Disaster In Marriage

Disaster In Marriage
Hal buruk



Alfian mengatakan itu semua supaya Alfred mau mengerjakan pekerjaan nya. Sama seperti perusahaan nya yang ada di Italia, karena Alfian yakin jika perusaan ini dipimpin langsung oleh Alfred akan semakin maju dan keputusan Dad Donald dan Mom Felisha memindahkan kantor pusat kemari adalah keputusan yang tepat.


"Kita lihat saja nanti" ucap Alfred yang menatap kearah Alfian.


"Sesukamu saja AL, karena aku harus segera kembali keperusahaan Papa ku sendiri. Kakak sudah tidak bisa mengerjakan semuanya sendiri, jadi aku harus segera membantunya dan hari ini juga aku akan berpamitan pada seluruh kariawan yang ada disini" ucap Alfian yang segera bangkit dari duduknya lalu dia pergi. Sebelum dia pergi Alfian mengatakan sesuatu pada Alfred.


"Aku harap kamu bisa lebih baik AL. Jangan seperti sebelumnya pada kariawan, karena kamu tidak akan mudah mendapatkan kariawan yang sesuai keinginan kamu. Aku pergi sekarang AL, sampai jumpa lagi" ucap Alfian yang langsung pergi dari ruangan kerja Alfred.


"Dasar aneh, kenapa dia banyak sekali bicara? Syukurlah dia sudah pergi, jika tidak maka telinga ku ini akan sakit mendengarkan ocehan nya itu" gumam Alfred yang menyandarkan punggungnya saat dia hanya sendiri didalam ruangan nya.


"Kita lihat saja nanti apa yang akan saya lakukan" ucap Alfred yang bergumam dan dia menatap kearah berkas yang diberikan oleh Liana.


"****!!! Kenapa saya selalu memikirkan dia dan selalu melihat kesedihan nya? Ini tidak benar dan sudah salah, siapa dia. Kenapa selalu saja hadir didalam fikiran saya" gumamnya yang malah berbicara sendiri dan isi kepalanya hanya wanita itu dengan kesedihan nya.


"Saya tidak bisa seperti ini terus, saya harus segera menyingkirkan bayangan nya dari kepala saya" ucap Alfred yang terus mengetuk-ngetuk kan kepalanya hingga menghembuskan nafasnya kasar.


Alfred terus menerus mensugesti dirinya supaya tidak selalu memikirkan wanita itu. Wanita yang menyedihkan menurutnya, dia hanya diam dan menyibukan dirinya kembali dengan semua pekerjaan nya. Hingga malam menjelang dia masih berada didalam ruangan kerjanya tanpa menghiraukan waktu yang sudah malam.


Sedangkan Liana sedang mengerjakan beberapa berkas yang akan dia gunakan presentasi pertamanya dihadapan orang-orang penting.


"Tuhan, semoga aku bisa melakuakan ini semua dengan baik dan tidak membuat kesalahan" gumamnya yang nembereskan barang-barangnya sebelum meninggalkan ruangan kerjanya.


"Wah, ternyata ini sudah malam. Sampe tidak sadar jika sudah bekerja sibuk seperti ini" gumamnya yang segera keluar dari dalam ruangan nya.


"Sudah jam sembilan, aku sampe lupa mengabari Ibuk dan Ayah. Mereka pasti sangat khawatir sekali padaku" gumamnya lagi sambil mengambil ponselnya yang ada didalam tas.


"Akhirnya Ibuk dan Ayah mengerti, aku akan pulang sekarang" ucapnya yang segera mengemudikan mobilnya untuk pulang.


Liana tidak menyadari jika ada yang mengikuti mobilnya sejak keluar dari perusahaan. Bahkan dia sepertinya sangat bahagia dan juga tidak terlihat kesedihan lagi diwajahnya.


Tiba-tiba ada sebuah mobil yang menghadang jalan nya hingga membuat Liana menghentikan mobilnya secara mendadak dan keningnya membentur stir mobil.


"Ya Tuhan, siapa dia? Kenapa menghadang mobil ku?" gumam Liana yang merasa sangat kaget.


DUK...


DUK...


DUK...


"Buka!! Buka pintunya!! Cepat buka" ucap seseorang yang entah menginginkan apa darinya.


"Tuhan, tolong bantu aku. Tolong jangan biarkan orang jahat itu melukai ku Tuhan" ucap Liana sambil berdo'a dan dia sangat ketakutan.


"Woy... Buka pintunya!! Jika tidak, akan tahu akibatnya" ucapnya yang malah buka hanya satu atau dua orang yang mencoba membuka pintu mobil Liana dengan paksa.


PRANG....


"Aaaaa" teriak Liana yang merasa sangat ketakutan saat salah seorang dari mereka bertiga membuka pintu mobilnya dan menyeret Liana keluar dari mobil.


"Lepaskan, lepaskan saya. Kalian siapa dan mau apa. Tolong jangan sakiti saya, saya mohon" ucap Liana yang sudah menangis dan juga ketakutan saat tubuhnya dibawa masuk kedalam mobil mereka.


"Tolong.... Tolong.... Tolong lepaskan saya, kalian boleh minta apa saja. Tapi tolong lepaskan saya, lepaskan saya" ucap Liana dengan tangisan yang sangat ketakutan. Dia benar-benar sangat ketakutan saat ini.


"Diam!!! Diam dan jangan bicara lagi. Jika masih bicara, maka pisau ini akan menembus lehermu yang mulus ini" ucap salah seorang dari mereka yang membawa Liana pergi entah kemana.


"Tolong lepaskan saya" ucap Liana sebelum mulutnya ditutup menggunakan kain oleh mereka.


'Tuhan, apa yang akan mereka lakukan? Aku akan dibawa kemana oleh mereka? Tuhan, tolong bantu aku. Tolong jangan biarkan mereka berbuat macam-macam padaku Tuhan. Tolong aku Tuhan' ucap Liana yang sudah sangat ketakutan dan dia hanya bisa menangis saja hingga mereka sampai didepan sebuah gudang tua.


"Cepat turun. Cepat!!" teriaknya yang memaksa Liana untuk keluar dari dalam mobil dengan paksa.


Liana hanya bisa menggeleng dan meronta saat mereka akan membawanya masuk kedalam gudang. Dia semakin ketakutan saat melihat gudang yang begitu gelap dan apa yang akan mereka lakukan padanya yang hanya bisa menangis saja.


"Cepat masuk! Tuan sudah menunggumu. Jika kau tidak segera masuk, kau akan tahu sendiri akibatnya!" ucapnya yang langsung mendorong Liana masuk kedalam dengan paksa.


"Buka pintunya... Buka, tolong buka pintunya... " teriak Liana yang menggedor-gedor pintu gudang tua tersebut.


"Wah Wah Wah sayang... Kenapa kamu sangat buru-buru sekali ingin keluar dari sini?" tanya seseorang yang suaranya tidak asing lagi bagi Liana.


"Tentu saja aku merindukan kamu sayang. Apa kamu tidak merindukan ku juga? Kamu jahat sekali sayang, padahal aku begitu merindukan kamu dan juga sangat ingin mengulang saat-saat kita bersama" ucapnya yang langsung mendekati Liana dan memeluk pinggang Liana yang akan berlari darinya.


"Lepaskan aku ba*ingan! Aku sangat jijik padamu dan tidak sudi kamu dekati lagi" ucap Liana yang mendorong tubuh Radit dengan kuat, hingga Radit mundur beberapa langkah.


"Ya, aku memang ba*ingan. Tapi ini semua aku lakukan karena kamu sendiri Liana, kamu tahu. Aku melakukan ini karena aku merasa ingin yang baru dan menantang, makanya aku melakukan ini pada mu dengan memerintahkan orang-orang itu untuk membawa kamu kemari" ucap Radit yang mendekati Liana lagi dan tersenyum sangat membuat Liana benar-benar membencinya.


"Jangan pernah menolak ku lagi sayang. Aku sungguh sangat merindukan kamu dan juga merindukan semua service yang selalu kamu berikan padaku sayang" ucap Radit sambil tersenyum dan mencengkram dagu Liana dengan keras.


"Ba*ingan. Lepaskan aku bre*gsek!!!" teriak Liana yang sedang meronta-ronta saat Radit memeluknya dengan paksa dan mengikat tangan dan kakinya Liana.


"Silahkan saja kamu teriak sayang... Disini tidak akan ada yang mendengar suara sangat juga jeritan kamu ini. Hahaha" ucap Radit yang tertawa terbahak-bahak saat melihat Liana menangis ketakutan melihatnya.


Dia juga sangat senang saat membuka seluruh pakaian nya sendiri dan akan melakukan hal yang sama juga padamu Liana. Liana benar-benar sangat ketakutan saat melihat Radit yang benar-benar mengerikan sekarang. Bahkan Liana seperti tidak mengenali Radit yang sekarang.


"Tolong lepaskan aku. Aku tidak ingin melakukan itu lagi dengan mu, aku bukan siapa-siapa kamu lagi. Aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi sama kamu. Tolong lepaskan aku dan jangan melakukan apapun padaku, tolong jangan lakukan itu padaku. Aku mohon, aku mohon lepaskan aku" ucap Liana yang memohon-mohon pada Radit yang sudah berada didekatnya saat ini dan sudah menarik pakaian nya.


"Aaaa, jangan... Jangan lakukan ini padaku... Hiks... Hiks... Hiks... " teriak Liana yang meronta-ronta saat Radit mencoba menyentuhnya dengan paksa.


"Hahaha.... Kau memang masih sangat nikmat sayang, nikmat sejak terakhir kalinya aku melakukan ini... Uh... Sangat nikmat sekali sayang... " ucap Radit yang sedang memacu dirinya diatas tubuh Liana.


"Aku bersumpah Raditiya Hermansyah. Aku bersumpah akan sangat membencimu dan tidak akan pernah mengampunimu seumur hidupku Raditiya Hermansyah. Aku bersumpah tidak ingin mengenalmu lagi dan dengan keturunan-keturunan mu" ucap Liana dengan tatapan yang sangat tajam dan juga menuhin kemarahan pada Radit.


"Silahkan saja sayang. Yang penting aku bisa melakukan ini dengan mu sepuas dan semauku" ucap Radit yang benar-benar melakukan hal yang sangat manjijikan pada Liana.


'Tuhan, kenapa engkau memberikan cobaan sebesar ini padaku? Aku sudah tidak kuat lagi Tuhan... Aku sungguh sangat berdosa dan kotor sebagai seorang wanita, seorang wanita yang sudah dilecehkan kehormatan nya. Tuhan, aku sudah tidak kuat lagi menghadapi cobaan yang kau berikan padaku begitu besarnya' ucap Liana dalam diam dan tidak mengatakan apapun lagi saat Radit sudah selesai menggaulinya dengan paksa dan juga kasar.


"Terimakasih sayang, semoga kamu juga senang dengan apa yang aku lakukan sekarang. Karena aku tahu, sudah lama kamu tidak mendapatkan ini semua dariku. Makanya aku melakukan ini semua padamu dengan senang hati dan juga perasaan ku padamu sayang" ucap Radit yang menyentuh pipi Liana dengan senyuman dibibirnya.


Tapi saat Radit akan menyentuh pipinya, Liana memalingkan wajahnya kearah lain supaya Radit tidak menyentuhnya dengan tangan kotornya itu.


"Sayang, kenapa kamu seperti ini padaku sayang? Aku sangat-sangat merindukan kamu dan bahkan aku rela melakukan ini pada kamu. Jadi terima aku lagi, oke sayang" ucap Radit dengan sangat mesranya dan juga sambil melepasakan ikatan ditangan dan kaki Liana.


"Kenapa kamu diam saja sayang? Kenapa kamu diam? Bukankah aku sudah memberikan apa yang kmu inginkan dariku sayang" ucap Radit dengan penuh perhatian nya dan dia menyentuh pipi Liana, tapi dia tepis tangan itu yang akan menyentuhnya.


"Jangan menyentuhku lagi dengan tangan kotormu itu ba*ingan. Aku tidak sudi lagi berada didekat mu juga melihat wajahmu lagi" ucap Liana yang memunguti pakaian nya dan menggunakan nya dengan tangisan dan dalam diamnya Liana.


"Sekarang, biarkan aku pergi. Aku tidak sudi lagi berada ditempat yang sama dengan mu" ucap Liana yang mengusap air matanya dan dia sudah menggunakan pakaian nya yang sudah banyak robekan dibeberapa bagian.


"Sayang kenapa kamu berubah? Kenapa kamu begitu sangat berbeda? Aku melakukan ini karena aku sangat mencintai kamu dan aku tidak bisa melupakan kamu" ucap Radit yang bertanya pada Liana dan itu membuat Liana hanya tersenyum sinis mendengar ucapan dari Radit.


"Cih, sayang kau bilang. Orang yang menyayangi itu menjaganya, bukan merusaknya sepertimu. Bahkan iblis saja tidak akan melakukan itu dan mengatakan kata-kata yang begitu menjijikan. Bahkan ular berbisa saja lebih baik, karena ular mengeluarkan bisanya hanya untuk mempertahankan dirinya dari predator lainnya. Sedangkan dirimu adalah tidak lain adalah ba*ingan yang bahkan sangat aku benci seumur hidupku" ucap Liana yang menepis tangan Radit yang akan menyentuhnya.


"Kenapa kamu melakukan ini padaku Liana? Apa selama ini tidak ada kata maaf dan juga, bahkan cinta yang selama ini kamu ucapkan padaku dan perlakuan mu padaku? Kemana semua itu Liana, kemana semuanya" tanya Radit yang benar-benar sudah tidak tahu diri dengan semua yang dia katakan pada Liana.


"Cinta kamu bilang? Semuanya sudah tidak ada dan tanpa sisa saat kamu menghianati ku. Apa lagi kamu sudah membuat ku seperti ini, tidak ada lagi yang tersisa. Hati, perasaan, fikiran jiwa dan raga ku sudah tidak ada lagi yang tersisa. Jadi, jangan menanyakan hal itu dan mengatakan kata-kata yang sangat memuakan dihadapanku" ucap Liana dengan tatapan sinisnya dan mengatakan nya dengan penuh penekanan disetiap katanya.


"Oke, aku salah sama kamu Li. Tapi aku melakukan ini semua karena aku sangat mencintai kamu. Dan aku masih sangat mencintai kamu, tolong kamu jangan seperti ini padaku" ucap Radit yang masih saja melakukan segala cara untuk membujuk dan membuat Liana percaya lagi padanya.


"Mimpi!" ucap Liana yang akan pergi dari sana dan entah kenapa Radit membiarkan Liana pergi dari sana dengan penampilan nya yang berantakan dan pakaian nya juga banyak yang sobek.


"Aku tidak perduli walau kamu tidak menerimaku Li, karena aku sudah mendapatkan apa yang aku mau selama aku berpisah dari kamu. Karena kamu selalu bisa melakukan yang terbaik dalam hal hubungan yang satu itu. Jadi jangan harap kamu bisa lepas begitu saja dari aku Li" ucap Radit yang bergumam sendiri dan dia membetulkan pakaian nya sebelum dia pergi dari gudang tua tersebut.


"Bos, bagaimana dengan bayaran kami ini? Anda sudah mendapatkan apa yang anda inginkan" ucap salah seorang suruhan Radit yang meminta bayaran nya.


"Ini bayaran kalian, jadi jika saya membutuhkan bantuan kalian Lagi. Kalian harus bisa dan selalu standby" ucap Radit yang mengatakan nya dengan senyuman dibibirnya.


"Dengan senang hati Bos. Asalkan bayaran nya sesuai dengan yang kamu inginkan. Kami selalu bisa standby untuk anda" ucap orang suruhan Radit yang mengibas-ngibaskan amplop pemberian dari Radit.


"Baik, kalian boleh pergi sekarang" ucap Radit yang meminta mereka pergi.


Sedangkan Liana sedang berjalan tidak tentu arah. Dia berjalan terseok-seok dijalanan yang sangat sepi. Liana menangis dan hanya berjalan tanpa tujuan, dia terus menangis dan entah kenapa dia bisa kuat saat menghadapi Radit dan sekarang dia menjadi sangat rapuh.


'Tuhan, aku tidak sanggup lagi untuk hidup dan menghadapi dunia yang begitu kejam padaku. Kenapa aku harus bertemu dan memiliki perasaan pada laki-laki monster sepertinya? Aku sudah salah Tuhan... Aku sudah tidak kuat lagi' ucap Liana yang menangis dalam diam dan pandangan nya juga sudah mengabur. Langit juga sepertinya tidak mendukungnya, tiba-tiba hujan sangat deras dan Liana hanya bisa menangis dengan sangat kencangnya dibawah guyuran air hujan.


"Aaaaa... Kenapa hidupku hancur sperti ini? Kenapa, kenapa aku seperti ini? Kenapa aku begitu menyedihkan seperti sekarang? Aku, aku tidak pantas untuk hidup lagi. Aku ingin mati saja, iya, aku akan mengakhiri hidup ini dengan caraku sendiri. Aku tidak ingin hidup lagi, karena aku sudah tidak sanggup" ucap Liana yang malah berdiri ditengah jalan dan memejamkan matanya rapat bersiap jika akan ada mobil yang akan menabraknya.