dan memeluk lututnya sendiri sambil menangis sesegukan. Dia benar-benar sangat hancur dan juga menyesali perbuatan nya pada Alisha, karena sudah pernah meragukan nya.
"Sha, maafkan aku, aku sudah membuat kamu pergi dengan anak-anak kita. Aku minta maaf, tolong Sha, kembalilah" gumam Alfred yang masih menangis dan dia juga menatap kearah laci nakas dan disana dia melihat ada dua buah cincin yang dia berikan pada Alisha saat melamarnya dan saat dia memutuskan untuk bertunangan dengan nya.
"Sha, kamu benar-benar meninggalkan aku? Kamu sampai melakukan ini semua untuk ku Sha?" tanyanya sambil memegang cincin yang ada ditangan nya sekarang.
Setelah itu Alfred berusaha sangat keras untuk mencari Alisha. Bahkan dia sudah menyewa seorang detektif untuk membantunya mencari Alisha. Saat mendapatkan kabar jika Alisha pergi ke Jerman, dia juga langsung terbang kesana dan mencarinya hingga berminggu-minggu lamanya dia disana.
Tapi dia tidak menemukan apa-apa, justru yang dia temukan adalah seorang wanita yang sama sekali bukan Alisha. Bahkan yang menggunakan passport nya bernama Celine Daniels.
"Dari mana anda mendapatkan passport ini dan kenapa anda yang menggunakan nya?" tanya Alfred dengan dingin nya pada Celine.
"Saya bertemu dengan nya saat saya kehilangan tas yang berisi passport dan identitas saya. Dia memberikan nya pada saya, dan dia bilang jika dia akan menggunakan pesawat komersil lainnya" jawab Celine dengan baik-baik dan mengatakan yang sebenarnya pada Alfred.
"Lalu apa dia menemui anda untuk mengambil passport nya dan berada disekitar sini?" tanya Alfred lagi yang mulai merasakan jika ini adalah titik terang untuk bisa menemukan Alisha.
"Saya tidak pernah bertemu dengan nya dan bahkan dia tidak pernah menghubungi saya. Maaf, jika boleh tahu, dia siapa anda? Karena saya lihat dia sedang tidak baik-baik saja waktu itu. Sebenarnya saya sungkan untuk menerima bantuan nya, tapi karena sayang sedang terburu-buru. Jadi saya terima saja bantuan nya, toh dia bilang akan kesani dan bertemu disini" jawab Celine yang melihat jika pro didepan nya ini adalah pria yang sangat mencintai wanita yang menolongnya waktu itu.
"Saya suaminya. Jika dia menghubungi anda tolong kabari saya, ini kartu nama sya. Terimakasih" ucap Alfred yang menyerahkan kartu namanya pada Celine Daniels dia segera pergi.
Setelah pertemuan nya dengan Celine, Alfred langsung terbang kembali kenegara asalnya. Karena dia mendapatkan kabar, jika dia tidak pergi ke Jerman atau negara lainnya.
Dia hanya menuju toko perhiasan dan ponsel. Bahkan Alfred sudah menanyai semua pemilik dan kariawan dua tempat yang dikunjungi oleh Alisha.
"Kamu sampai mengganti ponsel dan kartu kamu Sha? Apa kamu benar-benar tidak ingin bertemu lagi dengan ku? Apa kamu tidak ingin memaafkan aku Sha?" gumamnya yang segera pergi dari sana dan dia melihat ada seorang wanita menggunakan dress yang dia belikan untuk Alisha.
"Dear" ucap Alfred yang ternyata salah orang.
"Ada apa Tuan? Apa anda membutuhkan sesuatu?" tanya wanita tersebut dan itu membuat Alfred hanya diam dan menatap kearah wanita tersebut dan dia sangat yakin jika itu adalah dress milik Alisha.
"Maaf Nona, anda mendapatkan dress ini dari mana?" Alfred malah balik bertanya pada wanita tersebut.
"Saya membelinya ditempat itu. Karena ini masih sangat bagus dan barang bagus" jawabnya yang menunjuk kearah penjual pakaian bekas.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Alfred langsung pergi dan membuat wanita tersebut bingung dengan sikapnya yang sangat aneh menurutnya.
Alfred langsung mendatangi penjual pakaian bekas disana dan dia tidak melihat satupun pakaian Alisha yang masih tersisa disana. Ya, bagaimana mau tersisa, dia menjual barang-barangnya branded. Pasti akan banyak yang langsung membelinya.
"Apa yang sedang anda cari Tuan Muda? Apa anda menginginkan sesuatu dari toko saya?" tanya seorang pria yang menjual berbagai pakaian bekas tersebut.
"Saya mau bertanya, apa ada wanita ini yang menjual pakaian-pakaian nya pada anda?" tanya Alfred yang memperlihatkan foto Alisha pada penjual pakaian tersebut.
"Iya, saya yang menerima semua pakaian nya untuk dijual disini. Baru beberpa hari yang lalu dia mengambil hasil penjualan nya, karena disini bisa menitipkan pakaian nya yang akan dijual. Apa anda juga akan menjual pakaian juga Tuan Muda?" jawab pedagang tersebut dan dia juga bertanya pada Alfred.
"Kemana dia pergi, apa dia mengatakan sesuatu atau siapapun bilang akan pergi kemana?" tanya Alfred yang sudah berharap banyak pada pria didepan nya saat ini.
"Maaf Tuan Muda, saya tidak tahu. Dia hanya menjual dan saya menerimanya, jadi saya tidak tahu dia kemana" jawabnya dengan ramah dan sangat sopan pada Alfred.
"Baiklah" ucap Alfred yang langsung pergi lagi dari sana. Dia benar-benar sudah sangat lelah dan frustasi akan mencari kemana lagi Alisha yang sedang hamil itu.
"Kamu dimana Dear? Aku sangat merindukan kamu" gumam Alfred yang sudah memasuki mobilnya kembali dan dia segera pergi dari sana dan dia terus mencari-cari dimana pun ada tanda-tanda keberadaan Alisha.
Dia mengingat sesuatu, jika semua ini karena dia orang yang sudah membuat Alisha nya menderita dan membuatnya merasa curiga dan tidak percaya jika anak dalam kandungan Alisha adalah anaknya.
"Raditiya Hermansyah, aku akan membuat hidupmu segan dan matipun tak mau. Kita lihat saja, gara-gara kalian berdua, aku meragukan kesetiaan nya dan cintanya padaku" gumam Alfred yang langsung mendatangi perusahaan tempat Radit dan Tyas bekerja.
Alfred membuat keduanya dipecat dan dia menyebarkan kelakuan busuk mereka kedalam media sosial dan mereka berdua benar-benar diasingkan oleh masyarakat. Bahkan Alfred tidak segan-segan mengambil semua milik kedua orang tersebut.
Selang beberapa bulan, mereka kabur dari rumah sakit lalu tertabrak oleh mobil dan keduanya meninggal ditempat. Alfred merasa senang setelah mengetahui kedua orang tersebut sudah tidak ada lagi, dan dia bisa fokus mencari keberadaan Alisha dan kedua anaknya.
Alfian sampai menggelengkan kepalanya melihat bagaimana Alfred yang malah melakukan kesalahan lebih besar lagi pada orang lain. Hingga membuat mereka tiada, Alfian sudah berulangkali mengingatkan Alfred supaya tidak pernah melakukan itu semua.
Tapi tidak diajak dengarkan dan bahkan kedua orang tuanya pun sudah tidak mau dia temui sebelum menemukan keberadaan Alisha dan kedua anaknya. Yang entah berada dimana sekarang, membuat Alfred hanya bisa mencari dan mencari hingga saat ini.
Flashback Off...
"Itu bukan urusan mu. Sebaiknya kau pergi jika tidak ada yang kau butuhkan lagi" ucap Alfred langsung mengusir Alfian yang menurutnya terlalu berisik.
"Baiklah AL, aku akan pergi. Tapi jika kamu membutuhkan bantuan ku, aku akan siap membantu kamu sekuat tenaga aku" ucap Alfian yang langsung pergi setelah mengatakan itu pada Alfred.
Setelah kepergian Alfian, Alfred hanya bisa diam dan menghela nafasnya berulangkali. Dia benar-benar sangat merindukan Alisha dan mungkin saja kedua anak-anaknya sudah besar. Mungkin saja sudah bersekolah dan berbagai kemungkinan didalam fikiran Alfred.
.
Sedangkan ditempat yang sangat jauh dari Alfred yang sedang merasakan bersalah yang dalam juga berkepanjangan. Disini Alisha sedang mendisghn perhiasan pesanan dari Celine Daniels. Ternyata dia adalah pemilik toko perhiasan terbesar di Jerman. Hingga sekarang mereka berdua menjadi teman dekat karena hubungan pekerjaan ini.
"Kana, Kena. Jangan lari-lari dalam rumah, nanti menabrak kalian bisa terluka" ucap Alisha pada Alkana dan Alkena.
"No Mom" jawab keduanya yang malah langsung memeluk tubuh Alisha yang sedang duduk didepan meja ruang keluarga.
"Uuhh, kesayangan Mommy. Apa menginginginkan sesuatu?" tanya Alisha yang menunda membuat pekerjaan nya untuk bisa berbicara dengan kedua anaknya.
"No Mom, kami hanya ingin bermain saja dan berdua saja. Mommy bisa lanjut menggambar" jawab keduanya yang selalu mengatakan nya bersama-sama, dengan begitu selalu membuat Alisha gemas pada dua bocah berusia empat tahun itu.
"Benarkah? Padahal Mommy ingin mengajak kalian ketaman untuk membeli es krim. Tapi karena kalian tidak mau, ya, Mommy tidak memaksa" tanya Alisha yang mengatakan nya sambil menahan dagunya diatas meja.
"Taman?" tanya Alkana.
"Es krim?" tanya Alkena.
"Iya, apa kalian tidak menginginkan nya? Jika tidak, Mommy akan melanjutkan memggambarnya" jawab Alisha yang membuat kedua anaknya memelan ludahnya berkali-kali karena membayangkan es krim yang dingin dan manis membasahai tenggorokan nya.
Mereka tidak langsung menjawab, mereka malah saling pandang dan berpelukan untuk berdiskusi. Mungkin saja mereka akan menerima tawaran dari Mommy nya untuk jalan-jalan ditaman dan memakan es krim.
"Baiklah Mom, setelah kamu fikir-fikir dan Mommy juga memaksa kami pergi. Maka kami akan menerimanya" ucap Alkana yang memang sangat bisa bicara dan bisa menjaga adik kembarnya yang belum terlalu bisa bicaranya.
"Benarkah jika Mommy ini memaksa kalian berdua? Berarti Mommy ini suka memaksa kalian dong?" tanya Alisha yang memperlihatkan ekspresi sedihnya dihadapan kedua anak-anaknya.
"No Mom, Mommy tidak memaksa kami" ucap Alkena yang langsung memeluk Alisha dengan sangat erat dan tidak ingin jika Mommy nya sedih.
"Iya Mom, I'm sorry" ucap Alkana yang memegang kedua telinganya dan berjanji tidak akan mengatakan kata-kata yang membuat Mommy nya bersedih.
"Hahaha, Mommy tidak apa-apa. Mommy hanya bercanda pada kalian, yuk kita ketaman. Karena biasanya jam segini akan ada banyak penjual es krim disana" ucap Alisha yang mengusap kepala kedua anak-anaknya dan mereka tersenyum bersama, lalu pergi keluar bersama.
Mereka memang hanya tunggal bertiga saja dan hanya akan ada orang yang membersihkan rumahnya. Itupun tidak setiap hari, karena buasnya Alisha mengerjakan nya sendiri dengan kedua anak-anaknya. Karena dia sengaja membeli rumah yang kecil dan dengan dua kamar saja.
Jadi dia akan dengan mudah membersihakan nya. Apa lagi dia sangat senang mengerjakan nya sendiri. Apa lagi saat-saat dulu setelah melahirkan keduanya anaknya, dia bisa melakukan nya sendiri. Karena untuk membayar jasa orang saja dia tidak mampu. Untung saja ada seorang dokter muda yang sangat baik mau menolongnya an membantu segala kebutuhan nya selama nifas.
Alisha akan merasa sedih bercampur bahagia saat mengingat saat-saat itu. Bahkan dia dianggap sebagai wanita tidak benar oleh calon istrinya dokter yang selalu menolongnya. Tapi setelah saling kenal dan akrab, malah dia sendiri yang datang membantunya. Dan anak-anak juga sekarang berteman baik.
"Mom apa akan kesana bersama auntie Risa dan Celly?" tanya Alkana yang memang sangat dekat dengan mereka berdua.
Usia Celly memang terpaut satu setengah tahun saja. Jadi mereka bisa bermain bersama. Dan Celly sering berada dirumah Alisha, karena Risa yang sama dengan suaminya. Berprofesi sebagai dokter juga, hanya saja dia sebagai dokter obgyn, sedangkan suaminya Rasya sebagai dokter anak.
"Tidak tahu juga. Bukankah auntie Risa bilang akan kerumah nenek dan kakek Celly? Mungkin belum kembali dari sana" jawab Alisha yang menggandeng kedua tangan anak-anaknya dan dia bertanya juga pada mereka berdua.
"Ah, iya juga" jawab keduanya yang tertawa mengingat, jika Risa pernah mengatakan itu pada mereka sebelum pergi.
"Itu penjual es krim nya Mom" tunjuk Alkana yang akan berlari menuju kesana. Tapi untung saja Alisha menggenggam pergelangan tangan nya, jadi tidak bisa terlepas dari tangan nya.
"Jangan berlari Kana, kita berjalan pelan saja. Lihat itu, banyak kendaraan yang lewat, apa mau nanti kamu terluka hmm?" ucap Alisha yang memberinya pengertian dan melihat kearah kendaraan yang sangat padat.
Karena letak taman nya berada disebrang jalan raya yang mana banyak lalu lalang kendaraan roda dua maupun empat. Jadi Alisha harus benar-benar sangat menjaga mereka berdua. Apa lagi Alkana yang sangat aktif dan juga bersemangat sekali jika tentang es krim kesukaan nya itu.
Berbeda dengan Alkena yang hanya biasa saja. Mungkin karena dia ini seorang anak perempuan, atau mungkin memang sama seperti Alfred. Alfred, saat Alisha mengingat nama itu membuat perasaan nya tidak karuan.
'Tuhan, ini sudah lima tahun berlalu. Kenapa aku tidak bisa melupakan nya? Aku tidak tahu bagaimana keadaan nya saat ini, atau dia sama merindukanku juga atau tidak. Tapi aku begitu sangat merindukan nya... Tuhan, tolong jaga dan lindungi dia dari apapun yang tidak baik' ucap Alisha dalam hati dan itu membuat kedua anaknya merasa bingung dengan sikap Mommy nya.
Mereka bertiga memesan es krim kesukaan mereka masing-masing. Karena dengan begini Alisha bisa sedikit melupakan perasaan rindunya pada Alfred. Daddy dari kedua anak-anaknya, yang membuat Alisha heran adalah, anak-anaknya tidak pernah bertanya siapa dan dimana Daddy mereka. Tapi Alisha merasa bersyukur, dengan begitu dia tidak harus berbohong dan memberikan harapan palsu pada mereka berdua.