
Sekarang keluarga Radit berada dititik yang seperti Liana alami dulu, saat menjadi bagian dari keluarga mereka. Sekarang menjadi berbanding terbalik keadaan nya, dimana mereka yang ditindas oleh menantu barunya sendiri. Siapa lagi jika bukan Ayuning Tyas.
Seperti pagi ini, yang biasanya mereka hanya ongkang-ongkang kaki. Sekarang harus berbagi tugas untuk membereskan rumah dan memasak. Tidak ada lagi asisten rumahtangga yang membantu mereka mengerjakan semuanya. Dulu saat Liana menjadi menantu, semua asisten rumahtangga dia yang membayarnya, dan mereka bisa menyuruh sesuka hati mereka. Jadi sekarang mereka baru merasakan yang namanya ditindas dan tidak bisa melakukan apa-apa, selain menurut pada Tyas supaya tidak diusir dari rumah.
"Ma, kenapa kita yang menjadi pembantu dirumah sendiri? Apa lagi anak-anak aku juga diberikan makanan sisa mereka berdua. Aku harus segera mendapatkan pekerjaan. Aku tidak ingin seperti ini terus" ucap Rafika yang sedang duduk setelah selesai membereskan rumah dan halaman dengan sangat bersih.
"Mau bagaimana lagi Fika, Mama tidak memiliki kuasa apa-apa didalam rumah ini. Sekarang Radit juga tidak perduli pada kita semenjak bersama dengan instrinya yang sekarang. Mama tidak bisa apa-apa" jawab Mama Hanum yang sekarang penampilan nya sangat jauh berubah dari sebelumnya. Yang selalu menor dan berpakaian bagus-bagus setiap hari.
"Kenapa nasib kita berubah seratus delapan puluh derajat Ma? Dulu kita tidak seperti ini. Aku harus bagaimana? Jika kembali pada Mas Dika maka aku sudah siap dimadu dan lebih parahnya, Mama mertuaku hanya membela Mas Dika saja Ma. Aku harus bagaimana?" tanya Rafika yang sudah menangis sambil menunduk dan dia tidak tahu harus berbuat apa.
"Lebih baik kamu kerja saja dan kumpulkan uang sebanyak mungkin, supaya kita bisa lepas darinya. Urusan anak-anak kamu biar Mama yang menjaga mereka" ucap Mama Hanum yang meminta Rafika bekerja kembali dan siap untuk menjaga kedua cucunya yang ada disana.
"Iya Ma, aku sudah memberikan lamaran ku pada perusahaan baru itu. Semoga saja aku diterima bekerja disana, kabarnya disana gajinya lumayan besar. Jadi aku bisa mengumpulkan uang untuk kita" jawab Rafika dengan semangat yang membatalkan. Karena dia sudah tidak ingin mengalami hal buruk lagi.
'Apa ini yang dirasakan oleh Liana saat kami berdua memperlakukan nya tidak baik? Bahkan aku mengalami hal serupa dengan nya. Tuhan, aku memang bersalah dalam hal ini. Semoga Liana bisa tenang disisimu Tuhan' ucap Rafika dengan menunduk dan dia meneteskan air matanya saat mengingat betapa kejam dirinya pada Liana.
"Ma, aku mendapatkan telpon. Semoga aku bisa diterima bekerja disana" ucap Rafika yang menderima telpon dari HARD.CORP.
Setelah cukup lama menerima telpon. Dia kembali dan menceritakan semuanya pada Mama Hanum. Jika dia diterima bekerja disana sebagai asisten direktur keuangan. Karena sebelumnya dia memang bekerja dibagian keuangan, dan lagi dia memiliki pengalaman. Jadi dengan mudah mendapatkan pekerjaan disana dan ditempatkan dibagian yang bagus.
"Syukurlah Fika, Mama ikut senang mendengarnya. Kapan kamu akan mulai bekerja?" tanya Mama Hanum yang sangat senang dan dia sekarang sudah berubah karena dia sudah bukan siapa-siapa dan apa-apa.
"Hari ini Ma, aku harus bersiap sekarang. Aku mandi dan bersiap dulu ya Ma" jawab Rafika yang segera masuk kedalam kamarnya untuk bersiap-siap.
"Mau kemana kak, rapih banget?" tanya Radit saat akan sarapan bersama dengan mereka.
"Kakak sudah mulai bekerja lagi Dit sekarang. Kakak nebeng ya, soalnya kan kantor tempat kamu kerja melewatinya. Jadi bisa sekalian" jawab Rafika dengan semangat dan dia selalu tersenyum karena bersyukur sudah bisa bekerja kembali.
"Maaf ya kak, bukan nya Mas Radit tidak ingin mengantarkan kakak. Hanya kami ingin kedokter dulu, jadi tidak bisa mengantarkan kakak. Kakak bisa naik taxi atau ojeg mungkin untuk sampai kesana" bukan Radit yang menjawabnya. Melainkan Tyas yang mengatakan nya dengan senyuman dibibirnya menatap sinis kearah Mama Hanum dan Fika.
"Iya sudah tidak apa-apa" jawab Fika dengan me*emas kedua tangan nya bergantian merasa sedih dan kesal menjadi satu.
'Kamu hanya diam saja Dit, saat keluaga kamu diperlakukan seperti ini oleh istri kamu. Terbuat dari apa hati kamu itu Dit?' ucap Fika dalam hati sambil terus mengedip-ngedipkan matanya yang akan menangis.
"Ma, kami harus berangkat sekolah sekarang" ucap kedua anaknya yang sekarang duduk dibangku sekolah dasar.
"Ah, iya. Kalian hati-hati ya, maaf Mama tidak bisa mengantar. Kalian bisa berangkat dan pulang sendiri kan? Nanti jika pulang bersama nenek saja, jangan kemana-mana lagi" ucap Fika yang mengantarkan mereka berdua kedepan pintu saja.
"Iya Ma, kami akan mendengarkan apa yang Mama katakan. Kami pamit Ma" ucap kedua anaknya yang segera mencium punggung tangan Fika, lalu pergi.
Setelah itu mereka pergi dan Fika juga pergi menggunakan ojeg untuk menghemat uangnya. Dia akan bekerja dengan baik dan jujur, dia tidak ingin jika nanti dia dipecat dan sulit untuk mendapatkan pekerjaan.
.
Jika Fika sedang berjuang untuk kehidupan nya dan mulai bekerja. Didalam rumah sakit Liana masih saja sama dan tidak ada perubahan. Baik kondisinya sekarang semakin memprihatinkan. Dia seperti sudah kehilangan semangat dalam hidupnya. Sungguh, siapa saja yang melihat keadaan nya pasti akan menangis dan juga sedih.
Tapi Alfred tidak akan menyerah untuk bisa menyembuhkan Liana dan dia menjadi dirinya yang baru. Bahkan sekarang Alfred meminta dokter sepesialis dari luar negri untuk datang dan menangani Liana secara langsung.
Pada awalnya memang tidak mau. Tapi setelah mendapatkan ancaman dan juga peringatan dari Alfred. Dokter paruh baya tersebut mau kemari dan menangani Liana dengan baik.
"Bagaimana keadaan nya sekarang? Apa dia bisa disembuhkan atau tidak?" tanya Alfred langsung to the point pada dokter tersebut.
"Kondisinya sudah sangat parah. Tapi saya akan berusaha semampu saya untuk menyembuhkan nya. Karena dia sudah tidak ada semangat dalam hidupnya. Dia sudah tidak memiliki gairah dalam kehidupan nya saat ini. Semoga setelah melakukan beberapa prosedur akan menjadi lebih baik. Tapi jika saya boleh memberikan saran, sebaiknya dibawa ke klinik saya disana. Dengan begitu bisa lebih baik lagi" jelas dokter Ferry.
"Kau atur saja semuanya. Saya akan melakukan apa saja asal dia segera sembuh" ucap Alfred dengan penuh ketegasan dan juga sangat berkarisma, juga tidak akan ada yang berani menolaknya meminta sesuatu.
"Tapi ini membutuhkan waktu yang lumayan lama untuk menyembuhkan nya seratus persen Tuan Muda. Ini sudah sangat parah dan mungkin juga akan sulit jika dia seperti ini terus" jelas dokter Ferry yang merasa sangat takut saat melihat aura yang diberikan oleh Alfred padanya.
"Jangan pernah mengatakan kata-kata tidak mungkin atau tidak bisa. Saya paling tidak bisa mendengar suara kata itu. Jadi lakukan yang terbaik. Jika ada kendala atau kesalahan, nyawamu dan keluargamu menjadi jaminan nya!" ucap Alfred dengan penuh penekanan disetiap kata yang dia ucapkan pada dokter Ferry.
"Baik Tuan Muda. Akan saya lakukan yang terbaik dan sekuat tenaga saya melakukan nya untuk tunangan anda" jawab dokter Ferry dengan sangat ketakutan.
"Dia yang akan menjaga dan menungguinya. Sesekali saya akan kesana untuk melihatnya secara langsung pengobatan yang kau lakukan padanya" ucap Alfred yang menunjuk perawat wanita yang menjaga nya selama ini.
"Baik Tuan Muda. Saya akan mempersiapkan semuanya sekarang juga. Lebih cepat lebih baik" ucap dokter Ferry dan dia segera mengurus kepindahan rawat untuk Liana.
"Kau juga bersiap untuk mendampinginya. Tidak ada bantahan atau penolakan" ucap Alfred yang mengatakan nya pada suster Fitri.
"Baik Tuan Muda. Saya akan menyiapkan pakaian Nona dan saya sendiri" jawab suster Fitri yang segera pergi dari sini.
"Kamu akan segera sembuh. Aku yakin itu, jangan pernah menyerah dalam hidup ini. Kamu harus semangat dan merubah seluruh takdir yang membuatmu seperti ini" ucap Alfred yang menggenggam tangan Liana dan dia menatap wajah Liana dengan lekat, lalu menyentuh pipinya dengan lembut.
"Jangan menatap kebelakang lagi dan lupakan segalanya. Bila perlu hilangkan semua ingatan mu tentang masalalu mu. Buat masadepan mu sendiri dengan tangan mu ini, yang akan selalu aku genggam seperti ini" ucap Alfred yang menunjukan genggaman tangan nya pada Liana yang hanya menatap kosong saja.
Alfred masih terus menatap wajah Liana yang sangat cantik dan juga penuh dengan luka-luka didalam hatinya yang tersimpan rapat. Tidak ingin ada seorang pun yang mengetahuinya, termasuk dirinya.
Semua persiapan sudah selesai dan tinggal keberangkatan nya saja. Alfred yang mendandani Liana sehingga dia terlihat sangat cantik dan sekarang berada digenggaman nya. Alfred menuntun nya dengan lembut menuju jet pribadinya yang sudah standby menunggu kedatangan Alfred.
"Mom, Dad" ucap Alfred yang melihat Mommy dan Daddy nya adalah disana dan akan ikut dengan nya juga.
"Kenapa? Ada yang salah?" tanya Mom Felisha yang menatap kearah Alfred dengan sinis.
"Tidak ada" jawab Alfred yang mengajak Liana masuk kedalam pesawat dan dia sudah duduk disamping nya juga.
"Bisa Daddy bicara dengan mu AL?" tanya Dad Donald pada Alfred.
"Tentu saja" jawab Alfred pada Dad Donald.
"Tunggulah disini, aku akan segera kembali" ucap Alfred pada Liana yang hanya diam saja tidak melakukan apa-apa dan mengatakan apa-apa.
"Dasar bucin. Sudah sana pergi" ucap Mom Felisha yang memerintahkan Alfred pergi dari sana.
"Bucin? Apa itu bucin Mom?" tanya Alfred yang tidak mengetahui arti bucin itu apa.
"Sudah itu untuk PR kamu. Sekarang pergilah" ucap Mom Felisha yang mengusir Alfred untuk bertemu dengan Dad Donald didalam kabin pesawat.
Alfred masih memikirkan apa yang akan dibicarakan oleh Dad Donald kita padanya. Dia hanya akan mendengarkan apa yang akan Dad Donald katakan.
"Duduklah" ucap Dad Donald pada Alfred yang masih berdiri.
Alfred langsung duduk dan dia menatap kearah Dad Donald. Dimana mereka saling diam selama beberapa saat Danu itu sudah biasa dan sering terjadi jika mereka hanya berdua dan ingin mengatakan sesuatu antara satu sama lain.
"Apa yang ingin Daddy katakan?" tanya Alfred yang sudah cukup lama mereka diam saja.
"Apa kau memiliki perasaan lebih padanya?" tanya Dad Donald yang menatap wajah Alfred dengan tatapan datarnya.
"Jika iya kenapa, jika tidak kenapa?" Alfred balik bertanya pada Dad Donald.
"Jika kau memiliki perasaan lebih padanya, kau harus benar-benar menjaganya dengan baik. Dia adalah wanita yang berbeda dari semua wanita yang ada didunia ini. Jadi kamu harus extra hati-hati menjaganya" ucap Dad Donald yang baru kali ini mengatakan soal penilaian nya terhadap seorang wanita. Apa lagi dia sedang dekat dengan putra tunggalnya.
"Tidak perlu Daddy mengatakan nya pun aku akan menjaganya dengan baik. Dan tidak akan ada orang yang bisa menyentuhnya, apa lagi menyakitinya selama dia bersama dengan ku dan menyandang sebagai tunangan ku. Itu tidak akan pernah terjadi" ucap Alfred yang mengatakan nya dengan sangat tegas dan lugas pada Dad Donald.
"Good boy, itu akan lebih baik. Kelak dia akan menjadi pendamping mu yang akan biwa membuat mu bahagia" ucap Dad Donald yang sudah merestui Alfred jika harus bersama dengan Liana.
"Tentu saja Dad" jawab Alfred dengan tegasnya lalu dia beranjak dari ruangan yang mana ada didalam pesawat.
Alfred melihat Mom Felisha sedang dusun disamping Liana yang hanya diam saja. Bahkan Mom Felisha mengajaknya berbicara hingga mengajak melakukan sesuatu pada jari tangan nya.
"Apa kmu merasa tenang dengan seperti ini? Mommy tahu, jika didalam lubuk hati kamu. Kmu bisa merasakan sesuatu, karena fikiran kamu yNg menolak untuk bisa mendengarku atau siapapun yang dekat dengan kamu" ucap Mom Felisha yang menghela nafasnya kasar, lalu Mom Felisha mendongakan kepalanya untuk menahan air mata yang akan turun bebas.
"Semoga kamu bisa segera sembuh. Karena kamu adalah wanita yang sangat kami harapkan selama ini" ucap Mom Felisha yang membuat Alfred mengernyitkan dahinya saat mendengar ucapan dari Mom Felisha barusan.
"Kamu tahu, kamu mirip sekali dengan sahabatku dulu. Sayangnya dia sudah tidak ada lagi didunia ini. Dia sudah menghadap pada Tuhan, tapi kalian sangat mirip sekali. Jika dia masih ada pasti akan menganggap jika kamu adalah putrinya. Karena kalian sangat mirip sekali" ucap Mom Felisha yang mengajak ngobrol Liana.
Walau Liana hanya diam saja, Mom Felisha selalu bercerita ini dan itu. Bahkan terlihat sangat bersemangat untuk menceritakan apa yang membuat Mom Felisha mengingat masalalunya dengan sahabat baiknya dulu.
Alfred hanya diam dan duduk dibelakang mereka berdua. Alfred bahkan baru kali ini bisa melihat Mom Felisha sangat bahagia dan juga sedih secara bersamaan. Tapi dia tidak ingin menganggung waktu Mom Felisha yang sedang bercerita pada Liana.
'Sembuhkan dia Tuhan. Aku tahu engkau tidak pernah tidur dan bahkan selalu melihat umatmu yang sedang kesulitan. Buat dia pulih dan jika diperbolehkan hilangkan semua ingatan nya tentang masalalu. Yang boleh dia ingat hanya aku dan keluarga ku saja, yang lain tidak boleh kau ingatkan padanya. Hapus saja semuanya Tuhan, aku yang akan mengusirnya semua kenangan masa kini hingga selamanya' ucap Alfred dalam hati yang malah memejamkan matanya karena terlalu mengantuk.
Setelah menempuh perjalanan belasan jam lamanya, mereka semua sampai disebuah bandara international dinegara Jerman. Dimana mereka mendapatkan jemputan dari orang-orang kepercayaan Dad Donald yang memang sudah sangat terkenal diseluruh negara.
Alfred selalu berada disamping Liana yang berjalan dengan sangat pelan. Mungkin dia merasa kelelahan karena menempuh perjalanan jauh. Alfred meminta perawat menyiapkan kursi roda untuk Liana.
Mereka semua sampai disebuah mainson yang sangat luas dan muga besar. Dengan disambut oleh para pelayan yang siap melayani Tuan dan Nyonya mereka.
"AL, kamu bawa dia istirahat saja. Kamu juga harus istirahat, karena pengobatan nya dilangsungkan besok saja" ucap Mom Felisha yang memerintahkan Alfred untuk istirahat bersama Liana.
Alfred tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya. Mendorong kursi roda menuju kamarnya yang berada dilantai dua. Alfred mengganti pakaian nya dan langsung menggantikan pakaian Liana juga. Dia ingin melakukan ini sendiri dan bisa melakukan nya dengan baik, walau dia merasakan ada sesuatu yang meronta ingin sesuatu yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.