Disaster In Marriage

Disaster In Marriage
Kenapa bisa???



"Apa kamu bahagia Dear? Jangan kamu tanya aku, karena aku sangat bahagia bisa seperti ini dan bersama kamu" tanya Alfred yang menatap kedepan dan dia memotong langsung saat Alisha akan bertanya pertanyaan yang sama dengan nya.


"Tentu saja aku sangat bahagia sayang. Jadi tidak kmu tanyakan lagi soal itu" jawab Alisha yang masih dalam posisi yang sama seperti sebelumnya. Masih memeluk Alfred dengan erat dan dia begitu bahagianya.


"Tentu saja Dear, karena aku akan selalu menanyakan nya. Kamu suka atau tidaknya, karena aku sangat bahagia jika aku bisa melihat kamu bahagia dan tersenyum seperti ini. Jadi jangan pernah tidak tersenyum, oke" ucap Alfred yang sekarang menatap wajah Alisha yang mendongak kearahnya.


"Tentu saja, karena aku tersenyum hanya untuk kamu seorang dan selalu kamu sayang" jawab Alisha yang kembali menyandarkan kepalanya pada dada bidang Alfred.


"Ini sudah larut, apa akan seperti ini terus? Tidak ingin istirahat, hmm?" tanya Alfred yang membuat Alisha hanya tersenyum dan mengalungkan tangan nya dileher kokoh Alfred.


Alfred yang tahu maksud Alisha langsung menggendongnya menuju kamar. Mereka seperti biasa akan tidur bersama dan hanya tidur saja. Alisha sangat bersyukur, karena Alfred adalah pria yang baik dan tidak pernah macam-macam padanya.


.


Keesokan harinya Alisha sudah bersiap dengan gaun selututnya. Bahkan dia terlihat sangat manis dengan gaun nya itu, Alfred yang melihatnya saja sudah sangat terpesona dibuatnya. Mereka melakukan kegiatan setiap paginya seperti biasa.


"Kenapa kau selalu terlihat cantik seperti ini Dear?" tanya Alfred yang malah memeluk pinggang Alisha dan mendekatkan tubuhnya.


"Aku biasa saja sayang. Bahkan aku tidak menggunakan riasan, apanya yang cantik?" jawab Alisha yang bertanya juga pada Alfred.


"Benarkah? Kenapa aku merasa jika kamu memang menggunakan riasan, tapi ini lebih baik. Jangan lupa menggunakan masker, karena aku tidak mau berbagi kecantikan kamu pada siapapun tanpa terkecuali" ucap Alfred yang mengenakan masker pada Alisha yang hanya diam dan patuh saja apa yang dilakukan Alfred padanya.


"Siap?" tanya Alfred lagi sebelum pergi kesana. Mereka berjalan menuju pintu keluar, hingga mereka tidak sengaja berpapasan dengan seseorang yang mungkin saja memang orang dari masalalu Alisha. Siapa yang tahu?.


Mereka memasuki lift yang sama dan tidak ada yang membuka suara sama sekali. Alisha juga hanya memegang lengan Alfred saja dan tidak memerdulikan dua orang didekat mereka.


"Apa kau merasa tidak nyaman Dear?" tanya Alfred menggunakan bahasa Jerman dan kedua orang itu tidak tahu juga tidak mengerti.


"Entahlah, aku merasa jika aku tidak nyaman dengan perasaanku ini. Tapi tidak apa-apa" jawab Alisha yang membuat Alfred merasa khawatir akan jawaban yang dikatakan oleh Alisha.


Alfred takut jika dia mengenali jika dia orang ini memang masalalunya Alisha sebelum dia mengalami depresi berat. Mengakibatkan dia menjalani pengobatan yang sangat lama dan menghilangkan semua ingatan nya yang dulu.


"Bagaimana bisa Dear? Apa kamu merasa pusing atau sesak nafas? Apa kita harus kedokter?" tanya Alfred dengan panik dan membuat dua orang yang ada disana juga merasa heran.


"Aku tidak apa-apa, hanya perasaanku saja sayang. Aku baik dan kamu tidak perlu khawatir, kita keluar sekarang" jawab Alisha yang mengajak Alfred untuk keluar dari lift segera.


"Baiklah Dear, tapi benarkan. Jika kmu tidak kenapa-kenapa? Aku sangat takut kamu kenapa-kenapa" tanya Alfred yang sudah sangat khawatir akan keadaan Alisha.


"Aku baik-baik saja sayang. Aku tidak apa-apa dan tidak terjadi apa-apa, jika aku merasa tidak nyaman atau tidak baik-baik saja. Aku akan langsung bilang padamu" jawab Alisha yang memegang pipi Alfred dengan tersenyum sangat cantik padanya.


"Huh, baiklah. Berjanjilah padaku, jika kmu akan selalu mengatakan apapun yang kamu rasakan Dear" ucap Alfred yang memegang tangan Alisha untuk berjanji padanya.


"I'm promise you Dear" ucap Alisha yang berjanji akan selalu bicara pada Alfred apapun yang terjadi nanti padanya.


Sedangkan dua orang yang berada didalam satu lift dengan mereka malah terlihat sangat tidak suka. Padahal mereka Berusahalah tidak merugikan siapapun. Tapi jika memang Orng yang selalu iri terhadap orang lain, akan tetap seperti itu. Mau orang itu biasa saja, tetap saja menurutnya, mereka itu sangat memuakan.


"Dih, dasar tidak tahu diri. Mentang-mentang bukan warga sini, mesra-mesraan didepan umum" gerutu sang wanita. Siapa lagi jika bukan Tyas yang berdua dengan seorang pria yang tidak lain adalah Raditiya Hermansyah, atau Radit.


"Biarkan saja sih sayang. Bahkan kita sudah sering lebih parah dari pada itu. Jadi biarkan, apa lagi mereka kelihatan nya bukan asli warga negara ini" ucap Radit yang membuat Tyas menggerutu hingga memasuki mobil.


.


Alisha dan Alfred menjadi pusat perhatian semua orang yang ada diperusahaan HARD.CORP, pasalnya ini adalah kali pertama Tuan Muda mereka membawa seorang wanita yang dari bentuk dan postur tubuhnya sudah terlihat cantik. Walau dia menggunakan masker.


"Apa ini perusahaan kamu yang ada disini sayang?" tanya Alisha yang sudah berada didalam lift menuju lantai paling atas dan itu hanya ada ruangan Alfred saja.


"Tentu saja, disini sudah menjadi pusatnya. Karena itu ini menjadi gedung yang paling tertinggi dari pada gedung-gedung lainnya. Apa kamu menyukainya Dear?" tanya Alfred yang sudah memasuki ruangan yang begitu luas dan banyak barang-barang mewah tentunya.


"Tentu saja, apa ada yang salah jika aku menyukai tempat ini? Ini adalah tempat ternyaman kedua setelah pent house" jawab Alisha yang melepasakan maskernya dan dia mentap sekeliling dan memasuki beberapa ruangan yang ada didalam ruangan tersebut.


"Wah, ini ada tempat istirahat dan juga santainya? Ini sangat keren sayang" tanya Alisha yang selalu tersenyum lalu membuka pintu yang menurutnya sangat membuat penasaran.


"Walk in closet? Ini semua?" tanya Alisha yang membuka ruangan luas dan sama luasnya dengan walk in closet didalam pent house.


"Iya, selama aku sering bolak-balik Jerman. Jika harus pulang ke pent house akan sangat melelahkan. Jadi dibangunlah ruangan ini dan dibagian yang tertinggi bangunan ini" jawab Alfred yang memeluk pinggang Alisha dengan sangat mesra.


"Benar juga. Maaf ya aku membuat kamu harus bolak-balik Jerman, tapi sekarang aku sudah disini dan tidak akan ada bolak-balik lagi" ucap Alisha yang membalikan tubuhnya menghadap kearah Alfred, lalu mengalungkan tangan nya dileher kokoh Alfred.


"Iya, Setelah pulang dari sini. Kita akan mempersiapkan untuk pernikahan kita berdua, jangan menolak dan mungkin juga setelah makan siang. Karena pekerjaan akan dihandle oleh asisten pribadiku yang baru" ucap Alfred yang membuat Alisha hanya bisa mengangguk saja.


"Baiklah, kamu atur saja sayang. Bisa aku bantu pekerjaanmu itu?" tanya Alisha yang sekarang sudah berada dihadapan meja kerja Alfred yang begitu besar dan mewah tentunya.


"Tidak ada, kamu hanya boleh duduk diam dan tidak boleh melekukan pekerjaan. Jika butuh sesuatu bilang dan tidak menerima penolakan" ucap Alfred telak dan itu membuat Alisha mengerucutkan bibirnya kesal.


Karena tidak diizinkan untuk bekerja juga membantunya. Dia malah menghentak-hentak kan kakinya, karena kesal.


"Kenapa juga aku diajak kemari, hnya untuk duduk diam saja" gerutu Alisha yang membuat Alfred malah tersenyum mendengarnya.


"Jika begini aku akan mati kebosanan. Huh, aku harus berbuat apa sekarang? Apa aku belanja saja ya, tapi... Pasti tidak akan diizinkan olehnya" gumam Alisha memainkan ponselnya dan dia malah terlelap sambil terus memegang ponsel.


"Tapi ini lebih baik, karena kamu akan diantarkan untuk sementara dari gerutuan kamu Dear" ucap Alfred yang menggendong Alisha menuju ruangan istirahatnya.


"Kamu disini dulu dan jangan kemana-mana, karena aku akan bekerja dulu" ucap Alfred yang mencium kening Alisha dan segera pergi meninggalkan nya didalam kamar.


Alfred meninggalkan Alisha yang tertidur didalam kamarnya dan dia segera menyelesaikan pekerjaan nya dengan cepat sebelum Alisha terbangun.


Setelah beberapa jam lamanya berkutat dengan berkas-berkas, tiba-tiba ada sebuah tangan cantik yang memeluknya dari belakang dan menyandarkan dagunya dibahu Alfred dengan manjanya.


"Apa masih sibuk?" tanya Alisha dengan berbisik lalu mencium pipi Alfred dari samping.


"Sebentar lagi, kenapa? Apa sudah lapar?" tanya Alfred yang menarik tentang Alisha untuk bisa duduk diatas pangkuan nya.


"Emm, sangat. Aku sangat lapar sekali" jawab Alisha sambil memeluk Alfred dengan mesranya.


"Baiklah Nyonya Harrison sekarang kita keluar. Kita akan berburu kuliner yang enak untuk kita berdua, oke" ucap Alfred dengan sangat lembut dan juga tersenyum.


"Baiklah Tuan Harrison, dengan senang hati. Karena aku akan memakan apa saja yang ada didepanku nantinya" jawab Alisha dengan mengedipkan sebelah matanya menggoda Alfred.


"Ayo, kita pergi sekarang" ucap Alfred yang mengusap pipi Alisha dengan lembut dan menggandeng tangan nya menuju lift.


"Apa yang kau inginkan sekarang Dear? Makanan lokal atau western?" tanya Alfred dengan menggandeng tangan Alisha.


"Lokal saja, aku ingin mencicipinya. Apa akan cocok dengan lidahku ini, atau malah sebaliknya" jawab Alisha dengan tersenyum dan dia lupa menggunakan maskernya kembali.


Membuat semua kariawan yang ada disana menatapnya penuh dengan kekaguman. Bahkan seorang kariawan wanita saja mengaguminya, apa lagi kariawan pria. Membuat Alfred menatap tajam pada semua orang yang menatap kearahnya dan juga Alisha.


"Dear, sudah aku katakan. Selalu gunakan maskernya, aku tidak rela berbagi kecantikan kamu dengan yang lain" ucap Alfred dengan sangat posesif.


"Maaf sayang, aku lupa. Kamu juga tidak mengingatkan ku tadi" ucap Alisha yang tersenyum dan merangkul lengan Alfred menuju loby perusahaan.


"Selamat siang Tuan Muda, Nona. Silahkan" ucap security yang membukakan pintu untuk Alfred dan Alisha. Bahkan dia juga mengikuti untuk membukakan pintu mobil untuk mereka berdua.


Mereka memasuki mobil dan mobil meluncur menuju restaurant yang terkenal dengan masakan lokal dan juga western nya yang enak-enak. Mereka berdua memasuki ruangan private untuk mereka makan berdua saja dengan berbagai macam hidangan lokal.


"Kenapa apa kamu tidak suka dengan makanan nya? Atau menginginkan sesuatu lagi?" tanya Alfred dengan tatapan yang bingungnya, akan sikap Alisha yang diam saja.


"Tidak, justru aku bertanya. Kenapa memesan makanan sebanyak ini? Apa akan bisa dihabiskan oleh kita berdua saja? Rasanya tidak mungkin" tanya Alisha dengan tatapan yang sepertinya sudah merasakan kenyang sebelum memakan semua makanan didepan nya.


"Oh, benarkah? Aku rasa tadi aku mendengar jika akan ada yang bisa menghabisakan semua makanan nya" ucap Alfred yang malah menggoda Alisha.


"Iya, aku memang mengatakan itu. Tapi aku kira makanan nya tidak sebanyak ini juga" ucap Alisha yang mengatakan nya seperti sudah sangat kenyang sekali melihatnya.


"Dari pada banyak bicara dan berfikir bagaimana menghabiskan semua makanan ini. Lebih baik kita makan sekarang" ucap Alfred yang sebenarnya tidak mengerti dengan semua makanan yang ada didepan nya saat ini.


Bahkan rasanya saja dia belum pernah mencicipinya walau sedikit. Karena lidahnya sejak kecil hanya makan makanan western saja. Selebihnya tidak pernah, walau dia sudah lama menetap dinegara ini. Alfred belum pernah makan makanan khas negara ini sedikitpun juga.


'Huh, bagaimana caranya menghabisakan makanan ini? Sedangkan aku melihatnya saja sudah eneg dan tidak bisa memakan nya. Ini semua salahku, kenapa aku bertanya akan makan apa padnya. ****!!!' umpat Alfred dalam hati sambil menatap Alisha yang juga belum memakan makanan nya juga.


'Apa dia juga tidak menyukai makanan ini? Jika tidak suka kenapa memesan sebanyak ini? Sebaiknya aku memesan makanan western saja. Dari pada kami berdua hanya diam saja dan tidak makan satupun' ucap Alisha yang menggelengkan kepalanya dan dia akan beranjak dari duduknya untuk keluar. Tapi tangan nya ditahan oleh Alfred.


"Mau kemana? Kita belum makan sama sekali" tanya Alfred yang menahan tangan Alisha.


"Aku akan memesan makanan western saja. Karena jika kita memesan hanya ini, kita berdua tidak akan bisa makan. Kecuali kita mau mencoba memakan nya" jawab Alisha dengan senyuman nya dan dia mentap Alfred yang terlihat menghela nafasnya.


"Kita makan saja ini dulu. Kelihatan nya ini seperti salad, mungkin saja ini enak" ucap Alfred yang merasa harus bisa memakan makanan lokal dan mungkin lidahnya akan terbiasa.


"Oh, oke. Apa kamu yakin sayang? Jika kamu tidak yakin jangan dipaksakan, aku nggak mau kamu kenapa-kenapa" tanya Alisha yang merasa takut jika Alfred kenapa-kenapa saat memaksakan memakan itu semua.


"Kita coba saja. Siapa tahu memang cocok dilidah kita berdua, bagaimana? Apa kamu mau?" jawab Alfred yang bertanya dan mulai menyuapkan satu sendok kecil kedalam mulutnya dan dia mulai merasakan ada rasa yang aneh dan meledak dalam mulutnya.


"Kenapa? Apa tidak enak? Jika tidak enak, muntahkan saja. Jangan dipaksakan sayang, please muntahkan" ucap Alisha yang sudah beranjak dari duduknya menuju Alfred untuk memuntahkan semua makanan didalam mulutnya.


"Dear, tenanglah. Rasanya tidak seburuk itu, kau coba dulu. Buka mulutmu" ucap Alfred yang menyodorkan satu sendok makanan yang dia anggap adalah salad.


"Aa" ucap Alfred dan Alisha menerima suapan tersebut dan mulai mengunyahnya dengan perlahan dia menelan nya.


"Bagaimana, apa enak?" tanya Alfred yang menatap kearah Alisha yang hanya diam saja lalu dia mengangguk perlahan.


"Iya, ini rasanya sangat aneh. Tapi masih bisa diterima oleh lidah ku, apa akan melanjutkan makan ini lagi atau memesan makanan western saja?" tanya Alisha dengan tatapan datarnya dan dia bisa melihat jika Alfred sebenarnya merasa terpaksa.


"Lebih baik kita pesan makanan western saja. Karena kita tidak tahu apa yang akan kita alami setelah memakan itu semua" ucap Alfred yang mengatakan nya sambil tersenyum meringis.


"Itu lebih baik, semua makanan ini sebaiknya diberikan pada pelayan disini saja. Supaya tidak mubazir" ucap Alisha yang mengatakan nya sambil tersenyum. Dia meminta pelayan untuk membereskan semuanya dan mengambil semua makanan ini untuk mereka.


"Kalian boleh membagi-bagikan pada teman-teman kalian, karena ini belum kami sentuh sama sekali. Kami memesan masakan western saja" ucap Alisha yang mengatakan nya pada beberapa pelayan tersebut.


"Baik Nona, terimakasih sebelumnya. Apa yang anda inginkan sekarang, biar kami siapkan semuanya dengan baik untuk anda berdua" ucap seorang pelayan yang sedang memegang buku untuk mencatat pesanan pelanggan.