Disaster In Marriage

Disaster In Marriage
Mendapatkan bukti



Liana hanya bisa menangis dan menangis. Dia sudah banyak berkorban dalam rumah tangga ini. Bahkan awalnya dia ditentang oleh Ayah dan Ibunya karena akan menikah dengan Radit. Tapi karena kegigihan dan juga bujukan nya untuk bisa menikah dengan Radit. Maka Ayah dan Ibunya tidak bisa berbuat apa-apa selain merestui dan mendo'akan kebahagiaan nya.


"Yah, aku minta maaf. Karena aku tidak mendengarkan apa yang Ayah katakan dulu, sekarang aku merasakan apa yang Ayah katakan dulu benar adanya. Jika pria pilihan aku sendiri yang akan menyakiti aku nantinya" ucap Liana yang terus menangis menyesali keputusan nya dulu.


"Aku salah Yah, aku benar-benar sudah salah" ucapnya lagi tapi dia ingat apa yang dia ingin lakukan disini. Dia kembali menyusun rencana untuk bisa memiliki bukti yang kuat untuk bisa benar-benar terlepas dari Radit.


Liana melakukan semuanya usaha untuk bisa masuk dan menyimpan kamera didalam apartment tersebut. Dia melakukan nya selama yang dia bisa dan ditempat yang aman tapi bisa melihat keseluruhan apa yang dia inginkan.


Sudah lebih dari satu minggu Liana melakukan itu. Bahkan dia sudah mendapatkan surat cerainya dan itu hanya membutuhkan tandatangan dari Radit saja. Karena dia sudah menandatangani.


"Tuhan, tolong Lancarkan segalanya. Aku ingin semuanya segera selesai dan aku bisa bernafas lega. Tolong bantu aku Tuhan" ucapnya berdo'a ditempat peribadatan nya setiap hari minggu.


Liana kembali untuk bisa mengambil rekaman tersebut, dia sudah bersiap dan akan segera keluar dari sana setelah selesai. Dia sudah berkemas dan akan segera pergi.


"Sayang, kenapa orang yang akan membersihakan ini belum datang juga ya?" tanya Tyas pada Radit yang sedang menggunakan pakaian nya setelah mandi.


"Mungkin sebentar lagi sayang. Inikan masih pagi dan belum saatnya dia datang, biasanya kan dia datang jam delapan sayang. Jadi tunggu saja, atau kamu ingin pergi dari sini?" jawab Radit lalu dia bertanya kembali pada Tyas.


"Iya sayang, aku akan pergi. Karena aku akan bekerja kembali, lagi pula jika kamu sudah mulai kembali pada Liana pasti akan jarang kemari lagi, makanya aku akan bekerja kembali" jawabnya yang mengatakan nya dengan sangat semangat dan itu membuat Radit merasa bingung dengan keputusan Tyas sekarang.


"Apa kamu sudah yakin? Kamu sedang mengandung sayang, aku nggak mau jika kamu sampai kelelahan dan berdampak pada baby kita" tanya Radit yang ingin Tyas memikirkan semuanya.


"Tentu saja sayang. Karena aku sudah lebih baik dan baby juga baik-baik saja, apa lagi kamu benar-benar sudah menikahi aku kemarin. Jadi aku akan membantu keuangan kita, kebetulan aku bekerja diperusahaan yang sama dengan kamu dan kamu tahu apa jabatan aku sekarang? Aku menjadi sekertaris kamu dan aku akan bisa selalu dekat dengan kamu, ya... Walau hanya bisa dekat saja sih, tapi itu sudah lebih baik" jawab Tyas dengan sangat bahagia dan semangat.


"Baiklah sayang, mungkin ini memang rezekinya baby kita. Aku sekarang sudah diangkat menjadi wakil CEO dan kamu akan mendampingi aku sebagai sekertarisku" ucap Radit dengan sangat senang juga, sama seperti Tyas.


"Kita sarapan saja, biar kita berangkat bareng-bareng saja" ucap Radit yang tersenyum sangat bahagia pada Tyas.


Setelah selesai sarapan, mereka berdua berangkat bersama. Lalu Liana masuk kedalam unit apartment mereka berdua dan mengambil rekaman yang ada didalam. Dia segera keluar dan memeriksanya, setelah semua buktinya dia dapat, dia langsung mengirimkan bukti tersebut pada Radit.


"Akhirnya aku bisa mendapatkan ini semua. Thank you Tuhan, kau sudah mendengarkan do'a ku selama ini" ucap Liana yang sudah keluar dari dalam unit apartment milik Tyas.


"Selamat menikmati waktu kalian sementara ini. Karena besok akan ada surat perceraian kita untuk kamu tandatangani. Aku akan membuat kamu benar-benar bisa melepaskan aku" ucap Liana yang sudah didalam mobil taxi online untuk segera pulang.


"Akhirnya aku bisa pulang juga dan bisa berisatirahat dengan tenang" ucap Liana setelah masuk kedalam kamarnya sendiri.


"Bu, kari kemarin Ibunya Pak Radit datang kemari terus dan gedor-gedor pintu. Untung saja Ibu sudah mengganti semuanya kunci rumah, jika tidak mereka pasti akan menjarah semua barang-barang Ibu" jelas bik Warsih yang mengatakan nya dengan kekesalan.


"Terimakasih ya bik, bibik sudah mau mendengarkan aku untuk tidak membuka pintu rumah untuk mereka" ucap Liana yang memeluk bik Warsih tanpa canggung.


"Sama-sama Bu, bibik juga senang bisa bantu Ibu. Tapi, semenjak Ibu tidak ada dirumah. Bapak juga tidak pernah pulang Bu, saya sudah menunggu hingga tadi Ibu pulang, tapi Bapak tidak pulang-pulang juga" ucap bik Warsih yang mengatakan yang dia ketahui.


"Dia tidak akan pernah pulang kemari bik, aku sudah mengurus surat perceraian kami. Jadi, jika nanti dia datang kemari tolong berikan ini saja padanya dan jangan biarkan dia masuk kedalam rumah ini. Karena ini adalah rumah saya" ucap Liana yang mengatakan apa yang harus dia katakan.


"Maksud Ibu? Tapi kenapa? Bukankah rumah tangga Ibu dan Bapak baik-baik saja?" tanya bik Warsih penasaran akan apa yang terjadi pada pernikahan keduanya.


Liana menjelaskan semuanya pada bik Warsih, bik Warsih yang mendengarkan hanya bisa menangis dan memeluk tubuh Liana. Liana yang sudah banyak menangis hanya bisa diam dan tidak melakukan apa-apa selain menceritakan semuanya pada orang yang sudah dia anggap sebagai orang tuanya sendiri.


"Apa Ibu sudah memberitahukan pada kedua orang tua Ibu dikampung? Mereka berhak tahu akan semua ini, jangan memendamnya sendiri dan diam saja. Apa lagi keluarganya Pak Radit sangat tidak menyukai Ibu, mereka akan semena-mena terhadap Ibu. Jika kedua orang tua Ibu sudah tahu, mereka bisa menjaga Ibu" ucap bik Warsih yang memberikan nasehat nya supaya kedua orang tua Liana bisa ada disini dan memberikan dukungan.


"Saya akan memberitahunya bik, kebetulan juga mereka akan datang kemari. Bibik jangan bilang apa-apa jika Mas Radit datang, bilang saja saya belum pulang. Karena saya tidak ingin bertemu dengan nya lagi, bibik bisa kan bik?" ucap Liana yang menatap kearah bik Warsih dan menggenggam tangan nya.


"Iya Bu, bibik akan melakukan itu. Karena bibik akan selalu mendukung apapun keputusan yang Ibu ambil" ucap bik Warsih yang measih memeluk majikan nya yang sudah dia anggap sebagai putrinya sendiri.


"Terimakasih bik, saya mau istirahat dulu. Tolong bibik selalu kunci pintu rumah, jangan pernah tidak dikunci" ucap Liana yang melepasakan pelukan nya dari bik Warsih.


"Iya Bu" ucap bik Warsih yang langsung mengangguk. Membiarkan Liana masuk kedalam kamarnya.


"Ya Tuhan, tolong berikan kekuatan untuk majikan hamba. Karena dia adalah orang baik dan tidak pernah melakukan kejahatan apa-apa, bahkan ditindas dan dihina pun. Selalu diam dan menerima, apapun yang dia dapatkan, tolong kuatkan dia Tuhan" ucap bik Warsih yang mendo'akan majikan nya yang sangat baik dan menerima dirinya disaat semua orang tidak mempercayainya.


"Goodbye Mas Radit, I will always be happy even with you (Selamat tinggal Mas Radit, aku akan selalu bahagia walau tanpa kamu)" ucap Liana sambil memasuk-masukan barang-barang milik Radit, atau barang yang bersangkutan dengan nya.


"Bik, tolong ini simpan didepan pintu. Supaya dia bisa langsung membawanya saat datang kemari" ucap Liana yang memberikan dua koper berukuran sangat besar pada bik Warsih.


"Baik Bu" jawab bik Warsih yang menerima koper tersebut lalu membawanya keluar, sesuai dengan keinginan Liana.


Setelah bik Warsih meletakan koper tersebut dan mengunci pintu, orang tua Radit datang beserta dengan Radit sendiri yang menggedor-gedor pintu dengan sangat kencang.


"Lili. Buka pintunya!! Aku tahu kmu ada didalam, kenapa kamu tidak mau membukanya dan berbicara padaku!!! Kenapa kamu tiba-tiba menceraikan aku! Liana!! Keluar!" teriak Radit yang sudah sangat marah, apa lagi dia mendapatkan surat itu sudah sah dan semua barang-barangnya juga ada disana.


Radit benar-benar sangat marah dan direndahkan oleh Liana. Apa lagi dia sebagai kepala keluarga tidak dihargai lagi.


"Dit, lebih baik kamu tuntut dia. Kenapa seenaknya saja menguasai rumah ini sendiri, kenapa tidak ada pembagian harta gono gini. Kamu tuntut saja dia Dit, sekarang juga" ucap Mama Hanum dengan berapi-api saat mengatakan nya pada Radit.


"Kalian tidak berhak meminta harta gono gini pada putri saya. Karena rumah ini adalah jerih payahnya sebelum menikah dengan nya. Dan kamu sudah tahu bukan Raditiya Hermansyah? Seharusnya kamu sadar diri sebelum memutuskan untuk mengambil uangnya sama sekali bukan hak kamu" ucap Ayah Jaya yang datang sangat tepat waktu.


"Anda ini tidak perlu ikut campur. Ini itu urusan anak saya dengan istrinya, anda itu bukan siapa-siapa baginya. Jadi sebaiknya diam dan jangan banyak bicara" ucap Mama Hanum dengan sangat sinis.


"Jelas saya akan ikut campur, asal anda tahu. Mantan istrinya Bu Hanum, Liana adalah mantan istrinya. Mereka sudah resmi bercerai dan mereka berdua sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Jadi anda jangan mengatakan kami tidak berhak, karena kami berdua sangat berhak atas Liana. Putri kami" ucap Ayah Jaya dengan penuh penekanan, apa lagi saat mengatakan mantan istri.


"Alah, orang miskin saja belagu. Dit, kamu tetap usut semuanya dan minta hak kamu sebagai suami" ucap Mama Hanum dengan sinisnya dan mengajak Radit pergi dari sana membawa dua koper berarnya.


"Biar miskin kami tidak pernah mencuri dan menjarah milik orang lain. Karena kami masih bisa bekerja dan menghidupi diri kamu sendiri" sindir Ibu Ati yang sudah sangat gatal mulutnya untuk ikut mengatakan apa yang pantas diterima oleh mantan besan nya yang gila harta itu.


"Apa maksud kamu orang kampung!! Kamu fikir saya mencuri? Saya mengambil sesuatu milik putra saya, dan itu bukan mencuri. Apa lagi menjarah, jangan asal itu mulut jika bicara!" teriak Mama Hanum yang menunjuk kearah Ibu Ati yang juga akan marah pada Mama Hanum.


"Tanya pada putra mu itu. Dia memberikan berapa uang pada putriku? Sampai semua isi kulkas penuh, barang-barang mewah, perhiasan dan lain sebagainya. Bahkan soal pekerjaan nya saja dia tidak jujur pada putriku. Masih mau mengatakan nya lagi? Dasar keluarga tidak tahu diuntung" ucap Ibu Ati yang sudah sangat marah akan apa yang dilakukan oleh Radit dan keluarganya pada putri kesayangan mereka.


"Sudah Bu, lebih baik biarkan mereka pergi dulu. Karena dengan begitu, kita bisa menghibur putri kita, jangan biarkan orang-orang yang membuatnya bersedih bisa hidup dengan tenang" ucap Ayah Jaya yang merangkul pundak Ibu Ati yang akan menghampiri mereka.


Keluarga Radit benar-benar pergi dari sana, untung saja Ibu dan Ayah nya Liana datang. Jika tidak mungkin Liana akan memanggil ketua Rt setempat untuk mengusir keluarga perusuh itu.


"Nak, apa kamu baik-baik saja? Maafkan Ibu yang baru tahu akan rumah tangga kamu ini sayang. Maafkan Ibu" ucap Ibunda Ati saat sudah masuk dan duduk bersama dengan Liana dan Ayah Jaya.


"Lili baik-baik saja Bu, justru Lili yang harus minta maaf pada Ibu. Karena sebelumnya Lili tidak mendengarkan apa yang Ayah dan Ibu katakan dulu. Lili hanya dibutakan oleh cintanya yang ternyata kebohongan semata. Lili tidak tahu sejak kapan mereka menjalin hubungan dan sekarang bahkan sudah menikah. Sehingga akan memiliki seorang anak, maafkan Lili Yah, Bu" ucap Liana yang berlutut dihadapan Ayah Jaya dan Ibu Ati.


Mereka bertiga menangis bersama dan saling memaafkan. Bahkan Ayah Jaya tidak hosanna marah pada Liana saat melihat putrinya menangis sesegukan sambil menunduk dan berlutut meminta maaf pada mereka berdua.


"Sudah nak, ini semua akan menjadi pelajaran untuk kamu dan bisa membuat kamu melihat. Semua orang yang benar-benar tulus atau hanya pura-pura saja. Semuanya sudah berakhir, kita sambut hari yang baru dan membuat kamu bisa membuka kembaran baru dan hidup baru" ucap Ayah yang mengangkat Liana untuk ikut duduk diatas sofa dan memeluknya.


"Yang dikatakan Ayah benar nak, kamu harus bisa tersenyum kembali dan bisa move on, kalo orang-orang jaman sekarang ngomongnya" ucap Ibunya yang menghibur Liana supaya tidak berlarut-larut dalam kesedihan yang diciptakan oleh Radit padanya.


"Iya Ayah, Ibu. Lili akan melakukan apa yang Ayah dan Ibu katakan, Sekiga saja Lili memang bisa dan mampu untuk melakukan semua ini. Karena Lili hanya akan fokus pada pekerjaan Lili saja" ucap Liana yang memeluk Ayah dan Ibunya bersama-sama lalu tersenyum bersama.


Mereka bertualang saling berpelukan dan tersenyum, lalu Liana menceritakan semuanya pada Ayah dan Ibunya. Mereka berdua tentu saja sangat marah dan juga sangat membenci Radit. Bahkan mereka sudah menyewa pengacara untuk bisa segera lepas tanpa gangguan dari Radit dan keluarganya yang seperti parasit.


Ayah dan Ibunya Liana sekarang sedang berisatirahat. Karena habis melakukan perjalanan jauh dari kampung, begitu juga Liana yang harus istirahat untuk menyambut hari esok yang akan dia lewati dengan senyuman dan tanpa bayang-bayang Raditiya Hermansyah.


.


.


.


Jangan pernah lupa tinggalkan jejak kalian ya untuk like, komen, vote dan hadiahnya ya buat Othor supaya makin semangat buat selalu up...


Bintangnya juga jangan sampe lupa ya😉Thanks and happy reading...🤗🤗🤗