
Yang dikatakan oleh Alfred memang benar dia lakukan. Jika dia akan berada disini selama Alisha belum sembuh, bahkan dia juga tidak pernah jauh darinya. Mereka selalu bersama, dan tidur bersama juga setiap malam. Hanya tidur saja ya, mereka tidak melakukan apapun selain peluk-pelukan satu sama lain.
"Apa kamu senang Dear?" tanya Alfred yang sedang memeluk Alisha didepan balkon kamarnya.
"Sangat, aku sangat bahagia. Apa kamu bahagia juga?" tanya Alisha balik pada Alfred.
"Tidak ada yang membuatku lebih bahagia selain bersama dengan kamu seperti ini Dear. Jadi tidak ada kebahagiaan selain itu semua" jawab Alfred yang mengurai pelukan nya dan dia menatap wajah Alisha yang baru ini.
'Maafkan aku Dear, aku sudah merubah kamu hingga seperti ini dan kamu benar-benar menjadi Alisha seutuhnya. Jadi kamu tidak akan dibayang-bayangi oleh masalalu, karena wajahmu yang sebelumnya. Aku melakukan ini supaya kamu memang hanya bisa menjadi Alisha dan bukan yang lain. Alisha hanya memiliki aku dan keluarga kita saja, tidak akan ada yang bisa mengenali dan menyentuh kamu. Tidak akan ada, sekalipun itu kedua orang tua angkat mu yang sudah tidak ada lagi. Maafkan aku yang egois, ingin memiliki kamu seutuhnya' ucap Alfred dalam hati dan dia membalikan memeluk Alisha dan membuatnya merasa nyaman dan lebih nyaman lagi bersamanya.
"Apa kita akan seperti ini terus? Ini sudah hampir gelap" tanya Alisha yang menatap wajah Alfred dan mengusap pipinya dengan lembut.
"Kenapa tidak? Tapi jika kamu menginginkan untuk masuk, maka kita akan masuk" jawab Alfred yang tersenyum dan langsung menggendong Alisha masuk kedalam kamar.
"Kau ini memang sangat keterlaluan, aku sudah kedinginan sejak tadi" gerutu Alisha yang merangkul leher Alfred.
"Maaf Dear, aku saking bahagianya bersama dengan kamu. Membuat aku lupa jika kamu butuh istirahat dan berada ditempat yang hangat" ucap Alfred yang meletakan Alisha diatas ranjang.
"Musim dingin ini adalah musim dingin yang sangat berbeda dari sebelumnya. Karena sekarang aku ada bersama dengan kamu dan bisa seperti ini terus hingga aku benar-benar nyaman dan tidak ingin jauh dari kamu" ucap Lisha yang menelusupkan wajahnya didada bidang Alfred dan semakin mempererat pelukan nya.
"Kenapa tidak kita lakukan ini setiap harinya. Ini adalah kebahagiaan dan kedekatan kita berdua, jadi jangan pernah ada perpisahan lagi. Walau itu hanya sekejap dan jarak juga waktu" ucap Alfred yang juga mempererat pelukan nya pada Alisha.
"Benarkah, jika kita tidak akan berpisah? Jangan membuat aku telalu serakah?" tanya Alisha yang selalu mengulang-ulang pertanyaan nya sebelum-sebelumnya.
"Iya, jika pun berpisah itu karena aku bekerja dan itu juga dekat dengan kamu, karena kamu akan selalu ikut kemanapun aku pergi" jawab Alfred yang mencubit gemas hidung mancung Alisha.
"Benarkah? Aku sangat bahagia bisa keluar dengan kamu terus dan bersama dengan mu. Tapi... Aku takut membuat kamu malu, karena aku tidak biasa bertemu orang banyak. Aku ini sangat aneh" ucap Alisha yang menunduk dan tidak sebersemangat tadi.
"Hei, kenapa kamu sedih Dear? Jangan pernah melihat dan mendengarkan apa yang mereka katakan. Jadilah diri kamu sendiri dan jangan hiraukan mereka. Karena kamu istimewa Dear, ingat itu" ucap Alfred yang menenangkan Alisha dan memberikan semangat padanya.
"Aku hanya takut akan membuat kamu malu, aku tidak ingin membuat kamu sedih dan terluka" ucap Alisha yang mengatakan nya sambil menunduk.
"Tidak akan pernah, jadi harus percaya dan jngan pernah menyerah untuk bisa lebih baik lagi, oke" ucap Alfred yang mengusap kepala dan mengacak-ngacak rambutnya gemas.
"Iihhh, kenapa diberantakin?" ucap Alisha yang mengerucutkan bibirnya menatap Alfred.
Mereka berdua saling tertawa dan juga saling menyemangati satu sama lain. Bahkan Mom Felisha dan Dad Donald juga menyaksikan nya dengan tersenyum, melihat putra semata wayangnya itu bisa bahagia.
.
Sedangkan dinegara yang berbeda, dimana sekarang Radit dan Tyas sudah memiliki seorang putri dan itu membuat Mama Hanum semakin tidak bisa berada didalam rumahnya sendiri. Karena baik Radit atau Tyas sangat mengandalkan dirinya untuk mengasuh Danu membereskan rumah juga memasak. Dengan alasan berhemat, tidak memakai jasa asisten rumahtangga dan pengasuh.
"Dit, Mama sudah sangat lelah mengerjakan semuanya. Mama juga rasanya sedang sakit, tolong antar Mama kedokter ya" ucap Mama Hanum yang mengatakan nya dengan pelan pada Radit.
"Ma, kan kakak ada dirumah. Kenapa nggak minta kakak saja yang antar? Aku sedang sibuk ini" ucap Radit yang tidak memperdulikan dirinya yang Ibu kandungnya sendiri.
"Jika kakak kamu ada, Mama juga tidak akan meminta tolong sama kamu Dit" jawab Mama Hanum yang meneteskan air matanya mendengar jawaban dari putra nya yang selalu dia bangga-banggakan selama ini.
"Sudahlah Ma, Mama ini jangan manja. Mama istirahat saja sebentar, pasti sembuh kok. Jadi jangan kebanyakan alasan ini itu Ma, ingat. Mama itu sudah tua dan tidak pantas seperti itu" ucap Tyas yang sangat menusuk hatinya dan beliau hanya diam dan masuk kedalam kamarnya saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi.
"Mama kamu itu kenapa sih sayang? Sudah tua juga banyak drama banget" ucap Tyas yang bergelayutan manja dilengan Radit.
"Biarkan saja, lebih baik kita diam dan jangan ganggu aku dulu sayang. Aku sedang mempersiapkan untuk presentasi besok" ucap Radit yang tidak mengalihkan pandangan nya dari layar laptopnya.
"Ya baiklah, aku mau keluar dulu ya. Sumpek dirumah mulu, apa lagi harus melihat Mama kamu yang selalu membuat aku kesal" ucap Tyas yang beranjak dari duduknya menuju kamar.
Sedangkan didalam kamar, Mama Hanum sedang menangis. Dia begitu terluka dan juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi, selain menurut pada anak-anak dan menantunya itu. Rafika juga sama saja, dia bahkan sudah memutuskan menikah kembali setelah bekerja beberapa bulan. Anak-anaknya juga Mama Hanum yang menjaga mereka, bahkan disaat seperti ini tidak ada yang perduli padanya.
"Tuhan, apa ini karma yang harus aku terima? Karma yang pernah aku lakukan dulu pada gadis baik hati dan tidak pernah mengatakan apa-apa, walau aku selalu menghinanya? Tuhan, tolong ampuni aku. Aku tahu ini sudah sangat terlambat, tapi setidaknya berikan aku kekuatan untuk bisa melewati semuanya. Aku akan menerimanya dengan senang hati, jikapun kau mengambil nyawaku sekarang aku sudah siap. Aku tidak ingin menyaksikan kedua anak-anak ku selalu saling melemparkan tanggung jawab mereka untuk bisa membuat ku bisa bahagia" gumam Mama Hanum yang menangis dalam diam dan tiba-tiba kepalanya sangat sakit.
Saat akan beranjak dari berbaringnya, sudah tidak bisa dan beliau sudah tidak tertolong lagi. Bahkan anak-anaknya tidak ada yang tahu satupun. Mereka berfikir jika Mama Hanum sedang tidur biasa saja.
"Nek, nenek belum makan malam loh. Mama dan juga uncle Radit membeli banyak makanan loh nek, kita makan yuk" ucap anaknya Rafika yang paling besar.
Tapi tidak ada respon apa-apa dari neneknya yang hanya diam saja. Dia mencoba untuk membangunkan Mama Hanum, tapi tetap saja tidak bisa bangun juga. Dia segera berlari menemui orang-orang dewasa yang ada diluar.
"Ma, nenek tidak mau bangun dan badan nenek juga sangat dingin, seperti es" ucap anaknya Rafika dan itu membuat Rafika dan Radit saling pandang, lalu langsung berlari masuk kedalam kamar Mama Hanum.
"Ma, apa yang terjadi? Mama jangan membuat kamu panik Ma. Ma bangun Ma" ucap Radit yang malah berteriak dihadapan Mama Hanum.
"Dit, Mama sudah tidak bernafas lagi Dit" ucap Rafika yang memegang tangan dan mendekatkan jarinya didepan hidung Mama Hanum. Yang ternyata sudah tidak ada lagi didunia ini.
"Apa maksud kakak? Kakak jangan bercanda, Mama hanya tidur dan dia hanya mengeluh sakit kepala saja. Jangan ngada-ngada kak" ucap Radit yang mengguncang tubuh Mama Hanum yang memang sudah sangat kurus.
"Iya juga, jika kita menggunakan jasa pengasuh dan pelayan. Sudah dipastikan akan membuat tekor. Lagian Mama kenapa pake acara meninggal segala sih!! Bikin susah saja" gerutu Radit yang malah meninggalkan tubuh Mama Hanum yang sudah tidak bernyawa lagi.
"Mama kenapa sayang? Apa dia baik-baik saja?" tanya Tyas yang berdiri diambang pintu kamar Mama Hanum.
"Dia sudah meninggal. Dan kita harus segera memakamkan secepatnya, karena aku tidak ingin jika akan menimbulkan masalah nantinya" jawab Radit yang meminta orang untuk membantu mereka menyiapkan pemakaman Mama Hanum.
Mereka pura-pura menangis atau memang menangis sungguhan karena kehilangan orang tua atau kehilangan orang yang menjaga anak-anak mereka saja? Sungguh, ini bukan cerminan anak yang patut ditiru. Karena mereka berdua benar-benar sudah sangat durhaka padanya seorang Ibu yang menjaga dan membesarkan nya dulu.
Setelah pemakaman selesai. Hanya cucu-cucu Mama Hanum yang memang benar-benar menangis kehilangan dengan sangat tulus. Karena didalam rumah itu yang benar-benar sayang dan perhatian pada mereka hanya Mama Hanum saja. Sedangkan kedua orang tua mereka? Mana ada yang perduli.
"Kak, apa nenek sudah bersama dengan Tuhan? Jika sudah, siapa yang akan sayang pada kita? Aku tidak mau jika Mama malah menyewa pengasuh. Aku takut jika nanti akan membuat kesalahan dan akan dimarahi, bahkan dipukul. Aku tidak mau kak" ucap anaknya Rafika yang kedua dan yang ketiga masih dalam kandungan.
"Iya dek, nenek memang sudah bersama dengan Tuhan dan disisinya. Kita do'akan supaya Tuhan memberikan tempat terbaik untuk nenek" ucap anaknya Rafika yang pertama.
"Iya kak" ucapnya lagi yang malah tidur didalam kamar sang nenek. Dan itu benar-benar tidak diperdulikan oleh orang tuanya.
Sedangkan Radit dan Tyas sudah membawa pengasuh yang akan menjaga anaknya. Sedangkan Rafika membawa asisten rumahtangga untuk bisa mengerjakan pekerjaan rumah dan yang lain nya. Jadi mereka akan melakukan pembagian tugas dan juga rumah.
Hingga mereka berdua berdebat untuk mendapatkan rumah tersebut. Dan mau tidak mau rumah itu dibagi menjadi dua dan sedang dibanun kembali. Sekarang sudah berbulan-bulan lamanya kepergian Mama Hanum. Mereka berdua sudah tidak seperti keluarga lagi semenjak memperebutkan harta dan pembagian tanah yang sekarang menjadi ada dua rumah.
.
Sedangkan didalam perusahaan HARD.CORP Alfian dan Dini sudah semakin dekat, mungkin saja mereka memang sudah menjalin hubungan serius. Sampai-sampai Dini sudah dikenalkan pada keluarga Alfian yang ternyata berkeyakinan sama dengan Dini. Yaitu seorang Muslim, dan mereka sudah saling cocok satu sama lain.
Ternyata walau keluarga Alfian adalah keluarga terpandang, mereka tidak pernah melihat seseorang dari status sosialnya saja. Mereka melihat dari ketulusan dan hatinya, jadi wajar saja jika saat Alfian memperkenalkan Dini pada mereka langsung disambut dengan baik. Karena selama ini dia tidak pernah dekat dengan perempuan manapun selain adik dan kakak perempuan nya saja.
"Apa kamu senang? Jika kamu senang, aku lebih senang lagi dari pada kamu Din" tanya Alfian yang menanyakan nya pada Dini yang berada disampingnya.
"Alhamdulilah, aku sangat bahagia dan juga sangat bersyukur bisa kenal dengan keluarga anda Pak, terus terang saja ini sebuah kehormatan tersendiri untuk saya" jawab Dini yang memang belum pernah mengatakan perasaan nya, walau Alfian sudah berulang kali mengatakan perasaan nya.
"Sudah aku katakan jika jangan pernah memanggil saya dengan sebutan seperti itu lagi. Apa lagi sedang tidak bekerja, saya tidak suka. Bukankah sudah sering saya katakan padamu" ucap Alfian yang sedikit mencengkram stir mobil lumayan keras.
"Maaf Mas, aku mungkin sudah sangat terbiasa memanggil seperti itu. Sekali lagi maafkan aku" ucap Dini yang merasa tidak enak pada Alfian yang sepertinya sangat marah.
"Sudahlah jangan dibahas lagi" ucap Alfian yang menatap lurus kedepan saja.
'Aduh, kenapa aku bisa lupa menyebutnya seperti itu? Dia pasti marah besar padaku, tapi aku tidak sepenuhnya salah bukan? Lagian aku dan dia belum ada ikatan apa-apa, jadi kenapa juga aku memikirkan nya' ucap Dini dalam hati sambil menatap kearah samping. Dimana jalanan sedang sangat ramai.
Tiba-tiba ponsel Alfian berdering dan menampilkan nama Alfred yang memanggil. Alfian segera mengangkatnya dan menggunakan hedset nya.
"Ada apa?" tanya Alfian.
"Baiklah, aku kesana sekarang. Tunggu saja disana, aku sedang dalam perjalanan" jawab Alfian lagi, lalu mematikan panggilan nya lalu mengemudikan mobilnya menuju bandara.
"Kita kebandara dulu, Alfred baru saja sampai dibandara bersama dengan tunangan nya. Tidak apa-apakan jika aku ajak kamu menjemput mereka dulu?" tanya Alfian yang dijawab anggukan kepala oleh Dini.
"Iya, tidak apa-apa" jawab Dini yang mengangguk dan diam kembali.
Mereka segera turun saat sudah sampai dibandara dan ditempat penjemputan penumpang. Alfian melihat Alfred mengenakan masker dan topi untuk menutupi wajahnya. Begitu juga dengan tunangan nya itu, membuat Dini hanya mengernyitkan keningnya saja saat melihat kedua orang yang baru datang itu.
Tangan Alfred tidak melepaskan genggaman nya dari tangan tunangan nya yang dari penampilan dan juga postur tubuhnya sangat terlihat, jika bukan wanita biasa dan sembarangan.
'Aku yang perempuan saja mengagumi sosok tunangan Tuan Muda. Bagaimana dengan para pria? Sudah pasti akan melakukan hal yang sama juga. Kulitnya saja sangat putih, mungkin jika nyamuk akan menggigitnya saja terpeleset, saking glowing banget tuh kulit' gumam Dini dalam hati yang sekarang mendorong koper milik tunangan Tuan Muda nya.
"Apa kamu lelah?" tanya Alfred saat sudah masuk kedalam mobil.
"Emm, sedikit" jawabnya sambil tersenyum. Dan dia benar-benar sangat cantik saat membuka maskernya saja.
"Jaga matamu Fian! Jika tidak ingin bola matamu aku congkel" ucap Alfred yang mengatakan nya penuh dengan penekanan pada Alfian.
"Sayang" ucap Alisha yang mengatakan nya dengan pelan dan menenagkan Alfred.
"Aku nggak akan tertarik padanya AL. Kamu tenang saja, aku hanya ingin melihat sepupu ipar ku saja" ucap Alfian yang membuat Dini menelan slivanya dengan susah payah saat mendengar ucapan dari Alfred.
"Bagaimana perjalanan nya Nona Alisha Bowie? Apa menyenangkan atau malah melelahkan?" tanya Alfian yang mengemudikan mobilnya menuju apartment milik Alfred.
"Sebenarnya sangat menyenangkan. Tapi juga lelah, karena perjalanan yang panjang" jawab Alisha dengan senyuman nya yang sangat manis.
"Welcome dinegara kami Nona. Semoga betah dan lebih tepatnya bisa menangani sepupu ku yang flat itu" ucap Alfian yang langsung mendapatkan tatapan tajam dan mengintimidasi dari Alfred.
"Itu pasti. Oh iya bagaimana caranya anda tahu nama saya? Apa Alfred mengatakan nya pada anda?" tanya Alisha yang memang tidak mengenal pria yang sedang duduk dibalik kemudi itu.